
Fase kehidupan terkadang mengambil semuanya, kematian, kelahiran, senang, berduka, kesedihan dan kebahagiaan. Tidak ada yang abadi, hingga semua kembali ke awal, dimana tidak memiliki apa-apa.
Pak Dean kembali ke posisi semula dan menolak semua pernghargaan yang disematkan sebagai pahlawan penegakan hukum. Baginya itu sudah menjadi kewajiban, tanpa pamrih. Nin pensiun dini dari kepolisian dan memilih untuk menjadi dosen kriminolog di sebuah Universitas.
Bagaimana hubungan Nin dan Dean?
Terkadang seseorang yang sudah terlalu lama hidup sendiri, sudah terbiasa dengan kesendirian dan kesepian. Hingga kesulitan untuk menyesuaikan keadaan dengan pasangan, mereka tidak meneruskan hubungan itu kejenjang yang lebih serius. Tetapi, masih berteman baik hingga saat ini.
***
Pagi itu di sebuah hutan pinus lolongan anjing pencari bergerak dengan cepat, secepat endusannya mencium aroma khas dari bangkai mayat yang membusuk. Menyusuri pepohonan yang berjarak seperti batang-batang yang tertancap dengan rapih. Hingga gonggongannya melolong sangat keras menggaung keseluruh area. Memanggil semua unit, memberitahukan jika ada sesuatu yang ditemukan.
Jemari seseorang yang keluar dipermukaan tanah yang gembur. Jari-jari yang masih utuh dalam timbunan tanah yang kurang dalam. Petugas mulai memotret tempat kejadian dan menandainya dalam radius 200 meter. Agar jejak-jejak disekitarnya bisa terlacak, terutama keadaan pagi ini tertutup kabut tebal sehingga keadaan tanah lebih lembab.
Petugas forensik mulai menggali perlahan timbunan tanah itu. Mendapati bangkai mayat yang mulai membusuk, berjenis kelamin pria dan tidak ada identitas apapun pada dirinya. Hanya terdapat cincin nikah yang masih melingkar di jari manisnya.
“Apa yang ditemukan?” tanya Bima.
“Pria, keturunan lokal usia sekitar 35-an, waktu kematian sekitar 72 jam yang lalu. Terlihat dari membran dalam sel pecah ditandai oleh ruam dan darah yang keluar dari lubang-lubang tubuh. Belum terjadi pembengkakan, maka paling lama 72 jam, Pak Bim.”
“Identitas tidak ditemukan,” sambungnya.
Pak Bima dipanggil oleh Eddie rekannya karena menemukan jejak roda mobil dalam radius 100 meter. Kemungkinan mobil itu masuk dan berhenti di sini karena pepohonan pinus menghalanginya untuk lebih jauh masuk ke dalam. Mayat itu di seret ke tempat kejadian, terlihat seseorang berusaha untuk menariknya. Ada jejak-jejak tubuh yang menyeret di tanah. Membuangnya di sana dan menguburnya asal.
Lalu, meninggalkannya dengan mobilnya. Jejak roda yang tertanam pada tanah yang gembur itu adalah berjenis mobil besar atau SUV.
“Pak, hutan pinus ini sering dijadikan tempat berkunjung para mahasiswa, kemungkinan pelaku mengenal tempat ini atau tinggal di sekitar sini,” ucap Eddie.
“Tetapi, tidak ada perumahan dekat sini, hanya beberapa kampus yang berdekatan,”
Universitas di mana Nin mengajar.
“Ok, kita tunggu laporan identitas mayatnya,” ujar Bima kepada tim forensik.
Bima menyuruh Eddie untuk kembali lebih dulu ke kantor pusat, sementara dirinya mengunjungi Nin di kampus karena dekat dengan tempat kejadian.
***
Bima duduk di bangku paling belakang dalam auditorium dimana Nin sedang memberikan kuliah pada kelasnya.
Nin membawa sebuah tas besar dan mengeluarkan seluruh isi di dalamnya, para mahasiswa itu terkejut melihat seluruh benda-benda yang ada. Nin mengatakan pada semuanya untuk mengambil satu benda yang akan digunakan jika kalian adalah seorang pembunuh.
“Berpikirlah seperti seorang pembunuh,” ucap Nin menatap seluruh kelasnya.
Seluruh mahasiswa mengambilnya satu persatu, hingga mahasiswa terakhir kebagian sebuah selendang.
“Kenapa kamu mengambil selendang itu?” tanya Nin pada mahasiswa itu.
“Karena hanya ini yang tersisa!”
Sontak semua orang tergelak termasuk Bima yang ada di belakang. Terkecuali Nin sama sekali tidak merasa itu hal yang lucu.
“Berpikirlah seperti pembunuh, kenapa kamu membunuh korbanmu dengan selendang?”
Mahasiswa itu terdiam sesaat sambil melihat selendang ditangannya dan membayangkan membunuh seseorang dengan itu.
“Mungkin agar bisa membunuhnya perlahan …,” ujar mahasiswa itu pelan.
“Tepat sekali! Seseorang yang membunuh dengan kain, selendang agar bisa menikmati pembunuhan itu. Membunuh korbannya perlahan, melihatnya meregang nyawa memberinya fantasi kesenangan tersendiri bahkan bisa membuatnya terpuaskan secara seksual.”
Teeeeettttttt!
Bel berbunyi tanya kuliah sudah habis.
“Baiklah berikan makalah untuk kuliah hari ini, dikumpulkan dua hari lagi.”
“Apa kabar, Nin?” Bima dari kejauhan.
“Bima? Tumben mengunjungiku,” sindir Nin.
“Maaf, baru kali ini bisa melihatmu mengajar … Pak Dean selalu membuatku lembur!”
“Ha ha ha … enggak ada yang berubah,” Nin berbisik. Sembari membereskan barang-barang yang dibawanya untuk pertunjukkan kuliah.
“Semenjak putus denganmu, semakin aneh saja kelakukannya.”
“Jangan becanda, memang sejak dulu Dean seperti itu … bukan karena aku.”
“Ah … baiklah, aku ke sini untuk menanyakan sesuatu padamu!”
“Apa itu?”
“Apa kita bisa bicara di tempat lain?”
“Baiklah, kita bisa pergi keruanganku!”
Di dalam ruangannya Bima memperlihatkan mayat yang baru saja ditemukan dekat kampus ini. Nin melihat foto-foto itu dengan seksama.
“Apa yang kamu lihat Nin? Apa yang kamu rasakan?”
“Aku harus melihat lokasinya untuk merasakan, tetapi timbunan yang tidak dalam dan asal bahkan menyisakan jemarinya untuk ditemukan. Pelaku seakan sengaja agar korban bisa segera ditemukan.”
“Antar aku kesana, Bim,” sambung Nin.
Bima mengantar Nin ke lokasi kejadian, hanya tinggal beberapa petugas yang masih berjaga-jaga di tempat tersebut. Memberikan garis polisi agar pengunjung dan mahasiswa tidak masuk ke sana. Nin dan Bima melewati garis itu dan masuk ke lokasinya.
Nin merasakan jika sebenarnya pelaku tidak ingin membunuh korban ini, dirinya terpaksa.
“Bagaimana menjelaskannya yah … pelaku tidak memiliki dendam, seperti terpaksa harus membunuhnya.”
“Bim, apa ada korban lain?”
“Saat ini belum!”
“Mungkin akan ada korban-korban lainnya.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Pembunuhan ini seperti membangkitkan keinginannya yang sudah lama ….”
Kembali ke nol, seorang pembunuh yang sudah lama meninggalkan kebiasaannya tiba-tiba kembali pada titik di mana harus membunuh karena seseorang telah mengungkitnya, mengingatkannya tentang kesenangannya membunuh. Bagaimana seorang pembunuh akhirnya melupakan kebiasaannya itu dan kini kembali dari ke awal. Membunuh.
Menuju ruang perkakasnya dan mengambil sebuah peti yang ditumpuk dan disembunyikan dengan barang-barang lainnya dengan sangat rapih. Membuka peti dengan kunci yang disimpannya sebagai trophy. Kenangannya melihat piala-piala atas kerja kerasnya mengumpulkan selama bertahun-tahun tanpa tertangkap.
Terbuka dengan indah, sesuatu yang sangat berharga baginya, kotak-kotak hadiah dengan tulang-tulang yang berjejeran di dalamnya. Pembunuh itu tersenyum dengan bangga, hingga ingin mengisi kotak hadiah yang masih kosong. Pemburuan yang akan berlanjut.
“He … he … he!”
Membuka peti rahasia lainnya dan mengambil gergaji pemotong yang dibuatnya khusus untuk memotong tulang belulang dari para korbannya.
***
Author mau mengucapkan terima kasih kepada para sesama Author atas dukungannya selama ini dan juga para pembaca setia The Shadow Fears**.** Di Episode ke 50 Author akan menamatkannya untuk sementara selagi membuat kelanjutannya. Semoga kalian tetap mendukung dengan cara memberi Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komentarnya ya.
Pemberian kritik, saran juga boleh dengan bahasa yang baik ya.
Terima kasih, sampai jumpa )