
Dua minggu sebelumnya, aku berangkat ke sekolah menggunakan sepeda. Sekolahku cukup jauh, karena harus melewati beberapa pabrik dan tempat pengolahan limbah disana. Setelah pulang sekolah biasanya aku harus membantu Ibu dirumah laundry. Usaha Ayah dan Ibu secara mandiri. Pelanggan kami kebanyakan pabrik-pabrik yang memiliki karyawan sangat banyak. Jutaan jumlahnya, bayangkan seragam-seragam yang harus dipakai setiap hari dan harus bersih.
Aku menggowes sepeda itu dengan kecepatan sedang, tidak ingin terlalu cepat kuatir sampai rumah kelelahan. Melewati lahan pembuangan limbah, aku melihat ada mobil pick up Ayah terparkir disana. Tidak salah lagi karena hanya mobil Ayah yang belakangnya dipasang terpal berwarna biru dengan logo “Hom Laundry”.
Semakin pelan gowesan ini kulaju, ragu untuk menghampirinya atau tidak. Rasa penasaran ini lebih besar dan ingin tahu apa yang Ayah lakukan disana.
Mendekati mobil itu dan memparkir sepeda dipinggir. Melihat sekeliling belakang mobil Ayah yang sudah penuh dengan keranjang-keranjang raksasa berisi seragam karyawan pabrik. Berjalan kesamping dan melihat kearah kemudi. Aku terkejut, Ayah sedang mencumbu seorang wanita muda. Aku bergegas meninggalkan mereka, tetapi wanita itu menyadari kehadiranku.
Mempercepat jalanku dan mengambil sepeda. Ayah berteriak dan memanggilku, “Berhenti”. Mencoba menjauh dengan melaju sepeda itu, namun Ayah berhasil menangkapku. Menjerat tanganku dengan kepalannya yang sangat kuat. Aku kesakitan. Ayah tidak peduli dan menarikku kesamping gedung limbah itu.
“Ayah, aku tidak akan bilang Ibu,” ucapku ketakutan.
“Anak sialan …,” balasnya emosi.
“Biarkan dia pulang. Lagipula dia sudah berjanji,” sahut wanita itu.
“Diam. Kamu tidak tahu liciknya anak sialan ini.” Ucap Ayah memaki.
Akhirnya aku dilepasnya dengan ancaman. Aku akan dibuang kejalanan jika Ibu tahu soal ini. Airmata ini mengalir bukan karena memar dipergelangan tanganku, bukan juga rasa sakit akibat cekikkannya. Aku bersedih karena ucapnya yang menyebutku, anak sialan. Aku benci Ayah, aku membencinya.
***
“Aku pulang Ibu,” ucapku pelan.
“Kamu sudah pulang, ganti baju sana lalu makan siang. Temani Ayahmu dimeja makan.” Serunya padaku.
Wajah yang sedang menatapku diruang makan, sembari memenuhi mulutnya dengan makanan. Tatapan mengancam. Aku terkejut dirinya sudah sampai lebih dulu dirumah. Sepertinya kuatir aku akan membuka mulutku.
“Aku tidak lapar Ibu, nanti saja …,” ucapku menjawab Ibu.
Setelah berganti baju aku membantu Ibu disebelah. Rumah laundry berada disebelah rumah ini. Rumah ini sangat luas dan terdiri dari dua bangunan. Satu untuk tempat tinggal dan yang satu untuk usaha laundry. Tetapi bagiam belakangnya menjadi satu karena tempat untuk mengeringkan dan menjemur.
Siang itu sambil menyetrika baju ada seseorang yang memencet bel. Seorang pelanggan datang. Aku kedepan dan melihat seorang laki-laki kira-kira seusiaku. Untuk pertama kalinya aku melihat anak sekolah sekeren itu. Memakai kemeja, jaket tanpa dikancing dan celana pendek sedengkul. Tas ransel yang besar dipunggungnya dan memakai sepatu kets berwarna putih.
Aku terkesima dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Permisi, apa laundry-nya sudah tutup?”
Aku tersadar dari lamunan. “Ah masih koq, mau laundry apa?” Sembari membuka catatan.
Pria itu membuka ranselnya dan mengeluarkan gumpalan plastik berwarna putih berisi pakaiannya. Berupa baju-baju seragam sekolah.
“Apakah bisa besok pagiku ambil?” serunya.
“Ini sudah hampir sore, mungkin lusa …,” jawabku.
“Tolonglah, aku besok harus masuk sekolah, aku akan bayar mahal,” ucapnya merayu.
“Hmm … baiklah aku akan mengerjakannya segera. Besok pagi jam 6 kamu sudah harus ambil kesini yah,” balasku.
Pemuda seumuran denganku itu mengangguk setuju.
“Oiya, namaku kevin, aku akan sekolah didekat sini. Pindahan dari Bandung.”
“Oh … namaku Qiandra, panggil saja Qian," balasku.
“Ok Qian, jangan lupa perjanjian kita besoka pagi yah,” ucapnya dan meninggalkanku.
Dengan cara berjalannya yang sedikit menjinjit, terkesan angkuh. Tapi ternyata Kevin asyik juga.
***
Pukul 06.00
Benar saja Kevin datang dengan motornya yang berhenti didepan Hom Laundry. Aku juga sudah siap, dengan sepedaku. Menyerahkan seragam sekolahnya yang sudah dibayar kontan kemarin. Kevin meminta izin untuk memakai seragamnya didalam. Aku mengizinkannya, lagipula Ayah masih tidur didalam. Aku tidak ingin Ayah
berpikir macam-macam.
Kevin sudah memakai seragamnnya dan aku menunggunya diluar.
“Ok kita berangkat ke sekolah sekarang,” serunya mengajakku.
“Apa, tidak aku naik sepeda saja,” seruku membalasnya.
“Kenapa, kita searah kan. Lagipula dengan motorku lebih cepat sampai,” Kevin terus merayu.
“Tidak, nanti anak-anak mengejekku. Lebih baik tidak,” terangku menyakinkan.
“Halah, jangan pikirkan anak-anak lain. Lagipula aku anak baru belum tahu jalan, tolonglah.” Kevin terus membujukku.
Dan akhirnya rayuannya berhasil, jiwa penolongku luluh dibuatnya.
Aku duduk menyamping dibelakang. Rokku yang pendek itu terbuka karena angin.
“Qian, kamu nenek-nenek bukan?” ujarnya cuek.
“Apa?” aku terkejut.
“Duduknya menghadap depan saja, kalau nyamping itu kaya nenek-nenek mau kepasar.” serunya mengejek.
“Ah … benarkah?”
Kepalanya mengangguk.
Aku menurutinya dan segera digeber gasnya agar sampai sekolah lebih cepat. Disekolah Kevin berdiri dibelakangku dan anak-anak semua melihat kearahku. Aku menjadi salah tingkah, ternyata mereka melihat sosok yang ada dibelakang.
“Keren banget itu anak barunya yang dari Bandung,” Seru mereka semua.
Aku tersingkirkan begitu saja. Mereka mengerubunginya bagaikan gula dikerubung semut.
“Kevin,” teriak Rama memanggilnya.
Aku tidak suka dengannya karena dia sangat jahil dan menguasai geng disekolah ini. Terlebih Kevin akan bergaul dengannya dan bertambah anak-anak yang akan membully-ku disekolah ini.
Aku menoleh pada Kevin dan memberikan tatapan tidak suka. Sesaat aku yakin setelah hari ini kami tidak akan bisa mengobrol lagi seperti kemarin dan tadi pagi. “Semuanya akan asing pada waktunya.”
Meninggalkannya dengan geng itu. Berjalan masuk ke kelas seperti biasa, sendiri dan menyendiri. Tidak ada teman untuk berbicara dari hati ke hati. Atau sekedar menyapa apa kabar hari ini. Sia-sia harapanku menginginkan akhir tahun disekolah menengah pertama dengan indah.
Makan siang bersama, membuka bekal makan siang yang kubawa dari rumah. Untuk menghemat uang jajan Ibu selalu membekali. Lagipula aku tidak suka makan di kantin karena tidak ada yang mau makan denganku. Lebih baik makan di kelas, sama saja sendirian juga.
Berbeda dengan hari ini, tiba-tiba Kevin datang ke kelas sambil membawa sepiring somay yang dibelinya di kantin belakang. Menaruh piring didepanku sambil duduk dengan bangku terbalik.
“Ada apa?” ujarku penasaran.
“Makan, apa lagi,” ucapnya enteng.
“Iya, tapi kenapa disini?”
“Tidak ada yang kukenal selain kamu,” keluhnya santai.
“Loh, bukannya kamumasuk geng beken disekolah yah?”
“Geng beken apa? Tidak. Ayo habiskan.”
Aneh tadi pagi Kevin bicara dengan mereka seakan mengenalnya.
Aku menghabiskan bekal itu tanpa bicara banyak, Kevin juga begitu. Namun aku sangat senang, paling tidak sendirian lagi.
“Nanti siang kutunggu yah diparkiran,” ujarnya sembari membawa piring somay yang sudah kosong itu.
Senyumku mengembang.
Pulang sekolah, benar saja Kevin sudah menungguku. Tak lama dirinya dikerumuni oleh cewek-cewek yang minta diantar pulang. Aku terdiam, menunggu reaksinya. Supaya tidak malu jika Kevin berubah pikiran memilihnya ketimbang aku.
“Aku sudah punya janji, maaf ya!”
“Qian, ayo ….”
Bergegas kearahnya dengan yakin dan naik dibelakang motornya. Semua anak perempuan yang ditolaknya mulai bergunjing dan kesal kenapa aku yang dipilihnya. Untuk sekali ini menang dari mereka rasanya sangat menyenangkan. Melihat wajah-wajah kesal dan seakan kalah dalam pertandingan “Siapa wanita yang dipilih Kevin” sangat menyenangkan.
Sesampainya didepan Hom Laundry, Ibu melihat dari balik pintu kaca itu aku diantar oleh seorang kawan sekolah.
“Qian, besok aku jemput lagi yah.”
“Tidak usah, aku naik sepeda saja.”
“Sepeda hanya untuk anak kecil, kamu sudah 3 SMP, sebentar lagi lulus.”
“Ehm … baiklah.” Ucapku sembari tersenyum.
“Ok, sampai besok.”
Ketika masuk kerumah, aku melihat Ibu tersenyum padaku dan bertanya.
“Siapa yang mengantar dan menjemput tadi pagi?” seru Ibu penasaran.
“Teman sekolah Bu, namanya Kevin.”
“Oh,” balasnya sembari mengangguk.
Menaruh tas diatas meja belajar dan merebahkan tubuh diatas ranjang setelah seharian belajar itu rasanya menyenangkan. Ditambah memiliki seorang teman itu lebih menyenangkan rasanya. Aku tidak menyangka hati ini terasa ada yang menggelitik, membuatku ingin tersenyum terus menerus. Rasa kesepian setelah bertahun-tahun tanpa teman, seperti gurun pasir yang akhirnya diguyur hujan semalaman.
***
Berikan cinta sebanyak-banyaknya buat penulis ya )