The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 16 Bukti Tidak Terkait



Bima membeli makanan cepat saji untuk timnya dikantor. Sedangkan Kapten Dean menunggunya dimobil, pikirannya sedang gusar hingga melupakan waktu makan siang. Tidak sengaja Bima bertemu dengan seorang mantan polisi yang sekarang bekerja disebuah lembaga audit negara.


“Halo Pak Johan apa kabar, sekarang bapak dimana?”


“Halo Pak Bima, baik Pak. Masih ingat dengan saya rupanya hehe ….”


“Masih dong, sahabat lama masa bisa lupa hehe ….”


“Sekarang saya di audit, penyelidikan internal, ya kasus-kasus ringanlah.”


“Hahaha. Bisa saja, sudah tangkap berapa milyar?”


“Yah lumayan,” sahutnya santai.


“Mungkin sekitar beberapa minggu yang lalu di Kampung Orang, kepala cabangnya menggelapkan pajak perusahaan, mencuci uang ke anak perusahaan, termasuk direksinya juga ditangkap.”


“Sebentar … Kampung Orang?” Bima memastikan yang didengarnya tidak salah.


“Yah! Ada apa dengan daerah itu?”


“Kami sedang menyelidiki pembunuhan.”


“Aneh juga, baru saja kemarin karyawan diperusahaan itu yang tinggal di Kampung Orang juga disekap oleh anak yang terlibat. Kenapa


banyak sekali kejadian disana?”


“Serius? Saya bisa minta nama pelakunya?”


“Memang ada hubungannya?”


“Penasaran saja Pak.”


“Ok nanti aku info nama korban dan pelakunya,”


“Sip, makasih Pak.”


“Ok, salam buat Pak Dean!”


“Ok Siap.”


Setelah mendapatkan beberapa nama, Bima mengatakan langsung kenapa Kapten Dean untuk menelusuri instingnya menemui pelaku insiden penyekapan yang terjadi diperusahaan


pengemplang pajak itu. Namun, ditengah jalan Kapten Dean mendapatkan telepon dari Ibunya yang mengabarkan Ayahnya mengalami serangan jantung.


Akhirnya Bima dan Dean harus berpisah, Dean memerintahkan Bima untuk menemui pelaku insiden penyekapan itu yang bernama Wira Raden untuk ditelusuri apakah ada kaitannya dengan pembunuhan yang terjadi di Kampung Orang,


ataukah ini hanya kebetulan saja.


Beberapa minggu ini Kampung Orang menjadi terkenal namanya karena menjadi bulan-bulanan tersorot kasus-kasus kriminal.


 


“Bim, sorry ditinggal dulu. Saya kerumah sakit.”


“Siap Kapten. Santai saja, nanti saya nyusul kesana.”


***


Ayah Dean Terkena Serangan Jantung


Dean meninggalkan Bima dan segera menuju rumah sakit. Sejak tadi perasaan Dean memang sudah tidak tenang dan gusar, mungkin ini apa yang dirasakannya tadi. Ternyata Ayahnya mengalami serangan jantung. Sudah lama Dean tidak menengok orangtuanya karena kesalahpahaman yang pernah terjadi diantara mereka.


Sesampainya dikamar pemulihan Dean ragu untuk membuka pintu itu. Namun, seorang suster membuka pintu dari dalam setelah pengecekan selesai. Terpaksa Dean yang sudah terlihat harus menemui Ayahnya yang masih terbaring.


Dean terkejut, meskipun sudah terkena serangan jantung Ayahnya masih terlihat sehat. Keadaannya baik-baik saja.


 


“Dean kamu sudah datang?” Ibu merasa senang melihat anaknya datang.


“Ayah sudah sembuh Bu?”


“Kenapa kamu tidak menanyakan langsung kepada Ayahmu,” sahut Ibu yang mendorong Dean untuk mendekat


Ayah sudah sadar dan seperti biasa, wajah angkuh dan keras kepalanya membuatnya enggan.


“Ayolah Dean. Sapa Ayahmu,” Ibu memohon sekali lagi.


“Apa kabar Ayah?”


“Kamu lihat sendiri,” tukas Ayah dingin.


“Baiklah jika Ayah sudah baikan, aku harus meneruskan pekerjaan,” Dean sambil berbalik meninggalkan ruangan.


“Apa pekerjaanmu sepenting itu?” Ayah acuh tak acuh seakan meremehkan.


Dean terhenti.


“Ayah sudah jangan mulai lagi,” Ibu merayu.


Langkah kaki Dean terhenti. Menggenggam erat kepalan tangannya menghadap kebawah. Mencoba menahan amarahnya dengan kesadaran penuh. Dean kuatir akan memukul sesuatu atau menghancurkan sesuatu.


“Aku hanya mengatakan apa yang ada dipikiranku, itu saja,” sahut Ayah. Sembari berbalik kearah berlawanan.


“Ayah kumohon jangan begitu. Dean kesini hanya untuk melihat keadaanmu.”


“Tidak Ibu. Aku kesini sebenarnya .…”


“Dean Ibu mohon jangan teruskan … Ibu mohon.” sembari mencoba menutup telinganya dengan kedua tangannya seakan mengetahui apa yang akan dikatakan Dean dan berakhir dengan keributan. Ibu mencoba menahan isaknya


“Apa? Mau memastikanku sudah mati atau belum? Begitu .…”


“Anak tidak tahu diuntung .…”


“Terus saja Ayah katakan apa yang dipikiranmu. Aku juga punya pikiran tentang Ayah yang selama ini kupendam.”


“Katakan saja jangan ragu-ragu. Ayah membesarkan seorang anak pemberani bukan pengecut!” caci Ayah bicara hingga air liur memuncrat.


 Dean semakin emosi.


“Seandainya kakak masih hidup aku akan merasa lebih bahagia,”


“Apa kamu bilang?!”


“Apa Ayah tidak dengar. Aku akan pulang kerumah jika kakak ada disana. Puas?!”


“Dasar! ... dasar! ...,” hardik Ayah. Terbata menahan amarah.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Itu pasti Bima.


Tok, tok, tok.


“Kapten, saya datang,” sahut Bima.


‘Ibu menyeka airmatanya dan berusaha bersikap ramah’


“Oh Mas Bima kan? Mari masuk, silakan.”


“Iya Ibu, saya Bima.”


Dean berbalik dan meninggalkan ruangan itu dengan angkuh.


“Bim, saya tunggu dilobi.”


“Baik Kapten.”


Setelah beberapa saat, Bima menemui Kapten dilobi tetapi tidak ada. Bima mencari-carinya kemana-mana dan mencoba menghubunginya tidak dijawab. Akhirnya, Bima mencarinya ditempat parkir dan Dean ada didalamnya.


Terlihat wajah Dean masih emosi dan meradang. Wajahnya memerah dan butuh pelampiasan. Bima langsung masuk ke mobil dan memberikan minuman dingin.


“Kapten minum dulu,” sembari memberikan minuman dingin itu untuk menenangkan.


Bima tidak menyalakan mesin mobilnya, seakan ingin mengatakan sesuatu.


“Kapten boleh saya bertanya?”


“Apa?”


“Sebenarnya kenapa kalian enggak akur?”


“Sekitar sebelas tahun yang lalu kakak laki-lakiku satu-satunya gantung diri dikamarnya. Tepat setelah dirinya berhasil menjadi dokter forensik. Kakak adalah murid kesayangan dokter Alan, mungkin bisa dibilang kepandaiannya bisa menggantikan dokter Alan kelak,”


“Pasti kau bertanya-tanya kenapa orang secerdas dirinya bisa memutuskan gantung diri?”


“Iya Kapten saya baru mau tanya.”


“Karena itu bukan keinginannya. Kakak ingin menjadi artis. Sejak kecil dirinya pernah membintangi beberapa iklan, kau tahu iklan


pasta gigi dengan slogan ‘gigi putih sepanjang hari’ dan iklan susu ‘kuat seperti superman’. Itu kakakku .…”


“Ya aku ingat, iklan itu sangat terkenal jaman itu,”


“Namun, Ayah membencinya. Ayah sering mencacinya dengan sebutan banci dan meremehkan pekerjaannya. Hingga suatu hari kakak berhenti melakukan itu semua dan hanya berdiam diri dikamar. Sepulang sekolah yang


dilakukannya hanya masuk kekamarnya. Ada yang berubah pada dirinya, sampai pada hari itu kakak mengatakan akan mengikuti keinginan Ayah untuk menjadi dokter.”


Dean mulai menangis, tidak sanggup menahan perasaannya lagi.


“Ayah langsung memeluknya dan terlihat bahagia. Namun, aku melihatnya berbeda dimatanya begitu suram. Tidak ada lagi cahaya dan kebahagiaan,”


“Sejak hari itu dirinya hanya sibuk belajar dan belajar. Bahkan, aku dianggap tidak ada. Aku kehilangan kakak yang penyayang dan ceria


yang selalu memiliki waktu untuk bermain basket, sepak bola atau hanya bercerita tentang kegiatannya dilokasi syuting. Bahkan aku sangat menyukai ketika kakak sedang berakting atau melatih perannya dikamar, aku sering menjadi


lawan dialognya dan itu menyenangkan.”


“Bapak saya pernah bilang, anak laki-laki tidak boleh menangis. Tapi saya tidak setuju karena laki-laki bukan robot, untuk apa Tuhan menciptakan kelenjar airmata jika bukan untuk menangis, yak kan Kapten?”


“Bim. Kalau situasi ini sampai bocor, kau tahu sendiri akibatnya!” Sembari mengusap airmata dan berusaha menghentikan tangisan segera.


“Siap. Saya tidak akan mengatakan soal Kapten yang menangis dihadapan saya.”


“Biimaaaaa!”


“Siap Kapten. Sebaiknya kita segera pergi dari ini.” sahut Bima yang ketakutan akan ancaman Kapten Dean.


Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.


“Saya senang akhirnya bisa melihat sosok Kapten Dean yang lebih terbuka. Saya pikir Kapten tidak punya perasaan,”


“Biimaaaaa. Sekali lagi kau berucap soal ini kulempar kau keluar sekarang juga!”


“Siap Kapten.”


Bima tersenyum puas mengejek dirinya.


***


Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yg banyak ya 😊