
Dean mengajak Nin untuk pulang kerumahnya, tidak mungkin pulang dalam keadaan basah kuyub dan bau amis seperti itu. Sepanjang jalan Nin memeras bagian-bagian bajunya. Rumah Dean yang dekat dari tambak itu hanya dengan berjalan kaki. Sudah lama Dean tidak memancing di sana.
“Sudahlah Nin, kamu hanya memperlambat perjalanan ini.” ucap Dean kesal. Dean tidak suka dengan cara berjalan Nin yang memang agak lambat, terlebih dengan perbuatannya yang memeras baju itu.
“Aku tidak mau membuat rumah Pak Dean kotor,” gumamnya.
“Tidak apa, lagipula siapa yang akan marah, Oren pasti akan menyukai bau mu saat ini … hehehe ….”
“Oren?”
Pengurus rumah membukakan gerbang itu, seorang yang sudah tua dengan bahasa tubuhnya yang membungkuk seakan mempersilahkan mereka masuk. Alat-alat pancing itu diambil alih olehnya dan beberapa ikan hasil buruan.
“Pak Nyoto,” ucap Dean memberikan semua yang ada di tangannya.
Dean menggiring Nin masuk ke dalam rumahnya yang sangat terbuka, sejak gerbang itu terbuka Nin bisa melihat seluruh ruangan dalam rumah. Dean menyukai keterbukaan, hingga semuanya terlihat transparan. Dinding-dinding rumah dari kaca hingga tembus ke dapur.
Nin masuk ke dalam sebuah kamar, mungkin hanya ruangan ini yang tertutup. Dean mengambilkan handuk dan pakaian ganti yang kira-kira cukup untuknya.
“Sebaiknya ini cukup untukmu, tidak ada lagi pakaian dengan size kecil selain ini.”
“Makasih Pak Dean,” ucap Nin yang mulai menggigil.
***
Terdengar nada panggilan dari nomor tidak di kenal.
“Halo,” jawab Dean.
Tidak ada yang bicara. Hanya suara desahan seperti helaan napas yang berat.
“Halo … jangan main-main ya,” Dean geram.
“Pak Dean …,” ucap Nin dari dalam.
“Dia akan mati ….” Suara serak itu mengancam.
“Siapa kamu?” gertak Dean. Telepon itu terputus. Seseorang sedang bermain-main dengan Dean. Memberikan ancaman kematian. Dean melihat ke luar dan menelisik keadaan sekitar, mencari seseorang yang mungkin saja sedang mengawasi rumah ini. Memastikan tidak ada orang di sana.
Dean kembali ke dalam kamar, Nin tidak ada di sana. Memanggil-manggil namanya, Nin tidak menjawab. Tiba-tiba Nin muncul di belakangnya, membuat Dean terkejut.
“Kamu dari mana?”
“Saya ke belakang Pak, mencari mesin cuci,” ucap Nin.
Nin keluar memakai celana training panjang yang kebesaran untuknya. Hal itu membuat Dean tergelak, sangat lucu.
“Kamu mirip Jojon!” sambil lalu menuju dapur. Nin memasang raut cemberut.
Dean membuatkan minuman hangat untuk Nin. Lantas mengantarnya pulang.
***
Nin masuk kerumah dan meletakkan tasnya di atas meja kerja, bergerak ke dapur mengambil minuman isotonik untuk menyegarkan tubuh. Meletakkan minuman itu di atas meja makan dan beralih ke kamar, Nin membuka bajunya sembari mengambil baju untuk menggantinya. Tiba-tiba terdengar suara pintu belakang yang langsung ke dapur.
Nin tinggal sendirian dan belum menikah. Meletakkan daun telingannya untuk fokus pada pendengarannya. Nin perlahan, kembali menuju dapur tidak ada siapa-siapa di sana hanya pintu dapur yang terbuka. Nin segera menguncinya, mungkin tadi pagi lupa karena tergesa-gesa. Lalu, Nin sadar jika barusan meletakkan minuman
isotoniknya di atas meja makan, kenapa minuman itu sekarang berada di atas meja dapur.
Aku harus memangkasnya besok.
Kembali ke dalam rumah dan membuang pikiran yang membuatnya tidak tenang. Mungkin aku hanya lupa meletakkan botol itu. Nin kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya hingga larut malam.
***
Di antara semak belukar itu ada sepasang mata yang terus mengintai ke dalam. Terlihat jelas sosok Nin yang sedang bekerja di depan komputernya. Bayangan yang sejak tadi berada di dalam rumahnya dan penasaran dengan kehidupan Nin. Penasaran bagaimana untuk menghancurkannya.
Deruan napas seseorang bertudung jaket, tatapan penuh dendam mendelik dalam kegelapan. Menanti waktu yang tepat untuk menerkam, Nin yang tidak sadar bahaya ada didekatnya.
Bayangan itu pergi diam-diam dari arah yang tidak diketahui. Dari lubang tikus yang semakin besar, semakin besar.
Seketika Nin menoleh seakan ekor matanya menangkap bayangan yang lewat di taman belakang. Instingnya sangat tajam, namun bayangan itu lebih cepat dari gerakannya.
Nin, tidak sabar menanti pagi untuk memeriksa apa yang ada di taman belakang. Nin yakin seseorang mungkin sudah memasuki pekarangan rumahnya. Tiba-tiba dirinya terkejut mendengar ponselnya berdering dalam kesunyian.
“Nin, apa kamu di rumah?” tanya Dean.
“Ya Pak Dean, ada apa?”
“Ah … tidak ada apa-apa, saya hanya mendapatkan telepon iseng. Kabari saya jika ada sesuatu,” tutur Dean merasa kuatir dengan keadaan Nin setelah mendapatkan ancaman ditelepon.
“Baik Pak,” balas Nin.
Insting adalah reaksi terhadap sesuatu hal yang terjadi, semacam pola kewaspadaan seseorang ketika sedang dalam bahaya atau terdesak. Nin biasa mengasah instingnya karena seorang kriminolog sering mengandalkan kewaspadaannya untuk merespon keadaan yang bahaya. Semua orang juga memiliki insting karena itu ada sejak lahir, hanya saja apakah kita peka atau tidak.
***
Nin hanya tidur sebentar karena pekerjaannya yang menumpuk. Matahari sudah muncul, Nin sudah tidak sabar untuk membersihkan taman belakang. Ketika memangkas rerumputan itu, Nin melihat ada jejak sepatu di tanah, mengarah pada jalan setapak di balik semak belukar. Di sinilah Nin menoleh tadi malam, sekelebat bayangan berlari kearah sini.
Menyibak ilalang yang lebih tinggi darinya, dengan arit satu persatu terpangkas. Nin menemukan sebuah lubang besar di sana. Bahkan dirinya tidak tahu jika ada lubang yang bisa dimasuki oleh seorang manusia. Nin terperanjat dan ketakutan, berarti instingnya benar kemarin jika seseorang sudah masuk ke dalam rumahnya.
Nin masuk ke dalam sembari menelepon Pak Dean untuk datang kerumahnya. Segera mengunci seluruh pintu dan jendela agar seseorang itu tidak bisa masuk menyakitinya. Menunggu kedatangan Pak Dean.
Setelah Pak Dean datang, langsung memeriksa taman belakang.
“Kamu yakin ini bukan langkah kakimu? Karena dari ukurannya sama kecilnya?” ucap Dean.
“Aku baru menemukan jejak itu barusan,” balas Nin.
“Ini memang sengaja dijebol oleh seseorang, panggil tukang untuk menutupnya!” Perintah Dean.
“Mungkin maling yang hendak mencuri sesuatu, kamu harus mengunci pintu sebelum ke kantor.” sahut Dean lagi.
“Iya, Pak Dean, saya akan kunci.”
“Panggil saja Dean, kita bukan lagi atasan dan bawahan. Oiya … pakaianmu masih di rumahku sudah kering, kapan-kapan ambillah,” imbuh Dean sambil lalu.
“Iya …Dean, nanti sesempatnya kesana.” Perasaan yang canggung hanya memanggil namanya saja tanpa sebutan Pak.
***
Pencet Like, Rate 5, Vote, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )