
Kecurigaan
“Nggak usah dipikirkan … kamu juga waktu itu pernah datang ke acara peluncuran. Anggap saja ini menjadi impas …,” ucap Haru dengan terpaksa berhitung-hitungan dengan Arin.
“Ahh … iya juga. Tapi tetap saja, aku berterima kasih sama kamu, karena udah buat aku ngerasa nyaman berada di tempat yang ramai.” ucap Arin.
“Kalau kamu ngantuk tidur aja, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai,” ucap Haru.
Lagi-lagi Arin merasa tersentuh mendengar kalimat itu sehingga membuatnya tak sadar terus menatap Haru dengan tatapan teduh. Seperti orang yang baru pertama kalinya jatuh cinta. Arin terjatuh lebih dalam perasaannya pada Haru yang seharusnya dirinya tidak boleh memiliki perasaan itu. Ini akan melanggar kontrak yang ada. Bisa saja Haru bersikap seperti itu hanya sebatas peduli bukanlah Haru benar-benar tulus karena sebuah perasaan yang spesial. Benar. Tidak mungkin seorang Haru menyukai dirinya.
Arin mengalihkan pandangannya ke jendela mobil — memandang air yang menutupi kaca. Sedih memang. Namun dirinya harus sadar batasan yang tidak boleh dilewati.
***
Setelah acara reunian hari itu, Haru memikirkan sesuatu yang mengganjal saat menatap foto yang dikirimkan oleh Arin padanya beberapa saat yang lalu. Sebuah foto dirinya bersama dengan teman-teman Arin. Namun Haru menemukan hal yang memang sudah ia curiga saat datang ke acara reunian. Seorang cowok yang menatap ke arah Arin dengan tatapan seorang pria yang menyukai wanita.
Saat di dalam acara pun beberapa kali Haru memergoki pria itu sedang mencuri-curi pandang ke arah Arin. Entah apa masa lalu mereka, membuat Haru terasa ada yang mengganjal. Tidak lama Dimas masuk ke dalam ruangannya.
“Permisi, Pak Haru. Ada berkas yang harus anda lihat.” ucap Dimas sambil memberikan berkas tersebut pada Haru. “Kami menemukan beberapa plagiarisme dan kecurangan yang dilakukan oleh beberapa penulis baru. Sepertinya kita harus merubah sistem penerimaan naksa. Karena ini sangat merugikan penulis asli dan kita, Pak.” ungkap Dimas.
“Baiklah. Besok kita rapat bahas tentang ini. Kamu tau ‘kan, maksud saya? Jangan sampai kamu mengajukan ini tanpa jalan keluar.” ucap Haru sambil membaca berkas tersebut. “Saya akan diskusikan dengan kuasa hukum kita,” ucap Haru sambil meletakkan berkas tersebut di atas meja — menatap serius ke arah Dimas yang mulai panik.
“Dimas … dulu kamu pernah bilang bisa mencari tahu informasi seseorang ‘kan?” tanya Haru.
“Iya? Maksudnya, Pak ?”.
“Saya butuh bantuan kamu, untuk mencari informasi seseorang secara menyeluruh. Ini memang ilegal, tentu saja saya melakukan bukan untuk hal buruk. Jadi kamu bisakan lakukan hal itu?” tanya Haru.
“Oh … saya sudah terlalu lama nggak melakukannya, tapi akan saya coba. Tapi saya di bayar di luar jam kerja ‘kan, Pak?” tanya Dimas.
“Baik, Pak. Memang siapa orangnya?” tanya Dimas dengan nada berbisik agar tidak terdengar sampai keluar ruangan.
“Ini …” sambil memberikan foto yang ada di ponselnya pada Dimas. Wajah yang sudah di zoom hingga terlihat cukup jelas. “Kalau nggak salah namanya Ardan, saya nggak tau nama panjangnya siapa. Jadi … cari tahu informasi dia sejak SMA sampai saat ini,” ucap Haru.
Awalnya Dimas bingung kenapa Pak Haru sampai sebegitunya ingin mencari pria yang ada di foto ini. Namun saat ia memperkecil kualitas gambar, ia langsung menyadari arah tatapan mata pria yang bernama Ardan tersebut, membuat Dimas mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Iya, saya paham, Pak.” ucap Haru sambil mengembalikan ponsel tersebut pada Haru.
“Ya sudah, kamu kembali bekerja!”.
“Iya, Pak. Saya permisi.”.
***
Setelah pulang kerja, Arin langsung pergi ke rumahnya Haru untuk merapikan dan menata perabot miliknya dan peralatan baru untuk pengantin baru. Setelah proses renovasi selesai, sebelum para mertua datang berkunjung atau tamu Arin harus cepat meruma rumah Haru menjadi rumah mereka berdua. Dibantu dengan dua tukang yang mengirim beberapa peralatan besar, seperti tempat tidur, sofa, meja kerja dan beberapa peralatan lainnya dan perabotan yang lama akan diletakkan di gudang penyimpanan. Awalnya Haru menyuruh untuk membuangnya, melihat harga perabotan Haru yang tidak mudah jadi Arin menolaknya dan menyuruh untuk diletakkan di sebuah gudang penyimpanan. Karena pernikahan mereka hanya berjangka dua tahun saja.
Arin mulai menyusun alat make upnya di kamar dan skincare miliknya dicampur dengan skincare milik Haru. membuatnya benar-benar seperti tinggal bersama. Tak lupa sandal dan handuk pun diganti yang khusus untuk pasangan. Arin mencoba untuk sedetail mungkin dan ia mempelajarinya dari internet, blog, sosial media ataupun drama.
Setelah dua petugas pengiriman barang keluar, Arin bisa jauh lebih santai merapikan rumahnya. Ia menyalakan musik dengan speaker yang baru ia beli diletakkan di dekat meja lampu ruang tengah. Lagu kesukaan Arin yaitu dari ‘DAY6 (Even Of Day)’ yang berjudul ‘Home Alone’. Saking menikmati lagunya, beberapa kali Arin berjoget mengikuti irama sambil mengepel lantai. Ia sama sekali tidak memperdulikan apapun hanya menikmati lagu dan menjadi dirinya sendiri. Sebuah kebahagian yang sendiri, Arin menjadikan diri satu langkah lebih dekat untuk mencintai dirinya sendiri.
Bahkan dengan suara yang pas-pasnya Arin bernyanyi tanpa perlu memikirkan komentar olah lain, karena saat ini dirinya hanya sendirian di rumah. Mengerjakan sesuatu yang sulit pun bisa Arin lakukan dengan bersenang-senang. Hingga akhirnya tanpa sadar arin bisa menyelesaikan semuanya sendirian dengan perasaan yang lega dan sedikit lelah.
Duduk di sofa sambil meminum segelas air putih untuk melepas lelah. Arin kini sedang bangga akan dirinya sendiri yang bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga jam lebih. Di mulai dari jam 2 siang hingga jam setengah 6 sore. Terlihat matahari yang sudah mulai berjalan ke arah garis cakrawala di sebelah barat. Momen yang paling Arin sukai belakangan ini, yaitu menyaksikan matahari terbenam. Sebelum menyaksikan, Arin berjalan ke dapur untuk membuat es kopi untuk ia minum sembari melihat sunset.
Berjalan ke arah balkon sambil membawa segelas es americano. Menatap langit yang sudah mulai berubah ke oren-orenan bercampur warna ungu dan biru. Sungguh lukisan Tuhan yang sangat indah. Hanya melihatnya saja sudah memberikan ketenangan untuk Arin. Hembusan angin sore terasa bersayup-sayup menghempas setiap helai rambutnya.
Terlintas dalam benaknya ketika dirinya sudah jatuh dalam emosional pada alam. Jika saat saat itu dirinya lebih mencintai dirinya sendiri, mungkin ia bisa lebih awal mengetahui betapa cantiknya langit di sore hari bukannya mengenal awan mendung setiap harinya. Ketenangan mulai ia rasakan, tanpa memikirkan apapun dan hanya diam sambil menikmati setiap hembusan angin yang melintasinya. Arin kembali mengambil satu langkah untuk mencintai dirinya sendiri.