
Membawa sebuah kotak berisi penemuan-penemuan dan barang-barang dari kamar kos-an David Situmorang,
setelah penyelidikan selesai barang-barang itu dikembalikan ke pihak keluarga. Bima dan Eddie sudah berada di depan rumah keluarga David, Desi menyambut kedatangan mereka. Kotak itu diserahkan pada Desi dan memberikan ucapan terima kasih atas penemuan David yang sedikit banyak membantu kepolisian untuk mengungkap Si Kolektor Kelingking.
Desi terharu mendengarnya, karena pelaku sudah tertangkap. Hingga tidak bisa membendung tangisan kebahagiaan.
“Semoga David tenang di Surga,” ucap Desi.
Lalu, Bima dan Eddie melanjutkan penyelidikan kasus baru ke ruang otopsi. Ketika sampai di sana, dokter Puput sedang membedah korban. Sembari membuka kacamata hitamnya, Bima menanyakan kemana perginya dokter Alan.
“Dokter Alan sudah pensiun, tapi jika kamu rindu bisa memintanya untuk datang.”
“Ah … aku hanya ingin mendengar kabarnya saja, baiklah … nanti aku akan meneleponnya.” Timpal Bima.
Eddie berbisik pada Bima untuk menunggu di luar saja, dirinya belum sanggup untuk melihat mayat yang terbelah seperti itu. Membuatnya sangat mual, pusing dan ingin muntah. Eddie tidak ingin membuat kotor ruang otopsi.
“Ck … ck, sana,” ujar Bima sedikit kesal.
“Siapa pemuda ini, dok?”
“Dari kartu perpustakaan mahasiswa yang ditemukan di sakunya, pemuda ini bernama Derry Arisandi, mahasiswa semester satu di sebuah kampus negeri di Jakarta.”
Lagi-lagi kampus Nin mengajar.
Dada yang sudah tersayat membentuk huruf Y, Dokter Puput sudah mengambil organ dalamnya.
“Di dalam ususnya korban terakhir makan burger, tanggal berapa sekarang?” Dokter Puput sembari menoleh pada kalender di dinding.
“Memangnya kenapa dengan tanggal dan burger?”
“Kemungkinan mahasiswa ini seorang yang berlatar belakang keluarga mampu, karena biasanya akhir bulan tidak ada mahasiswa yang mengisi perutnya dengan burger!”
“He … he … he, Dokter Puput ternyata ketularan Dokter Alan.”
“Ada luka di gusi bagian atas, seperti tersentak sesuatu, terdapat busa halus pada rongga mulut dan hidung. Di dalam hatinya ada kandungan darah, ekstasi dan LSD (Lysengic Acid) sejenis obat yang menyebabkan halusinogen.”
“Jadi, pemuda ini over dosis?”
“Sepertinya, pemuda ini dicecoki minuman campuran yang sudah kusebutkan tadi.”
“Kamu yakin pemuda ini dicekoki?”
“Jika memang pemuda ini seorang pecandu akan muncul tanda-tanda fisik lainnya, seperti pupilnya melebar, warna kulit pucat, bekas suntikan, ginjal yang rusak, warna hati yang gelap!”
“… dan yang membuat semakin aneh ada tato baru seperti pentagram (gambar bintang yang dilingkari) di tengah dadanya,” sambungnya.
“Semacam ritual aneh?”
Dokter Puput mengangkat bahunya, menandakan kebingungan pada misteri kematian pemuda itu. Setelah Dokter Puput selesai dengan otopsinya dan menutup kembali semua yang sudah dibedah, sebelum Orangtua mahasiswa itu datang untuk melihat jenazah anaknya yang tewas.
Dalam keadaan masih syok dan tidak bisa menerima kenyataan jika putera mereka telah tiada, Bima harus terus melakukan penyelidikan. Di dalam ruangannya Bima menanyakan tentang kebiasaan dan kegiatan Derry di rumah dan di kampusnya.
“Saya tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya, tetapi sudah menjadi tugas saya untuk melakukannya.”
“Derry-ku enggak mungkin menyentuh barang haram itu, enggak mungkin!” Ibunya histeris. Berteriak sekaligus menangis sembari mencengkram tangan suaminya. Tekanan yang dirasakannya sangat besar karena baru saja kehilangan anak.
“Derry selama ini apa bergabung dengan teman atau kelompok yang aneh?”
Mereka saling berpandangan terkesan bingung dengan pertanyaannya.
“Apa maksud Pak Bima?”
“Kami belum pasti mengetahui apa yang terjadi, tapi kami ingin tahu seperti apa Derry di kampus?”
“Setahu kami Derry anak yang baik, sejak SMP enggak pernah aneh-aneh, temannya juga biasa-biasa saja. Hanya saja waktu itu sepulang dari kampus Derry terkesan lebih diam dari biasanya dan meminta izin untuk mengikuti acara di kampus. Itu malam terakhir aku melihatnya ….” Tangisannya pecah mengenang malam terakhir.
“Derry memiliki sahabat dekat di kampus itu, sepertinya cukup dekat. Setahun di atas Deery, seniornya ... namanya Boy.”
“Baiklah, nanti akan kami cari tahu.”
***
Bima dan Eddie menuju ke Universitas Jakarta, kali ini bukan untuk bertemu dengan Nin tetapi mencari mahasiswa bernama Boy di kampus tehnik informatika. Menelisik sudut-sudut kampus yang luas, teman-teman mahasiswa yang ditanya keberadaan Boy berada, mengarah pada sebuah tempat kegiatan mahasiswa, para pencinta alam.
Tok, tok.
Terlihat beberapa mahasiswa sedang asyik menghisap ganja, aroma yang menyeruak hingga ke ambang pintu dikenali oleh Bima dan Eddie. Ruangan terselubung yang sering dijadikan tempat mesum dan mabuk.
“Boy, keluar Boy!” ucap Eddie berteriak.
Tiba-tiba seseorang berdiri dan langsung berlari setelah melihat perawakan Eddie di ambang pintu. Boy melarikan diri melalui pintu belakang dengan cepat, sedangkan Eddie langsung mengejarnya.
“Bikin repot saja!” keluh Eddie.
Bima mengambil jalan yang berbeda, untuk menghadang Boy dari arah depan. Boy terus berlari hingga menabrak kerumunan mahasiswi yang sedang berjalan di lorong hingga terjatuh. Boy masih saja melarikan diri dari kejaran Eddie.
“Boy, berhenti,” ujar Eddie lagi.
Tiba-tiba dari arah depan, dari balik persimpangan, Bima menaruh kakinya di lantai hingga Boy terjungkal ke lantai dengan dahsyat. Jegalan maut Bima telah menghentikan pelarian Boy. Eddie langsung membungkus lengan Boy dengan borgol.
“Tadinya kami akan berbaik hati, karena kabur terpaksa kami borgol,” seru Eddie masih dengan napas tersengal-sengal. Sudah lama dirinya tidak melakukan pengejaran seperti itu.
“Bawa ke kantor,” tukas Bima.
“Kalian menangkap orang yang salah, kalian akan menyesal. Ayahku seorang jaksa penuntut terkenal.”
Siapa Ayahnya? Sombong sekali anak ini.
***
Dalam keadaan masih terborgol, Boy berada di depan penyidik. Penyidik bertanya kenapa Boy lari padahal polisi hanya ingin bertanya padanya. Boy berkilah karena dirinya memiliki reflek yang cepat, terkejut hingga melarikan diri. Penyidik juga menanyakan tentang Derry, semua orang mengatakan jika mereka sangat dekat.
“Aku mengenal Derry di kampus, kami enggak dekat, itu saja!”
“Jangan bohong! Orangtua Derry mengatakan malam itu kamu yang mengajaknya ke acara kampus! Acara apa itu?”
Boy hanya terdiam.
“Aku minta Ayahku didatangkan.”
“Apa? jawab dulu … kamu sudah dewasa masa harus didampingin orangtua? Hah?” Penyidik mulai kesal dengan Boy yang bertele-tele.
“Kami sudah bertanya pada pihak kampus malam itu tidak ada kegiatan kampus, jadi acara apa itu?”
Boy hanya tertunduk sejak tadi sengaja mengulur-ulur waktu.
“Jawab!” Gertak penyidik menyentak meja dengan keras.
Tiba-tiba datang seorang jaksa terkenal itu. Bima tidak menyangka kedatangan Bas Arief ke dalam ruangannya untuk memintanya membebaskan anaknya, Boy Arief.
“Jadi, Boy anakmu?”
“Ya … aku minta bantuan jika tidak ada tuduhan apapun padanya, maka bebaskan Boy!”
“Kami sedang menyelidiki kasus pembunuhan seorang mahasiswa dan Boy sepertinya terkait dengan misteri kematiannya!”
“Tapi Boy sudah menjawab tidak tahu dan tidak kenal dekat dengan korban.”
“Bas … kenapa kamu enggak mundur sedikit agar kami bisa leluasa!”
“Bim … aku akan memanggil pengacara dan menuntut kantor ini karena sudah menangkap seseorang tanpa surat perintah tangkap dan memborgolnya di depan umum. Itu sangat keterlaluan,” sentak Bas.
“Apa? Bas? Kamu sudah gila … jika benar-benar melakukannya,” sergah Bima.
“Bebaskan anakku!” Bas Arief dengan wajah memaksa.
“Bebaskan dia,” ucap Dean. Tiba-tiba keluar dari ruangannya yang mendengar adu mulut itu.
Bima merasa tidak puas dan geram. Hingga memberikan gestur dengan wajahnya menyentak seakan menyuruh anak buahnya untuk melepas borgol itu dan membebaskan Boy. Sembari menolak pinggang sangat kesal, melihat seringaian kecil Boy yang sengaja dipertontonkan. Nyaris menembaknya dengan makian.
“Bim, ke ruanganku,” perintah Dean.
“Awasi anak itu,” ucap Bima berbisik. Memerintahkan untuk tetap mengikuti Boy dari kejauhan. Mengawasi setiap gerak-geriknya.
“Siap kapten!”
Dean memerintahkan agar Bima lebih berhati-hati karena Bas Arief memiliki reputasi tinggi sebagai jaksa penuntut. Belum pernah ada seorang penjahat yang bisa lolos dari jeratan hukumnya, hampir setiap hakim mengabulkan permohonan tuduhan dan masa hukuman yang diajukannya.
Dean tidak ingin Bima mencoreng nama baiknya dan terutama ini berkaitan secara tidak langsung dengan pihak kejaksaan.
“Pak Dean… politik sangat menyebalkan!”
“Sabar, selidiki dari awal, saya yakin kamu bisa melakukannya Bim.”
“Saya tahu Pak,”
***
Seorang pemuda diikat dengan tali yang melilit linggar pinggangnya, kepalanya tertutup tudung berwarna hitam, berjalan diapit oleh dua pemuda memakai jubah seperti rabi membawanya pada kumpulan orang-orang yang sudah menunggu. Semuanya melingkari pemuda itu, di depannya sudah ada altar patung Baphomet berwajah kambing bertanduk dengan sayap, tangan kanan ke atas dan tangan kiri mengarah ke bawah.
Ritual pemujaan akan dimulai, tudung kepala pemuda itu dilepaskan, hingga bisa melihat semuanya begitu menyeramkan. Sekumpulan manusia yang berjejeran mengelilinginya dengan jubah , wajah yang bersembunyi dibalik tudung rabi-nya.
Pemuda itu melihat ke altar di depannya, merasakan keanehan baru pertama kali melihatnya. Sekaligus membuatnya merasa ngeri dan menyeramkan dengan tengkorak-tengkorak di atas meja.
“Ini becanda kan? Kalian sedang becanda kan?” Pemuda itu berusaha untuk mendapatkan jawaban.
Seseorang mulai merapal mantera, bacaan yang aneh dihadapan altar. Dewa setan yang dianggap agung bagi mereka, memberikan persembahan jiwa pemuda itu untuk Baphomet.
Pemuda itu ketakutan hingga berlari, namun tali yang mengikat kencang pinggangnya membuatnya tidak bisa berlari kencang. Semua yang mengelilinginya menghalangi pemuda itu untuk lari, dari semua sisi hingga pemuda itu kembali ke tengah-tengah persembahan.
Setelah selesai merapal mantera, sosok itu mengambil sebuah belati yang panjang dan runcing. Telapak tangannya diangkat ke atas dan menyayatnya dalam hingga mengalir darah dengan deras, tetesannya memenuhi gelas. Para pengikut merasakan kehausan melihat tetesan itu, ingin mencicipinya.
Lezat sekali ….
Tiga orang mulai memegangi pemuda itu dan darah yang bercampur dengan sesuatu di dalamnya dipaksakan untuk masuk ke dalam kerongkongannya. Pemuda itu tersedak hingga kesulitan bernapas. Dalam keadaan kejang-kejang, mulai terdengar suara bisikan.
Bisikan-bisikan yang merayap keluar dari patung Baphomet, menandakan pemujaan itu diterima dengan baik olehnya. Kabut yang mulai keluar dari segala arah, menyelimuti kumpulan itu.
“Dewa Setan, Baphomet terimalah persembahan kami!”
Kabut yang membentuk wajah yang menyeramkan, mata yang dalam dan gigi-gigi tajam yang siap menerkam. Melingkari kumpulan itu terbang di atasnya hingga memilih pemuda yang sudah tergeletak meregang nyawa. Mata pemuda itu mendelik sosok menyeramkan itu, sosok itu masuk ke dalam sukmanya hingga tubuhnya bergetar hebat, terbanting-banting tidak terkendali sembari berteriak-teriak kesakitan. Hingga akhirnya mati.
***
Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )