
Bangsal rumah sakit jiwa, sudah lama tidak kesini sejak beberapa tahun lalu. Kupikir dirinya sudah akan jauh lebih baik. Komandan Dean menitipkan hadiah untuknya berubah buku sketsa dan alat-alat untuk menggambar. Aku berpikir antara Dean dan Enggar Dikta memiliki ikatan khusus diantara keduanya. Tidak bisa kugambarkan dengan kata-kata, Dean selalu mengunjunginya jika ada kesempatan, mungkin itu juga yang membuat Enggar mengalami perubahan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Lorong-lorong ini sudah lebih kusam dari beberapa tahun sebelumnya. Semuanya seakan menua dan tidak terawat. Melewati beberapa bangsal khusus, aku masih ingat jalan ke sini.
Seorang perawat kudekati dan mencaritahu apakah bangsal Enggar masih di tempatnya. Namun, perawat itu orang baru dan belum hapal nama-nama pasien disini. Aku bisa langsung bertanya dengan perawat yang berada di bangsal khusus.
Bangsal khusus dengan penjagaan ketat karena di antara mereka memang sangat berbahaya. Bisa menyakiti diri sendiri dan juga orang lain.
“Suster saya dari kepolisian ingin bertemu dengan Enggar Dikta.”
Perawat itu mencari nama di dalam sebuah daftar yang panjang. Setelah di cek beberapa kali nama itu tidak ada di sana.
“Apa? tidak ada? Suster coba di cek di bangsal umum atau biasa, mungkin Enggar sudah dipindah sebagai pasien itu,” ucapku ingin memastikan.
“Maaf Pak tidak ada juga.”
“Astaga, ada apa ini. Aku menaruh hadiah Pak Dean di atas meja perawat itu dan mencoba menghubungi Komandan!”
Setelah terhubung, aku melaporkannya dan menanyakan dokter yang menanganinya.
Menghubungi dokter yang merawatnya dan ternyata sudah pensiun sejak lima tahun yang lalu.
“Suster, dokter yang bertanggung jawab di bangsal khusus saat ini? Saya harus menanyakan sesuatu, segera,” tukasku pada perawat itu memerintah.
Menemui dokter yang masih muda bernama Dr. Hikmah diruangannya.
“Apa? Enggar dibolehkan pulang,” sontakku terkejut.
“Iya karena dirinya sudah jauh membaik dan bisa mengontrolnya dengan obat-obatan,” jelas dr. Himah.
“Apa dokter yakin seorang pembunuh dan berkepribadian ganda seperti dirinya bisa sembuh,” sambungku lagi.
“Jika anda tidak yakin, aku akan memberikan laporan perkembangannya dan video wawancaranya!”
“Aku tidak butuh semua itu … lalu siapa yang menjaminnya keluar dari sini?”
“Seorang perawat yang sudah bekerja disini selama 10 tahun bernama Hari. Sepertinya Hari sangat perhatian dengan Enggar selama di sini, mereka sering meluangkan waktu bersama. Enggar percaya padanya.”
“Apa? saya minta data perawat itu, sekarang!” ucapku tegas.
***
Menemukan Diary Enggar, kesehariannya menuliskan apa yang ada di pikirannya saat itu. Dengan sketsa yang berulang. Ada gambar seorang anak kecil dan pertumbuhannya hingga dewasa. Dan anak itu disinyalir adalah
Qiandra. Selama ini mereka ikut membesarkan meskipun di dalam sini. Memperhatikan pertumbuhannya hingga sebesar sekarang. Menanti saat yang tepat.
Mengapa Enggar terobsesi dengan Qiandra, apa yang diketahuinya.
Bertahan di sini bukan untuk mencari cahaya, aku sadar ada keinginan untuk bertahan atau melawan. Penyembuhan hanya membuat yang melawan menjadi melemah. Padahal, mereka tidak tahu jika apa yang dilakukan itu membuatnya semakin kuat. Hingga menunggu waktu yang tepat. Untuk menjadi monster yang lebih mengerikan.
Aku terlanjur melihatnya, jika hari berhujan itu tidak datang. Mungkin anak kecil itu tidak akan menjadi bayangan kegelapan.
(sketsa anak kecil yang duduk terpojok sedang menangis memunggungi mayat-mayat dengan lumuran darah kehitaman. Anehnya wajah anak kecil itu menoleh sembari tersenyum licik)
Cinta dan obsesi, tidak akan bisa menyatu. Membiarkannya berpikir jika sudah benar-benar menjadi milikinya, meskipun hanya saling memanfaatkan. Obsesi masing-masing.
(gambar seorang pria sembari bersimpuh, ditangannya memegang pisau dengan ujung matanya terdapat sebuah cincin. Dan wanita dihadapannya terbelenggu baju khusus sembari tersenyum, dengan jantung yang berada di lantai keluar dari dadanya)
Ada coretannya yang membahas soal “Redemption Song”, masih tidak paham dengan maksudnya itu. Aku telah membaca berulang-ulang, namun tidak paham juga. Mungkin, akan kuberikan saja catatan ini kepada Komandan Dean untuk dipelajari. Instingnya sangat kuat terhadap Enggar.
***
Dalam perjalanan kembali ke kantor pusat, aku masih saja memikirkan tulisan itu. Bahkan gambarnya begitu mengerikan. Hingga melekat diingatan setiap detail gambarnya.
Sesampainya di kantor, aku mencari psikolog kriminal yang sejak dulu menangani kasus Enggar. Kuketuk ruangannya.
“Masuk,” serunya dari dalam.
“Kau sibuk?” tanyaku sembari membuka pintu itu. Nin Syam adalah psikolog kriminal yang mendedikasikan hidupnya untuk membantu memecahkan kasus pembunuhan dengan membuat profil pembunuhnya. Dirinya tidak mau menikah agar tetap fokus terhadap seorang pembunuh. Terkadang, memikirkan pilihannya itu membuat merinding rekan-rekan polisi.
“Aku butuh bantuan, Nin.” Sembari memberikan diary Enggar yang kutumpuk diatas mejanya. Nin, melihatnya sekilas dengan membuka beberapa lembar sketsa itu.
“Aku mau melakukan sesi tanya jawab, bisa?” terangku sembari duduk dengan santai. Nin memberikan raut terkejut sembari mengambil posisi duduknya.
“Baiklah, aku akan mendengarkan,” timpalnya serius. Mengambil buku catatannya dan sebuah pulpen.
Aku menerangkan jika gambar-gambar itu telah mengusikku. Terus terang baru kali ini merasakan hal yang menakutkan ketimbang melihat mayat korban pembunuhan. Aku bertanya pada Nin, mengapa demikian? Ada rasa takut setelah melihat sketsa itu bahkan frustrasi yang mendalam. Aku hampir muntah melihatnya.
“Dalam gambar itu ada yang menarik dirimu, yaitu moralitas yang membuat kamu tidak suka, reaksinya mual, muntah bahkan depresi. Memang, tujuan gambar itu memberikan efek negatif, karena orang yang membuatnya adalah seorang yang merasakan menjadi dirinya.”
“Jadi, apakah gambar-gambar itu akan hilang dalam ingatan?”
“Tergantung dirimu sendiri, mau menghilangkannya atau tidak. Saranku, jangan melawannya terlalu keras. Semakin melawan maka akan semakin ingat. Seperti rekaman yang dipaksa menyala berulang-ulang.”
Nin mengatakan, alam bawah sadarku menolak pada awalnya. Kelamaan tanpa sadar penolakan itu akan menjadi penerimaan. Di sinilah seseorang akan menilainya, bahwa itu perbuatan baik atau buruk. Maka sisimu yang mana yang lebih dominan. Tidak ada seorang pembunuh yang menjadi pembunuh dalam satu malam. Dibutuhkan bertahun-tahun menjadi seorang monster.
“Baiklah Nin, aku paham isi kepala Enggar sekarang,” ucapku sembari meninggalkannya. Lalu, aku teringat tentang coretan terakhirnya itu. Aku menginginkan Nin agar memecahkan artinya, soal redemption song.
***
Pak Dean memanggil keruangannya. Aku memberikan laporan utuh, perkembangan kasus.
“Komandan, ternyata selama ini Edgar bersama Enggar di Rumah Sakit Jiwa. Edgar merawatnya sejak melarikan diri dari penjara,” terangku menjelaskan.
***
Pencet Like, Vote, Rate 5, tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak yak )