
Di dalam ruangan Komjen Firly yang menggantikan Pak Dean, Bima mendapatkan teguran keras. Kasus bunuh diri massal itu sudah ditutup karena terkena imbas dari tekanan terhadap aksi bungkam Qiandra. Seharusnya penyelidikan sudah dihentikan, tetapi Pak Bima masih saja melanjutkannya. Jika ini sampai terdengar oleh atasan, dan bocor ke wartawan kantor pusat akan mendapatkan tekanan lagi.
“Bima! Apa yang kamu lakukan? Hah!”
Bima tertunduk pasrah ketika Pak Firly menunjuk wajahnya dengan penuh kemarahan. Setelah mengusirnya dengan makian, Bima menutup pintu ruangannya dan berlalu dengan pikiran yang campur aduk.
“Bagaimana Pak?” tanya rekan-rekan semua yang sudah menunggunya.
Bima berdiri di depan semuanya dan membanting sesuatu ke papan tulis. Baginya ini semacam interlude yang memaksa semuanya harus berhenti. Jeda di tengah-tengah penyelidikan yang belum tuntas membuatnya geram dan ingin menghancurkan sesuatu.
“Lalu, Willy yang sudah kita tahan bagaimana, Pak?”
“Tahan! 2 x 24 jam sebelum pengacara datang mendampinginya dan mengeluarkannya dari sini.”
“Dalam waktu itu kita harus menemukan bukti agar bisa menahannya dengan tuduhan,” sambungnya lagi.
***
Bukan wartawan namanya jika tidak bisa mendapatkan informasi, memiliki informan di dalam kepolisian atau hanya asal tempel dengar karena hampir 24 jam mereka berada di sekitarnya. Seorang petugas kepolisian sedang berada di luar gedung, menyalakan rokoknya. Seorang wartawan mendekatinya dan menanyakan soal penggerebekan tadi malam.
“Pak, siapa yang ditangkap tadi malam?”
“Halah kamu … nanti beritanya langsung kesebar!”
“Janji enggak deh Pak, sebelum fix semuanya.”
Petugas itu menghisap rokok yang baru saja dinyalakan.
“Bukan siapa-siapa hanya tersangka salah tangkap!” ujarnya sembari menghembuskan asap ke udara. Berlalu meninggalkannya.
“Jadi bagaimana nih, Komjen bilang hentikan sedangkan Pak Bima suruh lanjutkan. Pusing!” ujar salah satu petugas yang keluar menuju area parkir.
Sebenarnya siapa tersangka yang salah tangkap itu.
“Ya sudah kita kembali ke Gandalaya cari bukti sampai dapat.”
Gandalaya? Wartawan itu mengikuti petugas kepolisian itu dari jarak jauh hingga sampai pada tempat yang dituju. Mencari tahu alamat persis di daerah Gandalaya, siapa pemiliknya yang telah ditangkap tadi malam.
Tiba-tiba keesokan harinya sebuah berita muncul mengenai penggerebekan rumah milik seseorang yang bernama Willy Sujatmiko disinyalir berkaitan dengan aksi bunuh diri massal di rumah Edgar Areza. Kasus yang seharusnya sudah ditutup, tetapi ternyata kepolisian masih melanjutkan penyelidikannya.
Sontak Pak Firly semakin murka hingga memaki Bima di depan semua unit yang bertugas. Bima diskors saat itu juga.
“Sebaiknya kamu serahkan lencana dan pistol itu di atas mejaku,” bentak Pak Firly.
“Pak …,” ujar yang lain merasa kecewa. Mencoba menahan Bima untuk pergi.
Bima terlanjur mengeluarkan lencana dan pistolnya, menaruhnya di atas meja Komjen. Sedangkan Pak Firly hanya berdiri memunggunginya tidak ingin melihat batang hidungnya.
“Insting terkadang melebihi bukti,” ucapnya.
“Dan insting yang membuat Dean jatuh, kamu sadar itu?”
Bima meninggalkan ruangan dengan penuh kekecewaan.
***
Seseorang yang mencintai kegelapan, masuk dengan paksa melalui pintu yang terkunci dari dalam. Mencungkil jendela tanpa teralis. Merayapinya dengan mudah dengan tubuhnya yang ramping. Mendelik bagaikan binatang malam yang mencari mangsa, sensor matanya yang bisa melihat semuanya dengan terang benderang.
Menepis dinding melalui sarung tangan hitam yang membalut, merasakan ruangan yang sepi dan hampa seperti rumah penjagal. Baunya khas mengingatkannya pada rumah yang terbakar, sisa-sisa debu yang sulit dibersihkan.
Mencari sisi-sisi tergelap dalam ruangan, mengingat kembali sudut yang tepat dalam video waktu itu. Ruangan rahasia yang hanya diketahui pemiliknya sendiri.
Kreeek!
Pintu rahasia menuju bawah tanah yang terbuka. Pintu yang berada di dalam pintu berlapis dinding yang sempurna sebagai kamuflase. Bahkan polisi tidak bisa menemukan tempat ini. Seseorang itu membuka pintunya lebih lebar dan mulai masuk ke dalam. Menuruni tangga dan menyalakan lampu senter yang dibawanya.
Menyinari setiap sudut yang berdebu dan hampir tidak ada udara. Rasanya sangat sesak hingga membuatnya terbatuk. Dirinya kecewa karena tidak ada apapun di ruangan itu. Hingga langkahnya tersandung sesuatu, dirinya yang terjatuh melihat sebuah alas karpet yang menutupi permukaan.
Disibaknya karpet itu hingga terlihat sebuah pintu bergembok di lantai. Sebuah ruangan rahasia lainnya.
Wajahnya tersenyum. Melihat sesuatu yang ditemukannya. Mencari sesuatu benda keras untuk bisa menghancurkan gembok itu.
Sebuah linggis yang berada di sudut berdiri seperti telah disiapkan untuknya. Memukulnya sekuat tenaga hingga melukai tangannya sendiri. Membuka gembok besar itu tidaklah mudah. Tangannya berdarah namun beberapa kali pukulan tidak juga membuatnya terbuka. Hanya menggoresnya saja.
“Kamu mencari kunci ini?” sindirnya sinis.
Sontak seseorang yang berada di bawah melangkah mundur dan tetap memegang linggis yang sudah melukainya. Seseorang yang memegang kunci itu menuruni tangga dengan keangkuhannya, seakan tidak takut dengan apapun.
“Si-siapa kamu?” tanya pemegang linggis itu.
“Ha ha ha … seharusnya aku yang bertanya, kamu siapa. Beraninya menerobos masuk ke rumahku!” sentaknya santai.
Pemegang kunci itu akhirnya terlihat wajahnya setelah mendekati cahaya senter.
“Ra-rama?”
“Wow … wow … tidak kusangka, Qian mendatangi rumahku. Jika kamu memberitahukan sebelumnya aku akan menyambutmu lebih baik … ha ha ha.”
“Diam disitu, Rama … aku akan memukulmu dengan ini!” ujar Qian mulai gemetar.
Debaak!
Pukulan keras sekali ke wajah Qian membuatnya jatuh ke lantai. Qian terpukul sangat telak, tubuhnya yang kecil tersungkur hingga membuatnya berdarah. Qian merangkak di lantai dengan kepalanya yang terasa nanar dan nyeri di pipi. Isakan tangis Qian tidak menghentikannya untuk menyakitinya.
“Jadi, kamu ke sini mau apa Qian?” sembari menginjak tangannya yang berusaha meraih linggis.
Qian berteriak kesakitan. Namun, Rama semakin menginjaknya lebih keras. Hingga suara “krek” dari tulang jari Qian yang patah. Qian merasakan sakit yang luar biasa. Menangis darah.
Di antara merasakan penderitaannya, Qian mengambil pisau yang disembunyikan di selal kakinya dan menusuk paha kanan Rama hingga menancap di sana. Rama tumbang seketika, mengerang kesakitan. Berusaha untuk mencabut pisau itu dari pangkal pahanya.
Rama berteriak menderita. Qian berlari keatas tangga, sembari menahan sakit jemarinya yang sudah berlawanan arah. Dengan rintihannya Qian berusaha menyusuri tangga itu. Tiba-tiba Rama menarik kakinya hingga wajahnya terbentur tangga dan tidak sadarkan diri.
***
Ketika sadar Qian sudah berada di bawah ruang rahasia dengan keadaan teringat. Rama yang merintih kesakitan dengan pisau yang masih menancap membuatnya kehilangan banyak darah.
“Rama, lepaskan aku,” ucap Qian memohon.
“Tidak! Kita akan mati bersama di sini.”
“Rama, kumohon!”
“Diaaaamm! Aku tidak akan bertahan, kakiku sudah menghitam dan kehilangan banyak darah.”
“Rama, kita masih bisa pergi ke rumah sakit.”
“Tidak! Aku sudah kehilangan Ayah, lebih baik aku mati di sini.”
Qian melihat Rama sangat pucat dan mulai kehilangan kesadarannya. Rama mulai meracau, menceritakan jika dirinya sudah lama ingin mati.
“He he he … kamu tahu Qian, semenjak Ibu meninggalkan rumah ini demi laki-laki lain. Aku semakin membencinya. Dan wajahmu mengingatkan pada Ibu. Wajah cantik, lugu dan tidak berdosa, kamu sangat munafik sepertinya. Aku membencimu Qian, hingga aku ingin membuatmu menderita di sekolah.”
“Jadi, kamu menindasku di sekolah karena wajahku mirip dengan Ibumu?”
“Yaa … mungkin karena aku juga menyukaimu tetapi wajahmu itu mengingatkanku pada Ibu. Aku bingung memiliki dua perasaan sekaligus, menyukaimu dan membencimu!”
Rama menoleh kearahku memberikan senyuman dan cahaya pada netranya perlahan menghilang. Seperti mata pada kamera yang dimatikan.
Rama?
Qian mendekati Rama dengan melantai, memanggil namanya berulang kali. Tidak ada respon, hingga sampai di dekat kakinya. Qian bergerak mundur berniat mengambil pisau yang masih menancap. Memegangnya dengan posisi yang aneh dengan tangan yang masih terikat. Dengan sekuat tenaga Qian menarik pisau itu yang sudah tertembus dalam.
Eeeeaarrrrrggghhh!
Semburan darah menghitam keluar dari koyakan daging yang terbuka.
Qian menggunakan pisau itu untuk melepas ikatannya di tangannya lalu ke kakinya. Menaiki tangga, sempat menoleh sebentar pada mayat Rama dan meninggalkannya di sana. Di ruangan yang hampa.
Qian melupakan sesuatu yang menjadi tujuan awalnya mendatangi rumah itu.
***
Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak yak )