The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 41 The Truth Untold



Berhari-hari mereka menunggu di depan pintu, mengawasi dan mengamati. Setiap perawat dan dokter yang keluar dari ruangan ini, akan dihentikannya. Pemeriksaan berkala yang dilakukan secara serius, sebegitu pentingnya seorang saksi baginya.


Satu minggu keadaan Qian akhirnya dinyatakan stabil oleh dokter yang merawatnya. Kepolisian boleh menanyainya sebagai saksi, meskipun Qian masih terlihat lemah berbaring di ranjang. Kapten Bima dan Eddie yang sudah menanti berhari-hari sudah tidak sabar mencari kebenarannya.


Ketika mereka menghampiri Qian, matanya menatap namun kosong. Bahkan Bima memperkenalkan diri, Qian tidak menjawabnya. Beberapa pertanyaan yang menyinggung soal kejadian di ruang bawah tanah itu tidak ada satu jawabanpun yang keluar. Jawabannya masih misteri. Bima juga berkewajiban untuk menanyakan soal kronologis kebakaran yang menewaskan kedua orangtuanya.


Tidak ada jawaban.


Bima menoleh pada dokter yang menanganinya, dokter itu pun kebingungan dengan sikap tutup mulut Qian. Padahal kondisinya sudah stabil berdasarkan pengamatan selama seminggu di rumah sakit. Entah apa yang membuat Qian mogok bicara soal dua kejadian mengerikan itu. Bima dan Eddie akhirnya keluar dari ruangan itu tanpa mendapatkan satu keteranganpun.


“Dokter, apa itu normal?” tanya Bima pada dokter.


“Kondisi fisiknya normal, entah apa yang membuatnya tidak bicara, mungkin seorang psikiater bisa membantunya. Bisa saja kejadian itu membuatnya trauma.”


Saat itu seorang psikiater dipanggil untuk menemui Qian. Perlahan dokter kejiwaan itu mencoba mendekati Qian dan menyelusuri pikirannya. Namun, Qian bersikap sama. Tidak mengatakan apapun. Sikap diamnya sangat membuat frustrasi semua orang. Kepolisian sudah tidak tahan dengan sikapnya yang mogok bicara itu.


“Menurut saya tidak ada gejala traumatis … Qian hanya ingin bungkam saja, entahlah saya tidak yakin lagi,” ucap psikiater itu.


“Baiklah, Dok. Saya akan panggil Nin kesini,” ucapan Bima yang semakin gusar.


Keesokan harinya, Dokter Nin Syamsudin seorang ahli kriminolog yang paham soal pemprofilan seseorang, harapan terakhir agar bisa menangkap apa yang ada dipikiran Qian saat ini. Nin masuk kedalam kamar Qian dan memberikan gambar-gambar yang harus dipilihnya. Sebab, Nin mendengar jika Qian melakukan aksi bungkam, Nin memilih untuk memberinya gambar dan kode.


Dari luar Bima masih saja mengamati perkembangan mereka. Berharap Nin bisa memberikan petunjuk untuk perkembangan kasus ini.


Setelah setengah jam Nin keluar, hanya sesingkat itu berhadapan dengan Qian. Padahal psikiater sebelumnya memerlukan waktu hampir dua jam.


Mereka meminjam ruangan dokter yang tertutup untuk membicarakan masalah ini. Nin mengatakan pendapatnya tentang Qian.


“Apakah kita bisa meminta jaksa untuk memaksa Qian melakukan tes kebohongan?” anjur Nin pada Bima. Sontak Bima terkejut dengan keinginan Nin.


“Kenapa kamu bisa berkesimpulan seperti itu? … maksudku kita bisa saja berkonsultasi pada jaksa, asalkan argumentasimu itu bisa diterima untuk memaksa Qian melakukan tes itu,” terang Bima.


“Aku anjurkan Qian melakukan tes itu, aku mau tahu apakah Qian bisa melarikan diri dari dirinya sendiri …,” timpal Nin sangat misterius. Membuat Bima bertanya-tanya apa yang barusan terjadi.


“Nin, bisa kamu jelaskan apa yang kamu lihat padanya?”


“Nanti saja, sebaiknya hubungi kejaksaan sekarang. Kita harus kembali ke kantor.”


***


Seorang jaksa penuntut bernama Bas Arief mendatangi kantor kepolisian untuk memenuhi panggilan Komjen Dean. Di dalam ruangan itu Nin menjelaskan pendapatnya tentang Qian yang diberinya tes gambar, dihadapan Komjen Dean, Kapten Bima dan juga jaksa penuntut Bas Arief, Nin memberikan kesimpulan jika Qian berpotensi sebagai psikopat.


Sontak seluruh yang mendengar penjelasannya itu terkejut karena Qian adalah saksi. Untuk itu Nin meminta kejaksaan apakah bisa memaksa seseorang yang dibawah umur tanpa wali untuk menjalankan tes kebohongan.


“Saya ingin tahu tes sementara yang kamu berikan di rumah sakit?” ujar Bas Arief.


“Baiklah,” jelas Nin sembari memberikan beberapa gambar dan hasil jawaban Qian. Berikut gambar pertanyaan dan jawabannya.



Ada seorang anak yang mendapatkan hadiah di hari ulang tahunnya, berupa sepeda dan sepak bola. Dalam gambar itu si anak yang berulang tahun terlihat marah, kenapa?



Jawaban seharusnya anak itu menginginkan hadiah yang lain.


Tetapi jawaban Qian adalah anak itu cacat, tidak memiliki kaki.



Saat melihat gambar orang sedang menguap, apa reaksi tubuhmu?



Jawaban seharusnya akan ikut menguap.



Ketika melihat gambar ada dua orang anak perempuan kembar sedang menghadiri sebuah pemakaman. Lalu datang seorang pria yang disukai salah satu anak kembar itu. Tiba-tiba anak kembar yang menyukai pria itu membunuh saudara kembarnya, kenapa?



Jawaban seharusnya karena tidak ingin pria itu menyukai saudaranya.


Tetapi jawaban Qian adalah jika saudara kembarnya mati, pria itu akan datang ke pemakaman dan bisa melihatnya lagi.



Ketika tengah malam kamu memergoki seseorang berada di depan rumah melihat kearah jendelamu, lalu seseorang itu menyentuh bibirnya dengan jari. Apa yang kamu pikirkan?



Jawaban seharusnya orang itu menginginkan aku untuk menutup mulut dan berpura-pura tidak melihatnya.


Jawaban Qian adalah orang itu sedang menghitung lantai aku tinggal untuk membunuh, aku lari mencari sesuatu untuk membunuhnya juga.


Tersisa 6 gambar yang terdapat jawaban Qian yang mengarah pada kesimpulan yang sama.


“Ditambah dengan kode-kode asap yang secara keseluruhan menggambarkan jika Qian berpotensi sebagai psikopat,” timpal Nin yang sangat yakin pada kesimpulannya itu.


Jaksa Bas Arief menjelaskan, jika ingin memaksa Qian menjalani tes kebohongan, tidak sulit. Saat ini dirinya tidak memiliki wali, tetapi karena masih dibawah umur maka walinya adalah wali negara.


“Lalu, yang menjadi masalah adalah sebenarnya ini mau dibawa kemana? Kasus psikopat yang mana? Sedangkan Qian dalam kasus bunuh diri massal adalah korban. Bahkan Qian adalah korban penculikan.”


“Jadi, maksudnya kesimpulan tes Nin ini tidak berguna untuk membuat Qian bicara?”


“Hmm ….” Jaksa Bas Arief menghela napas. Sembari menggeleng.


“Ini bukan satu kasus tetapi 2 kasus,” timpal Komjen Dean tiba-tiba.


“Apa?” semua orang mencoba menangkap maksudnya.


“Ya … kasus kebakaran dan bunuh diri adalah dua kasus dimana Qian menjadi saksinya. Sampai saat ini kepolisian belum mendapatkan keterangan dari Qian perihal keduanya.  Maka kejaksaan memiliki kewajiban untuk membuat Qian bicara,”


Jaksa Bas Areif mengangguk-angguk seakan sepemahaman dengan Komjen Dean.


“Tetapi Pak Dean, jika kita benar-benar akan melakukannya. Jalan yang ditempuh tidak mudah, kita akan berhadapan dengan komisi hak asasi manusia dan juga masyarakat luas yang melihat Qian tetaplah saksi yang disudutkan seperti penjahat.” imbuh jaksa Bas Arief.


“Lanjutkan, saya akan bertanggungjawab untuk semuanya. Kita akan membuka tabir kegelapan ini menjadi terang benderang.” ungkap Komjen Dean tegas.


“Siap Pak, laksanakan!” ucap Jaksa dan Bima bersamaan.


***


Hari itu juga kejaksaan dan kepolisian bersama-sama menjemput Qian di rumah sakit untuk dipindahkan ke tempat sementara. Qian berstatus sebagai saksi kunci, sehingga diamankan dengan penjagaan ketat.


Ketika keluar dari rumah sakit, Qian yang diapit oleh dua orang polisi wanita dan pengawalan kepolisian dan juga kejaksaan mendapat serbuan pertanyaan dari wartawan dan masyarakat yang penasaran dengan Qian.


“Jaksa Bas, apa benar Qian akan menjalani tes kebohongan?” tanya wartawan itu dengan berdesak-desakan. Jaksa Bas menoleh pada Bima seraya berkata, “ sudah kubilang apa!”


Jaksa Bas tidak memberikan statement apa-apa untuk sementara waktu. Mereka heran kenapa cepat sekali berita tersebar.


“Apa tidak cukup penderitaan Qian selama ini, masih harus ditawan oleh kejaksaan?” timpal wartawan lainnya.


Memasuki mobil dan seluruh wartawan mengikuti kemanapun hingga mendapatkan berita untuk tajuk headline media.


***


Makin seru aja yah, pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak biar Author bisa tamatin secepatnya ya )