
Bima meminta pendapat tentang tato pentagram pada tubuh Derry. Seorang ahli symbol dan peneliti aliran-aliran sesat yang ada di Indonesia. Prof. Untung Pribadi, beliau menjelaskan jika simbol pentagram diadopsi dari kepercayaan Yunani kuno, Baphomet sendiri di beberapa negara seperti Amerika, Brazil, Meksiko dan masih
banyak lagi. Dianggap sebagai Tuhan atau Dewa Setan. Untuk itu mereka menginginkan kepercayaan mereka dianggap sah atau diakui sebagai agama karena jumlah pengikut mereka yang jutaan di seluruh dunia.
Patung Baphomet sendiri bagi pengikutnya menginginkan agar disandingkan dengan monumen 10 perintah Tuhan Kritiani, agar negara itu tetap sekuler dengan Setan atau Baphomet dijadikan sebagai penyeimbang. Hal itu menyebabkan para penganut kristian menolak keberadaan mereka karena menyesatkan dan meresahkan. Seperti halnya di Indonesia, banyak aliran-aliran yang dianggap sesat dan dianggap menyimpang dari nilai-nilai agama. Tetapi, keberadaannya masih sembunyi-sembunyi karena bentuk penolakan yang cukup keras oleh masyarakat beragama yang diakui oleh negara.
“Lalu, apa mungkin aliran pemuja setan itu masuk ke Indonesia?”
“Bisa saja, tidak ada yang tidak mungkin. Apalagi kampus tempat yang sangat tepat untuk doktrinisasi dan perekrutan anggota baru atau kaderisasi.”
“Apa pemuja Baphomet di luar negeri jika melakukan ritual pemujaan dengan memberikan persembahan dengan
cara membunuh?”
“Ada darkside dari setiap pemujaan,” ucap Profesor.
Kemudian, Bima menemui Johan Bambu di penjara, selagi menunggu pembukaan sidangnya. Dengan tangan terikat, Johan duduk di depan Bima yang sudah menunggunya sejak tadi. Johan terlihat tidak bersemangat, wajahnya terlihat pucat. Penjaga memberitahu Bima jika sudah beberapa hari Johan tidak menyentuh makanannya.
“Apa kamu mau mati?”
Johan hanya diam dan menunduk. Tidak ada yang ingin disampaikannya lagi.
“Apa kamu mau bertemu dengan istri dan anakmu?”
Wajahnya langsung terlihat bersemangat. Johan sangat merindukan keluarganya, terutama anaknya.
Bima menggeleng heran.
“Pembunuh sadis sepertimu masih memiliki rasa sayang? Apa kamu tidak sadar telah memisahkan anak dari orangtuanya … hah?”
“Lalu, sekarang kamu mogok makan ingin mati saja, begitu? Bagaimana dengan orangtua yang anaknya kamu bunuh? Apa mereka harus mati juga?”
Johan kembali merunduk, dan mulai menyeringai senyuman sadisnya.
“Dasar bedebah!” ujar Bima kesal melihat senyuman yang memuakkan itu.
“Apa maumu? Apa … mau bertanya siapa yang membawa mayat itu ke pondok?” seringai kecil menjijikan khas si kolektor kelingking.
Apa? Sialan, dia bisa membawa pikiranku.
“Apa kamu tahu?”
“Tentu saja aku tahu, tapi jika aku katakan … apa imbalannya untukku?”
“Sialan!” Bima geram hingga menarik kerah seragam abu-abu lusuh itu hingga mendekati wajahnya. Seakan ingin memuncratkan saliva-nya dan memakinya habis-habisan. Mata Bima ingin keluar dari pelupuknya memberinya tatapan bengis.
“Kamu tidak akan bisa tanpa bantuanku?” ucap Johan santai. Bima melepaskan tangannya dan menepisnya beberapa kali seperti jijik sudah bersentuhan dengan kulit pembunuh itu. Bahkan merasakan napasnya yang membuatnya sangat muak.
Sabar Bima, aku bisa membunuhnya lain kali.
“Katakan, apa yang sudah kamu lihat!”
Johan menyandarkan tubuhnya dengan santai, seperti merasa di atas angin mengendalikan permainan. Mengatur bidak catur sebelum meruntuhkan ratu dari posisinya.
“Aku tidak ingin hukuman mati dan penjara dengan penjagaan biasa bukan maksimal. Di sini aku tidak bisa keluar dan melihat rerumputan.”
“Nanti akan kutanyakan pada jaksa, apakah bisa negosiasi seperti itu!”
“Aku ingin kepastian, jika tidak … tidak ada negosiasi.”
“Sialan kamu!”
“Baiklah … baiklah, penjara seumur hidup dan penjara minimum, kamu bisa menjilat dan memakan rerumputan sepuasnya! Sekarang cepat katakana apa yang kamu lihat?”
“Aku melihat beberapa orang memakai pakaian yang aneh seperti karung dengan tali mengikat pinggang, tudung
kepala menutupi wajah mereka, dan ….”
“Dan apa?”
“Informasi selanjutnya akan kuberikan jika hakim sudah mengabulkan permohonanku, hehe ….”
Aku dipermainkan olehnya, lihat saja akan kubalas.
***
Eddie tiba di lokasi kejadian terlebih dahulu, selagi Bima masih bersama Prof. Untung Pribadi di kampusnya. Ditemukan lagi mayat kedua mahasiswa dengan kartu keanggotaan perpustakaan di sakunya. Mayat terlihat masih baru, dibuang di tengah-tengah lapangan bola. Kali ini kondisi mayatnya sangat mengenaskan. Tubuhnya kaku dengan posisi sedang menahan kesakitan, mulut yang menganga lebar.
Siapa pelaku yang sangat kejam menyiksanya.
“Tidak ada tanda-tanda penyiksaan?”
“Hanya terdapat bekas tali yang menekan perut, pinggang dan kedua lengannya,” sambung petugas koroner.
Mayat itu segera di bawa kepada Dokter Puput, setelah mayat diambil bukti-bukti di tempat kejadian. Dokter Puput menarik garis Y pada bagian dadanya, setelah itu mengambil pisau bedah untuk membuat sayatan pada garis yang sudah dibuatnya. Dokter Puput mendekat pada mayat kaku itu, tiba-tiba, mata mayat itu terbuka menatap langsung padanya. Hingga tubuhnya terpental ke belakang.
“Tidaaaakk!” Dokter Puput berteriak.
Mayat kaku itu menerjang Dokter Puput dengan kemarahan, menindihnya hingga sulit bergerak. Mencekiknya dengan tatapan menyeramkan, tatapan yang tidak mungkin dilakukan oleh sebuah bangkai. Tangan dingin itu merajai tubuhnya, menginginkannya mati.
“Tha pethaneis, to Baphomet tha anevei ….” Suara serak dan besar mayat hidup itu.
Dalam keadaan tercekik, tangannya berusaha meraih sesuatu. Pisau bedah yang terlempar di bawa ranjang bedah. Mengais-ngais dengan tenaga sisa, Dokter Puput tidak bisa meraihnya. Matanya mulai mendelik ke atas. Kehabisan napas.
“Pethane! ….” Mayat hidup itu berteriak di depan wajahnya.
Bima menerobos masuk ke dalam ruang otopsi dan menembakkan pistolnya hingga 2 letusan. Mayat hidup itu tidak bisa mati.
Dorr!
Dorr!
“Aaarrrrrgggghhhh … Pethane!” Mayat hidup itu menoleh pada Bima dan akan menyerangnya. Bima meletuskan pistolnya hingga tidak tersisa. 15 peluru berhasil menumbangkan mayat hidup itu dengan pistol G2 Premium milik Bima.
Doorrr!
Doorrrr!
Dooorrr!
Doorrrrrr!
Suara tembakan itu terdengar hingga ke sudut-sudut ruangan, sebuah alarm menyala karena suara keras tembakan. Beberapa orang mulai melihat ke dalam ruang otopsi itu. Eddie datang terlambat dengan tergesa-gesa melihat Bima yang belum menyarungkan pistolnya dan me-reload pistolnya dengan amunisi.
“Ada apa Pak?” Eddie terlihat kebingungan dengan mayat dan Dokter Puput yang berada di lantai.
“Cepat beri pertolongan pada Dokter Puput!” seru Pak Bima. Sedangkan Bima masih mengarahkan pistolnya pada mayat hidup itu.
Selagi beberapa orang petugas mengangkat tubuh Dokter Puput keluar, Bima mendekati mayat hidup itu, kakinya menyepak-nyepak tubuhnya memeriksa apakah masih bergerak. Eddie mengikuti Bima mengarahkan pistolnya dengan siaga. Membaliknya tubuh itu dengan kaki, melihatnya sudah terbujur kaku dengan bekas tembakan memenuhi dadanya.
“Eddie, borgol tangannya.”
“Apa Pak … tapi, dia sudah mati?”
“Cepat, lakukan perintahku!”
“Baik, Pak!”
Eddie mengeluarkan borgolnya dan melingkarinya pada tangan mayat itu, tiba-tiba mayat itu bangun kembali dan menerjang Eddie hingga dirinya terbentur ranjang aluminium dengan sangat keras.
“Aaahhh … jangan ….”
Mayat hidup itu ingin ******* Eddie hidup-hidup, Eddie merasa ketakutan hingga dirinya kejang-kejang dan pingsan.
Bima meletuskan pelurunya kembali hingga mayat itu benar-benar lumpuh.
***
Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )