
Terasa lebih dingin dari malam sebelumnya, hanya perasaankah atau sebenarnya tubuh ini menggigil merasakan lebih dingin. Mencari selimut untuk menutupi tubuh ini agar lebih hangat. Berjalan di lorong dan membuka pintu yang terdapat selimut-selimut dan penuh dengan handuk. Aku mengambil selimut bermotif bunga dengan renda berwarna merah. Hanya ini yang sedikit lebih tebal dari lainnya.
Hacih!
Sepertinya aku terserang flu.
Ketika berjalan di lorong ingin kembali ke kamar. Aku mendengar seperti ada yang berbincang di ruang bawah tanah. Sibuk menggeser-geser sesuatu. Pukul 02.00 dini hari waktu menunjukkan pada jam dinding di lantai satu. Kutaruh selimut di kamar dan segera tidur kembali. Namun, penasaran ini yang menarikku untuk melihat apa yang mereka lakukan.
Perasaan ragu terus menyerang dan menyuruhku untuk terus tidur saja. Namun, entah kenapa penasaran ini semakin besar ketika suara perbincangan itu semakin keras. Seperti pertengkaran, mungkinkah mereka bertengkar karena aku, pikirku dalam hati.
Tidur saja!
Turun saja!
Seperti itu pikiran yang ada di kepala. Seperti ada dua keinginan hingga tubuh yang mengigil ini terlupakan.
Perlahan menuruni tangga supaya tidak terdengar aku menapak, suara pertengkaran itu semakin keras. Celah pada tembok rahasia itu tidak tertutup rapat sehingga suaranya terdengar hingga keluar. Sesampainya di depan pintu itu aku mendengarnya jelas.
“Enggar, aku sudah melakukan semua untukmu, apakah kita harus berakhir seperti ini? Mengapa kita tidak pergi saja yang jauh, hanya kita berdua menjalani hidup,” ucap Paman padanya.
“Kenapa kamu tidak mendengarku. Kenapa kamu mengulangi perkataan itu. Sejak awal rencanaku menculiknya agar bisa mencegahnya menjadi monster sepertiku,” ucap Bibi.
Apa menculik? monster sepertinya? Apa maksudnya? sembari menutup mulut.
“Enggar, aku tidak mau kehilangan dirimu….”
“Tidak Edgar, aku harus membawa Qian pergi dari sini, hanya itu satu-satunya jalan.”
“Enggar, kumohon. Biarkan Qian menjalani hidupnya.”
“Maksudmu dengan membu…..”
Aku terkejut dan dengan cepat ingin kembali ke kamar, namun aku tidak sengaja menyentuh pintu rahasia itu hingga membuatnya berdernyit. “Oh tidak aku ketawan sedang mengintipnya,” berlari menyusuri lorong dan menaiki anak tangga dengan cepat. Seseorang mengejarku, aku tahu dari langkahnya yang begitu cepat.
“Qian jangan lari,” ucapnya. Namun aku sangat ketakutan hingga hanya ingin mencapai kamarku dengan cepat.
Bajuku ditariknya, “Paman lepaskan aku, kumohon,” ucapku sembari menghindari jemarinya yang berhasil menangkapku. “Kenapa, kamu berlari, apa yang sudah kamu dengar?” ucapnya. Aku panik dan takut, spontan menendang kakinya dan meraih kenop pintu. Paman mengaduh kesakitan, dan aku berhasil masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Aku sangat ketakutan tubuh ini bergetar hebat dan berkeringat. Tidak bisa berpikir apa yang sedang kulalui. Memikirkan perkataan Bibi yang menculikku. “Oh Tuhan apa yang terjadi sebenarnya, siapakah mereka yang sebenarnya?”
Benarkah mereka bukan Paman dan Bibiku.
“Qian, keluarlah, kita bicarakan ini baik-baik,” ucap Paman yang masih menahan rasa sakitnya.
Aku hanya diam.
“Qian, ini Bibi, kenapa kamu tidak keluar saja. Aku akan menceritakan semuanya.”
“Maksud Bibi cerita yang menculikku? Apa maksudnya Bi? Siapa kalian sebenarnya?”
“Keluarlah Qian, Bibi akan meluruskan semuanya….”
“Aku takut Bi, aku bingung, biarkan aku pergi dari sini,” ucapku memohon.
“Bibi tidak bisa membiarkanmu pergi, karena kita akan pergi dari sini Qian. Bersama.”
“Kemana Bi, apa yang Bibi maksud pergi bersama?”
“Kita akan mati bersama-sama Qian, itu yang Bibi mau.”
“Apa? Bibi sudah gila, kalian semua gila,” ucapku. Semakin frustrasi mendengar perkataannya yang tidak masuk akal.
Sementara itu Paman dan bibi seperti berjalan di lorong dan kembali ke dalam kamarnya tanpa suara. Aku tidak bisa mendengar suara mereka lagi. Sedangkan hati ini semakin berdebar ketakutan. Mengetahui hidup satu rumah dengan orang-orang yang tidak dikenal dan ternyata orang gila, sungguh tidak bisa dibayangkan.
“Bagaimana ini, aku harus bisa kabur dari sini!”
Jika aku kabur paling tidak harus melewati kamar Bibi dan Paman yang berada di sebelah. Bagaimana jika mereka menyergapku ketika melaluinya. Pintu utama selalu menyantol, bagaimana jika mereka menyimpannya disuatu tempat yang tidak kuketahui. Kubuka jendela kamar ini namun berjeruji besi. Jalan satu-satunya lewat pintu utama atau memecahkan jendela depan.
***
Detik-detik jam pada dinding yang memecah kesunyian. Waktu sudah hampir pukul 04.00, sudah lama rasanya aku duduk dengan berjongkok didepan pintu. Mencoba mengumpulkan keberanian untuk membuka pintu dan keluar dari sini. Akhirnya, mengambil tempat pensil dan mengambil jangka.
Kupikir itu yang paling tajam diantaranya.
Tanganku sudah berada diatas kenop pintu dan berusaha memutar kuncian itu dengan perlahan. Dengan sesenyap mungkin agar tidak terdengar jika aku membukanya.
Trek!
Suara kuncian itu terdengar kecil.
Tidak ada suara langkah di lorong. Aku membuka pintu itu perlahan-lahan. Membukanya sedikit demi sedikit. Mengintip keadaan dengan kepala yang berada di luar. Melirik kearah kiri, kamar mereka yang tertutup dan di bawah yang gelap tanpa cahaya.
Oh Tuhan, apakah ini jebakan. Mengapa di bawah sangat gelap.
Keraguanku semakin besar untuk tidak melanjutkan aksi kabur ini. Aku takut jika tertangkap mereka. Namun, harus kucoba karena ini satu-satunya kesempatan.
Kreeeekk!
Membuka pintu perlahan, terdengar pelan suara pintu kamarku. Sangat pelan hingga pintu yang terbuka hanya cukup untuk tubuhku yang kecil. Keluar dari kamar, sekeliling sangat gelap, derap langkah yang kuatur pelan, satu persatu melewati lorong. Sembari berpegangan dengan tepian tangga, menoleh ke kiri kamar Paman dan Bibi yang tertutup.
Ngiiikk!
Menuruni anak tangga pertama, berdernyit, menghentikan langkah hingga tidak berdernyit lagi. Kakiku akhirnya berhasil turun di anak tangga pertama. Langkah kedua sembari menoleh ke belakang, pintu kamarnya masih tertutup. Tiga langkah lagi sampai di bawah. Tiba-tiba Paman telah berdiri dalam kegelapan menungguku
disana.
Dengan tatapan mendelik yang siap menangkapku. Aku berteriak dan berbalik kearah kamar. Menaiki tangga kembali, Paman mengejarku dan menarik kaki ini dengan tangannya yang kuat. Aku meronta, menendang-nendangkan kaki sekuatnya hingga terlepas. Berlari menaiki tangga dengan merangkak, jemarinya berhasil meraihku lagi hingga kepalaku terbentur tangga.
***
Ketika tersadar, aku sudah berada di dalam ruang rahasia itu dengan kaki dan tangan yang terikat. Berusaha melepaskan ingatan, menyeret tubuh ini di lantai, melata seperti ular. Namun, sangat sulit hingga membuatku lelah. Akhirnya, aku hanya bisa pasrah dengan posisi tengkurap.
Dengan wajah yang menempel di lantai, hembusan napas yang melontarkan debu ke udara. Aku melihat ruangan yang diciptakan Paman seperti ruangan yang aneh. Pipa-pipa yang terhubung pada tabung raksasa. Ruangan tanpa ventilasi, untuk apa Paman membuatnya sangat kedap.
“Paman … Bibi … maafkan aku, kumohon keluarkan aku dari sini, aku janji tidak akan kabur lagi,” ucapku memohon. Aku mulai menangis, namun mereka seakan tidak peduli. Sebenarnya siapa mereka, apa salahku.
Sudah sangat lama, aku berada di dalam sini, dengan wajah yang masih menempel di lantai. Aku kesulitan berbalik. Seperti kecoa yang terjengkang dan tidak bisa berbalik sendiri. Dengan kaki-kaki-kaki kurusnya yang menegang ke atas, sekuat tenaga membalikkan tubuhnya yang bongsor. Seperti itulah posisiku saat ini, bedanya aku pada posisi tengkurap.
Ketika diri ini mulai lelah, terdengar suara pintu itu dibuka. Cahaya bersinar di luar, langkah-langkah itu mendekat. Paman menuruni tangga dan berjongkok di sisiku. Tanpa bicara sedikitpun, hanya menatap saja. Sembari melihat kearahnya yang tidak bisa kulihat sepenuhnya. Pandanganku terbatas karena posisi ini.
Derap langkah satu lagi mulai menyusuri tangga hingga ke bawah.
“Bibi, lepaskan aku. Aku jadi akan menjadi anak baik,” ucapku dengan airmata yang terus mengalir.
“Ini sudah waktunya, Qiandra,” tutur Bibi. Paman seakan menuruti perintah Bibi untuk melakukan sesuatu.
Aku memohon dan memohon agar mereka tidak meninggalkanku.
“Paman dan Bibi, tidak akan meninggalkanmu Qian. Karena … hari ini kita akan mati bersama," ungkap Bibi dengan jelas. Aku terkejut dengan penuturannya.
“Apa? kenapa Bi, apa salahku,” keluhku.
“Terkadang kita tidak menyadari kesalahan yang sudah dilakukan, karena kita orang yang pandai berbohong. Cuma Bibi yang mengerti perasaanmu, Qian. Bibi akan mengakhiri segalanya hari ini,” sambungnya.
Perkataannya sama sekali tidak bisa kumengerti.
Paman mulai menyalakan mesin, menyetel waktu dan memutar kuncian tabung raksasa itu.
Paman apa yang kamu lakukan? aku akan mati hari ini.
***
Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kamu dan komen yang banyak ya )