
Bagaimana bisa semua akhirnya terlihat jelas, perbuatannya yang selalu memilih gadis yang salah. Mengapa dirinya selalu saja memihak gadis yang salah. Apakah aku harus terlihat menyedihkan di depannya. Ataukah aku harus membunuh salah satu gadis itu untuk menarik simpatiknya.
Kekuatan gravitasi apa hingga aku tertarik padamu. Kecemburuanku semakin menjadi, ketika dirinya terlihat dekat dengan seseorang yang menganggapku orang gila. Seseorang yang tidak memiliki kecerdasan psikologis, hanya mengandalkan insting dan intuisi. Kalian sungguh mirip, hal itu membuatku semakin meradang.
Sebelumnya dirinya tertarik pada Enggar, bahkan meratapi mayatnya. Dan sekarang wanita perawan tua itu. Seleramu sungguh aneh memang. Tetapi, aku semakin ingin memilikimu.
Aku melihat Dean keluar dari rumahnya. Ini saatnya aku beraksi, ingin melihat ke dalam.
Aku pura-pura jatuh di depan gerbang itu dan tidak sadarkan diri. Seseorang menolongku, mencoba menyadarkan. Membawaku masuk ke dalam rumah itu dan membaringkan di atas sofa.
Kakek tua itu kembali dengan membawakan minum. Aku pura-pura sudah pulih sambil memegang kepalaku yang seakan terasa sakit. Gelas yang berisi air hangat kuminum dan orangtua yang bernama Pak Nyoto itu memberikanku waktu hingga aku sudah kuat untuk berjalan.
Kesempatan itu aku gunakan untuk masuk ke dalam kamarnya. Pak Nyoto kembali ke depan untuk membersihkan taman. Merasakan ranjangnya dan tidur di atasnya, menghirup aroma tubuhnya yang tertinggal di sana. Bau keringat seorang mantan Komjen seperti ini. Aroma citrus orange yang segar.
Bagaimana bisa kamarnya hanya terdapat beberapa foto saja. Mungkin yang terpajang di sebelahnya itu adalah Kakak laki-laki dan Ibunya dan foto yang di balik menghadap belakang adalah Ayahnya. Aku tertawa geli, ternyata ada yang memiliki masalah kedekatan dengan Ayahnya.
Membuka laci demi laci hanya barang-barang yang tidak penting. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang ada di bawah bantalnya. Aku melihat sebuah buku sketsa milik Enggar. Di dalamnya terdapat beberapa gambar dirinya dengan berbagai pose. Enggar sering menggambarnya ketika Dean mengunjunginya.
Perasaanku terluka melihat perhatian itu. Aku juga ingin diperhatikan seperti itu. Apa aku tidak layak mendapatkannya. Kenapa hanya Enggar. Tidak sadar buku sketsa itu sudah kuremas hingga hampir lepas di beberapa bagian.
Tiba-tiba terdengar suara “meow” kucing masuk ke dalam kamar ini. Mencari tuan yang sesungguhnya.
“Halo …,” sahutku menyapa.
Aku meraihnya untuk menggendongnya tetapi kucing itu mencakarku hingga berdarah. Darah ini menetes di lantai. Kuambil sebuah bantal kucing itu kutekan, hingga meronta dengan hebat, suara erangannya yang kuat memberontak, hingga kehabisan napas dan mati. Itulah hukumannya jika melukai seseorang yang menyukaimu.
Tiba-tiba terdengar klakson mobil berbunyi. Itu pasti Dean pulang, aku ke belakang dan memutar lewat samping. Ketika mobil itu masuk, aku keluar dari gerbang yang belum tertutup. Memasang tudung jaketku kembali dan berjalan seperti orang biasa.
Aku akan kembali lagi kesana.
***
Baru saja turun dari mobil, Nin datang. Aku mengenali mobilnya. Menunggunya hingga keluar dari mobil.
“Sekalian lewat mampir mau ambil pakaianku dan mengembalikan punyamu,” sahut Nin.
“Masuklah … temani aku mencoba kopi baru,” ujarku sembari menunjukkan kopi baru yang kubeli.
Nin menaruh tas berisi pakaian itu di atas meja, selagi aku menggiling kopi. Aku memintanya untuk mengambilkan cangkir di dapur. Nin membuka lemari kitchen, melihat kearah belakang ada sebuah karung yang bergerak-gerak.
“Dean … apa kamu menangkap tikus atau sesuatu?” tanya Nin. Aku penasaran dengan apa yang dikatakan Nin.
“Apa maksudmu?” tanyaku. Memastikan sesuatu yang bergerak di dalam karung. Ketika kubuka isi karung itu di dalam bungkusan sarungan bantal, Oren yang sedang meregang nyawa. Lehernya
seperti patah sedangkan Oren belum mati.
“Bukan saya, Den … saya sejak tadi di depan,” sahut Pak Nyoto gelagapan. Aku masih saja tidak mempercayainya hingga memulangkannya untuk sementara waktu. Pikiranku kalut dan terbakar emosi, kenapa Pak Nyoto bisa setega itu.
Setelah mengubur Oren di tanah belakang dan mengusir Pak Nyoto yang sudah lama bekerja di sini, aku sungguh gusar kehilangan keduanya. Terutama Oren yang selalu menemaniku di rumah ini. Nin menuangkan kopi yang sudah terseduh.
“Dean, minumlah ini,” tutur Nin sembari menyodorkan secangkir kopi. Nin tahu jika aku sayang menyayangi Oren. Aku terlalu cepat emosi dan menyesali telah mengusir Pak Nyoto, mungkin memang bukan perbuatannya. Tetapi, siapa? Dirumah ini hanya ada dirinya.
“Kenapa enggak pasang kamera pengintai? Rumah ini terlalu luas dan terbuka hingga bisa melihat semuanya,” saran Nin. Aku hanya tersenyum hingga menyandarkan tubuhku ke belakang dan meletakkan cangkir kopi itu.
“Apa kamu sedang membaca kepribadianku, Nin?” sembari menegaskan pandanganku padanya. Nin menyadari ucapannya yang secara tidak langsung ingin mengatakan sesuatu tentang kepribadian penghuninya.
“A-aku tidak sedang membicarakan itu, Dean,” ucapnya gugup. Belum pernah aku melihatnya segugup itu.
“Lalu? ….” Sembari mencondongkan diriku padanya.
“Yang kumaksud adalah … semua orang termasuk yang enggak kita inginkan bisa melihat ke dalam rumah ini termasuk penghuninya!”
“Jadi, maksudmu orang lain yang kubiarkan masuk ke dalam sini … termasuk kamu,” bisikku. Aku menggodanya, melihatnya wajahnya yang gugup saat ini sungguh berkesan untukku.
“Sebaiknya aku pulang saja.” Beranjak dari tempat duduk.
“Nin, tinggallah sebentar lagi.” ucapku. Sembari menarik tubuhnya ke dalam pangkuan. Aku memeluknya dan mengecupnya. Nin terkejut, hanya terdiam. Kupikir dirinya tidak keberatan jika aku menciumnya.
Aku menciumnya dan Nin menyukainya.
Masa-masa kesepianku sudah berakhir.
***
Langkah-langkah misterius masuk ke dalam halaman rumah Dean. Seseorang itu kembali setelah melihat kedatangan Nin. Jiwanya merasa hancur ketika melihat Dean dan Nin semakin dekat. Semua yang diusahakannya dengan susah payah hancur seketika.
Seseorang dengan kemarahan yang besar sedang menyaksikan kemesraan itu persis di depan halaman rumah Dean. Di balik pepohonan palem tersembunyi seseorang yang sangat cemburu melihat pujaannya mencium wanita lain. Di tangannya sebuah pisau yang mengasah tajam pada batang palem yang tidak bersalah itu. Sebagai pelampiasan emosinya yang memuncak.
“Aku membenci, aku membenci wanita murahan itu, akan kubuat kamu menderita!”
Dasar pengkhianat, gara-gara wanita penggoda itu kamu berpaling dariku. Kamu tidak boleh menyukai wanita lain selain diriku. Aku yang paling cocok bersanding denganmu. Aku akan menyingkirkan semua yang sudah merebutnya dariku. Dan kamu hanya akan melihatku, seorang.
Kita akan hidup bahagia bersama untuk selamanya, tidak ada yang lebih membahagiakan selain memandangimu setiap hari.
***
Pencet Like, Rate 5, Vote, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )