The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 38 Laporan Kevin



Kevin datang ke kantor polisi, hatinya terlalu khawatir karena Qian tidak pernah berangkat sekolah lagi. Kevin dihantui perasaan bersalah yang sangat besar. Dirinya sudah berusaha untuk mendatangi kediamannya, namun penolakan membuatnya tidak berdaya. Kevin semakin khawatir karena perasaannya yang tidak enak jika membayangkan Paman Qian yang sangat kasar. Kevin menaruh curiga juga karena insiden penyerangan terhadap dirinya tempo hari.


Dirinya hanya ingin memastikan jika Qian baik-baik saja berada dirumah itu.


Menunggu membuat laporan, Kevin bingung harus bicara dengan siapa. Dirinya meminta seorang polisi yang dilihatnya datang ke sekolahnya waktu itu. Sudah setengah jam Kevin menunggu hingga akhirnya Kapten Bima datang setelah menyelidiki sesuatu.


Kevin mengenali polisi itu dan juga rekannya. Bima diberitahukan sedang di tunggu sejak tadi oleh seseorang yang mengaku mengenal Qian dan dimana tempat tinggalnya saat ini.


Ketika polisi itu masuk kedalam ruangan ini, aku semakin tidak tenang dan merasa sangat takut. Ini pertama kalinya aku mendatangi kepolisian, tempat orang-orang yang menangkap penjahat. Aku kuatir perbuatanku juga akan mengakibatkan kurungan penjara. “Yah … siapa yang mau masuk penjara?” hanya demi Qian, aku memberanikan diri untuk datang.


“Saya Kapten Bima, ada apa mencari saya?” ucapnya sembari duduk didepanku.


Aku sangat gugup hingga mulut ini hanya mengatup-katup seperti ikan yang kekurangan oksigen.


“Kapten…,” panggil Eddie yang memberikan kode pada Kapten, bahwa mengenalinya.


“Sepertinya, rekan saya mengingat kamu di suatu tempat,” ujar Kapten Bima.


“Di sekolah itu Kapten, yang mengintip…,” tukas Eddie memperjelas.


“Oiya … benar saya inget. Jadi mau memberi informasi apa kamu ke sini?” sambung Kapten.


“Apakah saya harus menceritakannya dari awal?” tanyaku gugup.


“Ya, jika itu perlu.”


“Baiklah….”


Lalu, Kevin menceritakan asal mula mengenal Qian dirumah laundry itu dan sering mengantarnya pulang. Terjadi insiden kebakaran dan Qian tinggal sementara dirumah Paman Hari dan seorang Bibi, aku tidak tahu namanya.


“Hanya seorang Bibi.”


“Lantas?”


Kevin menceritakan karena sering mengantarnya pulang, suatu dirinya aku mengajaknya pergi makan malam dan ke bioskop. “Aku menciumnya di gang samping rumahnya,” karena aku benar-benar menyukainya. Tiba-tiba datang gerombolan geng di sekolah yang menyoroti kami dengan senter dan mentertawakan.


“Qian marah dan kecewa karena dipikirnya aku telah mempermainkannya, Kissing Game.”


Gerombolan itu yang menguasai sekolahan, Qian sering diejek oleh mereka. Dan mereka kesal karena Kevin tidak mau bergabung dengan geng itu. Malam itu juga dirinya mendatangi mereka dibelakang sekolah dan mereka berkelahi, 1 lawan 5, untung saja Kevin berhasil kabur.


Keesokan harinya Kevin mendatangi rumahnya dan diusir oleh Paman Hari. Dan yang paling membuatnya takut, dirinya mengancam akan membunuhnya dan juga Ibu.


“Aku pikir itu hanya gertakkan, tetapi beberapa hari setelahnya motorku dikempesin, kupikir geng itu yang melakukannya. Aku pulang dengan berjalan kaki, sesampainya di taman seseorang menyergapku dari belakang dan membungkus kepala dengan karung dan mengikat tanganku ke belakang. Aku ditendangnya dibagian perut 2 kali.”


“….yang paling diingatnya adalah ancamannya yang sama persis dengan ucapan Paman Hari dengan berbisik, bahwa aku dan Ibu tidak akan selamat.”


Kevin berusaha melarikan diri hingga hampir tertabrak mobil dan orang itu bersedia mengantar pulang. Rumah sudah berantakan dan pintu dirusak dan tembok-tembok yang penuh coretan semprotan cat bertuliskan, “Bitch” dan “Died Soon” Kevin tidak berani menceritakan masalah ini sama Ibu, kuatir membuatnya semakin takut.


“Kamu memiliki foto-foto kejadian dirumah?”


“Bagaimana Pak, apakah keteranganku bisa membuat kalian untuk memeriksa keadaan Qian? Aku takut keadaannya berbahaya karena perbuatanku telah membuatnya salah paham!”


“Kedatangan kamu ke sini sudah benar, kami kesulitan melacak keberadaan yang mengaku Paman Hari dan Bibi nya itu. Mereka adalah orang-orang yang berbahaya.”


“Apa? mereka seorang penjahat? Tidak mungkin,” sentaknya seakan tidak percaya.


“Jadi, berikan alamatnya dan nomer telepon rumahnya itu agar kami bisa segera melakukan penggrebekan.”


Kevin memberikan apa yang diminta polisi itu dan berjanji untuk tidak mengatakan apa-apa soal ini.


Misi Rahasia.


"Menurutmu, apakah Qian dalam bahaya karena apa yang sudah kulakukan atau karena penjahat yang mengaku sebagai Paman dan Bibinya?" tanya Kevin berusaha untuk menyakinkan dirinya.


“Mengenai Qian, jangan khawatir. Kami akan menyelamatkannya,” pungkas Kapten Bima. Sembari menepuk bahu Kevin untuk menenangkan diri.


Aku berharap Qian baik-baik saja dan bisa diselamatkan dari sana.


Kevin merasa sedikit lega setelah melaporkan beberapa kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Semoga apa yang dilakukannya benar-benar bisa menolong Qian dari para penjahat itu. Setelah itu Kevin pulang sembari menunggu hasil dari laporannya itu.


***


Setelah laporan tadi Kapten Bima memberikan perintah 2 unit untuk melakukan pengintaian terhadap rumah itu. Jika hasilnya positif bahwa Edgar dan Enggar melakukan perbuatan yang membahayakan korban penculikan Qian, maka penyergapan malam ini juga. Jika keadaan aman dan dipastikan mereka semua ada, besok pagi baru akan dilakukan operasi.


Supaya tidak melakukan kesalahan dan salah tangkap.


Malam itu kami melakukan pengintaian. Hanya 4 orang yang mengintai di sekitar rumah. Bima dan Eddie berada di dalam mobil, sedangkan rekan lainnya berusaha bertanya kepada tetangga mengenai orang yang tinggal di rumah itu.


Mereka tidak begitu akrab karena jarang bersosialisasi. Perumahan yang tepat untuk bersembunyi. Hanya beberapa rumah dan orang-orang yang tidak peduli satu sama lainnya.


Deeerrrttt, deeerrrrttt.


ponsel Bima bergetar, Dokter Nin memberikan pesan singkat mengenai diary Enggar yang diminta untuk dipelajari. Dalam pesan itu, Nin berpendapat jika Enggar merasa ada kedekatan dengan Qian karena keterlibatannya di masa lalu. Ada sisi dimana Enggar merasa dirinya telah memunculkan bayangan kegelapan dalam diri Qian dan merasa bertanggung jawab untuk meluruskannya.


"Tetapi...." Pesan singkat Nin membuat penasaran.


"Bisakah kamu langsung kepada intinya saja, Nin!"


"Baiklah ... mungkin ini masih prediksi, yah belum valid. Mungkin apa yang dimaksud redemption song adalah pembunuhan terhadap dirinya atau Qian. Aku belum yakin terdapat pesan dari diary-nya," terang Dokter Nin.


"Oke, Nin. Terima kasih, aku akan mengawasinya dari depan," balas Bima.


Jika hingga pagi tidak ada pergerakan, kita akan melakukan penggerebekan. Bima memerintahkan tim untuk bersiap-siap menunggu matahari terbit.


***


Pencet Like, Vote, Rate 5, tambahkan ke favorit dan komen yang banyak ya )