The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 27 Ten Years Later



Tahun 2003-an


Suara kegaduhan memecahkan sudut-sudut dinding menjadi panas. Barang-barang dilemparnya kearah Ibu. Berlari dan bersembunyi dari kejaran Ayah. Emosinya semakin memuncak ketika Ibu membantahnya. Ucapan cerai terlontar pasti dari mulutnya yang gemetar ketakutan. Hatinya lirih mengilu dan menciut. Tubuhnya yang semakin kurus dan lemah itu meringkuk diantara keranjang-keranjang raksasa baju-baju kotor.


“Ucapkan sekali lagi, jika kamu berani inginkan perceraian akan kubakar tubuhmu,” ancaman Ayah. Dirinya hanya ingin memancing balasan suara Ibu untuk mengetahui persembunyiaannya.


“Dasar perempuan mandul!” cacinya terlontar.


“Aku muak, aku ingin cerai,” Seru Ibu dari persembunyiannya.


“Kamu percaya kata-kata anak tidak tahu diri itu, dia cuma anak angkat yang tidak jelas statusnya. Aku suamimu, kamu harus tunduk padaku.”


“Sudah cukup aku menelan segala perilakumu selama ini. Aku lelah menjadi tulang punggung diantara baju-baju kotor, sedangkan kamu … kamu … asyik berselingkuh dengan wanita-wanita muda di pabrik. Puas kamu menghancurkanku Yah, puas kamu Yah.” Menahan airmatanya dengan menengadahkan kepala. Airmata itu tetap jatuh berlinang.


“Halah … siapa suruh kamu tidak bisa memberikan anak untukku, aku kesepian.” Sembari menelisik dimana suara itu berasal. Semakin dekat dengan suaranya akan menemukan tempat persembunyiaannya.


“Tolong Ayah, Ibu sudahi pertengkaran ini. Ini sungguh menyakitkanku.” Ujar Qian yang berada diatas tangga. Ibu memerintahkan untuk tetap disana jangan mendekat.


Melewati kain-kain sprei yang menjuntai hingga hampir mengenai lantai semen. Dan keranjang-keranjang yang menutupi jalannya.


Tiba-tiba jari-jari itu berhasil menangkap Ibu dan menyeretnya ke tempat penjemuran.


“Kamu tidak bisa lari dariku,” serunya semakin marah.


“Ayah jangan sakiti Ibu,” sahutku dari kejauhan. Aku berdiri melihat Ibu yang sedang terseret tubuhnya dilantai semen. Tubuhnya pasti sangat sakit.


“Tidaaak … jangan!” Ibu mulai menjerit kesakitan.


Ayah melumurinya dengan bubuk-bubuk detergen keseluruh tubuhnya. Tidak menggubris jeritan dan erangan Ibu yang kesakitan luka gores dan matanya yang terkena bubuk itu.


Aku menuruni tangga dengan cepat dan berlari kedepan. Pintu seluruhnya terkunci tidak ada jalan keluar. Aku mencoba membuka pintu yang mengarah pada toko laundry kami. Terkunci juga. Aku berteriak minta tolong, tetapi rumah kami dengan pekarangan depan yang cukup luas memberikan jarak yang jauh dengan rumah tetangga.


Aku berharap ada yang datang menolong kami. Menoleh dan Ayah sudah bersiap dengan pemantik apinya. Ketika pemantik itu dinyalakan, Ibu sedang menjerit menutupi matanya yang perih karena bubuk-bubuk itu. Melihat sekitar dan ada vas bunga, aku mengambilnya dan berlari untuk memukul kepalanya dengan benda ini.


Mendadak Ayah lebih sigap mengetahui gerakanku dan menendang tubuhku hingga tersungkur. Aku merasa kesakitan, perutku sakit akibat tendangannya. “Ibu, bertahanlah …,” ucapku yang menahan sakit.


“Dasar anak tidak tahu diuntung …,” serunya kepadaku. Sembari menyalakan pemantik itu lagi.


Tiba-tiba Ibu menarik kaki Ayah yang diraihnya dengan susah payah, Ayah terjungkir karena licin lantai yang penuh bubuk pencuci.


Ibu bangkit dan mencari wadah air didekat keran. Ketika Ibu berhasil membasuh matanya sedikit, Ayah berhasil bangkit dan menarik rambutnya hingga jatuh sekali lagi.


“Ibuuu ….” Aku hanya bisa menangis dan meringis melihat penyiksaan Ayah terhadap Ibu.


Ibu berusaha menahan tubuhnya agar lebih berat, berpegangan terhadap apapun yang bisa digenggam. Ayah semakin kesal dan menendanginya agar terlepas. Ibu tidak mau menyerah hingga Ayah terjungkal dengan hebat akibat senjatanya sendiri. Ayah terjatuh dengan parah ke lantai karena licin.


Jeratan itu terlepas dari kaki Ibu, dengan rintihan dirinya bangkit dan melihat Ayah yang tidak bergerak. Ibu menyentuh kakinya dengan menyenggolnya sedikit. Airmatanya jatuh semakin kencang dan merasa menyesal dengan keadaan itu.


“Bagaimana ini, Ayah tidak bangun …,” serunya semakin ketakutan.


“Ibu ….” Aku memanggilnya.


“Qian, kamu tidak apa-apa?” ucapnya kuatir dan memeriksa keadaanku.


Ibu melihat kearah Ayah lagi dan melihat pemantik itu. Dan mengambilnya.


“Ibu ….”


“Qian, keluarlah dari sini ….”


“Apa maksudmu Ibu?”


“Keluar sekarang juga!” ucap Ibu berteriak.


Ucapannya sakit terdengar dan membuatku ketakutan. Aku berlari keluar mencoba mencari kunci dimana-mana. Menoleh kearahnya Ibu sedang melemparkan sesuatu ketubuhnya yang tergeletak itu, api menyambar dengan cepat. Dengan kepanikan aku mencari dikamar, dibelakan pintu ada gantungan jaket Ayah. Merogohnya dan menemukan sebuah kunci-kunci itu.


Aku berlari dari kamar dan melihat teriakan Ibu yang kepanasan terbakar. Bubuk-bubuk detergen itu tersulut api dari pemantik hingga mengenai sprei-sprei dan menyambar lebih luas keseluruh pakaian-pakaian kotor itu. Tak lama api sudah memenuhi rumah belakang, hingga terdengar suara ledakan dari gas.


“Ibu … apa yang kamu lakukan, kenapa meninggalkanku.”


Berusaha membuka pintu itu dengan kunci yang tepat. Dengan percobaan kelima akhirnya berhasil terbuka kunciannya. Aku buka dengan lebar dan menghirup udara kebebasan. Asap mengepul dan memenuhi rongga pernapasan hingga terbatuk. Terbaring direrumputan pekarangan aku kehabisan napas dan samar-samar rumah itu sudah penuh terlalap api.


Aku hanya teringat tubuh ini tersambar rasa panas yang dahsyat. Meskipun akhirnya tidak sadarkan diri.


Tetangga berdatangan ketika api sudah sangat besar dan berusaha untuk memadamkannya. Pemadam kebakaran datang terlambat. Ruman itu habis dan hangus tidak tersisa. Hanya puing-puing abu yang bertebaran terbawa angin. Terdengar sirene yang kencang dari mobil-mobil polisi.


Beberapa paramedik menuntunku kesebuah ambulan untuk memberikan alat bantu pernapasan. Dada ini terasa sesak dan kesulitan bernapas. Petugas pemadam berhasil menemukan dua jasad yang diketahui adalah orangtuaku. Petugas itu memberikan keterangan kepada para polisi yang datang.


Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, dada ini semakin sesak karena orangtuaku sudah tiada.


Dua polisi berseragam mendatangiku dan bertanya mengenai kejadiannya. Aku hanya menggeleng seakan sulit untuk berucap. Bernapas saja sulit apalagi harus mengatakan apa yang sudah kulihat. Aku hanya ingin melupakan kejadian yang mengerikan ini. Tidak mau mengingatnya apalagi membicarakannya.


Dengan sehelai selimut yang masih terbalur aku diberikan tumpangan oleh polisi. Aku hanya mengikuti perintah saja.


***


Kerumunan dengan mata menatap,semua orang menatapku dengan aneh. Wajah mereka seakan merasakan kengerian. Padahal mereka tidak kehilangan apa-apa. Diantara wajah-wajah asing itu mendadak merasa kasihan padaku. Padahal sudah lama kami bertetangga tetapi seakan tidak peduli.


Ketika musibah sudah melanda keluargaku, mereka baru merasakan sesuatu. Kenapa mereka baru peduli sekarang, disaat semuanya sudah menjadi debu. Menyapaku saja tidak apalagi membantu Ibu yang kesulitan dengan sikap kasar Ayah. Aku yakin mereka sebenarnya tahu perlakukannya pada Ibu, namun mereka bungkam seakan tidak peduli.


“Itu urusan rumah tangga!” lalu kenapa sekarang kalian menatapku dengan penuh empati. Sudah terlambat, orangtuaku tidak akan hidup kembali. Kalian memiliki andil karena sikap tidak peduli.


Jangan kasihan aku. Mulailah berubah dan peduli dengan tetangga.


Sesungguhnya sudah berkali-kali kami meminta tolong, tetapi tidak ada satu pun yang menolong. Sudah berulang kali kami memohon, tetapi tidak ada yang mengulurkan bantuan.


Aku melihat wajah yang kukenali disana, wajah Kevin.


Kevin yang ingin meraih tanganku, namun jauh.


Seorang petugas membawaku kedalam mobilnya, menoleh kearahnya dan tidak melepas pandangan. Seseorang yang kukenal, aku ingin menatapnya lebih lama. Agar ingatan ini tidak terlalu asing dan kesepian. Tidak ada yang banyak untuk kuingat apalagi kukenal selain kedua orangtua. Aku tidak ingin sendirian, nyatanya hanya ada aku.


Didalam mobil polisi yang semakin menjauh dari kerumunan. Rumah yang kutinggali sejak kecil, telah berubah menjadi abu. Hitam berdebu dengan asap masih mengepul. Semuanya habis tidak tersisa, hanya kenangan pahit dan mengerikan yang terekam dengan tajam. Entah, apa setelah ini. Bagaimana nasibku, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi.