The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 20 Remuk Redam



Kebahagian tidak menyukai berlama-lama disekitarku. Perasaan bahagia yang singgah berganti dengan cepat dengan kesedihan. Aku


merasakan jatuh cinta yang terlalu singkat dan patah hati yang mendera hatiku bagai remuk redam. Hatiku dihancurkannya ketika aku sudah mulai bisa membuka diri, ketika aku sudah mulai bisa mempercayai seseorang. Aku pikir kamu adalah orang yang tepat setelah sekian lama menanti dalam hati yang kesepian.


Tidak ada manusia yang bersifat seperti manusia, mereka semua pembohong ulung.


Aku semakin menangis ketika kebenaran yang kudengar dari orang lain. Sakitku kian sakit ketika orang yang kucintai mengatakan, melakukan semua itu karena rasa cintanya. Aku tidak habis pikir perasaan apa itu. Ingin mendapatkan cinta dengan cara yang gila. Hanya manusia yang sakit jiwa yang bisa melakukannya.


***


Aku melepas kekuatanku melawannya, karena percuma jika melawannya. Aku masih dalam pengaruh obat yang membuatku setengah sadar. Aku masih merasakan pusing dan pandanganku berguncang seperti gempa. Edgar mencumbu dan mengatakan mencintaiku. Aku hanya semakin menangis dan menangis. Hingga membiarkan dirinya melakukan itu, aku tidak melawan. Mungkin benar aku juga menikmatinya.


Aku memberinya sentuhan yang membuatnya terlena. Edgar menyukainya dan sudah lama menantikannya. Hingga aku melihat tengkuknya yang berwarna putih, seperti albino. Tiba-tiba ingatanku menyeruak masuk bertubi-tubi. Seakan memunculkan ribuan gambar yang jelas dihadapanku.


Pemuda yang pernah menyerangku disekolah, memiliki ciri yang sama. Dan aku semakin yakin pemuda itu adalah Edgar. Tanpa ragu aku mengambil salah satu piala yang ada dirak atas kepalaku dan melayangkannya sekuat yang kubisa. Edgar mengaduh dan tersingkir. Aku berusaha menyingkir darinya dan berusaha bangkit untuk keluar dari sini.


Bergontai hingga hampir terjatuh. Kaki ini seperti melayang tidak menginjak bumi, tubuh ini bergerak seakan diterjang badai, kepala ini berat seakan ingin jatuh kebelakang dan pandangan ini melihat buram dan semua berbayang hingga menjadi ratusan. Namun, hanya tekad yang tersisa, ingin berlari yang kubisa, ingin lepas dari jeratan masa kelam. Aku harus bisa!


Sampai keluar pintu meninggalkannya diapartemen yang tidak akan pernah kuinjakkan lagi. Sampai nanti aku mati, meninggalkan dia yang sudah membuatku hampir depresi dan mati. Aku tidak akan menyerah meskipun hari ini hari terakhirku untuk hidup.


“Aku akan pulang, aku akan pulang.” Berusaha menyakinkan diri.


Edgar berhasil menangkapku lagi. Aku berusaha memukulnya menjauh, tetapi dia bisa membuatku tidak berdaya. Bergumul dengannya diantara lorong-lorong yang sepi.


“Kenapa kamu tidak bisa mencintaiku?” sahutnya berteriak.


“Apa karena si Abi cabul itu? Kamu menyukainya?” semakin kencang tekanan suaranya memaki.


Darah yang menetes dari kepalanya, mengalir hingga menodai wajahnya.


“Kamu menyukai paksaan? Iya?”


“Baiklah aku akan memaksakannya padamu.”


“Aku benci dengan Abi cabul itu yang telah merusakmu. Sedangkan aku yang selalu menjagamu dan benar-benar mencintaimu justru kamu tinggalkan.”


“Apa kamu yang membunuhnya? Mba Suci dan suaminya?” Aku penasaran dengan pernyataannya barusan.


“Hahaha. Dia terbunuh karena monster yang diciptakannya sendiri.”


“Aku bersedia membunuh demi orang yang kucintai, mereka pantas mati karena sudah


menyakitimu.”


“Ayo kita kembali keapartemenku, kamu tidak akan pernah bisa meninggalkanku.”


“Jangaaann, tolong Edgar, jangaaannn. Aku ingin pulang,” tubuhku diangkat dan ditariknya


tidak berdaya.


Tiba-tiba polisi datang dari pintu tangga darurat dengan senjata api yang siap menembak.


Mengarahkan pistol itu padanya.


“Lepaskan Edgar, lepaskan wanita itu!”


Edgar berbalik yang sedang membelengguku.


“Tidak, wanita ini milikku. Kau … kau pasti menyukainya dan ingin mengambilnya dariku!”


‘Tumbuhku terasa panas dan sulit untuk bernapas’


“Lepaskan Edgar, wanita ini harus dibawa ke rumah sakit.”


“Tidak kamu hanya akan memisahkan kami berdua. Kami saling mencintai, katakanlah Enggar,” wajah yang tersihir oleh keraguan, sinar pada matanya menghilang.


“Lihatlah Edgar, dia kesakitan ….”


“Apa? Tidak aku hanya membiusnya sedikit.”


“Dia keracunan, lepaskan sekarang!”


Aku tidak bisa merasakan apa-apa dan tidak ingat apa-apa lagi.


***


Siuman.


Keesokan harinya aku terbangun dikamar rumah sakit. Ayah dan Ibu sudah berada disana. Aku melihat wajahnya yang mengkuatirkan diriku.


Selama ini aku tidak pernah sakit hingga dirawat. Hanya sakit-sakit yang biasa dan sebentar sudah sembuh kembali. Dian juga menjengukku.


Setelah aku sadar polisi langsung masuk ke kamar untuk menginterogasi. Melihatku apakah sudah membaik.


“Enggar bagaimana keadaanmu? Kita sudah pernah bertemu kemarin dikantor, kamu masih ingat ….”


“Ya, aku ingat.”


“Jadi, apa yang terjadi?”


Aku tidak sanggup menahan sakit yang ada dihatiku. Rasanya sangat sesak hingga dadaku seperti terhantam pukulan yang mematikan.


Airmata ini tidak terbendung lagi, aku menangis dihadapan kedua polisi itu.


“Enggar mungkin ini bukan waktu yang tepat, hanya saja ini sudah menjadi tugas kami untuk mengatakannya,” pungkas Bima mencoba menjelaskan perlahan.


“Apa?”


“Kami menggeledah apartemen dan kamar Edgar dirumah orangtuanya. Kami menemukan barang-barang pribadi yang kami identifikasi adalah milikmu sejak kecil.”


“Sepertinya Edgar sudah terobsesi denganmu sejak kamu masih disekolah dasar.”


“Jika kamu bersedia, barang-barang itu akan kami kembalikan setelah penyelidikan kami selesai.”


“Edgar adalah pemuda yang selama ini menguntitku sejak kecil dan dia juga orang yang sama yang pernah melecehkanku disekolah….”


“Aku ingat semuanya ….” Seraya semua ingatan itu memanjat dengan cepat untuk keluar.


Kapten Dean mengambil bangku agar lebih dekat dengan suaraku yang terdengar lemah dan sayup. Sedangkan partner Bima mengajak Bapak dan Ibu untuk beristirahat di kantin.


Sejak peristiwa naas di sekolah waktu itu, setiap berangkat dan pulang sekolah aku merasa selalu ada yang mengikuti. Mungkin itu hanya perasaan se saat karena aku tidak bisa membuktikannya.


Ketika SMP, mulai sering kehilangan barang-barang pribadi dan ternyata benar semuanya dia yang mengambilnya. Dan, mungkin setiap tengah malam dia pula yang berada didekat jendela kamau. Tidak menyangka senekat itu dirinya membuatku ketakutan bahkan trauma.


 


“Jahat! Dia jahat sekali. Kenapa aku sangat bodoh percaya dengan kata-katanya yang akhirnya membuatku jatuh cinta … aku sangat bodoh!” menangis meraung-raung menyesali kebodohan bersamanya.


“Sudah Enggar. Jangan menangis, tenanglah! Kau wanita yang hebat dan kuat. Kau tidak bodoh, bahkan belum pernah ada wanita yang bisa melewati rintangan seberat ini.” Sambil menepuk-nepuk bahuku yang sedang tersedu-sedu.


Tangisanku perlahan berhenti. Ucapannya membuatku tenang, beban berat dan pikiran kalut yang memenuhi rongga dada seakan terlepas hingga bernapas lega.


Semuanya aku ceritakan sampai hal terkecil secara detail. Bermula dari sekolah dasar dan merasa ada seseorang yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Memang agak aneh karena sejak aku bekerja diperusahaan itu, tidak ada yang menjadi bayang-bayangku. Ternyata karena aku berada satu kantor dengannya. Lalu, semua keanehan berlanjut ketika Edgar meminta pindah ke divisi yang sama denganku, menjadi perpustakawan.


***


“Lalu, bagaimana kamu sampai di apartemen Edgar?”


“Aku tidak tahu. Aku hanya ingat, ketika dibasemen Edgar menyergapku dari belakang dan menyemprotkan sesuatu kewajahku.”


“Ya. Itu semacam semprotan obat bius. Edgar menggunakannya untuk membantunya tidur. Edgar mengalami insomnia akut!”


“Benarkah?” kupikir Edgar memang seseorang yang memiliki perangai keji.


“Enggar? Hei, kenapa melamun?” tangannya dilambaikan kewajahku pada pikiran ku yang melayang.


“Ah … maaf.”


“Apa kamu yakin mau menyelesaikannya?” matanya yang langsung mengarah padaku.


“I-iya … aku ingin semua ini cepat berakhir.”


Lalu, aku menjawab semua pertanyaan demi pertanyaan.


“Jadi kamu dengar sendiri bahwa Edgar mengatakan kalau dia telah membunuh pak Abi, Suci dan Dewa?”


“Iya, Edgar mengatakan kalau melakukannya karena cemburu dengan pak Abi yang sudah merusakku dan membalaskan dendam kepada orang-orang yang sudah menyakitiku.”


“Jadi Edgar melakukannya karena cinta? Begitu?”


“Aku pikir begitu.”


“Baiklah, sudah selesai. Aku berharap kamu bisa segera pulih.” sembari tersenyum.


Baru kali ini aku melihat senyumannya.


“Terima kasih Kapten Dean!”


“Oiya bisa minta tandatangani berkas wawancara ini!”


“Ya, tentu saja.”


***


Ketika Kapten Dean meninggalkan pintu itu, aku melihat Bima dan orangtuaku juga berada disana. Mereka seperti membicarakan sesuatu dan aku yakin “Aku” yang sedang dalam obrolan itu. Wajah mereka berubah pucat pasi, seperti tersentak dan tak bisa bernapas. Aku pernah merasakannya. Rongga dada yang seakan terkena hantaman benda keras. Hentakannya membuat sakit, nyeri dan sesak.


Tubuh Ibu lemas hingga tersungkur, aku hanya bisa memalingkan wajah kearah yang tidak terlihat. Aku merasakan sakit juga karena apa yang telah menyakitiku, juga sangat menyakitinya. Menangislah Ibu jika itu akan membuatmu lega, meskipun luka itu tidak akan sembuh total. Aku tahu, karena aku sudah menjalaninya seumur hidupku.


Aku tidak menyangka kalau itu akan menyakiti mereka. Aku pikir mereka tidak peduli


jika sesuatu menimpaku. Aku hanya takut jika mereka menganggapku tidak waras atau pembohong.


Penyesalan itu akhirnya membuat Ayah dan Ibu meminta maaf atas kekeliruannya kepadaku. Akhirnya aku bisa memaafkan mereka. Meskipun itu semua sudah terlanjur.


Seandainya waktu bisa kuputar kembali, aku tidak ingin bermain disekolah pada jam pulang sekolah. Seharusnya aku patuh kepada Ibu yang menyuruhku pulang tepat waktu. Seharusnya aku tidak mengikuti rayuan pak Abi untuk masuk kedalam.


Meskipun itu semua karena Ibu yang mengatakan ke semua orang bahwa aku belum bisa membaca dengan lancar. Seharusnya aku tidak merasa tertantang untuk membuktikan apa-apa kepada orang lain tentang apa yang kubisa atau yang tidak kubisa.


 


Seharusnya aku tidak terlahir secantik ini, jika kecantikan ini hanya membuatku menderita. Hanya membuatku masuk kedalam rasa iri seseorang dan hanya menjadi pelampiasan napsu manusia berhati iblis.


Namun, jika kukatakan sekali lagi ingin kuputar ulang waktuku yang berharga ini, mungkin aku tidak akan dilahirkan ke dunia ini. Mungkin kisahku ini tidak akan menjadi pelajaran hidup buat orang lain.


 


Aku merasa aku hanya manusia yang berjalan memenuhi bumi dimana aku berpijak. Dan selayaknya isi bumi, termasuk rerumputan dan pepohonan bahkan tanah yang kotor, hanya memiliki tempat di bumi hingga sampai akhirnya


nanti. Menunggu untuk terinjak dan mati.


“Aku pikir kalian saling mengenal, karena kalian kan satu perumahan.”


“Apa? Kita sedang membicarakan orang yang sama kan? Setahuku Edgar tinggal diapartemen bukan di Kampung Orang.”


“Hmm, mungkin dia sekarang tinggal diapartemen, tapi yang terdaftar dikantor adalah alamat orangtuanya yang sampai sekarang masih tinggal disana.”


“Orangtua Edgar sudah meninggal kan?”


“Sepertinya kamu salah informasi deh Enggar, orangtuanya masih ada koq sampai sekarang,”


Aku tidak bisa merasakan apa-apa saat ini, pikiranku buntu seperti terhalang oleh dinding berlapis baja.


“Ok aku kembali ke kantor yah, enggak enak sama Bos.”


“Ya, terima kasih Mbak Vivi.”


Aku mengambil tasku dan meninggalkan kantor untuk segera pulang. Aku sampaikan kepada Mbak Vivi hari ini untuk izin pulang cepat karena tidak enak badan.