The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 42 Silent Is Gold



Sejak kapan ungkapan diam adalah emas menjadi viral di bumi nusantara ini. Sejak aksi bungkam Qiandra yang tetap pada pendiriannya untuk tidak membuka mulut meskipun tersudut. Berita ini semakin tersebar dan dibicarakan oleh semua kalangan baik itu di dalam negeri bahkan ke luar negeri.


Media dan masyarakat luas mendukung aksi bungkam Qiandra sebagai hak asasi manusia, untuk tidak menyuarakan sesuatu yang enggan dilakukannya. Meskipun dengan alasan penyelidikan ataupun mengungkapkan kebenaran. Kepolisian dan juga kejaksaan menjadi terpojok karena dianggap telah memperalat hukum demi kepentingannya.


Padahal hukum itu adalah hakikinya untuk melindungi manusianya, bukan hukum itu sendiri. Hingga sorotan terbesar media pada Komjen Dean yang membiarkan semua ini berlanjut hingga mendorongnya untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Komjen Dean dianggap mencederai marwah penegakan hukum di Indonesia.


“Sejak awal saya akan mempertanggungjawabkan semuanya, meskipun harus melepas jabatan. Bagi saya, mengungkapkan kebenaran itu tidak boleh terpengaruh apapun, apalagi saat ini saksi Qiandra adalah saksi dalam dua kejadian yang beruntun.”


“Apa Pak Komjen akan mengundurkan diri jika hasil tes kebohongan Qiandra, lulus?”


Cahaya blits yang bertubi-tubi mengenai wajahnya dari seluruh angle. Membuat Komjen merasa semua ini sangat berlebihan, bahkan dirinya tidak pernah nyaman untuk berdiri di sini. Pak Dean adalah detektif sejati. Nalurinya mengatakan jalan harus diterjang maka rintangan apapun tidak akan membuatnya berhenti. Persetan! Dengan politik, dedikasinya hanya untuk payung hukum tegak berdiri.


“Saya akan mengundurkan diri!” pungkasnya tegas.


Sorak sorai bergemuruh serta tepuk tangan memenuhi seluruh ruangan lobi kepolisian yang disulap menjadi ruang konferensi pers. Seakan semuanya bergembira mendengar pernyataan Komjen Dean akan segera lengser. Wartawan sibuk mencatat pernyataan yang akan menjadi tajuk headline itu.


Saat ini semuanya berkata jika hukum itu tumpul keatas, tajam kebawah. Bagaimana mungkin menegakkan keadilan jika semuanya memiliki persepsi yang sama soal hukum. Tidak akan ada kontrol bagi hukum itu sendiri. Biarlah masyarakat menekan, yang penting kepolisian akan berusaha objektif untuk menangani kasus ini hingga


tuntas.


Kasus yang tidak tuntas sama saja mengolok-olok hukum.


***


Hari ini Qiandra akan menjalani serangkaian tes yang telah disiapkan. Sebuah alat pendeteksi kebohongan berupa polygraph yang dapat mengukur dan menyimpan tekanan arah, detak jantung dan juga perubahan kondisi kulit pada saat psikolog mengajukan pertanyaan yang sudah disiapkan penyidik.


Qiandra dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan dengan seorang psikolog yang sudah menunggunya sejak tadi. Tubuhnya dipasangkan beberapa alat yang menekan pada dada, dan jemari dan lengannya. Wajahnya terlihat gelisah dan takut, namun setelah semuanya terpasang Qiandra sempat menoleh pada dinding kaca tersembunyi.


Matanya menatap tegas dan menyeramkan, seakan tahu jika para penyidik berada di belakan dinding-dinding kasat mata itu.


Semuanya sempat merasakan ngeri dengan perubahan sikap Qiandra yang sebelumnya seperti anak manis. Tatapannya barusan berbeda dengan Qian.


Setiap pertanyaan yang diajukan, Qiandra akan menjawabnya dengan singkat, Ya atau Tidak. Selama tes polygraph berlangsung secara bertahap mulai 2 jam pertana, lalu 2 jam kedua hinga 2 jam terakhir. Selama 6 jam dengan 3 kali pertemuan hasilnya sangat mengejutkan. Qiandra bisa melewati semua tes kebohongan itu dengan mulus.


Pertanyaan-pertanyaan krusial seperti, apakah kamu membunuh orangtuamu dan apakah kamu yang


menyebabkan kebakaran itu, jawaban Qiandra adalah tidak. Dengan detak jantung normal, bahkan suhu pada kulitnya tidak mengalami peningkatan. Qiandra sangat tenang menjawab pertanyaan yang dilontarkan psikolog itu.


Tentu saja hal ini membuat kepolisian dan kejaksaan tidak puas dengan hasil yang didapat. Apakah Qiandra memang tidak terlibat dan murni korban atau dirinya adalah seorang psikopat sejati. Bisa mengelabui tes kebohongan tercanggih sekalipun.


“Hasil tes polygraph terhadap Qiandra selama 6 jam yang dibagi menjadi 3 sesi telah berhasil dilaksanakan dengan lancar. Semua sudah dijawab dengan sebaik-baiknya oleh saudari Qiandra. Dan hasil dari psikolog yang memimpin tes tersebut, Qiandra berhasil lulus menjalankan tes kebohongan tersebut.”


Sorak sorai dari masyarakat dan juga wartawan yang hadir memekakkan seluruh ruangan dengan suka cita. Di tempat lain, pada kantor perwakilan komisi perlindungan perempuan dan hak asasi manusia juga mengadakan konferensi pers, yang isinya meminta agar Komisaris Jenderal Dean untuk segera menepati janjinya agar mengundurkan diri. Hal itu dikarenakan desakan yang luar biasa dari berbagai masyarakat yang merasa empati terhadap aksi bungkam Qiandra sebagai korban kekerasan dan juga penculikan.


Akibat desakan dari berbagai pihak akhirnya Komjen Dean bersedia memenuhi janjinya untuk lengser dari jabatannya. Kepolisian dan juga kejaksaan merasa keberatan akan keputusan Pak Dean tersebut. Namun, itu sudah menjadi keputusan yang harus ditempuhnya demi menjaga marwah penegak hukum.


***


Nin merasa bersalah Pak Dean mengundurkan diri, akibat ulahnya yang terlalu percaya diri memaksakan tes polygraph itu pada Qiandra. Jika hal itu tidak dikemukakannya mungkin ini semua tidak terjadi. Nin sangat terpukul atas kepergian Pak Dean hingga Bima menyadari hal itu.


“Sudahlah Nin, tenang saja Pak Dean pergi bukan karena dirimu. Itu sudah menjadi tanggung jawabnya. Meskipun kita semua merasa itu tidak adil untuknya,” sahut Bima mencoba menenangkan Nin yang tidak hentinya menangs.


“Nin, kamu dipanggil Pak Dean keruangannya,” ucap staff lain. Sembari menghapus airmatanya, Nin berusaha untuk menghormati Pak Dean dengan tidak memperlihatkan kesedihannya.


“Masuk,” ucap Pak Dean sembari membereskan barang-barangnya. Semakin sedih Nin melihat sosok dirinya yang sedang melihat pajangan foto-foto kenangan semenjak menjadi detektif.


“Nin, kamu ingat waktu pertama kali ditugaskan di sini?”


“Sa-saya agak lupa Pak Dean, maaf.” ucap Nin sembari menghapus airmatanya.


“Saya ingat … kamu yang menentang pendapat kriminolg senior tentang pembunuhan “stoking” berantai itu. Kamu mengatakan jika pembunuhnya ada dua, yang satu hanya peniru.” Saat itu pendapat Nin ditertawakan dan tidak dianggap hanya karena dirinya masih junior.


“Saya yang mempercayai instingmu itu pada saat itu,” sambung Pak Dean memuji.


Setelah 20 tahun kemudian pendapat Nin akhirnya berhasil mengungkap pembunuhnya memang ada 2 orang. Tetapi, korban berjatuhan sudah banyak. Jika saja pendapat Nin didengarkan sejak awal, kemungkinan korban tidak mencapai belasan perempuan.


“Jadi, maksud Pak Dean?” tanya Nin.


“Jadi, jangan pernah berubah dengan apa yang kamu yakini, karena terkadang bukti bisa dimanipulasi, kelalaian manusia atau ketersengajaan. Kamu hanya bisa mengandalkan instingmu,” sanjung Pak Dean sembari menepuk bahunya. Pak Dean bersiap keluar dengan membawa segala kenangan itu dalam satu kardus besar.


Ketika Pak Dean keluar semua orang sudah berbaris rapih untuk menyambut kepergiaannya. Semua tertunduk sedih, merasa pahlawan yang sesungguhnya akan meninggalkan kantor ini. Pengawal berusaha mengambil kardus itu darinya, namun Pak Dean tidak memberikannya. Hanya ingin merasakan bahwa dirinya sama seperti para penegak hukum lainnya. Siap menerima konsekuensi dari setiap perbuatan.


Senyuman Pak Dean mengiringi setiap langkahnya hingga keluar dari pintu. Semua orang bersikap hormat selayaknya pahlawan meninggalkan tempat. Hingga Pak Dean tidak terlihat lagi, berlalu dengan kendaraannya yang dikemudikan sendiri.


***


Pencet Like, Vote, Rate, Tambahkan ke favorit kamu dan komen yang banyak ya )