
Pergi ke sekolah, Paman mengantarku ke sekolah. Lazimnya aku tidak berangkat hari ini, karena baru saja mengalami musibah. Hanya saja aku merasa tidak bisa berdiam diri karena hanya akan mengingat terus kejadian itu. Ketika memasuki gerbang, semua memandangku dan tidak percaya. Semua mulai mendekati dan mengucapkan bela sungkawa.
Aku menerima mereka dengan senang hati. Baru kali ini semua orang seakan menerimaku dengan baik. Tanpa terkecuali geng beken juga mengucapkannya. Mereka berubah baik dengan kemalangan yang kurasakan. Kenapa baru sekarang ketika aku sudah tidak memiliki apa-apa.
Mereka sangat aneh.
Kevin sudah menungguku di depan pintu kelas dan tiba-tiba memelukku.
“Maaf, aku tidak bisa menemanimu kemarin,” ucapnya.
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja koq,” balasku sambil tersenyum.
Lalu, seperti biasa kami berbincang soal tugas sekolah dan lain-lain. Dirinya berusaha menghiburku, meminta nomer telepon rumah Paman Hari. Aku bilang belum tahu nomernya nanti akan kutanyakan. Alamatnya pun aku belum tahu. Kevin memohon untuk bisa mengantar pulang nanti siang.
“Baiklah, kamu bisa mengantarku pulang, karena Paman Hari sedang menjemput Bibi,” ucapku tersenyum.
“Ok, nanti jam makan siang aku akan ke kelasmu.” Kevin membalas senyuman itu.
Ucapan makan siang jadi teringat dengan bekal makan siang yang selalu disiapkan Ibu untukku. Wajahku merengut.
“Jangan sedih, nanti aku traktir somay di kantin, oke.” seru Kevin lagi sebelum menuju kelasnya.
***
Pulang sekolah diantar Kevin, Berbincang diatas motor itu sangat menyenangkan. Kami seperti pasangan yang sedang berpacaran. Padahal kami hanya teman, entahlah aku menyukainya karena Kevin sangat baik padaku sejak awal kepindahannya ke sekolah ini.
“Kamu yakin ini jalannya?”
“Iya aku yakin,” seruku.
Menyusuri jalan hingga hampir setengah jam tapi aku belum ingat perumahannya yang mana. Tiba-tiba hujan turun dan kami harus berteduh. Kevin mencari sebuah halte untuk bisa menunggu hujan berhenti.
“Kamu tidak keberatan kita berteduh dulu?”
“Iya, bajuku hampir basah semua,” ucapku.
Sembari bersidekap menahan suhu yang semakin naik dan jalanan yang sudah tidak terlihat jelas lagi. Deburan air hujan yang turun memecahkannya ke bumi dengan kencang.
Kevin memberikan jaketnya untuk menghangatkan kami berdua. Sembari duduk dibangku halte itu, kami berusaha untuk tidak kedinginan.
“Bolehkah aku memelukmu?”
“Tadi pagi disekolah kamu tidak meminta izin, kenapa sekarang minta izin?”
“Tadi pagi aku memelukmu sebentar, mungkin sekarang agak lama hingga hujan mereda.”
“Baiklah!”
Kevin memelukku dengan erat.
Sudah 20 menit hujan membasahi bumi, akhirnya mereda meski belum berhenti. Kevin mengajakku untuk mencari rumah Paman Hari. Kevin kuatir jika aku akan jatuh sakit. Setelah berkendara beberapa saat akhirnya kami menemukan rumah itu. “Aku ingat cluster itu disini,” ujarku.
Sesampainya dirumah Paman Hari dan Bbi belum datang, aku membuatkan secangkir teh hangat untuk Kevin dan memberikan bajuku yang besar untuk dipakainya. Kami berbincang di dapur hingga tubuh kami sudah mulai hangat.
Tak lama, Paman dan Bibi datang.
“Paman, Bibi ini temanku Kevin yang mengantarku pulang,” ucapku.
“Oh terima kasih sudah mengantar Qian pulang,” ucap Bibi.
Paman sedikit terlihat tidak senang jika aku diantar olehnya. Paman sama sekali tidak menyapa Kevin dan langsung masuk kedalam.
“Baiklah, aku pamit pulang dulu,” seru Kevin pada Bibi.
“Hati-hati ya,” seru Bibi.
Aku mengantar hingga Kevin tidak terlihat lagi jejaknya.
Bibi langsung menyambutku dengan pelukan. “Qian apa kabarmu, sudah lama tidak bertemu.”
“Tentu saja waktu umurmu 4 atau 5 tahun Bibi pernah berkunjung kerumahmu.”
“Oh, maaf aku tidak ingat.”
“Baiklah nanti saja ceritanya, sebaiknya kamu ganti mandi dengan air hangat dan kita akan makan malam sebentar lagi.”
“Baik Bi.”
***
Paman dan Bibi terlihat sangat bahagia, seakan ini adalah makan malam pertama mereka setelah bertahun-tahun lamanya. Aku melihat sinar mata mereka yang berbinar. Mereka terlihat saling mencintai, aku senang melihatnya. Makanan yang disajikan Bibi juga sangat enak, meskipun lebih enak masakan Ibu. Aku merindukan masakannya
dan makan bersamanya.
“Qian, kenapa tidak dimakan … apa tidak enak?”
“Aku tidak berselera Bi, maaf,” balasku lemah.
“Apa kamu merindukannya?” tanyanya lagi.
“Ya, aku merindukannya.”
“Oiya Bi, Paman kenapa selama ini kalian tidak pernah mengunjungiku,?” tanyaku penasaran.
“Oh … itu, biar Pamanmu saja yang jawab,” jawab Bibi gugup.
“Ah … itu karena Ayahmu yang kejam itu tidak membolehkan kami mendekatimu.”
“Kenapa? Apa Ayah mengancam kalian?”
“I-iya semacam itu, karena kami seperti pengaruh buruk untuk Ibumu. Kami selalu menyuruhnya untuk berpisah dengannya!”
“Oh … begitu.”
“Jika kami lebih keras untuk membujuknya mungkin Ibumu masih hidup saat ini.”
“Iya, mungkin Ibu masih hidup.”
Aku merindukannya, sangat merindukannya. Tidak bisa lagi menahan kesedihanku.
“Paman, Bibi aku akan kekamarku.”
“Tidak apa-apa, istirahatlah.”
***
Keluarga baru yang terasa asing, kenapa aku tidak ingat sama sekali tentang mereka. Paman dan Bibi yang tiba-tiba muncul dikehidupan. Seandainya aku bisa mengulang waktu, aku ingin tinggal bersama Ibu, Paman dan juga Bibi. Sepertinya mereka sangat baik dan bahagia. Setelah makan malam selesai, dari balik kamar terdengar alunan musik dari tape yang menyala.
Aku mengintip dari atas sini, mereka sedang berdansa di bawah. Seperti sedang merayakan sesuatu yang membuat bahagia. Keharmonisan yang tidak pernah kulihat dari Ayah dan Ibu. Mereka sering bertengkar dan diakhiri oleh sikap mengalah Ibu. Aku muak karena akhirnya Ibu menerima semua perlakukan Ayah.
Pernah suatu hari, selepas pertengkaran mereka. Ayah pergi tidak pulang. Ibu menangis meratapi nasib. Hatiku ikut terluka melihatnya bersedih dan tersakiti. Sembari memberinya tisu untuk menghapus airmata.
“Ibu, kenapa kita tidak pergi saja dari sini?” keluhku di depannya. Ibu hanya berdiri sembari menghapus airmatanya berulang-ulang.
“Apa? Ibu tidak apa-apa, ini hanya pertengkaran kecil,” lirih Ibu. Sembari masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu. Mendekatkan telingaku ke pintunya, Ibu masih menangis dengan keras.
Aku ingin mengatakan. “Berteriaklah sepuasnya, jika itu bisa membuatmu lega.” Namun tidak kuucapkan.
Aku justru membuatnya semakin bersedih dengan berkata. “Ibu, kamu orang yang sangat lemah … pengecut. Aku kecewa sama Ibu,” teriakku marah dan masuk ke kamar.
Di dalam kamar, aku juga menangis karena tahu sudah menyakitinya. Perbuatanku sama jahatnya dengan Ayah. Namun, aku sudah tidak tahan lagi tinggal di rumah ini. Pertengkaran demi pertengkaran, suara keras yang sama-sama memaki, mencaci. Pukulan demi pukulan, aku sudah muak dengan semua itu.
Dan yang paling memuakkan adalah keesokan hari ini mereka kembali seperti biasa, seperti tidak ada yang terjadi. Ayah mengobati wajah Ibu yang memar seakan itu bukan hasil perbuatannya. Sekarang, mereka sudah tiada seperti pasangan sejati.
***
Berikan cinta dengan cara pencet like, vote, rate 5 dan komen sebanyak-banyaknya ya )