
Bagi Enggar, hari ini adalah hari yang sangat penting untuk sebuah penepusan dosa. Redemption Song, mengembalikan jiwa-jiwa yang rusak, jahat dan kelam. Mengembalikan roh-roh jahat ini ke neraka. Jika ada yang masih menyangkal pikiran itu, maka ikutlah bersamaku. Kesakitan ini akan sirna, seperti terlahir kembali.
Paman menyalakan sebuah kamera sambungan langsung yang terhubung dengan seseorang, suara mesin terdengar kasar membuat genderangan ditelinga, mulai memenuhi ruangan. Timer yang sudah diatur waktunya. Seseorang dari kamera itu muncul bisa saling melihat kedua arah. Enggar berteriak minta tolong dalam kamera itu. Berharap, seseorang itu mengirim bantuan untuknya. Nyatanya, orang itu teman Paman.
Adegan yang sangat aneh, membuatku semakin tidak karuan. Jantung Qian berdebar menyaksikan aksi yang sudah direncanakan mereka sejak lama.
Paman bersimpuh di depan Bibi dengan satu kaki, sembari mengeluarkan cincin dari kantung celananya. Alunan lagu Redemption Song; Bob Marley, dari siaran langsung kamera itu mengiringi dan menjadi saksi mata pernikahan mereka.
Old pirates, Yes they rob I
Sold to the merchant ships
Minutes after they took I
From the bottom less pit
*But my hand was made strong
By the hand of the almighty
We forward in this generation
Triumphantly
Won’t you help to sing
These song of freedom
‘Cause all I ever have
Redemption Songs
Redemption Songs*
“Enggar, aku mencintaimu hingga maut memisahkan kita, jadikan aku suamimu,” ucap Paman sembari melingkarkan cincin di jemari manisnya. Bibi, tersenyum dan menerima pinangan itu hingga seseorang yang berada dalam kamera mensahkan mereka menjadi suami dan istri.
Lalu, Paman dan Bibi berciuman. Sedangkan Enggar berteriak semakin takut melihat kegilaan ini. Mereka merencanakan sesuatu yang mengerikan.
“Tenanglah, Enggar tidak akan sakit. Kita hanya akan mati dalam keadaan tertidur,” ucap Bibi lagi. Tiba-tiba tercium bau yang menyengat seperti gas keluar dari pipa-pipa itu. Memenuhi ruangan yang kecil ini.
Qiandra mulai terbatuk dan merasakan pengap. Paru-parunya mulai dipenuhi zat berbahaya. Sebelumnya Paman dan Bibi menenggak beberapa pil bersama-sama. Ini aksi bunuh diri massal yang mereka rencanakan sejak menjemput Qiandra di kantor polisi.
“Tolong … tolong,” teriak Qian. Terbatuk-batuk, napas ini mulai berat.
Paman dan Bibi tiba-tiba jatuh di lantai bersamaan. Qian belum mau mati sekarang, sembari mengerahkan seluruh tenaga untuk menaiki tangga. Namun, napasnya mulai habis. Tidak ada yang bisa mendengarnya, mungkin Qian akan berakhir seperti ini.
“Ibu … aku akan segera menemuimu,” ucap Qian pada tarikan napas terakhir.
Emancipate yourselves from mental slavery
None but ourselves can free our minds
Have no fear for atomic energy
'cause none of them can stop the time
How long shall they kill our prophets
While we stand aside and look
Oh! some say it's just a part of it
We've got to fullfill the book
Won't you help to sing
These song of freedom
'cause all I ever have
Redemption Songs
Redemption Songs
Redemption Songs
***
Deemm!
Braaakkk!
Hantaman pada pintu oleh benda keras yang menghancurkan pintu seketika. Mereka terbatuk ketika gas beracun menyebar di udara. Tim khusus yang memakai masker memasuki ruangan bawah tanah, menemukan sumber pipa yang mengeluarkan gas itu. Namun, sudah terlambat mereka menemukan juga tiga tubuh yang tergeletak mengenaskan.
Tiga orang di bawa keatas untuk dilakukan penanangan darurat. Enggar dan Edgar telah tewas dengan tenang. Segala usaha untuk membantu mereka kembali bernapas gagal, denyut nadinya sudah hilang sejak beberapa menit yang lalu. Hingga, usaha terakhir yang dilakukan pada Qian. Denyut nadinya masih terdengar meskipun lemah, hingga napas buatan dengan alat yang mentransfer oksigen murni untuk memompa paru-parunya.
Hingga terlihat ada reaksi paru-parunya berfungsi, paramedik segera membawa Qian ke rumah sakit untuk mengeluarkan gas beracun dari tubuhnya.
***
Para wartawan pencari berita mulai ramai mengerumuni tempat kejadian dan sebagian di depan rumah sakit, menanti korban yang selamat.
“Untuk sementara ini adalah aksi bunuh diri dan percobaan pembunuhan, korban sudah dibawa ke rumah sakit untuk ditangani dengan serius,” jawab seorang jupir dari kepolisian.
“Pak, apa benar korban adalah anak yang diculik 10 tahun lalu,” tanya seorang wartawan.
“Iya, korban memang masuk dalam daftar anak hilang, dengan peristiwa penculikan 10 tahun yang lalu. Tetapi, belum diketahui, apakah pelaku percobaan pembunuhan sama dengan pelaku penculikan, kami sedang mengumpulkan bukti-buktinya,” terang juru bicara itu.
“Bagaimana dengan orang tua angkatnya yang selama ini membesarkan korban? Apakah terlibat dalam penculikan?” sambung wartawan itu.
“Itu juga masih dalam proses penyelidikan, ok….” Jubir itu akhirnya meninggalkan tempat kejadian.
***
Qian sedang ditangani dokter dengan penanganan serius. Karbon Monoksida yang terpapar di dalam tubuhnya hampir membuatnya kehilangan nyawa. Eddie yang diperintah untuk mendampinginya menunggu keterangan dari dokter. Sedangkan Bima berada di ruang otopsi bersama Dokter Puput.
“Kemana Dokter Alan?” tanya Bima.
“Sedang keluar kota untuk presentasi di depan mahasiswa kedokteran forensik, Jogjakarta.”
“Oh … apa yang kita dapat, dok?” tanya Bima. Bertanya soal dua mayat yang sudah sedang di otopsi. Dengan dada yang sudah terbelah oleh alat bedah. Organ paru-paru yang sedang diambil sampelnya untuk diperiksa zat beracun apa saja yang berada di sana. Serta sampel darah yang sedang ditunggu hasil penemuannya.
Sebuah mesin menyala menyatakan sampel darah itu sudah selesai diuji. Di dalam darah Enggar Dikta terdapat beberapa jenis obat-obatan Valium atau Xanax yang mengandung alprazolam atau benzodiazepine untuk anti kecemasan, depresi, kepanikan dan insomnia. Mungkin karena yang bersangkutan meminumnya semenjak di rumah sakit jiwa. Begitu juga pada sampel darah Edgar Areza juga terdapat jenis yang sama.
Selain itu terdapat karbon monoksida (CO) yang memenuhi darahnya. Kemungkinan mereka merasakan kematiannya akibat keracunan CO tanpa penderitaan dikarenakan oleh pil-pil penenang yang diminum dalam jumlah banyak sebelumnya. Ini adalah aksi bunuh diri massal.
“Baiklah, dok … kabari hasil lainnya, saya harus kembali ke rumah sakit untuk mencari keterangan korban yang selamat.”
“Saya akan berikan laporan secepatnya,” ucap Dokter Puput.
Setibanya di rumah sakit, Bima bertemu dengan Eddie yang masih menunggu dokter. Tepat waktu, dokter yang menangani akhirnya keluar dari ruangan ICU.
“Bagaimana dok, apa korban selamat?” tanya Bima cemas.
“Pasien selamat, kami sudah memberikannya 21% oksigen murni untuk mempercepat lepasnya ikatan CO pada hemoglobin (HB). Pasien juga sudah diterapi Chamber, yaitu alat untuk melepas oksigen hiperborik (TOHB) untuk mengurangi gejala gangguan syaraf. Namun, saat ini kondisinya sedang dalam pemantauan karena bisa saja terjadi kematian.” terang dokter itu.
“Lalu dok, kapan kami bisa berbicara dengan korban? Karena korban adalah satu-satunya saksi,” tutur Bima semakin cemas.
“Hmm … kondisi seseorang yang sudah mengalami keracunan CO, biasanya akan mempengaruhi fungsi memorinya, gangguan penglihatan dan perubahan perilaku. Jadi, kita lihat saja perkembangan pasien, semoga bisa melewati fase kritisnya.” ujar dokter lagi.
“Baik dok, terima kasih.”
Kacau.
***
Di dalam ruangan jenazah, Komjen Dean datang ingin melihat jasad Enggar Dikta untuk terakhir kalinya. Dokter Puput menarik lemari pendingin besar yang berisi mayat tersebut. Jasad yang sudah kaku dan pucat hanya berselimutkan kain putih yang menutupi seluruhnya. Tidak merasakan suhu dingin yang membuatnya membeku.
Kenapa kamu memilih cara ini untuk mendapatkan kemerdekaan.
Dean merasakan kehilangan karena tidak bisa menyelamatkan seseorang yang dianggapnya sedang sakit jiwanya. Orang-orang yang sebenarnya meminta pertolongan, namun seringkali mengabaikan kehadirannya.
Selamat tinggal Enggar Dikta, semoga kamu mendapatkan kemerdekaan di sana. Sembari meninggalkannya tanpa menoleh lagi ke belakang.
Setelah keluar dari ruangan Dean melihat, Ayah dan Ibu Enggar yang sudah tua berlari kecil sembari menangis tersedu-sedu, mendengar kabar dari ruang jenazah jika anak mereka sudah meninggal dunia. Pemandangan yang mencolok hingga terngiang diingatan. Ekspresi kehilangan seseorang yang dikasihi, rasanya perih.
***
Kesulitan menjadi orangtua adalah ketika kehilangan anak-anak justru meninggalkan dunia ini terlebih dahulu. Tidak ada yang begitu menyakitkan lebih daripada itu. Bagaimana mungkin kehancuran tidak terjadi, maka berbaik hatilah pada orangtua-mu. Mereka tidak sempurna tetapi menjadi istimewa karena Tuhan sudah memilihnya untukmu.