The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 37 Pembalasan 1



Pembalasan (1)


Melajukan mobil mengikuti arah penunjuk yang map tunjukkan. Wajah yang dipenuhi dengan marah dan pikiran yang dipenuhi dengan sebuah strategi yang sedang ia susun untuk ia tunjukkan pada seseorang yang sudah melakukan sebuah kesalahan besar.


Di sebuah kantor yang berada di gedung, berjalan dengan penuh wibawa membawa selembar amplop coklat di tangannya. Ini sebuah rencana yang simple, dirinya hanya menjadi seorang investor yang akan menanamkan saham pada sebuah perusahaan swasta yang memproduksi sebuah mode fashion lokal.


Haru langsung disambut baik oleh seorang pegawai yang langsung membawakan sebuah ruang rapat. Disana juga ada beberapa orang yang tampak sedang menunggunya. Seorang wanita yang sepertinya seorang CEO yang langsung memberikan sapa padanya.


“Selamat siang. Sana Susan CEO perusahan HARALA Fashion. Senang bertemu dengan anda.” ucap Susan sambil mengulurkan tangannya.


Haru menggapai tangan itu untuk membalas salamnya dengan ramah. “Saya Haru. Senang bertemu dengan anda juga.” ucap Haru.


“Mari … silahkan duduk,” ucap Susan.


Perbincangan pun berjalan lancar. Kedua pihak saling mendatangi berkas dan kembali saling berjabat tangan.


“Senang bisa bekerja sama dengan anda,” ucap Susan.


“Apa boleh saya bicara dengan nada empat mata?” tanya Haru.


“Iya?” sontak membuat Susan menjadi bingung dengan ucapan Haru.


Kemudian Susan menyuruh semua pegawainya untuk segera meninggalkan ruangan. Hingga hanya tinggal mereka berdua di dalam ruang rapat yang berubah menjadi sunyi dan serius. Ekspresi wajah Haru seketika berubah menjadi tajam. Susan yang belum mengetahui apapun tampak begitu santai tersenyum di hadapan Haru.


“Sepertinya kopi anda sudah habis, mau saya ambilkan lagi?” tanya Susan.


“Tidak perlu.”


“Jadi apa ada yang ingin anda bicarakan?” tanya Susan.


“Ya tentu saja. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan,” ucap Haru perlahan membuat suasana menjadi menegang.


“Apa mungkin anda lulusan SD Mutiara?” tanya Haru.


“Oh! Gimana anda bisa tahu? Iya saya memang alumni SD Mutiara,” ucap Susan.


“Saya melihat wajah anda mirip dengan salah satu siswi yang ada di buku tahunan kelas 4-2.” ucap Haru sambil memberikan ponselnya, terdapat sebuah foto yang tadi ia sebutkan, lalu di tunjukkan pada Susan.


“Iya … ini saya yang di kuncir dua, lucu bukan?” tanya Susan.


“Iya.”


“Tapi bagaimana anda bisa mendapatkan foto ini?” tanya Susan.


“Istri saya juga alumni kelas 4-2, dia yang yang berambut pendek dengan mata yang tampak sedih,” ucap Haru.


Sontak Susan terdiam bingung, kedua matanya mulai gemetar lantaran ia merasakan perasaan yang tidak enak. Segara ia mengecek ciri-ciri yang disebutkan oleh Haru. Senyumannya langsung menghilang. Saat melihat sosok gadis kecil dengan tatapan menyedihkan, wajah yang terlihat samar-samar di ingatannya.


“Apa anda mengenalnya, namanya Arin Gashina.” ucap Haru sambil tersenyum puas saat melihat wajah yang penuh ketakutan dari Susan yang berusaha menutupinya.


“Iya. Tentu saja. Dulu dia anak yang paling pendiam dan pemalu di kelas.” ucap Susan.


Sungguh jawaban yang tidak diduga.


“Ahh … jadi anda mengenalnya,” ucap Haru.


“Saya selalu mengajaknya duluan, dia benar-benar pemalu dan jangan bergaul di kelas. Tapi dia sangat baik,” ucap Susan berusaha berbohong dalam perasaan yang penuh ketakutan.


“Wah … kebetulan sekali. Bagaimana lain kali kita minum teh bersama?” tanya Haru.


“I — iya, tentu saja dengan senang hati,” ucap Susan.


“Emm … sepertinya saya harus segera pergi. Kalau begitu, saya permisi,” ucap Haru sambil beranjak dari tempat duduknya.


“Sialan …! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa gadis culun itu bisa jadi istrinya Pak Haru, sial …!” ucap Susan yang melampiaskan kemarahannya dengan menendang tong sampah yang ada di hadapannya.


***


Haru melangkah masuk ke dalam apartemennya. Langkahnya berhenti saat melihat Arin yang tampak duduk di teras. Wajah yang termenung dengan tatapan kosong. Dengan perlahan Haru melangkah mendekati Arin.


“Lagi apa?” tanya Haru sambil menepuk pundak Arin yang sontak menoleh.


“Oh, udah pulang. Tumben …,” ucap Arin.


“Em … tadi ada urusan diluar, jadi aku mampir ke sini dulu baru balik lagi. Kamu lagi apa , kenapa sampai termengun?” tanya Haru.


“Langitnya cantik, lihat …!” ucap Arin sambil menunjukkan ke arah matahari yang perlahan mulai terbenam.


“Wah … cantiknya,” Haru yang ikut terpesona akan keindahan langit sore. “Kamu suka melihat matahari terbenam?” tanya Haru.


“Emm … aku suka sekali,” jawab Arin dengan tersenyum. Namun tidak dengan matanya yang menyimpan penuh kesedihan yang tidak bisa Haru pahami.


“Kenapa kamu suka?” tanya Haru.


“Emm …, cuman kalau lagi melihat langit semuanya menjadi lebih tenang. Kepalaku nggak berisik lagi, jantungku nggak berdebar lagi, cuman nyaman aja …” ucap Arin.


“Ah … begitu rupanya,” ucap Haru.


“Coba rasakan. Dengan menutup mata, lalu … hirup nafas dalam-dalam … huff … lalu hembuskan …,” Arin mencoba memperagakan secara perlahan.


Haru pun perlahan mengikuti apa yang dikatakan Arin. Mereka melakukanya bersamaan, sambil menenangkan pikiran mereka.


“Ah …! Aku lapar,” ucap Arin.


“Mau aku buatkan makanan?” tanya Haru.


“Tapi bukannya kamu mau balik ke kantor?” tanya Arin.


“Nggak apa, masih cukup waktunya,” ucap Haru yang kemudian berjalan menuju dapur meninggalkan Arin yang masih duduk memandang punggung Haru dari belakang.


Haru hanya memandangi Arin yang tampak begitu lahap menikmati makanan yang dibuat olehnya. Melihatnya makan dengan lahap membuat hatinya begitu damai. Dia benar-benar bahagia hanya dengan menikmati makanan padahal hati dan pikirannya benar-benar sangat hancur oleh seorang wanita yang bahkan tidak memiliki perasaan bersalah padanya.


“Kayaknya, kamu harus buka restoran deh …, masakan kamu benar-benar enak,” ucap Arin.


“Benarkah …? Apa aku buat bisnis baru aja ya. kira-kira aku lebih cocok buat restoran apa?” tanya Haru.


“Italia?” tebak Arin.


“Ide yang bagus,” ucap Haru.


Percakapan ringan antara dua orang yang perlahan mulai saling mengenal satu sama lain. Suasana yang menjadi hangat diantara mereka. Tatapan teduh yang ditunjukan Haru, itu adalah hal yang tulus. Dia benar-benar telah jatuh ke dalam, perasaannya jauh lebih dalam terhadap Arin. Bahkan kini dirinya sudah terlalu banyak melewati syarat yang ada di dalam kontrak. Walau perasaannya tidak terbalaskan, Haru hanya menginkan Arin mendapatkan hidup yang lebih bahagia, menjalani hidup seperti wanita pada biasanya.


“Arin …” saut Haru.


“Iya …?”


“Apa ada hal yang ingin kamu lakukan?” tanya Haru.


“Aku …? Kayaknya nggak ada, kenapa?” tanya Arin.


“Cuman tanya aja. Kalau misalnya ada yang ingin kamu lakukan, bisakah kamu langsung bilang sama aku. Apa saja …” ucap Haru.


Walau sedikit membingungkan. Namun melihat tatapan mata Haru dia begitu tulus. “Emm … oke,” ucap Haru.