
Kantor kepolisian pusat kota, Kapten Dean sedang
menyelidiki beberapa kasus pembunuhan. Termasuk kasus pembunuhan yang baru saja
terjadi, korban seorang duda yang sudah usia lanjut, Abimanyu Sasongko. Kasus pembunuhan yang selalu ada dipikirannya. Tidak ada motif perampokan, padahal didalam lemari pakaiannya tersimpan uang dan perhiasan almarhumah istrinya.
Dean merasa aneh karena baru kali ini seseorang melakukan pembunuhan dengan alat yang tidak biasa. Luka pada tubuh Pak Abi seperti sayatan kecil, sayatan yang berulang-ulang pada pergelangan tangan. Mungkinkah ini dilakukan oleh anak remaja. Motif yang dilakukan untuk sementara adalah pembunuhan tidak direncanakan. Tetapi melihat luka pada sayatannya pelaku seperti menaruh dendam terhadap korban.
“Kapten, bisa segera keruang otopsi pusat?” telepon dari ruang otopsi forensik.
“Saya segera kesana.” Kapten Dean menjawab telepon.
Detektif khusus itu segera berangkat dengan rekannya Bima.
Setelah sampai disana, jenazah sudah selesai diotopsi oleh dokter forensik yang bernama Dokter Alan Kusuma yang sudah berpengalaman lebih dari 40 tahun.
“Kamu sudah datang, bagaimana kabar Ayahmu?” sahut Dokter Alan seakan familiar dengan suaranya dari kejauhan.
“Masih sama keras kepalanya seperti dulu,” tukas Dean acuh.
“Ayah dan anak sama kerasnya … heh.” Sembari menulis hasil otopsi.
“Bagaimana hasilnya Dok?” sembari melihat tubuh korban di atas matras besi.
“Korban meninggal kira-kira tengah malam, dan pelaku membiarkan korban sampai kehabisan darah. Sayatan yang dalam dipergelangan tangannya adalah penyebab kematiannya. Luka pada kepala belakangnya akibat benda tumpul seperti tongkat sebagai alat bantu berjalan yang ditemukan di tempat kejadian. Sudah
terbelah itu, lukanya tepat terkena bagian bawah bantalan ketiak. Luka ini tidak parah.”
“Bagaimana dengan alat pembunuhnya?”
“Aneh alat pembunuhnya tidak biasa dan sedikit tidak terencana, mungkin si pembunuh hanya menemukan alat ini saja disekitarnya. Bisa jadi ini spontan.”
Sudah kuduga.
“Saya berkesimpulan alat pembunuhnya sejenis pemotong kertas ‘Cutter’, karena hasil simulasi yang paling mendekati yang sudah dicoba
dengan mayat simulator adalah pemotong kertas.” sembari menunjukkan hasil sayatan pada mayat simulator.
"Baik dok, terima kasih, tolong kabari jika ada info
lebih lanjut,” pergi sambil lalu.
“Ya kapan-kapan.” pungkasnya sambil melambaikan tangan.
“Hahaha … dasar anak itu.” Menggeleng-geleng sambil tersenyum.
Aku harus datangi tempat kejadian perkara lagi,
sepertinya ada yang terlewatkan.
Dean dan Bima segera meluncur kerumah Pak Abi. Ketika sampai disana terlihat garis polisi sudah tidak terpasang. Dean menemui kepala rumah tangga setempat untuk menanyakan apakah ada orang yang sudah merusak garis polisi dan membobolnya masuk. Terlihat pintu rumah itu sudah terbuka.
Pak Rt tidak yakin dengan penglihatannya, mungkin anak iseng yang sudah merusaknya.
“Sial anak-anak brengsek, sudah merusak TKP.”
“Tenang Kapten, memangnya apa yang ingin kau cari?” Bima mencoba menenangkannya.
“Entahlah, mungkin ada sesuatu jejak yang tertinggal,” sembari melihat sekitar teras pada TKP.
“Seperti?” tanya Bima.
Aku tidak bisa berpikir, apa yang salah.
“Komputer, apakah labfor sudah mengambil semuanya?” timpalku lagi.
“Aku yakin sudah.”
“Aku yakin akan menemukan sesuatu didalam komputer itu.”
"Seseorang yang melakukan kejahatan pasti akan melakukan kesalahan ... apapun itu aku akan segera menemukannya."
Aku berkendara, namun seperti buntu dalam pikiran, menerawang dimana letak kelemahannya dari kasus ini. Aku ingin tahu ada hubungan apa antara korban dan pembunuh. Jika ingin mengetahui siapa pembunuhnya, maka aku harus mendalami siapa korban ini. Bagaimana kehidupannya dimasyarakat dan ditempat bekerjanya dahulu.
“Aku yakin semuanya akan bermuara ke satu titik, yaitu pembunuhnya.”
***
berikan cinta untuk penulis ya 😊