The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 12 Pernikahan Kontrak



Arin tertawa cangung sambil berdiri membelakangi adiknya yang seharusnya tidak boleh mengetahui sosok Haru terlebih dahulu. Kemudian dengan cepat Arin menutup pintu.


“Kenapa tiba-tiba datang?” tanya Arin dengan panik disaat Haru yang malah tampak kebingungan dengan tingkah Arin dan masih syok melihat penampilan arin yang tak biasa, membuatnya tersipu malu.


“Kontraknya … tadi aku sempat telepon kamu tapi nggak diangkat,”


“Ya sudah. Kita ketemuan di taman. Aku akan segera menyusul,” ucap Arin sambil mendorong Haru untuk segera pergi. Kemudian bergegas masuk ke dalam dengan menahan malu akan penampilannya yang seperti itu harus dilihat langsung oleh Haru.


“Kak, yang tadi itu siapa?” tanya Anna yang ternyata masih menunggunya di depan pintu.


“Ha?” Arin seketika menjadi ngeblank dengan pertanyaan adiknya. Karena memang seharusnya Anna tidak boleh melihat sosok Haru sebelum pertemuan besok, hal ini bisa menimbulkan sebuah kecurigaan akan pernikahan kontrak yang tidak boleh diketahui oleh siapapun. Tapi tampaknya nasi sudah menjadi bubur.


“Pacar gue,” jawab Arin.


“Kakak punya pacar?? Sejak kapan??”


“Kami baru pacaran, udah jangan banyak tanya!! Sana belajar!!” ucap Arin sambil menndorong Anna agar kembali ke kamarnya, tapi dia terus menolaknya dan terus bertanya-tanya. 


“Bukannya di tetangga kita? Yang tinggal di sebelakan ‘kan??”


Setelah berhasil memasukkan Anna ke dalam kamarnya, Arin menghela nafas lelah dan ia langsung menangis seperti anak kecil karena malu pada Haru yang sudah melihat penampilannya yang sangat kacau. Arin bergegas ke kamarnya untuk merapikan rambutnya dan bertemu dengan Haru yang saat ini sudah menunggunya di taman.


Dengan mengenakan setelan training berawan abu-abu, Arin menutup kepalanya dengan topi agar rambutnya yang masih setengah basah tidak terlihat. Dari kejauhan Arin melihat Haru yang menunggunya di ayunan seorang diri — duduk di sampingnya.


“Maaf … aku datang tiba-tiba, aku pikir adikmu sudah tidur,” ucap Haru merasa bersalah melihat raut wajah Arin yang tampak masam.


“Nggak apa, tapi bagaimana sekarang, Anna uda tau muka kamu, tadi juga aku bilang kalau kamu itu pacar aku, habisnya aku bingung mau jawab apa …” ujar Arin dengan nada bicara yang sedang merengek.


Sedangkan Haru tampak sedang berusaha menahan dirinya untuk tidak tersenyum setelah Arin menyebut dirinya ‘pacar’. Rasanya sungguh berdebar, terlebih lagi dirinya melihat sosok menggemaskan Arin yang saat terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba.


“Nggak apa, itu lebih baik.” ucap Haru.


“Maksud kamu?” tanya Arin — heran.


“Orang bakal berpikir lebih aneh jika tiba-tiba kamu menerima perjodohan besok. Kalau mereka tahu kita sudah pacaran bisa mempermudah rencana kita.” ungkap Haru.


Arin terdiam sambil mencerna penjelasan Haru yang ternyata masuk akal juga, pikirnya.


“Kalau ditanya, sejak kapan pacaran? Makan jawabanya belum lama? Lalu aku bakal bilang kalau aku yang nembak kamu duluan setelah mengetahui kamu tinggal di samping rumah aku, dulu kan kita pernah ketemu sebelumnya, anggap saja, rasa suka itu bermula pertemuan pertama kita, bagaimana?” tanya Haru.


“Nggak buruk.” ucap Arin.


Sambil memberikan amplop yang berisikan surat kontrak yang harus di tanda tangani. “Ini kontraknya, kamu bisa baca kembali,” ucap Haru.


“Ah … iya,” Arin langsung menerimanya — mengeluarkan selembar kertas yang berisikan kontrak pernikahan jangka pendek selama 2 tahun.


“Iya. Aku melupakan sesuatu yang penting.”


“Apa itu?”


“Sebenarnya aku memiliki gangguan kecemasan dan depresi.” ucap Arin dengan berat hati mengatakannya.


Haru terdiam mendengar hal itu langsung dari mulut Arin, walau sebenarnya dirinya sudah mengetahui hal itu secara diam-diam. Tak disangka Arin mengatakan hal itu dengan keinginannya sendiri.


“Kalau misalnya, tiba-tiba aku menjadi aneh tolong jangan hirau kan aku. Cukup berikan aku ruangannya untuk sendiri, setelah itu aku akan baik-baik saja. Maaf aku baru mengatakan sekarang,” ucap Arin dengan suara yang terdengar gemetar,


“Iya. Aku mengerti. Jadi … apa kita langsung tanda tangan saja?” tanya Haru memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan agar tidak membuat Arin mengatakan hal yang melukai dirinya sendiri.


“Iya.”


Mereka saling menandatangani surat perjanjian pernikahan yang berarti kini mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri palsu di atas sebuah kertas yang hanya diketahui mereka berdua. Pernikahan jangka pendek yang hanya berlangsung selama 2 tahun lalu kemudian saling mengakhiri kontrak tersebut dan kembali kehidupan sendiri-sendiri setelah kontrak selesai.


***


Hari di mana dua keluarga saling bertemu setelah sekian lama. Keluarga Arin dan keluarga Haru saling berbincang-bincang sambil menikmati makan malam. Mereka terkejut dengan pernyataan kedua anak mereka yang ternyata sudah berpacaran di saat mereka sedang membicarakan perjodohan mereka.


Haru mencoba untuk bersikap layaknya seorang pacar untuk Arin yang masih merasa canggung. Ini pertama kali untuknya berdekatan dengan seorang laki-laki setelah sekian lamanya. Diberikan perhatian lebih membuat hati kecilnya tersentuh. Arin mengetahui jika yang dilakukan Haru hanya akting untuk menyakinkan kedua keluarga jika mereka saling mencintai satu sama lain. Itu sebabnya Arin menyakinkan pada dirinya tidak tidak goyah dengan perasaannya.


***


Selesai makan malam, Arin dan Anna pergi bersama dengan Haru di dalam satu mobil yang sama lantaran rumah mereka saling bersebelahan. Sungguh hari yang menguras tenaganya, Arin hanya bisa melamun melihat kearah jendela.


Beberapa kali Haru melirik ke arah Arin di sela-sela ia sedang fokus menyetir, untuk memastikan keadaan Arin. Tampaknya perkumpulan keluarga ini sudah membuat Arin merasa kelelahan.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Haru.


“Eh? Emm … nggak apa-apa?” ucap Arin mencoba meluruskan cara duduknya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.


Anna yang memperhatikan tingkah kedua orang dari tempat duduk belakang berpikir, jika hubungan mereka sangat canggung tidak seperti pasangan baru yang seharusnya sedang berbunga-bunga. Rasanya agak aneh, melihat tiba-tiba kakaknya memiliki seorang pacar yang sangat tampan seperti karakter komik yang sering ia baca.


“Kak Arin suka banget sama martabak manis, kalau dibeliin itu pasti bisa ngembaliin mood nya,” ucap Anna sontak membuat Arin langsung menoleh ke belakang dan menatap sinis — menyuruhnya untuk tutup mulut.


“Ahh … begitu rupanya.”


“Jangan didengerin! Dia suka bercanda kok,” ucap Arin.


“Nggak apa, nanti kita sekalian mampir ya …,” ucap Haru dengan sangat lembut membuat Arin tak bisa menolaknya lagi. Rasanya sikap Haru sedikit berlebihan jika ini hanya sekedar akting. Tapi Arin memilih untuk berhenti memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal, demi keselamatan kewarasannya.