
Mungkin benar masa kelam akan tergantikan dengan masa indah. Mungkin benar seseorang yang berbeda bisa membuatku bahagia. Kedatangannya tidak pernah terduga, namun pada masanya akan tiba. Aku merasakan hati ini berubah, ada yang bergejolak didalam dada. Rasa yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Bahkan, selama ku hidup baru kali ini aku bisa mempercayai seseorang.
***
Terbangun aku berada didalam ruang klinik yang tidak jauh dari kantor. Edgar melihatku dengan senyumannya yang menempel. Padahal aku tahu
Edgar sedang menahan sakit, tetapi tetap tersenyum untukku. Perawat sedang mengobati luka-lukanya, sedangkan aku hanya bisa melihatnya dengan penuh luka diseluruh tubuhnya.
Aku menangis, aku tidak sanggup lagi.
“Hei, jangan menangis, apa kamu sakit?” sembari mengusap airmataku.
“Hehe, kamu yang sakit tapi masih menanyakan kabarku?” sentakku tertawa mendengar ucapannya yang masih peduli padaku padahal keadaannya cukup parah.
“Tidak apa-apa, ini biasa dialami laki-laki dewasa, nanti juga akan sembuh.”
“Pria yang .…?”
“Oh, pemuda itu sudah dibawa ke kantor polisi, anaknya Pak Warih, kudengar dia tidak terima Ayahnya dijebloskan ke penjara.”
“Lalu, apa hubungannya denganku?”
“Entah, dia pikir kamu yang membocorkan nama-nama itu.”
“Apa? ... Nama-nama?” sontakku terkejut. Mencoba mengingat-ingat apa yang sudah kulakukan.
Aku jadi teringat sesuatu, diawal penyelidikan ternyata memang benar karena aku menyebutkan isi dokumen itu mereka sebuah tertangkap, lalu darimana anaknya tahu kalau aku yang membocorkan.
“Halo, Enggar kenapa melamun?” tuturnya lembut.
“Ah tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing!” sembari menyentuh pelipis.
“Enggar maukah kamu mengantarku pulang?” tanyanya lagi.
“Hmm, baiklah aku mau!” sembari memberinya bantuan untuk berdiri.
Dirinya mengaduh kesakitan ketika menggerakkan lengannya. Aku bersedia membantunya untuk mengganti pakaian. Aku membukakan kancingnya
satu persatu dan melepaskan lengannya dengan perlahan, aku melihat tubuhnya yang penuh lebam kebiruan. Aku tidak tega melihatnya terluka seperti itu. Aku menangis dihadapannya.
“Maafkan aku.” Bulir airmata dari sudut mata mengalir.
“Lihat aku, aku baik-baik saja!” memandang mataku dengan lembut.
Menyentuh bibirku dan perlahan mendekatkan wajahnya padaku, dan membiarkan bibirnya merasakan bibirku. Sentuhan yang hangat
darinya, aku terbuai mesra dalam pelukannya.
"Aku menyukaiku Enggar ... kamu adalah wanita terindah yang mengubah hari-hari membosankan menjadi kenangan. Aku tidak akan pernah menyakitimu."
"Benarkah yang kamu ucapkan itu? Aku sungguh ingin mempercayainya." imbuhku yang masih dalam belaiannya. Rasanya sangat ingin memiliki seseorang yang bisa dipercaya.
"Percayalah ... aku akan membuatmu bahagia!" matanya bersinar ketika mengatakan itu.
Aku merasakan ketulusan hatinya.
"Aku mencintaimu juga Edgar ... sangat!"
Lalu, aku membiarkan diri ini hanyut dalam buaian dan kehangatannya. Disentuhnya wajah ini, dibelainya rambut ini bahkan caranya memandangku dengan penuh kasih sayang. Ini pertama kalinya diri ini merasakan terbuai dalam hasrat yang menggebu. Entah apa yang ada dipikiranku, semuanya dipenuhi olehnya. Terbayang hingga ke sukma.
Aku menyukai caranya mencintaiku. Hatinya yang lembut dan apa adanya yang membuat hati ini tidak bisa menahannya lagi. Kamu adalah orang yang telah membuatku tersenyum dalam sepi, sendiri, kamu adalah cinta pertama dan terakhir.
Jika mengingat romantisme bersamanya. Sejak lama menantikan dicintai seseorang seperti ini. Kenapa kamu baru datang saat ini, kenapa tidak sejak dulu. Aku tidak ingin merasa kesepian lagi, itu lebih menakutkan daripada berdiri dalam kegelapan. Aku ingin bersamanya tanpa rasa takut lagi.
Tetapi, benarkah aku tidak akan takut lagi?
***
Berikan cinta untuk penulis ya😊 Like, Rate 5, Vote, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yg banyak ya