The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 46 Jatuh Cinta



Cinta memang bisa mengalihkan dunia, ketika jatuh cinta memang bisa membuat kehidupan seseorang merasa penuh. Tercukupi akan cinta menjadikan hidupmu sempurna. Bagaimana seseorang baru bisa sangat terlambat menyadarinya, jika jatuh cinta itu indah dan sempurna.


Nin berada dalam pelukan Dean yang enggan melepasnya sejak tadi.


“Dean!”


“Hmm?”


“Aku harus pulang!”


“Kenapa kamu enggak menginap saja?” pinta Dean sembari menopang wajahnya dengan tangan satu agar bisa melihat wajah Nin yang memunggunginya.


“Enggak Dean, aku enggak mau terburu-buru!” balasnya bangkit dari pelukan itu.


“Bagaimana jika aku menjadi gila karena merindukanmu …,” ucap Dean sungguhan.


“Tunggu! Sejak kapan kamu pandai menggombal?” tukas Nin tidak percaya dengan ucapannya.


“Sejak aku lengser dari jabatan itu ….”


“Hahaha!” sontak Nin tertawa puas.


“Ya … seseorang yang biasa bekerja 24 jam dan sekarang fokus pekerjaan itu hilang, maka akan mencari fokus lain dalam hidupnya,” pungkas Dean jujur.


“Jadi, aku hanya pengalihan di sela-sela kehidupan pengangguranmu itu … hahaha,” hardik Nin yang masih tertawa geli berulang kali dengan pernyataan Dean.


“Ya, itu boleh juga!”


“Dean! …,” teriak Nin protes.


“Apa? Aku hanya ingin jujur dari awal menjalani ini denganmu. Aku merasa membutuhkanmu. Entahlah!”


“Jadi, kita sama-sama membutuhkan karena sudah terlalu lama kesepian ….” Sembari menutupi wajahnya seakan itu benar-benar salah untuk memulai hubungan.


“Apa itu buruk?”


“Aku enggak tahu!” ujar Nin kurang bergairah menjawab pertanyaan itu.


“Seorang kriminolog enggak peka terhadap situasinya sendiri?” tukas Dean menyindir.


“Karena … aku baru kali ini merasakan jatuh cinta! …,” keluh Nin frustrasi.


“Baiklah, kita akan saling menjatuhkan diri, bagaimana?”


Dean ternyata hanya seorang anak kecil.


“Bagaimana kamu mengatur hatimu, Dean? Apa kamu bisa?”


“Aku hanya akan menekan tombol ‘On’ pada hatiku!”


“Sudah cukup, itu terlalu aneh! … kita akan pelan-pelan saja dan ….”


“Baiklah, aku akan pelan-pelan saja ….” Sembari mencium bibir Nin sekali lagi.


***


Malam itu Nin pulang kerumah merasa syok karena ruangan kerjanya sudah hancur berantakan. Terutama foto yang ada dirinya bersama rekan-rekan kerja di kepolisian, hanya wajahnya yang dibuat rusak dan hancur oleh seseorang. Ini bukan lagi perbuatan yang tidak di sengaja, melainkan seseorang yang menaruh dendam padanya. Ketika masuk ke kamar boneka kelinci kesayangannya yang selalu berada di atas kasur sudah dalam keadaan hancur perutnya hingga mengeluarkan seluruh isinya dengan busa-busa yang berhamburan.


Nin, menghubungi Bima dan beberapa kawan dari forensik untuk datang memeriksa tempat kejadian. Nin ingin mengetahui jika pelakunya meninggalkan jejak, dna atau apapun yang bisa menunjukkan siapa. Nin sangat gusar, tidak bisa tenang lagi. Seseorang berhasil membobol pintu belakang dengan mudah.


“Nin, apa kamu bertengkar dengan seseorang atau tetangga, akhir-akhir ini?” tanya seorang petugas. Nin hanya menggeleng.


“Kenapa bertanya hal konyol itu pada Nin, kamu tahu Nin jarang bersosialisasi, tentu saja tidak ada yang dikenalnya di dekat sini,” ujar Bima menyindir.


Kamu sangat berlebihan Bima. Sembari memberikan tatapan sinisnya.


“Aku hanya selalu sibuk bekerja dan kembali kerumah sudah dalam keadaan gelap,” tukas Nin membela diri.


“Tadi pagi kamu kemana Nin?” tanya petugas itu lagi.


“Aku hanya pergi keluar, setelah itu ….” Nin membisu, tidak mungkin dirinya mengatakan jika berada di rumah Dean.


“Petugas, berikan laporan itu padaku, biar aku yang tangani!” pungkas Bima mengambil laporan itu. Dasar anak baru!


“Nin, kemana kamu seharian ini?” tanya Bima penasaran.


“Aku berada di rumah Dean … puas!” ucap Nin berbisik.


Mata Bima membelalak.


“Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi!”


Tiba-tiba Dean muncul di ambang pintu yang sudah terbuka sejak tadi. Nin merasa terkhianati karena seseorang sudah memanggilnya ke sini. Nin mencurigai Bima. Nin memberikan tatapan mautnya, merasa kesal.


“Bukan aku, sungguh!” Bima sembari mengangkat kedua bahunya.


Dari petugas forensik menyambut Pak Dean.


“Aku yang memanggilnya,” ucap petugas forensik itu sembari memanggil Pak Dean untuk mendekat ke tempat kejadian.


Petugas forensik itu menunjukkan sesuatu yang tersembunyi. Seseorang sudah mengukir nama Dean di atas meja kerja Nin. Pelaku sangat tenang dan berada di tempat ini sangat lama hingga bisa menyempatkan diri untuk mengukirnya dengan teliti. Kemungkinan orang itu mengukirnya dengan senjata pribadi yang dibawanya.


“Sepertinya pelaku mengaitkan masalah ini dengan kalian berdua, Nin dan Pak Dean,” sahut petugas itu.


Nin mengusap kasar kepalanya merasa sedikit frustrasi dengan temuan itu. Seseorang yang merasa cemburu dan marah atas hubungan mereka. Tetapi siapa yang mengetahuinya? Padahal mereka baru saja memulainya, belum ada yang tahu.


“Pak Nyoto?” ujar Nin berbisik pada Dean.


“Tidak mungkin!”


“Lalu, siapa seseorang yang mengetahui kalau kita ….” Nin mulai merasa terusik.


“Tenang Nin, sebaiknya kamu tinggal bersamaku … atau bersama keluargamu untuk sementara waktu!”


“Keluargaku di Sulawesi, aku hanya sebatang kara di sini. Lagipula aku tidak mungkin tinggal denganmu.”


“Baiklah … tenanglah, aku akan meminta Bima untuk memberikan perlindungan untukmu!”


Dean mendekati Bima dan memberitahukan perihal hubungan mereka. Agar Bima tahu situasi yang sebenarnya, hanya Bima saja yang tahu dan harus mengunci rapat mulutnya. Bima akan memberikan 1 unit petugas patroli untuk menjaga di kediaman Nin. Ini ancaman serius terhadap anggota kepolisian, apalagi ada sangkut pautnya dengan mantan Komjen Dean.


Ada yang sedang bermain-main denganku.


Seseorang sudah mempermainkan pikiran Dean, untuk mengacaukannya. Seseorang yang tidak puas dan membencinya. Seseorang yang ingin Dean hancur dan merasa tidak bisa bangkit lagi. Seseorang yang ingin melihatnya mati.


Nin memandang dari balik jendelanya, melihat mereka pergi. Mobil iring-iringan yang bising akhirnya meninggalkan rumahnya. Nin merasa sudah tidak nyaman lagi dirumahnya sendiri. Seseorang sudah menanamkan ketakutan padanya. Otaknya berpikir keras, siapa dan apa tujuannya melakukan itu.


Memasuki kamar tidurnya, Nin mengunci pintu dari dalam. Sembari memeluk bantalnya Nin akhirnya menangis, perasaannya sangat takut saat ini. Tetapi, sikap tegarnya menyembunyikan itu dari semua orang. Nin, hanya tidak mau dirinya terlihat lemah terutama terhadap pelakunya.


Aku tidak akan keluar dari rumah ini, jika itu yang diinginkannya.


Suara telepon berdering.


“Nin, apa kamu baik-baik saja?” tanya Dean.


Nin hanya menangis sejak tadi.


“Nin ....” Dean memanggilnya sekali lagi.


“Aku sangat takut sekali, bolehkah aku mengucapkan itu,” sahut Nin.


“Nin … tidak apa-apa, aku akan kesana … boleh?”


Nin mengangguk-angguk, airmatanya masih mengalir. Suara jawabannya yang tertahan hingga terdengar sengau.


“Baiklah, aku kembali kesana,” tukas Dean.


Dean yang masih berada setengah jalan, memang sejak tadi tidak tenang meninggalkan Nin sendirian. Hingga meneleponnya untuk memastikan. Ternyata Nin hanya bersembunyi dalam ketegarannya. Seseorang yang merasa takut bukanlah kelemahan, rasa takut adalah mekanisme untuk membela diri dari sesuatu yang mengancam.


Dean mengetuk pintu rumah Nin, ketika pintu itu terbuka Nin langsung memeluknya erat. Nin membutuhkan Dean untuk menghilangkan ketakutannya.


“Aku di sini Nin … aku di sini,” ucap Dean menenangkannya.


***


Seseorang sedang jatuh cinta, cinta yang memuakkan. Sebentar lagi wanita itu akan mati seperti boneka kelinci ini. Semua isinya keluar semuanya, tidak sabar melihat punya perawan tua. Na ... na ... na ... na ... hi ... hi.