The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 22 Silence Witness or Killer



Sudah beberapa kali wawancara terhadap tersangka Edgar tetapi selalu bungkam. Dirinya


bersedia untuk dihukum seberat-beratnya. Namun sebagai penyidik, pengakuan seorang pembunuh menjadi momen yang paling penting.


Jika tidak hanya akan menjadi beban pikiran meskipun bukti-bukti banyak yang mendukung. Edgar tetap saja tidak mau mengatakan bahwa dirinya telah membunuh tiga orang. Tetapi bersedia untuk menandatangani semua kesaksian yang dibacakan penyidik didepan pengacaranya.


 


Bahkan pengacaranya tidak bisa membelanya secara maksimal karena keputusan bungkam kliennya. Edgar hanya selalu menyetujui apa yang disangkakan penyidik kepadanya. Hal ini membuat Kapten Dean menjadi geram dan gusar karena sikapnya itu. Akhirnya wawancara terakhir sebelum perkara dilimpahkan ke pengadilan,


Dean mencoba untuk mengungkap yang sebenarnya terjadi.


Dean ingin tahu motifnya membunuh tiga orang itu, benarkah karena cinta atau karena Edgar memang seorang psikopat. Hari itu Dean ditemani oleh seorang ahli kejiwaan kriminal mencoba untuk mendalami kepribadian Edgar.


Dean mencari akal untuk memancing Edgar berbicara. Dan yang paling membuatnya tertarik adalah rasa ketertarikannya kepada korban Enggar. Dean menyodorkan sebuah foto dihadapannya. Foto Enggar.


Mata Edgar langsung berbinar dan ingin meraih foto itu meskipun kedua tangannya terbelenggu borgol besi yang dingin dan ketat itu. Dean tidak membiarkannya begitu saja, Dean mengambil foto itu untuk memancing emosinya. Edgar terlihat kesal merasa dipermainkan.


“Biarkan aku menyimpannya!” sembari merebut foto itu.


Namun, Dean tidak membiarkannya. Niatnya hanya ingin menggodanya dan memancingnya untuk bicara.


“Apakah kau senang disini untuk waktu sekitar dua puluh tahun hingga seumur hidup?”


Edgar menarik punggungnya kebelakang.


“Apa kau tidak rindu melihatnya kuliah .…” Sembari memperlihatkan wajah Enggar difoto


itu.


Edgar tersenyum bahagia.


“Melihatnya berjalan-jalan yang selalu kamu lalui .…”


Edgar semakin melebarkan senyumannya.


“Melihatnya menikah dengan ….”


“Tidaaaaaaaakkkkkkkkkkkkk!” tiba-tiba Edgar berteriak penuh amarah.


Mengguncang-guncangkan meja dan tempat duduknya seakan melimpahkan kemurkaan.


“Aku kira kamu tidak keberatan jika akhirnya Enggar menikah dengan ….”


“Kau akan mati ditanganku. Kau akan mati!” Edgar histeris seperti orang gila.


“Ok, tapi kenyataannya kau yang mendekam disini selamanya dan kenyataan diluar sana … hehehe”


“Apa yang kau inginkan dariku, keparat!”


sesuatu yang membuatnya semakin kesal.


“Kau seorang pembunuh yang *****, membunuh hanya karena urusan cinta!” mengucapkan itu didepan wajahnya.


“Hahaha. Kau sendiri tidak pernah merasakan cinta, kau hanya manusia yang kesepian. Mengejar orang-orang sepertiku siang dan malam. Hingga dalam pikiranmu hanya ada aku. Hahaha. Kau yang bodoh dan melewatkan untuk jatuh cinta. Hahaha, dasar bodoh!”


“Sialan!”


“Hahaha. Benarkah? Apa yang kukatakan?” Edgar berhasil membalas Dean.


Dean kesal dan meninggalkan Edgar dengan emosi. Bisa gila kelamaan bicara dengannya.


“Hahaha ….” Edgar tertawa dengan puas.


Dean masuk keruangan gelap dan melihat Edgar diwawancara oleh seorang ahli kejiwaan.


Bima yang berada disana memandang Dean yang sedang kesal.


“Apa?”


“Beneran Kapten belum pernah jatuh cinta?”


“Bim, mau keluar dari tim ini?”


“Tidak Kapten, sorry.”


.Bisanya hanya mengancam, dasar Kapten yang kesepian.


“Hehehe ….” Bima terkekeuh sedikit.


Setelah hampir dua jam dari balik sana mereka melihat Edgar menandatangani semua berkas. Tak lama Dean mendapatkan telepon dari ruang otopsi.


“Dean, dari jejak sepatu dirumah korban Suci dan Dewa terindikasi sepatu wanita dan layangan pukulan ke korban dengan balok kayu sepertinya kidal.”


Dean melihat Edgar yang sedang menandatangani berkas itu dan memperhatikan dengan jelas, Edgar menggunakan tangan kanan dan teringat waktu dirumah sakit Enggar menandatangani berkas dengan tangan kiri.


Dean langsung berlari dan mengerahkan seluruh unit polisi untuk menuju kerumah Enggar dan meminta surat penggeledahan.


“Bim, minta surat penggeledahan rumah Enggar sekarang juga dan kerahkan beberapa unit kerumahnya.”


“Apa yang terjadi Kapten?” Bima penasaran.


“Nanti dimobil saja akan kuceritakan.” Sembari bergegas ke mobilnya.


“Siap Kapten,” ucap Bima mempercepat langkahnya.