The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 26 Reunian



Reunian


Di dalam taksi perjalanan menuju cafe dimana acara reunian kelasnya diadakan. Sesungguh Hara sangat enggan untuk kembali berinteraksi dengan teman lamanya. Sejak keluar dari rumah perasaannya sudah terasa tidak nyaman. Jantungnya berdebar-debar dan Arin mulai merasa resah tak beralasan. Arin merasa jika gejala ini dimulai maka kemungkinan akan terjadi sesuatu yang buruk atau tidak mengenakkan untuknya.


Benar. Arin memiliki feeling yang cukup kuat untuk merasakan suatu hal buruk yang akan terjadi di masa depan. Namun ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri untuk tidak lagi mempercayai feeling tersebut. Bahkan dirinya sudah mencoba untuk tidak memikirkan apapun agar perasaan tenang, tetapi tetap tidak mudah.


Sebuah panggilan masuk memecahkan ketenangan Arin. Ternyata itu panggilan dari Haru, ia segera menjawabnya. “Halo, Kak …” sahut Arin.


“Kamu udah berangkat?” tanya Haru.


“Iya. Ini lagi di mobil, sebentar lagi juga sampai. Kamu bukannya lagi rapat …?” tanya Arin.


“Baru aja selesai, makan aku langsung telpon kamu. Gimana perasaan kamu? Baika-baik saja?:” tanya Haru merasa khawatir meninggalkan Arin yang pergi sendirian ke tempat yang tidak disukai Arin. Haru khawatir kejadian saat acara peluncuran aplikasi milik, Arin terkena panic attack karena menerima banyak tekanan.


“Sampai saat ini sih … masih nggak apa. Agak deg-degkan mungkin karena udah lama nggak ketemu sama mereka. Tapi aku bisa kok menahannya …” ucap Arin mecoba menyakinkan Haru agar percaya padanya. Ia tidak ingin mengacaukan kesibukan Haru.


“Aku bakal menyelesaikan pekerjaan aku secepat mungkin lalu menyusul. Kalau ada sesuatu langsung bilang ya …,” ucap Haru.


“Iya. Aku bukan anak kecil. Aku bisa … lagi pula teman-teman kelas aku baik-baik semua kok, dulu kami gak punya masalah apapun.” ujar Arin.


“Oke. Aku percaya. Hati-hati ya …”


“Emm … bye …,”


Sambungan pun terputus. Arin menghela nafas berat saat ia tidak lagi mendengarkan suara Haru yang bisa membuatnya jauh lebih tenang. Benar. Dirinya bukanlah anak kecil lagi. Bersosialisasi itu tidaklah buruk. Arin mencoba mengumpulkan keberaniannya dan membuang semua kekhawatirannya.


Sesampainya arin di depan acara. Langkah kembali berhenti karena keraguan mulai menahan langkah kakinya. Rasa takut akan pandangan orang lain mulai menghubunginya, seakan semua mata hanya tertuju padanya dengan tatapan yang mengerikan. Arin berusaha kembali menepis perasaan takut itu. Benar. Dirinya harus bisa.


“Aku harus bisa!! Ayo Arin … ini bukan hal yang susah!!” ucap Arin kepada dirinya sendiri.


Perlahan kaki mulai kembali melangkah memasuki cafe yang tampak terlihat begitu ramai dari luar. Arin terdiam di depan pintu saat banyaknya orang yang memenuhi ruang cafe. Beberapa wajah teman kelas yang ia kenal mulai terlihat, tetapi mereka belum menyadari kehadiran Arin.


“Eh!! Arin datang!!” saut salah satu dari mereka sontak membuat Arin menolah.


“ARIN …!! SINI MASUK!!” saut mereka para wanita, teman sekelasnya dengan begitu ramah.


Arin mencoba tersenyum sambil berjalan menghampiri meja mereka. Saat berjalan pun Arin disapa dengan beberapa teman kelas laki-laki dengan ramah Arin membalas sapaannya. Sungguh disini sangat riuh dengan obrolan-obrolan banyak orang.


“Ya ampun Arin, apa kabar … gimana kabar lo …?” tanya si Anis bendahara kelas yang memang ternal ramah.


“Sini duduk di sini masih kosong!!” ucap Mawar teman sebangkunya dulu. Dia dari dua teman yang dekat saat masih di sekolah.


“Loh! Ada Arin … akhirnya dari datang juga ke reunian …,” ucap Ayu yang juga teman satu gengnya dulu saat di kelas 3 bersama dengan Mawar. Namun karena sudah tidak pernah ketemu karena kesibukan masing-masing membuat Arin merasa sedikit canggung.


“Wah … udahlah nggak liat kalian kumpul berempat …” ucap Anis.


“Iya iya … kita dulu sering bareng kalo kemana-mana …” ucap Shella.


“Si Ardan belum datang?” tanya Anis.


“Kayaknya belum …,” jawab Mawar sambil duduk di samping Arin dan mulai mencoba memulai pembicaraan. Arin mencoba untuk berbaur walau itu sulit, karena ia benar-benar merasa canggung.


Perlahan rasa tidak nyaman dan canggung seperti sebelumnya mulai memudar karena sikap baik para teman-temannya. Bahkan beberapa dari mereka terkadang membuat lelucon hingga membuat Arin tertawa dan temannya Mawar juga sangat bersikap baik dengannya, walau sudah sangat lama tidak bertemu dan beberapa kali acara reunian dirinya tidak hadir Mawar masih bersikap seperti dulu.


Namun perasaan tak nyaman kembali saat satu orang yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya. Dia adalah Ardan yang datang membuat semua perhatian tertuju padanya. Mereka menyambut Ardan seperti mereka menyambut Arin tadi, hanya saja Ardan dengan sikap humble nya dengan mudah berbaur.


Tak ingin dirinya terlihat Arin mencoba untuk tetap diam dan berpura-pura tidak melihat. Walau Mawar yang duduk disampingnya tampak heboh karena mereka dulu benar-benar sangat dekat.


“Wih … Ardan!! Tambah keren aja lo!! Sini duduk! Ada Arin juga loh!!” ajak Mawar.


“Sial. Kenapa harus kesini …,” gumam Arin dalam hatinya merasa tidak ingin sampai dirinya bersebelahan dengan Ardan.


“Oh! Arin dateng juga …” ucap Ardan sambil berjalan menghampiri Mawar dan duduk di hadapan Arin yang tampak begitu diam.


“Arin … gue kira lo nggak bakal dateng lagi kayak tahun kemarin.” ucap Ardan mencoba memulai pembicaran dengan Arin yang tampak tidak nyaman dan canggung akan kehadirannya.


“Iya.” jawab Arin berusaha untuk tidak bertatap muka dengan Ardan.


Ardan langsung bisa menyadari sikap acuh Arin terhadap dirinya sejak pertemuannya di cafe kemarin. Mungkin karena tidak pernah bertemu membuat Arin menjadi canggung, pikir Ardan. Kemudian perhatiannya teralihkan dengan temannya yang mengajak obrol.


Arin hanya terdiam dan hanya memperhatikan obrolan-obrolan teman-temannya yang sedang membicarakan anak-anak mereka. Maklum hampir wanita di kelas ini sudah memiliki keluarga masing-masing da ada yang sudah menikah tapi belum memiliki anak. Bisa dibilang hanya dirinya satu-satu orang yang belum memiliki keduanya. Walau ia menikah tapi itu hanyalah pernikahan kontrak.


“Arin … gue denger lo udah nikah juga, tapi nggak mengundang banyak tamu …” celetus Mawar sontak membuat semua perhatian tertuju pada Arin.


“Oh iya. Gue juga liat postingan adiknya. Dia bahkan nggak posting apa-apa tau tentang pernikahannya. Wah … kayak privasi bangat. Emang siapa suami lo, Rin?” tanya Anis.


"Gue emang jarang buat sosmed …," ucap Arin.


"Arin udah nikah? Kok gue nggak tau?" tanya Ardan.


"Lo mah nggak penting!!" ucap Mawar.


Hal itu mengundang tawa, mereka menertawakan Ardan karena ucapan Mawar yang meledek Ardan.