
“Jam 4 sore. Oke. Nggak perlu dijemput, aku bisa sendiri. Oh … kamu telat, ya sudah nggak apa-apa. Iya aku bisa sendiri, nggak usah khawatir. Iya … iya … oke. Emm …” ucap arin yang kemudian mematikan ponselnya setelah berbicara dengan Haru mengenai foto untuk prewedding mereka.
Waktu menunjukkan pukul 1 siang, Arin yang sedang menikmati makan siangnya sembari menonton televisi dengan santai. Ia kembali melanjutkan makannya. Rasanya memang sedikit merepotkan ternyata untuk melakukan sebuah pernikahan. Tapi mau bagaimana lagi, memang sudah seperti itu prosedur yang harus dijalani. Bahkan apa yang ia lakukan tidak seberapa dibandingkan teman-teman di sekitarnya yang melakukan persiapan pernikahan mereka sendiri.
Terlintas sebuah pemikiran yang membuat Arin langsung melihat wajahnya di layar ponsel. Benar juga. Dirinya belum sempat melakukan perawatan wajah padahal sebentar lagi ia akan melakukan foto prewedding. Dirinya harus tampil setidaknya tidak terlalu bujuk di foto. Lantas Arin bergegas pergi ke kameranya meninggalkan makan siangnya untuk segera melakukan perawatan wajah.
Arin mulai membersihkan wajahnya dengan miracle water sebelum ia menggunakan masker peel off untuk menghaluskan wajahnya. Sambil menunggu masker itu mengering, Arin menghabiskan sisa makan siangnya yang tertunda. Butuh waktu sekitar 15 menit hingga maskernya mengering.
Arin berjalan ke kamarnya untuk memilih pakaian yang cocok untuk digunakan. Hanya bisa menghela nafas saat ia menyadari jika di dalam lemari pakaiannya lebih banyak bersisi baju setelan training dan hoodie di bandingkan baju formal maupun dress.
“Ternyata gue nggak punya baju yah …? Terus gue pakai baju apa??” tanya Arin pada dirinya sendiri yang berpikir keras untuk menemukan baju yang cocok.
Setelah memikirkan banyak pertimbangan, Arin memilih untuk mengenakan dress berbahan sifon dengan motif bunga dan tambah dengan blazer berwarna hitam dan sepatu boots hitam. Arin segera bergegas untuk membersihkan maskernya. Lalu ia pergi untuk mandi.
Sekitar 1 jam berlalu, Arin baru saja selesai mandi. Setelah sekian lama sejak kepindahannya ke rumah baru akhirnya Arin mandi dengan benar. Kembali berdiri di depan cermin untuk kembali memakai skin care dan masker sekali pakai yang mengandung banyaknya essens. Sembari menunggu selama 15 menit, Arin mengeringkan rambutnya dan menatanya dengan sesimple mungkin.
Hanya tinggal tersisa waktu satu jam untuk berangkat. Ia tidak memakai make up hanya memakai skin care lantaran ia akan di make up di studio foto nanti dengan seorang make up profesional. Tak lupa Arin memakai topi karena cuaca diluar sangat terik. Setelah semuanya rapi, Arin berjalan keluar rumah meninggalkan semua kekacauan. Di mana barang-barang yang ia pakai berserakan begitu saja, begitu juga dengan baju-baju yang ada di kamarnya dan sisa makanan yang dibiarkan di atas meja. Rumah ini lebih mirip dengan gudang sampah.
***
Arin sampai di sebuah gedung tempat studio prewedding. Turun dari mobil ojek online yang dipesankan oleh Haru untuk mengantarkannya. Arin berjalan dengan langkah ragu dan canggung karena ini pertama kalinya ia datang ke tempat seperti ini, jadi rasanya agak aneh.
Saat sampai depan pintu, seorang pegawai membukakan pintu untuknya dengan sangat ramah.
“Halo, selamat sore. Apa sudah melakukan reservasi atas nama siapa?” tanyanya.
“Haru Ardiansyah,” jawab Arin.
“Ah … dengan ibu Arin Gashina?” tanyanya.
“Iya …,”
“Baiklah, silahkan ikut saya.” ucapnya sambil mempersilahkan Arin untuk berjalan.
Dirinya benar-benar diperlakukan layaknya seorang putri di sebuah istana. Semua pegawai yang ada di sana melayaninya dengan sangat baik dan ramah. Dari mulai membawakan tas miliknya yang bahkan tidak seberapa berat. Lalu menyediakan tempat duduk yang sangat nyaman di depan sebuah cermin untuk dilakukan makeup pada wajahnya.
Rasanya sangat gugup diperlakukan seperti itu. Lantaran Arin yang terbiasa melakukan semua dengan kedua tangannya sendiri. Tiba-tiba hidupnya seakan terbalik 180 derajat menjadi seorang tuan putri. Pegawai yang mengambutnya tadi kembali datang dan memberinya sebuah minuman lalu memberikannya sebuah tablet yang berisikan foto gaun pengantin yang akan ia kenakan.
“Ini ada beberapa pilihan gaun yang sudah dipilihkan oleh Pak Haru. Namun ia memberitahu kami untuk kembali meminta persetujuan dari Bu Arin. Jadi kami memberikan beberapa pilihan baju …,” ucapnya.
“Tentu saja. Silahkan pilih dengan pelan-pelan, kami akan mengikutinya.”
Saat Arin sedang fokus memilih beberapa gaun, semua terdiam dan menunggunya. Rasanya benar-benar canggung melihat sekelilingnya menundukkan kepala seakan ia orang yang memiliki tahta tertinggi, padahal dirinya hanya orang biasa. Saat melihat beberapa referensi gaun yang semua tampak terlihat cantik membuat Arin bingung.
“Untuk pilihan pak Haru sendiri, yang mana gaunnya?” tanay Arin.
“Baik. Pak haru sendiri, sudah memilih gaun di nomor 1, 4, dan 7 dari sepuluh baju yang kami rekomendasikan.” ucamnya.
“Ah … kalau begitu pakai yang itu saja. Yang dipilih oleh Pak Haru, kalau untuk memilih sendiri saya tidak terlalu pandai.” ucap Arin sambil memberikan tablet tersebut pada pegawai studio.
“Baik bu, setelah make up kami akan membawa ibu ke ruang dress. Saya permisi …” ucapnya yang kemudian pergi.
Arin hanya menghela nafas lantaran merasa tak enak hati karena canggung.
“Untuk make up sendiri. Ibu Arin lebih menyukai make yang seperti apa?” tanya sang perias.
“Emm … natural. Saya nggak suka make up yang terlalu tebal, cukup yang tipis saja. Sisanya saya serahkan pada anda,” ucap Arin.
“Baiklah. Saya akan membuat anda secantik mungkin,” ucapnya.
Berselang 1 jam kemudian, Haru datang dengan langkah yang terburu-buru karena ia sudah terlambat melewati waktu janjiannya bersama Arin yang sudah sampai terlebih dahulu. Seorang pegawai yang sama menghampiri Haru dan memberitahu sudah sampai mana persiapan saat ini.
“Bu Arin saat ini sedang berada di ruang fitting baju. Pak Haru silahkan untuk di make up terlebih dahulu.” ucapnya.
“Iya baiklah.”
Arin yang sudah mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang terlihat sangat anggun hingga membuat semua orang yang melihatnya terpesona akan kecantikan Arin yang berjalan menuju ruang studio dimana Haru sudah menunggunya.
Berjalan dengan pelan-pelan lantaran gaun yang ia kenakan menutupi kedua kakinya, bahkan ia membutuhkan dua orang pegawai untuk membantunya berjalan. Seketiak kedatangan Arin membuat semua pegawai yang berada di studio terpesona melihat kedatangan Arin yang tampak seperti putih di dalam dongeng. Mereka semua bertepuk tangan dengan sangat meriah hingga membuat Arin tersipu malu.
“Wah .. cantik sekali,”
“Wah … kayak putri …”.
Bukan hanya mereka. Sosok Haru yang sudah berdiri di set foto pun hanya bisa terdiam dengan mata yang terbelalak saat melihat kecantikan murni yang dipancarkan Arin.