
Kelam, mengapa kau sangat menyukaiku. Selalu mengikutiku kemanapun. Mengapa harus aku yang menanggung semuanya. Apakah aku tidak boleh berbahagia.
Jika bertanya dalam hati, apa salahku kepadamu, kepada dunia. Dosa apa yang sudah kulakukan, sehingga aku harus menderita. Kelam, bergantilah dengan ikhlas.
Aku ingin berlalu dengan semangat baru. Masa depan yang kusongsong biru dan haru.
***
Setelah acara pergantian jabatan sementara menggantikan jajaran direksi dan kepala cabang terlaksana, begitu banyak dokumen yang harus
dimusnahkan.
Bahkan laporan dari lima tahun sebelumnya laris diambil untuk dijadikan referensi. Mereka tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, sampai ada penyelidikan internal. Penggelapan pajak oleh pusat yang dialihkan ke anak perusahaan adalah momok bagi semua.
Perbaikan dari atas hingga kebawah dilakukan secara besar-besaran dan serba transparan, Perpustakaan mulai ramai dikunjungi pegawai,
terutama dibagian keuangan. Meminta laporan keuangan sebelum lima tahuan yang lalu, laporan yang masih bersih dan bebas dari korupsi.
Namun, mereka akhirnya hanya banyak menelepon untuk diambilkan dan diantarkan keruangannya. Meskipun aku tidak keberatan sama sekali, bahkan aku merasa senang bisa mengenal lebih banyak orang diperusahaan ini.
Didalam ruangan itu aku sendiri. Aku berada dibarisan rak-rak yang kutata dengan rapih. Dokumen yang sering diambil dan dikembalikan
tanpa etika.
Mereka tidak pernah belajar bagaimana mengambil dokumen yang salah lalu harus dikembalikan lagi ketempatnya. Bahkan jika lupa, sebaiknya berikan saja kepadaku, itu lebih baik.
Terdengar pintu terkunci dari dalam, aku mendengar ada langkah kaki, kupikir itu Pak Wahyu.
“Pak Wahyu? Edgar?”
Aneh tidak ada jawaban.
Aku mendekati suara langkah itu tanpa curiga. Aku benar mendengar langkah itu semakin mendekat. Kali ini aku yakin bukan halusinasi,
aku sungguh benar-benar mendengarnya.
“Siapa disana? Tolong jangan becanda.”
Tiba-tiba seseorang mendekapku dari arah belakang, membuatku terjatuh tanpa keseimbangan. Rambutku ditariknya hingga rontok. Kakiku terseret tanpa kekuatan, yang terbawa arus jeratannya yang kuat.
Aku mencoba berteriak, namun mulutku tertutup rapat oleh tangannya. Memukul-mukul yang bisa
terpukul, namun sesak napas yang kudapat.
Pria itu membawaku keruang baca yang paling ujung dari ruangan ini. Menyudutkanku yang tidak berdaya.
“Siapa kau? Mau apa?”
Pria itu mencoba membelenggu kedua tangan dan kakiku dengan tali yang disiapkannya. Aku hanya bisa berteriak meminta pertolongan.
“Toloong, tolong aku!” berteriak sekuat tenaga.
“Tidak ada yang akan menolongmu, disini hanya ada aku dan kau.”
Aku menangis ketakutan, meraung-raung memohon ampun agar dibebaskan.
Plaaaaak!
Pipiku terasa panas, kutahan sentakan nyeri ini. Wajahnya sepertiku kenal, tapi aku lupa untuk mengingatnya.
“Apa maumu?” tanyaku
“Aku akan menyiksamu seperti kau yang telah mengirim Ayahku ke penjara!”
“Apa? Bukan aku yang ….” ucapanku lagi-lagi dipotongnya.
“Plaaakkk!” tamparan keras mendarat di pipi kiri.
“Tolooooong! ….” Berteriak sekuat tenaga dengan pipi yang terasa panas. Aku sangat takut dan ingin menangis tapi kutahan.
Tiba-tiba datang seseorang yang memecahkan kaca pintu dan mendobrak masuk dengan paksa. Dan berlari sekencang-kencangnya mencari dimana keberadaanku.
“Sial, mengganggu saja,” bentak pria itu. Setelah membuat pipi ini memar akibat tamparannya.
Pria itu bersembunyi dibalik rak setelah menyumpal mulutku dengan sapu tangannya. Aku tidak bisa berteriak lagi. Edgar datang menghampiri dan hanya bisa memberitahu dengan gestur menggerak-gerakkan kepala, bahwa ada pria itu dibelakangmu.
Edgar diterjang olehnya dari arah belakang dan tersungkur. Edgar terluka dan merasakan sakit dikepalanya.
Pria itu melancarkan pukulannya ke wajah selagi Edgar belum pulih dari kehilangan kesadaran. Pukulan kerasnya mengguncangnya hingga jatuh
kelantai, dan menariknya lagi untuk merasakan pukulan tangan kirinya.
Edgar terguncang lagi dan terjatuh. Aku hanya berteriak dalam bungkam dan menangis melihatnya dipukuli.
Pria itu berdiri dan mengatur napas seaka aksinya belum selesai. Pria itu menendangnya dibagian perut dalam, Edgar mengaduh kesakitan.
“Kalian berdua sama-sama tidak berguna.” Caci pria itu memaki.
Pria itu berjalan menjauh meninggalkanku dan Edgar yang terluka parah. Hingga akhirnya Edgar tersadar dan bangkit. Aku hanya berusaha melarangnya untuk membalas, namun Edgar tidak mau mendengarkan.
Dibalik rak-rak tinggi itu Edgar mengejarnya dan terdengar beberapa pukulan bertubi-tubi, bahkan dentuman tubuh mereka yang terlempar ke rak, membuat rak-rak itu bergoncang seperti gempa.
Aku tidak bisa melihat perkelahian itu, hanya suara mengaduh dan desingan pukulan bertenaga.
“Bruukk” terdengar suara tubuh jatuh kelantai untuk yang terakhir kali.
Aku semakin mengerang histeris dalam bungkaman ini, semakin takut jika Edgar dibunuh oleh pria misterius itu. Hingga semua orang
dari ruangan manager berkerumun mencari sumber kegaduhan berasal.
Keamanan datang setelah mereka dipanggil. Aku melihat Edgar keluar dengan selamat dari sela-sela rak itu.
Lalu pingsan tidak sadarkan diri.
***
Berikan cinta untuk penulis sebanyak-banyaknya😊