The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 33 Mimpi Buruk



Mimpi Buruk (1)


Rasanya semua energinya terkuras habis hingga tak tersisa satu persen pun. Arin langsung menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur dengan tatapan yang penuh rasa enggan untuk bertahan hidup. Perasaan aneh terus bergeruman di dadanya yang terasa sesak. Bahkan tubuh bernafasnya saja sungguh malas. Padahnya dirinya hanya bekerja 4 jam dalam sehari, tapi kenapa rasanya seperti bekerja selama 20 jam. Mencoba untuk memejamkan mata dan pergi tidur, tapi suara-suara pikiran yang terus berbicara dalam otaknya saat ini seperti berada di dalam pasar raya yang sedang mengadakan festival, sangatlah berisik.


Rasanya lapar, haus dan mengantuk, tapi Arin merasa dirinya tidak bisa memenuhi ketiga hal itu. Membuatnya menjadi sangat jengkel. Perasaan sedih yang tiba-tiba muncul seperti seorang anak kecil yang ditinggal di tengah derasnya hujan tanpa ada satu orang pun yang menolongnya, sepi seakan bumi telah kehilangan peradaban.


Terus tersedot kedalam lubang mimpi buruk di masa lalu yang tiba-tiba muncul dalam otaknya. Dulu kenapa dirinya menjadi anak kecil yang begitu lemah sehingga membiarkan orang seperti mereka membuatmu menjadi tak berharga. Seorang anak kecil yang ingin memiliki teman, takut akan ditinggalkan, berusaha menjadi seorang teman walau hanya sebagai pesuruh dan selalu di menerima cubitan keras jika tidak mau memberikannya jajannya. Hingga gadis malang itu menangis tidak ingin sekolah karena takut pada anak yang merundungnya.


Namun kenapa ibunya malah bertindak lebih kejam daripada para anak kecil itu. Anak malang itu menangis, memohon tidak mau masuk sekolah, tapi ibunya yang tidak memahaminya hanya menariknya sambil marah-marah seperti sedang menarik anak anjing yang ketahuan mencuri makanan. Anak malang itu terus menolak untuk melangkah kan kakinya tapi ibunya terus menariknya tanpa mencoba memahaminya terlebih dahulu dan menghakimi anaknya yang terlihat hanya tidak ingin sekolah karena malas.


Apa salah anak malang itu hingga mendapatkan perlakukan seperti itu. Dia hanya anak kecil yang penuh ketakutan, kesepian dan hanya ingin memiliki teman. Namun kenapa mereka menganggapnya seperti anak tukang cari perhatian. Bahkan tubuhnya terlalu kecil untuk ditarik di depan banyak mata yang melihat.


Penderitaanya bahkan tak berhenti sampai disana. Sejak saat itu, anak malang yang kesepian tidak pernah memiliki teman yang benar-benar mau menerimanya. Tumbuh menjadi sosok anak yang penuh ketakutan ditinggalkan semua orang.


Anak malang itu tumbuh menjadi sosok orang yang lebih dewasa secara fisik tapi tidak dengan apa yang ada di dalam dirinya — jauh terkurung dalam sel gelap yang dipenuhi monster. Melangkah jauh ke dunia yang ia pikir begitu luas, sesuai dengan apa yang ia bayangkan. Namun, ia kembali dijatuhkan oleh kenyataan. Dunia orang-orang dewasa lebih kejam dibandingkan segerombolan anak yang sedang berebut ayunan di taman bermain.


“Kak …! Kak Arin …!!”


Suara yang sontak membangunkan lamunan Arin yang masih di posisi yang sama — mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka.


“Kakak! Loh! Udah pulang? Aku lapar, mau sekalian makan mie nggak?” tanya Anna.


Sambil beranjak dari posisi berbaring. “Mau. Mie goreng pake cabe dan bubuk cabe, gue mau makan yang pedes-pedes.” ucap Arin.


“Muka kakak kenapa dah? Sakit?” tanya Anna menyadari ada yang aneh dari kakaknya.


“Nggak, cuma ngantuk tapi nggak bisa tidur.” jawab Arin.


“Ya udah, aku buatin. Mandi sana!! Biar seger dikit!!” ucap Anna yang kemudian menutup pintu kamar Arin yang kembali melamun dengan tatapan kosong.


***


Arin terlihat terengah-engah dengan wajah yang sudah dipenuhi dengan air keringat saat sedang memakan mie yang di buatkan oleh adiknya. Beberapa kali ia meneguk susu untuk menetralkan rasa pedas yang saat ini seakan membakar mulutnya.


“Haff … haff … pedas … haff … anjir!! Ini pedes banget …!!” eluh Arin yang kelabakan tak bisa menahan rasa pedas di mulutnya. Arin terus mengacak-acak dan menjambak rambutnya. Kedua matanya tampak memerah dan air mata terus mengalir.


“Kakak yang minta begitu, aku buatin sesuai dengan permintaan yaa …” ucap Anna.


Anna hanya menggeleng-geleng heran melihat kakaknya.


Sambil beranjak dari tempatnya. “Kak, nanti tolong sekalian beresin ya, aku mau mandi,” ucap Anna lalu berjalan pergi meninggalkan Arin yang masih bertarung dengan makanannya.


Sekitar 20 menitan Anna kembali berjalan menuju ruang tengah selesai mandi. Namun mata terdiam saat berdiri di depan pintu kamarnya — melihat meja yang masih berantakan tetapi ia tidak melihat keberadaan kakaknya. “Pas dia kabur lagi!! Nama belum diberesin lagi, dia itu kebiasan!!” omel Anna yang kesal dengan kakaknya yang sepertinya pergi tanpa membereskan bekas makanan, padahal tadi dirinya sudah bilang untuk dibereskan.


Anna berjalan mendekat. Anehnya ia melihat ada kaki yang tergeletak di lantai, ia pikir kakaknya ketiduran tanpa membersihkan meja. Namun saat langkahnya semakin mendekat dan mencoba membangunkan kakaknya, Anna semakin panik karena Arin tidak merespon sama sekali. Bahkan ia melihat mie yang tumpah di lantai.


“Kak Arin!! Kak Arin!! Bangun!! Apa jangan-jangan kak Arin pingsan?!” tanya Anna yang tanpa berpikir panjang langsung menghubungi ambulan karena sepertinya ini keadaan genting, lantaran kakaknya masih tidak meresponnya.


***


Hara berlari secepat yang ia bisa setelah mendapatkan kabar Arin pingsan. Berlari menuju ruang UGD dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Namun akhirnya ia melihat sosok Anna yang tampak di salah satu tempat tidur pasien.


“Gimana keadaanya?” tanya Haru dengan nafas yang terengah-engah.


“Kak ipar!!” sontak Anna terkejut dengan kedatangan kakak iparnya yang terlihat seperti orang yang habis dikejar-kejar saking khawatir pada kakaknya. “Dia nggak kuat makan pedas, akhir pingsan. Dokter bilang keadaan yang parah, tapi masih harus pantau,” ucap Anna.


“Dia makan pedas?” tanya Haru.


“Tadi memang kami lagi makan malem, kak Arin minta buatin mie yang pedes banget, awalnya sih nggak apa-apa, pas aku tinggal mandi, terus balik kaka Arin udah nggak sadar.” ucap Anna.


Haru hanya bisa diam tidak bisa berkomentar lagi akan penjelasan Anna. Menatap penuh kasih ke arah istrinya yang terbaring lemah.


“Kamu pulang aja, ini juga udah malem. Mau kakak antar?” tanya Haru.


“Nggak usah. Aku pulang sendiri. Nanti kalo udah bangun kabarin aku ya kak,” ucap Anna.


“Iya. Kamu hati-hati dijalan ya …” ucap Hara.


“Iya …” ucap Anna sambil berjalan pergi meninggalkan kedua kakaknya.


Setelah Anna pergi, Haru duduk di bangun sambil menatap Arin sambil memikirkan apa yang sedang Arin pikirkan hingga membuat dirinya menjadi seperti ini. Apa ada yang sedang menunggu pikirannya hingga ia melampiaskan perasaan itu pada makanan dan tidak memperdulikan tubuhnya sendiri, pikir Haru sambil menggenggam tangan Arin dengan erat.