The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 34 Kissing Game



Kevin mengantar pulang setelah dari makan malam, meraih tanganku dengan lembut. Seakan tidak ingin melepasku pergi. Kukatakan aku harus masuk ke dalam karena Paman dan Bibi sudah menunggu. Kevin ingin mengatakan sesuatu yang membuatnya sangat gugup. Aku hanya memberinya waktu untuk mengatakan apa yang


ada dipikirannya.


Aku merasakan tangannya berguncang karena gugup, dan mulutnya mengatup tidak beraturan. “Katakanlah apa yang mau kamu ucapkkan, akan kudengarkan,” lirihku menenangkannya. Kevin menoleh pada gang sempit dan gelap yang ada di samping rumah. Dirinya membawaku ke sana dan aku mengikutinya.


“Ada apa?” ucapku ragu.


Kevin semakin tidak bisa mengendalikan tubuhnya hingga gemetar. Aku menyentuhnya di wajah dan merabanya lembut. Kukatakan sekali lagi. “Jangan takut, katakan saja,” ucapanku membuatnya lebih baik.


“Sepertinya aku menyukaimu, Qian, sejak kita bertemu di rumah laundry itu,” ucap Kevin.


Aku menunggu malu seakan tidak percaya ternyata dirinya menyukaiku. Virus gugup itu mulai menjangkiti dengan cepat. Tanpa sadar jemari ini mulai kugigiti. Kevin menyela agar jari itu tidak habis kumakan.


Kevin berbisik ditelingaku. “Aku akan melakukan sesuatu, jangan marah ya.” Lalu Kevin perlahan mendekati wajahku dan mendekatkan bibir kami menyatu, rasanya ringan seperti berjabat tangan. Sebuah kecupan perkenalan.


Aku terkejut dan semakin canggung. Menelan beberapa liur yang mengalir dari rongga mulut dengan cepat. Perasaan yang terguncang sekaligus menyenangkan.


“Aku akan melakukannya lagi,” ucapnya.


Kevin menciumku sekali lagi, kali ini benar-benar menciumku. Seperti Paman dan Bibi yang kulihat waktu itu. Aku menirunya dan membiarkan dirinya menuntunku. Ciuman pertama dengan seseorang yang mengaku menyukaiku.


Rasanya aneh dan sulit untuk dikatakan, seseorang yang bukan diri sendiri bisa kurasakan dan kusentuh. Mungkin ini rasanya merasakan kedekatan secara intim dengan orang lain.


Tiba-tiba ada lampu sorot yang menyilaukan kearah kami. Beberapa orang yang sengaja melihat dan mentertawakan kami. Gerombolan geng beken disana, seperti sudah tahu jika ini akan terjadi. Sontak aku menjauh dari Kevin dan menghapus jejak di bibirku.


“Kevin, apa mereka tahu ini akan terjadi?” tukasku padanya.


Kevin hanya berdiri dan membeku. Sedangkan gerombolan itu semakin kencang mengolok-olokku.


Aku mendorong Kevin agar dirinya menjelaskan padaku apa yang sedang terjadi. Apa ini sebuah permainan Truth or Dare. Aku tidak percaya dirinya begitu picik dan pengecut. Aku menangis dan sangat malu. Segera berlari dari sana dan pulang kerumah.


Gerombolan itu semakin keras menghinaku.


“Dasar cewek murahan … hahaha ….”


Aku masuk kerumah dengan tangisan kecewa. Paman dan Bibi bertanya apa yang sudah terjadi dan aku mengatakan bahwa mereka sudah mengerjaiku dengan keji. Aku dianggap sebagai permainan. Paman Hari terlihat tidak senang dan marah, dirinya keluar rumah dan mencoba menangkap salah satu gerombolan itu.


Mereka semua berlari dengan motornya, hanya tinggal Kevin yang masih terperangah seakan ini juga siksaan untuknya. Paman menarik jaket Kevin dan berbicara sesuatu yang membuatnya ketakutan. Aku hanya menangis dalam pelukan Bibi. Setelah itu Paman membiarkan Kevin pergi.


***


Tidak ada yang benar-benar menyukaiku. Aku pikir Kevin orang yang beda, ternyata dirinya sama saja dengan teman-teman yang selalu membicarakanku di belakang. Membuatku terlihat bodoh dan menganggapku sebuah mainan. Semua orang sengaja mencari kelemahan, mencoba membuatku semakin jatuh dalam hinaan.


Apa salahku pada mereka?


Selama ini aku hanya tidak ingin berurusan dengan mereka. Bahkan aku menjauh dan berusaha untuk tidak membuat masalah. Tetapi, kenapa mereka sangat ingin menghancurkanku.


Tangisan ini tidak mau berhenti, sudah membasahi seluruh bantal dan sprei di ranjang. Kuhapus jejak miliknya di bibir ini. Sembari bercermin dan mengusapnya dengan tisu berkali-kali. Dengan noda kemerahan yang memudar pada seluruh permukaan bibir seperti badut. Ya, aku dianggap badut penghibur.


Wajah yang tidak berguna. Hanya menambah kesedihan.


Aku mendengar Paman dan Bibi ikut bertengkar dalam hal ini. Terdengar mereka saling menyalahkan apa yang sudah menimpaku. Paman menginginkan pindah sekolah sedangkan Bibi ingin aku yang menentukan pilihan. Aku sadar Paman sangat protektif dan sikapnya seperti seorang Ayah.


Aku memiliki satu hari untuk memikirkannya. Jika memang ingin pindah sekolah, Paman akan mengusahakannya. Saat ini benar-benar membuat hatiku berkecamuk, merasa dikhianati. Pernah merasakan yang seperti ini? Dipermalukan, dpertontonkan, seperti ditelanjangi di muka umum.


Hingga aku melempar sebuah cermin kecil ke dinding dan membuatnya pecah berserakan ke lantai. Paman mendatangi kamarku untuk melihat keadaan.


“Qian, apa yang terjadi?” tanya Paman terkejut.


“Maafkan aku Paman, rasanya sakit sekali … disini,” ungkapku sembari memeluk dadaku seakan hati itu berserakan berkeping-keping. Aku mengumpulkan sisa-sisa pecahan dari hati.


***


Pagi harinya aku memutuskan untuk tetap pergi ke sekolah. Sudah bersiap untuk pergi ke sekolah hingga membuat Paman dan Bibi heran. Paman sudah berada dibangku kemudi mobilnya yang siap mengantar. Pagi itu cukup hening, tidak ada percakapan seperti biasa diantara kita.


Sampai di depan sekolah, tiba-tiba Paman melihat ada sosok yang dikenalinya dari kejauhan. Seperti sosok yang ingin dihindarinya jika bertemu dan berpapasan. Paman mencoba melihatnya lebih teliti, seseorang yang sedang berbicara dengan walikelas.


Ketika aku membuka pintu mobil, Paman langsung menutup pintu itu dan mencegahnya untuk keluar. Aku kebingungan dan Paman memerintahkan menutup mulut dan tidak bersekolah hari ini.


“Paman ada apa, aku mau sekolah,” ucapku protes.


“Diam Qian, nanti Paman jelaskan di rumah,”


Dengan kecepatan tinggi akhirnya sampai dengan cepat. Paman membukakan pintu mobil itu untukku dan menyuruh masuk. Aku enggan dan melancarkan aksi berdiam di dalam mobil. Namun, Paman berteriak padaku seperti orang gila. Aku ketakutan hingga merelakan diri di bawa ke dalam rumah dengan paksa.


“Ada apa ini?” keluh Bibi ikut kebingungan.


“Tanya saja Paman,” raungku yang mulai menangis.


Paman mengikuti ke atas dan mengunciku di kamar. Aku semakin histeris dan memintanya membuka pintu.


Paman menjelaskan sesuatu sambil berbisik pada Bibi.


Aku terpenjara dalam kamar itu.


***


Di kantor pusat, Bima datang dengan handphone keluaran terbaru saat itu. Semua rekan-rekannya terkesima dengan benda yang dipegangnya. Pada tahun 2000an belum banyak yang menggunakan ponsel pintar.


“Kapten, darimana ponsel itu?” tanya Eddie penasaran.


“Di kasih komandan,” balasnya santai.


“Mau dong!”


“Minta sana sama komandan,” jawab Bima.


“Tidak usah Kapten, ponsel saya masih bagus koq … hehe.” Mengurungkan niatnya.


“Enggak berani, hehe,” sindir Bima.


Bima mengatakan kepada Eddie untuk menunggunya lima belas menit di bawah, karena akan membicarakan sesuatu dengan komandan.


“Masuk,” ucap Komandan.


“Ada perkembangan soal Edgar Pak!”


“Edgar? Penguntit itu ….”


“Ya, Pak. Sepertinya korban penculikan sepuluh tahun yang lalu ada kaitannya dengan Edgar Areza!”


“Ada buktinya?”


“Selama ini anak itu diasuh oleh kakak kandungnya di rumah laundry itu tanpa sepengetahuan orangtua dan tidak ada catatan adopsi resmi!”


“Lalu, apa yang mengaitkannya dengan Edgar?”


“Seseorang telah menjemput anak itu yang mengaku sebagai Paman korban.”


“Dan setelahnya, anak itu tidak muncul lagi di sekolah,” sambungnya lagi.


“Segera lakukan pencarian secara menyeluruh dan coba kamu temui Enggar di RSJ. Jika memang benar ini ada kaitannya dengan Edgar, pasti akan meninggalkan jejak pada wanita yang dicintainya.”


“Baik Komandan, siap.”


***


Berikan cinta dengan cara pencet Like, Vote, Rate 5, tambahkan ke favorit dan komen yang banyak ya )