
Deep Talk
Haru meletakkan sepiring pasta cream di atas meja untuk Arin yang kembali terpesona melihat betapa cantiknya cara Haru menyajikan masakannya.
“Terima kasih,” ucap Arin.
Rasa ingin segera memakannya tapi Arin menunggu Haru yang sedang menuang minuman ke dalam gelas cantik. Rasanya seperti sedang makan di hotel bintang lima. Bahkan Haru memberikan kesan romantis dengan meletakkan lilin diatas meja, meredupkan lampu dan menyalakan musik classic.
“Ini apa?” tanya Arin yang bingung saat Haru menuangkan minuman yang mirip dengan wine kedalam gelasnya.
“Jus anggur …? Bagaimana sama bukan?” tanya Haru.
“Haha .. aku kira beneran wine,” ucap Arin sambil tertawa kecil saat mengetahui jika Haru menyamarkan wine dengan jus anggur merah.
Haru duduk di hadapan nya. Arin sudah semakin tidak sabar untuk mencicipinya.
“Boleh aku makan?” tany Arin.
“Iya, silahkan …,” ucap Haru harap-harap cemas dengan hasil masakan yang ia buat.
Dengan perlahan Arin mulai menggulung mie pasta tersebut dengan garpu. Dengan satu suapan yang sedang agar terlihat anggun untuk menyamakan suasana yang mewah ini. Perlahan Arin mulia memasukkannya ke dalam mulut, seketiak kedua mata Arin terbelalak saat cinta rasa cream yang gurih dengan udang benar-benar memanjakan lidahnya.
“Wah … enak banget rasanya!!” ucap Arin sambil melihat ke arah Haru.
“Sungguh?”
“Iya sungguh. Pasta yang paling enak yang pernah aku makan, Wah …!” ucap Arin yang sungguh tidak percaya akan rasa yang luar bisa. Benar-benar di melebihi ekspektasinya. Arin tak berhenti tersenyum dengan mata yang berbinar setiap suapan pasta yang ia makan.
Melihat Arin yang begitu lapah membuat Haru ikut lega dan senang. Rasa gugupnya langsung hilang begitu saja. Ia tak bisa berhenti tersenyum setiap Arin memuji makannya. “Kalau mau lagi, tinggal bilang ya ..” ucap Haru.
“Eung! ayo cepat di makan, enak tau!” ucap Arin yang begitu bersemangat.
Selesai makan mereka mereka duduk dibawah sofa sambil menikmati dessert cake yang Haru beli di cafe dan segala ice americano. Mereka sedang menonton film yang direkomendasikan Arin yang terlihat begitu fokus menontonnya. Sebuah film yang berjudul ‘Josee’.
Arin mulai terbawa emosional saat klimax alur film yang membuatnya mulai merasakan apa yang perasa utawa wanita tersebut rasakan. Kedua matanya mulai mengenang air karena terlalu larut dalam kesedihan. Ketika wanita itu melepaskan pria yang ia cinta karena ia tahu jika pria itu berhak bahagia dengan wanita lain bukan dengannya yang memiliki keterbatasan.
“Apa aku boleh tanya sama kamu?” tanya Arin dengan suara yang sedikit serak karena sedang menahan tangisannya.
“Apa itu?”
Lantas Haru terdiam seketika mendengar pertanyaan tersebut. Sesungguh ia pun tidak tahu apa arti cinta yang sesungguhnya bagi dirinya. Pertanyaan yang tidak bisa diucapkan dengan mudah.
“Pria itu sangat mencintai wanita yang duduk di kursi roda itu, mereka saling mencintai satu sama lain. Tapi … kenapa pria itu akhirnya menyerah? Itu berarti dia hanya kasihan dengan wanita itu bukan mencintai wanita itu, bukan?” tanya Arin.
Haru masih terdiam.
“Sebenarnya, aku orang yang nggak percaya akan cinta. Aku nyaman dengan diriku sendiri dan aku benci di kasihani. Makanya aku tidak tertarik untuk menjalin dan meletakan kepercayaan pada pria sampai saat ini. pria itu selalu salah paham akan apa yang dia rasakan. Pada akhirnya dia yang egois dan meninggalkan wanita yang penuh luka itu sendirian. Rasanya aku ingin memukulnya,” ungkap Arin sambil mengepal erat salah satu tangannya.
Haru terdiam mendengar ucapan Arin yang membuatnya seakan terpukul dengan sangat keras. Haru mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri akan perasaannya terhadap Arin itu seperti apa. Ia takut jika dirinya benar-benar salah paham dan keliru akan perasaannya sendiri dan Haru sangat takut jika akhirnya dirinyalah luka terbesar untuk Arin.
“Nggak ada yang salah dari ucapan kamu. Aku baru saja sadar karena ucapan itu. Tapi … sejujurnya pria itu pasti memiliki rasa sakit yang sama, bukan? Pada akhirnya dia menyesali perbuatannya bahkan disaat dia bersama dengan masa depannya. Seorang pria tidak akan pernah mudah melupakan kesan yang begitu membekas dalam hidupnya.” ungkap Haru yang kembali terdiam dalam larutan pikirannya.
“Jika kamu mengatakan hal seperti itu, makan tidak ada yang bisa aku bela.” ucap Haru sambil tersenyum perih melihat ke arah Arin yang menatapnya dengan tatapan yang dipenuhi dengan sebuah harapan dan luka yang tiada akhirnya.
Haru mengantarkan Arin sampai depan pintu rumah. setelah menghabiskan malam yang panjang dan penuh dengan emosional. Perbincangan yang mendalam untuk pertama kalinya rasanya seperti berada di kapal yang sama berlayar di samudra yang luas.
“Sekali lagi, terima kasih buat makan malam dan filmnya …,” ucap Arin yang berdiri menghadap ke arah Haru yang entah mengapa terlihat seperti sedang menutupi sesuatu darinya atau mungkin Haru terlalu memikirkan perkataannya tadi.
“Emm … masuklah,” ucap Haru.
Arin mengangguk sambil berbalik untuk menekan kata sandi pintu rumahnya. Sekelebat matanya dari samping melihat Haru yang sedang berjalan kembali ke apartemennya. Arin terdiam begitu juga dengan tangannya. sebuah dorongan yang ada jauh di dalam dirinya untuk segera mengungkapkan pada Haru.
“Kak Haru!” sahut Arin sambil ragu.
Haru menoleh saat ia berdiri didepan pintu, berjajar dengan Arin. Begitu sunyi.
“Aku hanya ingin mengatakan. Kalau kak Haru adalah orang yang baik. “ ucap Arin sambil menoleh ke arah Haru yang saat ini sedang menatapnya dari jauh. “Perkataan aku tadi tidak untuk semua pria yang ada di dunia ini. Yah … hanya beberapa yang pernah aku temui. Jadi aku harap kamu nggak menjadi salah satunya. Karena kau tahu kamu orang yang baik. Bye … good night …,” ucap Arin yang kemudian masuk kedalam rumahnya meninggalkan Haru yang terdiam dalam keheningan malam.
Perasaan yang tidak bisa dideskripsikan, Haru tersenyum dalam kesedihan lalu melangkah masuk kedalam rumahnya.
***
Di ruang kantornya Haru termenung saat kembali mengingat perkataan Arin semalam yang masih terbayang dalam pikirannya. Sebuah kekhawatiran nya saat ini begitu besar setelah mengetahui betapa Arin tidak mempercayai siapapun terlebih lagi pria.
Penjabaran yang dikatakan oleh Arin membuatnya meragukan perasaannya terhadap Arin yang sebenarnya. Bagaimana jika perasaannya benar-benar hanya sebatas perasaan kasihan bukanlah cinta yang sebenarnya. Lalu bagaimana jika di masa depan nanti Arin akan benar-benar melewati masa terberatnya karena ulah dirinya di masa kini.
Harus mencoba mencari jalan keluar untuk mengetahui apa arti keberadaan Arin dalam hidupnya. Namun itu bukan hal yang mudah untuk diketahui dalam sekejap mata.