
Qian dalam mimpi buruk, berulang kali kenop itu dibukanya sembari mencari seseorang di luar pekarangan, berharap ada seseorang yang melihat atau lewat. “Tolong aku,” sembari membuka kenop itu hingga hampir terlepas. Jeritan kesakitan itu semakin kencang dibelakangnya. Qian menoleh dan kobaran api sudah melalap seluruh ruangan. Merasakan semburan api yang membara. Mencari jalan keluar hingga jendela-jendela yang tertutup rapat.
Kepulan asap dan api yang saling bertebaran, bersaing untuk menutup ruangan. Paru-paru ini mulai menghirupnya, penuh dengan sesuatu yang berat dan tertahan. Tenggorokan terasa tercekik dan hampir mati lemas. Qian berusaha membuka kenop itu dengan sisa tenaganya. Tubuhnya sudah terduduk didepan pintu. Tercekik, dan tercekik. Tidak bisa bernapas lagi.
Hingga secara ajaib, kenop itu terbuka. Pintu itu bisa dibuka.
Qian berusaha meraihnya dengan sisa tenaga. Menariknya ke bawah agar terlepas dari kunciannya. Secercah udara baru mulai masuk dari luar. Dirinya merangkak dan mendekatkan wajah kearah celah.
Tiba-tiba, kakinya seperti ada yang menahan. Jeratan tangan yang menariknya menjauh dari celah itu. Qian berteriak, “Tidaaak, aku ingin keluar.” Namun dirinya tidak bisa menahan kekuatan yang menariknya. Qian, menoleh ke belakang. Tangan Ayah dan Ibu yang menariknya hingga masuk ke dalam api bersama-sama. Kulit mereka sudah terbakar habis dan gosong. Tangan-tangan yang melepuh, merah dan hitam terbakar.
Wajah Ibu dan Ayah yang sangat mengerikan, bau daging busuk yang terpanggang. Qian ketakutan. Qian menangis. Membawanya ke dalam api yang merah menyala, merasakan api yang sangat panas, Berteriak sekencang-kencangnya. “Sakiiittt, panaaasss.”
***
Terbangun dari mimpi. Melihat sekeliling yang masih baik-baik saja. Tangan, kaki dan wajahnya yang masih baik-baik saja. Napas yang berat dan lemas sangat kelelahan. Mimpi barusan sangat mengerikan. Tubuhnya mengeluarkan berpeluh-peluh keringat. Menatap cermin di depan dan menelan liur dalam kerongkongan yang kering. Haus sembari menyentuh leher.
Perlahan keluar dari balutan selimut dan menuruni ranjang. Qian mencoba untuk membuat tubuh ini bangkit dan berdiri. Pikirannya masih saja merasakan kengerian di dalam kebakaran itu. Ketika mencoba berdiri, kaki ini terasa lemas tidak sanggup. Terduduk kembali dan rasanya ingin kembali.
Qian mulai meneteskan airmata setitik, diikuti setitik lagi dan tangisan ini mulai pecah. Qian menangis dan erangannya semakin kuat. Tertunduk dalam kesedihan. Mengepalkan kain sprei pada ranjang dan rasanya ingin berteriak. Mengerikan sekali di dalam sana Ibu, Ayah. Dirinya menyesal tidak bisa menolong kalian. Rasanya sangat panas dan sakit.
Qian meraung dalam penyesalan ini. Nyatanya dirinya kesakitan meskipun selamat dari kebakaran itu.
“Rasanya sakit, sakit di sini Ibu.” sembari memukul-mukul dada.
Qian ingin kembali ke masa itu. Berusaha lebih keras untuk melerai pertengkaran kalian.
Hentikan pertengkaran itu!
Jika teriakan itu begitu keras. Mungkin mereka akan lebih mendengarkan. Sehingga tidak perlu ada kejadian ini, kehilangan orangtua yang membesarkannya.
Meskipun mereka bukan sosok yang sempurna, tetapi mereka telah membesarkannya dengan sekemampuannya. Tidak ada orangtua yang sempurna, begitu pula anak-anak. Hanya ingin bisa melalui segala rintangan dengan jalannya masing-masing. Walaupun harus menerjang ataupun memutari gunung. Semua berdasarkan pilihan hidup yang ingin diraih.
Duduk dilantai dan menangis. Sembari batinnya berucap, aku menyesal Ibu.
***
Dibalik pintu itu, Bibi mendengar jeritan Qian. Namun dirinya hanya terdiam dan mendengarkan. Mimpi buruk tersulit yang dialami Qian adalah sebuah petunjuk. Membiarkan dirinya untuk menghadapi sendiri mimpi itu. Biarkan dirinya sendiri untuk melaluinya, perlu waktu untuk menyadari sesuatu yang akan mempengaruhinya lebih dalam.
Tidak ada yang bisa menebak apa yang ada di alam bawah sadar tanpa petunjuk, salah satunya melalui mimpi.
Terkadang diri ini tidak bisa mengetahui apa yang alam bawah sadar, apa yang ingin dilakukan dan yang sudah dilakukan. Pikiran ini sudah menipu pikiran yang lain. Hingga tidak sadar bahwa diri ini sudah tertipu. Sesuatu yang kelam dan jahat semakin besar terpelihara dengan baik. Dirinya hanya belum menyadarinya.
Bibi hanya akan menunggu waktu untuk menyelamatkanmu. Menyelamatkan kita semua dari monster yang pendendam.
Berjalan kembali ke kamar untuk meneruskan tidur. Tiba-tiba Qian memergokinya di depan kamarnya.
“Bibi, sedang apa di depan kamar?”
Bibi berbalik dengan ragu, namun mencoba tetap tenang.
“Ah … Bibi mendengar jeritanmu dan mengkhawatirkan keadaanmu. Tapi Bibi lihat kamu sudah tenang, jadi Bibi tinggalkan,” ucapku.
“Bibi mendengar apa?” ucapan lugu seakan tidak terjadi apa-apa.
“Apa kamu tidak ingat?” aku bertanya penasaran.
“Tidak … aku tadi terbangun dari mimpi dan merasa sangat haus. Dan sekarang mau ambil minum ke bawah,” ucapnya santai.
“Oh, berarti mungkin Bibi salah dengar … mungkin itu suara dari luar,” ucapnya sembari tersenyum palsu.
“Oh, bisa jadi Bibi. Baiklah Bi … aku ke bawah dulu, haus.” sembari meninggalkannya.
Dan aku memandangnya dari belakang seakan tidak percaya. Melihatnya berjalan seperti bercermin, dirinya persis sepertiku. Aku tidak percaya jika dirinya akan menjadi sepertiku.
Tunjukkanlah dirimu yang sebenarnya.
***
Di malam itu, Kevin mengejar gerombolan itu hingga ke tempat yang sering mereka kunjungi. Sebuah kelas yang tidak terpakai yang dijadikan basecamp di belakang sekolah. Mereka semua bersenang-senang setelah membuat dirinya dan Qian merasa sangat malu. Kevin memarkirkan motornya dan mengempeskan ban-ban motor gerombolan itu.
Memanjat sebuah pagar sekolah yang cukup tinggi. Memasuki sekolah yang tidak ada pencahayaan sama sekali. Kevin menyusurinya dengan perasaan emosi. Hingga beberapa lampu senter yang mulai terlihat dari sebuah kelas di belakang sana.
Berdiri di kelas yang sudah tidak berpintu itu. Dengan tatapan murka pada mereka. Gelak tawa mereka terhenti ketika melihat sosoknya berdiri.
“Lihat si Kevin akhirnya mau bergabung juga dengan kita … hahaha,” sindir salah satunya.
“Mungkin dia sudah sadar bahwa cewek murahan itu hanya untuk dipermainkan … hahaha ….” Semuanya tertawa semakin keras.
“Apa kamu bilang!” Rama, tersulut emosi mendengar ejekan Kevin.
“Kalian anak-anak buangan … dengan kataku?” Kevin menegaskan.
“Hah … gila anak ini. Bukannya terbalik, kamu dikirim ke sini bukannya karena dibuang dari Bandung … hahaha ….” Ketua geng berhasil membuat Kevin kembali emosi.
“Apa?”
“Iya, orangtuamu bercerai karena Ayahmu lebih memilih wanita murahan … kan? Hahaha ….” Caci Rama dari mulut kotornya.
“Sialan!” Kevin yang berlari menerjang mereka bersamaan.
Kevin hanya sendirian melawan lima orang, benar-benar tidak seimbang. Tetapi Kevin tidak gentar baku hantam terjadi, semua kebagian terkena bogem mentah pukulannya. Meskipun pada akhirnya Kevin dihajar habis-habisan oleh mereka.
Ketika ketua geng itu berada di atas Kevin dan memukulinya bertubi-tubi, “kamu cocok dengan Qian, karena kalian sama-sama anak buangan, ingat itu.” Tiba-tiba tenaga Kevin muncul kembali dan memberikan sebuah pukulan mematikan.
Kevin berhasil lari dari sana dan pergi dengan motornya, sedangkan mereka mencoba mengejarnya namun ban-ban motornya kempes semua.
Sial!
“Kevin sudah mengerjai kita!”
“Bagaimana ini kita pulang sambil nenteng motor!”
“Kamu aja yang nenteng tuh motor, dasar bodoh!”
***
Sepulang kerumah dengan luka memar di wajah dan sekujur tubuhnya. Kevin berusaha mengambil kotak obat untuk mengobati luka dan meminum pereda nyeri. Ibu Kevin terbangun dan menyadari anaknya sudah pulang. Mendapati Kevin yang terluka akibat perkelahian.
“Kevin, apa yang terjadi … siapa yang berbuat seperti ini?’ ucapnya kuatir dan marah karena ada yang menyakiti anaknya.
Sembari melihat seluruh wajah dan tubuh yang terluka.
“Cepat katakan, Ibu akan lapor polisi ….”
Kevin hanya terdiam dan membisu sembari memberi obat pada lukanya.
“Kevin kamu dengar Ibu tidak?” berteriak semakin kesal.
Kevin hanya memandang wajah Ibunya. Dan mengatakan, “aku tidak apa-apa Bu … anak muda biasa!” sembari tersenyum.
“Kamu bilang terluka seperti ini biasa? Jangan bicara seperti itu Kevin. Ini bukan hal yang lazim, tubuhmu babak belur dan wajahmu berdarah dimana-mana. Ayo kita pergi kerumah sakit sekarang juga!” sembari menarik lengan Kevin.
Ah! Ah!
Kevin merintih kesakitan, sembari menepis tangan Ibu.
“Aku hanya ingin tidur, besok saja ke dokternya yah,” ucap Kevin santai sembari berjalan menuju kamar.
“Apa ini perkelahian karena seseorang mengejekmu soal perceraian Ayah dan Ibu?” tanya Ibu masih dalam keadaan berdiri membelakanginya.
Kevin terhenti langkahnya. Ingin mengepalkan tangan menahan amarah namun kedua tangannya cedera. Kevin hanya bisa mengabaikan kata-kata itu.
“Kenapa Kevin, kenapa kamu sangat marah atas perceraian ini? Ini sudah ketiga kalinya kamu berkelahi,” ucap Ibu.
“Lalu aku harus apa Bu,” sahut Kevin yang mulai kehilangan kendali. Airmatanya mulai menetes.
“Apa?” ucap Ibu.
“Aku harus apa … membiarkan semua orang menghina Ibuku,” Kevin menangis. Baru kali ini dirinya menangis di depan Ibunya.
“Aku tidak tahan jika ada yang menghina Ibu ….” Tangisannya semakin keras tidak tertahankan. Ibu mulai mendekatinya dan memeluknya.
“Maafkan Ibu, Kevin … seharusnya Ibu tidak membuatmu terluka seperti ini.” Ibu menangis. Sudah lama dirinya terlihat tegar hanya untuk Kevin.
Mereka sama-sama merobohkan benteng pertahanan itu.
“Bisakah kita tidak berpura-pura … jika kita tidak baik-baik saja?” ucap Ibu sembari memberikan pelukan yang lebih erat. Kevin hanya mengangguk setuju.
Mimpi dan kenyataan menjadi sama-sama paling buruk ketika kita tidak menyadari dan berpura-pura itu tidak terjadi. Hadapilah meskipun itu yang terburuk dari semua mimpi dan kenyataan yang ada. Meskipun alam bawah sadar selalu mengajak pikiran kita tempat yang berbeda, lebih aman, nyaman dan semua itu adalah ilusi.
***
Pencet like, rate 5, vote, tambahkan ke favorit kamu dan komen yang banyak yak )