The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 20 Sisi Kelam Arin




Sisi Kelam Arin



Acara yang digelar di dalam sebuah aula dimana beberapa wartawan media yang meliput. Tentu saja Haru memang seorang pengusaha muda yang sangat terkenal di dunia bisnis perekonomian. Berjalan memasuki aula, Arin mencoba untuk tetap tenang saat berjalan bersama dengan Haru yang merangkul tangannya. Sosok Arin menjadi pusat perhatian para tamu undangan lantaran untuk pertama kalinya Haru memperlihatkan calon istrinya pada publik.


Ini pertama kalinya bagi Arin merasakan sebuah suasana yang begitu berbeda dibandingkan dunianya yang selalu sepi. Benar. Dirinya dan Haru benar-benar memiliki perbedaan yang sangat jauh. Satu persatu tamu undangan menyapa Haru dan semua yang menyapa terus memuji kecantikan Arin. Hal itu tidak membuat Arin merasa senang, lantaran saat ini dirinya benar-benar sangat gugup sehingga sulit untuk fokus.


Acara peluncuran di mulai. Arin harus berpisah dengan Haru lantaran dia harus memberikan sebuah sambutan pidato selalu CEO. Arin duduk di baku paling depan bersama dengan beberapa orang penting di sana. 


Arin mulai merasa tubuhnya terasa panas dingin karena jantung yang terus berdebar. Ia mulai merasa tidak nyaman berada di tempat yang seakan membuatnya menjadi makhluk paling kecil di dunia ini. Tidak ingin mengacaukan acara, Arin berjalan pergi meninggalkan aula disaat Haru yang sedang berbicara di depan podium,


Sesampai di dalam toilet, Arin langsung masuk dan mengunci pintu. Arin mencoba untuk menenangkan dirinya yang terlalu gugup. Dengan mengatur pernafasan, jantungnya yang berdebar semakin membaik.


“Yang tadi itu serius calonnya, Pak Haru … wah beruntung banget.”


“Tapi gue denger, latar belakangnya nggak jelas dari keluarga mana …”.


“Wajahnya biasanya … kok Pak Haru mau sama ya sama cewek kayak gitu, nggak nyangka tipenya pak Haru rendahan bengat.”.


Setrika Arin tertegun saat mendengar perkataan dari orang-orang yang baru saja masuk kedalam toilet yang mulai membicarakan keburukannya. Sungguh tidak dapat Arin mengerti kenapa dirinya mendapatkan sebuah komentar yang begitu menyayat perasaan nya. Padahal mereka bahkan tidak tahu siapa dirinya. Setelah orang-orang itu pergi semua menjadi sunyi.


Arin melangkah keluar dari toilet dan berjalan menghampiri wastafel. Pantulan wajahnya terlihat jelas di dalam cermin. Wajah yang terlihat begitu asing ini, apa sebegitu tak pantasnya berdiri di samping Haru. Apa dirinya begitu buruk hingga mendapatkan komentar orang-orang tadi. Rasanya semua menjadi hening, Arin merasa dirinya tersedot kedalam suatu lingkaran gelap.


TING!


Suara pesan masuk yang memecahkan keheningan.


| Kamu dimana?


Sebuah pesan masuk dari Haru.


Tampaknya Haru telah menyadari dirinya yang menghilang. Arin harus segera kembali walau sesungguh ia tidak ingin kembali lagi ke dalam alu yang menyeramkan itu. Lalu jika dirinya pergi, bagaimana dengan Haru, pikir Arin yang akhirnya memilih untuk kembali.


Dengan langkah yang begitu berat, Arin mencoba untuk tersenyum saat melihat sosok Haru yang tampak menunggu di depan pintu masuk aula dengan penuh kekhawatiran. Haru berlari menghampiri dan langsung memeriksa keadaannya.


“Kamu nggak apa-apa? Kenapa tiba-tiba menghilang …?” tanya Haru.


“Tadi aku dari toilet, maaf udah buat kamu panik.” ucap Arin mencoba untuk tetap bersikap biasa, karena dirinya tidak ingin mengacaukan  acara Haru yang sangat penting. Benar. Dirinya hanya cukup untuk menahannya hingga acara selesai.


“Emm … aku masih nggak apa-apa.” ucap Arin.


Langkah Arin tiba-tiba berhenti saat di depan pintu masuk aula. Tubuhnya seakan menolak untuk melangkah lebih jauh. Tangannya mulai gemetaran dan tubuhnya terasa dingin. Nafas yang mulai menjadi berat, Arin mulai kehilangan kendali akan tubuhnya. Haru yang menyadarinya langsung memeluk Arin agar tidak terlihat oleh siapapun.


“Nggak apa-apa … Arin … nggak apa-apa, ada aku disini.” ucap Haru mencoba menenangkan Arin. Namun hal itu tidak berhasil karena kini Arin sudah sulit untuk mendengar sekitar.


Pandangannya mulai tak jelas dan jiwanya seakan ingin memisahkan dirinya dari tubuhnya. Haru mencoba melihat sekeliling mencari bantuan. Ia melihat Dimas rekan kerjanya yang tampak sedang berlari menghampirinya.


“Ada apa, Pak?” tanya Dimas.


“Cepat ambil mobil saya!! Cepat!!” ucap desak Haru yang sontak membuat Dimas langsung berlari ke parkiran tanpa mengatakan apapun.


Haru melepas jasnya untuk menutupi wajah Arin. “Arin … kamu bisa jalan …?” tanay Haru.


Arin hanya menganggukkan kepalanya.


Perlahan Haru merangkul Arin, berjalan keluar dari gedung aula. Mobil dengan cepat datang tepat Haru sampai di luar lobby. Tanpa diperintah, Dimas langsung membukakan pintu dan sedikit membantu Haru yang sedang memasukkan Arin ke dalam mobil dengan hati-hati.


Pintu kembali ditutup.


“Dimas, tolong kamu lanjutkan acara ini. Maaf saya harus pergi, saya percaya sama kamu. Terima kasih ya … saya pergi.” ucap Haru yang kemudian langsung masuk kedalam mobil meninggalkan Dimas yang masih dalam kebingungan dan panik melihat atasannya yang tiba-tiba pergi di tengah-tengah acara.


Haru melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Ia pergi secepat yang ia bisa lakukan untuk menyelamatkan Arin. Wajah yang penuh kekhawatiran, ia mencoba untuk tetap tenang.


Sesampainya di rumah sakit, Haru menggendong Arin menghampiri seorang perawat yang kemudian membawanya ke tempat tidur untuk melakukan pemeriksaan terhadap Arin yang masih dalam kondisi panic attack. Seorang dokter UGD langsung menghampiri mereka. Haru melangkah menjauh agar tidak menghalangi para tenaga medis yang ingin memeriksa Arin.


Sungguh Haru tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Untuk pertama kalinya ia melihat sosok Arin yang mengalami panic attack. Rasa bersalah karena tidak bisa menyadari hal tersebut sejak awal. Ia menyesal karena sudah membawa Arin ke tempat yang tak seharusnya Arin datangi.


Sekitar 1 jam berlalu, Haru menunggu Arin yang masih belum sadarkan diri. Cairan infus baru saja dilepas dan digantikan yang baru oleh perawat. Haru tak berhenti menggenggam erat tangan Arin yang penuh dengan bekas luka di pergelangan tangannya. Sebuah luka yang mungkin tidak akan bisa menghilang sampai kapan pun. Sungguh menyakitkan melihat seorang wanita yang bahkan begitu rapuh harus menanggung beban yang sangat besar. haru semakin yakin pada dirinya jika ia ingin melindungi Arin apapun yang terjadi. Walau pada akhirnya pernikahan ini berakhir dengan perceraian, Haru akan tetap melindungi Arin walau dari belakang.


Haru sontak terkejut,saat merasakan pergerakan tangan Arin yang mulai bangun dari tidurnya. wajahnya sangat pucat dan lemas. Menatapnya dengan tatapan rasa bersalah.


“Pestanya …? Kenapa kamu ada disini?” tanaya Arin yang memaksakan diri untuk bangun.


“Jangan paksakan dirimu, berbaringlah …” ucap Haru mencoba untuk kembali membaringkan Arin di tempat tidur.


“Maaf … pasti gara-gara aku ya … maaf udah mengacaukan pestanya …” ucap Arin yang meneteskan air matanya karena merasa bersalah.