The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 33 Alias; Qiandra



Keesokan harinya, penyelidikan masih terus berlanjut. Mencaritahu dimana keberadaan Qian saat ini yang belum diketahui. Hasil surat keterangan yang diberikan oleh yang mengaku seorang Paman yang bernama Hari adalah


keterangan palsu. Tidak ada nama tersebut dan setelah diselidiki lebih lanjut tidak ada surat adopsi atas nama anak yang bernama Qian.


Ketika membuka berkas anak hilang, ada satu nama yang bernama Qiandra yang diculik ketika berusia 5 tahun dari nenek dan kakeknya yang saat itu sebagai keluarga yang merawatnya. Orangtuanya bernama Suci dan Dewa yang menjadi korban pembunuhan Enggar Dikta.


Nenek dan kakeknya sudah meninggal lima tahun yang lalu. Qian benar-benar sendiri saat ini.


“Apa? benarkah ini semua kebetulan saja, kenapa semuanya berkaitan,” Kejadian 10 tahun yang lalu kembali mencuat dengan adanya penemuan baru. Lalu, yang mengaku Paman Qian itu siapa.


***


Bima dan rekannya kembali ke kantor polisi dekat dengan rumah kebakaran itu. Polisi yang membawa Qian ke kantor polisi terdekat dan yang membolehkan Qian dibawa oleh yang mengaku keluarganya. Bima ingin melihat kamera yang terpasang, meskipun dirinya sangsi akan ada kamera disana. Mengingat kantor tersebut hanya kantor polisi sektor kecil. Saat ini kamera belum banyak terpasang, hanya di kantor polisi pusat saja.


Ternyata benar tidak ada kamera disana. Buntu.


Bima akhirnya mengunjungi Kampung Orang setelah 10 tahun tidak pernah lagi menginjakkan kaki kesana. Tragedi pembunuhan berantai yang mengguncangkan nasional. Pemberitaan yang menjadi headline disurat kabar manapun. Enggar Dikta seorang pembunuh yang menghabisi tiga orang tetangganya, akibat dendam masa lalu.


Setelah 10 tahun, sudah banyak yang berubah, kebanyakan rumah-rumah itu dijual dan berganti penghuni. Termasuk keluarga Enggar, namun tidak dengan Edgar. Orangtuanya masih disana, Bima dan rekannya ingin mengabarkan jika Amelia Areza dan suaminya telah meninggal dunia akibat kebakaran.


Memencet bel rumah tua itu, setelah beberapa saat ada sosok bersahaja yang keluar menyambut.


“Siapa?” ucapnya pelan.


Wanita tua itu sepertinya mengenali wajah Bima, yang pernah memeriksa dan menggeledah rumahnya untuk menyelidiki Edgar.


“Oh Tuhan, apa kamu sudah menemukan Edgar?” ucapnya sembari menutup mulutnya tidak percaya.


“Boleh saya masuk Bu,” ucap Bima.


Wanita tua itu dengan setengah hati memberikan mereka waktunya. Dirinya kuatir jika ada kabar buruk lagi yang menimpa anak-anaknya.


Bima mengabarkan jika Amelia telah meninggal dunia karena kebakaran. Sontak wanita tua itu menangis. Penderitaannya belum juga usah. Semenjak tertangkapnya Edgar, suaminya mengalami stroke dan sekarang dirinya merawatnya ditempat tidur. Wanita tua itu juga sudah lama tidak tahu kabar Amelia dan suaminya. Mereka tidak dikaruniai anak, tetapi sosok Amelia adalah anak yang penurut dan baik.


“Kenapa ini bisa menimpa anak perempuanku?” hatinya nelangsa, raut wajahnya yang menua dan keriput semakin hilang sinar kehidupannya.


“Maaf, apa Ibu tahu jika Amelia mengangkat seorang anak perempuan?” tanya Bima.


“Apa? Amelia mengadopsi seorang anak? Ibu tidak tahu, Amelia hanya mengirim uang setiap bulan. Anak yang baik kenapa nasibmu ikut malang, nak.” ucap wanita tua itu sembari menangis. Airmatanya sudah kering karena terlalu sering menangisi takdir.


Jika Amelia tidak memberitahukan siapapun tentang anak itu, apakah karena dirinya telah menculiknya. Penyelidikan ini semakin pelik saja.


***


Siang itu Kevin mengantarku pulang, seperti biasa dibonceng dengan motornya. Ditengah perjalanan tiba-tiba gerombolan geng beken menyalip jalan kami dengan kecepatan tinggi. Mereka sengaja ingin membuat kami terkejut. Mereka tertawa dan memberikan tatapan meremehkan. Aku menbenci mereka.


Aku melarang Kevin untuk membalasnya, biarkan saja mereka. Sebaiknya kita fokus saja dan membicarakan hal lain yang lebih menyenangkan, ucapku padanya agar teralihkan.


“Qian, lain waktu apa boleh aku mengajakmu pergi?” ucapnya sembari menyetir.


“Kemana?”


“Hmm … pergi nonton atau makan mungkin,” sambungnya lagi.


“Aku belum pernah melakukan itu, tapi sepertinya menyenangkan,”


“Jadi, kamu mau? ….”


“Tentu saja aku akan bertanya pada Bibi, semoga mereka mengizinkannya.”


***


Terdengar lagi suara Paman dari ruang bawah tanah. Kali ini sepertinya ada barang yang lebih berat yang dipindahkan keruangan itu. Aku mendengar suara hentakan benda berat yang menuruni anak tangga. Dengan jedah yang cukup lama dari tangga hingga ke dasar, seperti kesulitan membawanya. Aku ingin membantu Paman agar segera selesai dan tidak ada lagi suara yang mengganggu.


Namun, aku takut justru mengganggu ritualnya untuk mengurangi insomnia. Tiba-tiba, “Dbruuk ….” benda itu jatuh. Suara Paman mengaduh kesakitan, aku dengar sangat kecil suara menderita itu.


“Paman ….” ucapku sembari berlari keluar.


Berlari menuruni tangga, melewati dapur dan menuju lorong itu. Mencoba mendorong celah pintu rahasia itu. “Paman, apa kamu baik-baik saja?” ucapku sembari berusaha mencari suara itu. Mendoronganya disegala tempat, sangat sulit mencarinya diantara kegelapan ini. Semoga Paman tidak apa-apa.


Bibi keluar dari kamarnya yang sedang melihatku mendorong dinding itu.


“Qian ada apa ini?” ucapnya sembari menalikan jubah yang menutupi pakaian tidurnya.


“Paman, Bi … sepertinya terjadi sesuatu dengan Paman didalam,” ucapku khawatir.


Bibi berteriak memanggil Paman dengan namanya. “Edgar,” ucapnya. Aku melihat kearah Bibi karena dirinya memanggil dengan sebutan yang berbeda. Bibi menyadarinya dan segera meralat nama itu.


“Keluarlah Hari, apa yang terjadi?”


“Hari ….” untuk yang kesekian kali panggilan Bibi berteriak.


Tak lama Paman Hari keluar dari celah pintu itu dengan lumuran darah ditangannya dan terlihat bengkak. Aku melihat ada tangga yang gelap menuju ke dasar bawah tanah. Tidak terlihat apa-apa, Paman Hari sudah mematikan sumber cahayanya. Aku semakin penasaran apa yang dilakukannya disana.


Namaku dipanggilnya, “Qian, bisa bantu Bibi.”


“Iya, Bi … Qian kesana,” balasku terhadap panggilannya.


Lalu, aku menutup celah dinding itu yang cukup berat dan mencoba mengingat celah itu berada dan cara membukanya. Kupikir aku harus mengingat cara membukanya jika ingin menyusuri bagian bawah tanah yang misterius ini.


***


Tangan Paman terluka Bibi mengobatinya dengan antiseptik agar tidak infeksi dan memberhentikan pendarahan. Aku mengambil perban dan pembalut tangan di kamar Bibi. Aku melihat di atas meja rias terdapat botol obat-obatan yang terdaftar atas namanya. Laci yang sedikit dan beberapa botol obat lagi. ‘Bibi sedang sakit apa?’ pikirku dalam hati.


“Qian, mana benda yang kusuruh ambilkan?” ucap Bibi menyadarkanku dari lamunan.


“Ketemu Bi, sudah ketemu!”


Aku memberikannya kotak yang berisi perban dan pembalut tangan itu. Sembari melihat Bibi yang sedang merawat tangan Paman yang kesakitan. Aku bertanya dengan rasa penasaran.


“Paman, apa yang terjadi?” tanyaku.


“Paman tertimpa tabung,” jawabnya singkat.


“Tabung? Untuk apa tabung itu?” tanyaku lagi.


“Untuk … membuat saluran gas, iya … rumah ini belum ada air panasnya, Paman membuat itu!”


“Oh … begitu.”


“Terima kasih Qian, kalau kamu tidak ada mungkin Paman sudah mati di bawah sana.” sambung Bibi.


“Oiya Paman, apa Qian bisa bantu Paman. Supaya cepat selesai apa yang …,” ucapanku terpotong.


“Tidak! ....” Paman sedikit menekan.


Aku terkejut.


“Maksudku, di bawah sana cukup berbahaya karena kedap udara. Lagipula Paman mengerjakannya sendiri karena Insomnia!”


“Ah baiklah Paman, Qian mengerti.”


“Oiya Bi, nanti sore Qian boleh pergi dengan teman? Pergi nonton?”


Bibi dan Paman saling berpandangan seperti tidak siap untuk memberikan jawaban.


“Hem … baiklah kamu boleh pergi, tapi hati-hati yah!”


“Iya Bi, Qian akan berhati-hati.”


Aku meninggalkan mereka dan mencoba untuk pergi tidur lagi.


Ketika melerai mimpi, mendengar sayup-sayup suara Bibi dan Paman yang sedang bertengkar hebat. Mereka bertengkar karena aku akan pergi dengan seorang teman laki-laki. Mereka berbeda pendapat, Bibi memberikan aku izin karena percaya padaku. Sedangkan Paman merasa aku masih kecil untuk pergi berkencan.


Padahal ini bukan kencan.


Paman mengatakan jika pikiran laki-laki itu berbeda dengan perempuan. Laki-laki ingin mencoba sesuatu di masa pubertasnya. Paman kuatir jika aku dimanfaatkan oleh teman laki-lakiku, Kevin. Sedangkan Bibi berpendapat biarkanlah Qian merasakan masa mudanya seperti anak normal kebanyakan.


“Aku tidak mau Qian seperti diriku yang tidak bisa menikmati masa muda, ingat aku sangat ketakutan padamu, dulu!” Bibi sembari menekankan hal itu pada Paman.


“Aku sangat mencintaimu, sangat. Aku yang menjagamu, ingat,” ucap Paman sembari mendekatinya.


“Justru karena sikapmu itu, aku sekarang menjadi seperti ini,” sambung Bibi lagi.


“ Itu karena aku sangat mencintaimu ….” Paman menegaskan lagi.


Aku terbangun dan melihat dari tangga, Paman dan Bibi sedang berpelukan dan berciuman sangat mesra.


Syukurlah tadi aku hanya bermimpi.


“Bi, aku sangat lapar,” ucapku mengeluh dengan perut keroncongan. Sembari menuruni tangga itu dan duduk di meja makan.


“Ah … bisa kamu tunggu sebentar Bibi akan membuatkan sesuatu,” ucap Bibi yang menepuk-nepuk dada Paman


seraya meninggalkan pelukannya dengan lembut.


“Aku bantu ya Bi …,” sahutku.


Kami menyiapkan sarapan dan juga makan bersama. Sedangkan Paman menyiapkan meja makan dengan tangan satu.


***


Berikan cinta dengan cara pencet like, vote, rate 5, tambahkan ke favoritmu dan komen yang banyak )