The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 15 Kampung Orang Gempar



 


Satu persatu orangtua dari anak yang ada difoto-foto koleksi Pak Abi dipanggil ke kantor polisi. Satu kampung orang menjadi gempar.


 


Baru kali ini ada peristiwa kejahatan sebesar ini, yang memakan korban cukup banyak, yaitu puluhan anak-anak usia 4 tahun hingga 12 tahun. Usia ini tergolong usia anak-anak yang belum akhil baligh.


Diagnosa atas kejiwaan Pak Abi adalah Pedofilia, yang orientasi seksualnya menyukai anak-anak. Jika anak itu sudah dewasa, dirasa


tidak diperlukan lagi. Pelaku akan mencarinya lagi yang usianya lebih muda.


Terkadang terdapat ikatan batin antara korban dengan pelaku pedofilia, terutama korban pertama Mbak Suci yang sejak umur 4 tahun sampai SMP mengalami pelecehan dan perkosaan.


 


Terdapat rasa cemburu karena Pak Abi mencari seseorang yang lebih muda darinya. Suci merasa perannya tergantikan oleh anak perempuan lain. Sehingga, ada rasa ingin menjebloskan anak-anak itu, yaitu Dian untuk diberikan kepada laki-laki yang memasuki masa pubertas seperti Dewa. Kebetulan Dewa yang dikenalnya karena sekolah mereka berdekatan dan sering pulang bersama.


Disinyalir Suci menjadi kaki tangan Pak Abi untuk menarik korban-korban baru itu mendatangi rumah Pak Abi. Diiming-imingi permen, coklat


bahkan uang. Tetapi Suci telah menjadi korban pembunuhan sehingga bukti-bukti yang mengaitkan seluruhnya terputus. Kapten Dean dan seluruh jajaran mengalami kebuntuan sekali lagi.


Ada yang bersedia datang memenuhi panggilan polisi, banyak juga yang enggan mendatanginya. Mereka merasa itu adalah aib anak-anak mereka yang ingin dikubur dalam-dalam. Aib itu telah merusak masa depan anak-anak dan orangtua.


Banyak orangtua terkadang tidak memikirkan psikis atau kejiwaan anak-anak yang sudah menjadi korban.


Seandainya mereka bersedia, pihak polisi akan bekerjasama dengan badan penyuluhan untuk memberikan konseling secara terpadu bagi korban pelecehan dan perkosaan. Sebab jika tidak disembuhkan maka trauma itu akan berkepanjangan yang akan mempengaruhi kehidupannya, bahkan sangat berbahaya jika


ada pemicunya maka kemungkinan besar korban yang akan berbalik menjadi predator.


***


“Syukurlah anak kita bukan korban dari Pak Abi yah Yah.”


“Sudah jangan sebut lagi nama itu dirumah ini, muak aku mendengar namanya.”


“Manusia biadab!” Ayah yang emosi mendengar namanya disebut.


Enggar mendengar dari balik kamarnya ketika Ayah dan Ibunya mengucap syukur. Dirinya semakin tenggelam dalam kegelapan yang sulit


untuk naik kepermukaan. Tidak ada lagi sinar harapan untuk kembali seperti dulu, semuanya terasa semakin larut dalam hisapan pasir yang merenggut tubuhnya kedalam hingga kelelahan untuk bangkit. Sudah terlambat baginya.


***


“Kapten Dean, menurut anda apakah ini ada kaitannya dengan korban pembunuhan sebelumnya yaitu Abi Sasongko?” Wartawan jurnalistik itu menembus kerumunan.


“Masih dalam tahap penyelidikan,” Kapten Dean menjawab singkat.


“Jika benar ada kaitannya, apakah ini pembunuhan berantai?”


“Apakah kepolisian kesulitan mengungkap siapa pembunuhnya karena kurangnya bukti?”


Kapten Dean memberikan kode kepada bawahannya untuk menghalau wartawan tersebut.


“Kapten Dean, Kapten … masyarakat berhak tahu karena jika pembunuhnya masih berkeliaran itu akan menyebabkan keresahan dan ketakutan?”


Kapten Dean hanya berlalu dengan Bima yang segera mendapatkan panggilan dari Komandan.


“Sial,” keluh Kapten Dean terganggu.


“Wartawan itu menyebalkan tapi sangat cerdas.” Bima membalasnya. Kapten Dean memberikan Bima pandangan yang tidak biasa, seakan ingin mengatakan, aku akan menghajarmu saat ini.


 


“Siap Kapten,” tutur Bima yang paham akan ancaman pandangan itu.


Sesampainya dikantor pusat Kapten Dean dan Bima memenuhi panggilan Komandan untuk memberikan laporan sementara tentang kasus pembunuhan di Kampung Orang yang sedang ditangani. Ketika Dean dan Bima masuk keruangan itu, Komandan sedang menerima telepon dari Komisaris Jenderal.


“Kapten, saya dengar kasus yang satu ini telah menyulitkan apa betul?”


“Lapor Komandan, kasus ini mengalami progresif. Kami yakin akan segera menemukan pembunuhnya.”


“Ada perintah langsung dari atasan karena kasus ini menyita perhatian lebih dari seluruh masyarakat, jadi prioritaskan kasus ini dan segera temukan pembunuhnya. Jika dalam minggu ini belum ada titik terangnya kasus ini akan dilimpahkan ke divisi khusus, mengerti!”


“Siap Komandan!”


“Satu lagi, mulai sekarang akan ada juru bicara khusus mengenai kasus ini, karena wawancaramu dengan wartawan itu justru menambah polemik,”


“Siap.”


“Silakan kembali.”


“Siap Komandan.”


 ***


Komandan ingin kasus ini ditangani dengan cepat dan tanggap. Jangan sampai ada korban lagi dan memberikan kita tenggat waktu hingga pekan depan. Jika dalam waktu itu kita belum bisa menangkap pembunuhnya, maka kasus ini akan dilimpahkan. Dan tentu saja kerja keras kita selama ini tidak akan ada artinya.


“Bima segera perintahkan tim kita untuk lembur,”


 


 “Siap Kapten.”


***