The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 49 Rencana Berkeliling Dunia



Rencana Berkeliling Dunia


Arin duduk di balkon atas sendirian selagi Haru sedang membereskan barang-barang di bawah. Hujan yang sudah mulai reda tapi tidak dengan langit yang masih tampak begitu kelabu. Gumpalan embun awan yang menutupi area sekitar membuat sorot padang sedigit buram. Udara dingin yang membuat bulu kudung merinding, berbeda dengan udara di Jakarta. Arin mulai merasakan ketenangan saat tubuh mulai bisa menyatu dengan alam. Rasanya jiwa dan mentalnya mulai bisa menyusun kembali menjadi raga yang utuh. Menata kembali pikirannya yang berantakan agar bisa menemukan sebuah penyelesaian dari semua masalah yang ada.


Tak lama Haru keluar dari balik pintu, berjalan menghampirinya sambil membawa selimut dan teh hangat untuk Arin. “Kamu nggak dingin …?” tanya Haru.


“Sedikit …,” jawab Arin yang menoleh ke arah Haru yang duduk di sampingnya, menyelimutinya dengan selimut dan memberikan segelas susu jahe hangat agar tubuh lebih hangat dan relex.


“Panas ya … minumnya hati-hati,” ucap Donghyuk.


“Emm … makasih,” ucap Arin merasa tersentuh dengan act of service yang diberikan Haru pada dirinya seakan dia telah mengetahui apa yang dia butuh tanpa bertanya padanya terlebih dahulu. Rasanya dirinya beruntung mendapatkan pria seperti Haru. “Kamu nggak minum juga …?” tanya Arin.


“Nggak apa, aku akan minum kalau aku mau.” ucap Haru sambil mengubah ponselnya menjadi silent mode agar tidak ada yang mengganggunya. “Bagaimana, pemandangannya bagus bukan?” tanya Haru sambil kembali membenarkan selimut yang menyelimuti Arin agar menutup dengan benar.


“Emm … aku suka, bagaimana kamu bisa tau tempat ini? Kayaknya kamu sering datang ke sini ya …?” tanya Arin.


“Ayah sama ibu yang suka datang kesini. Karena saking sukanya sama tempat ini, mereka sampai mau membeli, tapi di tolak sama pemilik fila ini, katanya ini juga fila peninggalan yang harus dijaga. Makanya yang datang ke fila ini hanya orang-orang tertentu agar nggak merusak apa yang ada di sini.” ujar Haru.


“Wah … kalau pun dijual pasti harganya sangat mahal,” ucap Arin.


“Sangat … tapi nggak sedikit orang yang mau membeli fila ini walau harganya mahal, ya karena pemandangan di fila ini nggak ada di tempat manapun,” ujar Haru sambil menikmati setiap detail pemandangan yang memanjakan matanya. Bukannya hanya pemandangan gunung sama ada air terjun kecil yang mengaliri dari atas gunung, hingga membuatnya jauh berbeda dengan fila yang lain. “Makanya aku bawa kamu ke sini … karena aku pikir kamu bakal menyukainya,” ucap Haru.


“Emm … aku suka banget …”.


“Lain kali kita datang ke sini lagi ya …?” tanya Haru.


Namun Hara terdiam beberapa saat, entah mengapa dirinya kesulitan untuk menjawab sesuatu hal yang tidaklah pasti. Membicarakan tentang sebuah rencana di masa depan membuat Arin berpikir, “Apa aku masih hidup di masa itu ..?”.


“Aku harap, kita bisa datang lagi …,” ucap Arin sambil memberikan sebuah senyuman agar Haru tidak memikirkan keraguannya dan tidak menyadari apa yang sedang ia rasanya saat ini. Arin kembali menghadapkan matanya ke arah depan mencoba memusatkan perhatiannya pada alam agar kembali menemukan kedamaian.


“Maafkan aku …” ucap Arin.


“Untuk semua …, tapi … ada yang buat aku ingin tau tentang kamu,” ucap Arin membuat suasana berubah menjadi lebih serius.


“Apa itu …?” tanya Haru.


“... Kenapa, kau sangat baik padaku? Bukankah pernikahan ini hanya sebatas pernikahan kontrak …? Apa aku begitu menyedihkannya sampai kamu merasa iba hingga mau menolong aku, tapi kalau dipikir-pikir, buat apa …? Itu hanya merepotkan hidup kamu aja …, padahal pasti banyak wanita yang jauh lebih baik, bukanya hanya perlakukan tapi hatinya juga baik menyukai kamu …?” tanya Arin yang kemudian terdiam beberapa saat. “Aku tahu kalau aku bilang, terdengar kayak nggak tau diri dan sok kepedean … tolong koreksi jika aku salah paham. Tapi menurut apa yang aku lihat dan aku rasakan, kalau kamu memiliki perasaan sama aku, apa itu benar?” tanya Arin yang bahkan tak sanggup menatap Haru yang sedang menatap Arin dengan tatapan teduh. 


“Apa yang kamu katakan itu benar,” jawab Haru yang sontak membuat kedua mata Arin terbelalak sempurna — sangat terkejut. “Dan aku sudah melanggar kontrak poin pertama … untuk tidak melibatkan perasaan dalam pernikahan ini.” ungkap Haru dengan berat hati harus mengatakannya. “Seharusnya aku lebih berhati-hati agar kamu bisa tetap merasa nyaman, tapi sepertinya kamu lebih peka dibandingkan kehati-hatian aku untuk menyembunyikan perasaan ini, maaf …” ungkap Haru.


Mereka hanya bisa saling terdiam.


“Mas Haru …,” saut Arin.


“Em …?”


“Aku … mau pergi liburan ke Korea Selatan …,” ucap Arin sambil menoleh ke arah Haru yang juga ikut menoleh. “Aku ingin pergi ketempat dimana tidak ada satupun orang yang mengenal aku, aku bahkan sudah belajar lumayan fasih bahasa Korea. Jadi aku nggak pergi tour guide, aku bisa sendiri kesana … apa aku boleh kesana?” tanya Arin yang merasa sedikit ragu saat melihat ekspresi diam Haru yang hanya menatapnya. “Aku bukan ingin ketemu idol atau nonton konser kok, aku benar-benar pengen liburan … boleh …?” tanya Arin mencoba menyakinkan Haru.


“... Aku sama sekali nggak keberatan kamu mau melakukan apa yang kamu inginkan. Mau kamu hanya berliburan atau bertemu idol yang kamu suka, aku boleh dan berhak melakukannya. Tapi … daripada kamu pergi sendiri, apa boleh aku juga ikut sama kamu …?” tanya Haru yang sontak membuat Arin tertegun dengan ucapan Haru diluar dari yang ia sangka.


“Bukannya kamu masih harus bekerja? Bagaimana dengan perusahaan …?” tanya Arin.


“Aku akan mengurusnya, kamu nggak perlu khawatir,” ucap Haru.


Arin menganggukkan kepalanya mencoba mempercayai ucapan tersebut, walau ia masih tidak yakin. Perkataan ibu mertuanya beberapa hari yang lalu masih tersimpan jelas di ingatannya akan keberlangsungan perusahan yang terancam karena keberadaannya. Namun Haru yang bersikeras tetap ingin berada di sampingnya. Arin merasa sangat bersyukur dan berterima kasih, tapi disisi lain ia juga merasa bersalah akan hidup Haru.


“Ngomong-ngomong, kalau ke Korea kamu mau ke tempat mana aja …?” tanya Haru yang tampak excited. 


“Ada beberapa tempat yang mau aku datangi, ke pasar tradisional, terus ke daerah Gangwon Do, terus … ke Jeju sudah pasti harus, terus aku mau apa lagi ya … pokok masih ada beberapa lokasi yang udah aku sarech dan ada rekomendasi dari acara reality show yang aku lihat,” ujar Arin yang tak sadar begitu eksaited saat mengatakannya.