The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 23 Monster Itu Aku



Aku berada dikamarku untuk membersihkannya. Sebentar lagi aku akan kuliah dan memulai hari yang baru. Aku ingin membuang semua yang tidak diperlukan dikamar ini.


Terlalu banyak kenangan dikamar ini, aku akan menyingkirkannya satu persatu. Rencananya hanya tersisa komputer dan beberapa buku, selebihnya rak itu akan bersih untuk segera diisi dengan buku-buku kuliah.


Ibu membantuku untuk menyingkirkan buku-buku yang sudah terlalu banyak untuk disumbangkan. Jika ada tetangga yang mau mengambilnya, silakan saja. Bahkan pakaian-pakaian yang terlalu tertutup aku juga membuangnya. Aku ingin lebih tampil percaya diri dan membeli beberapa pakaian dengan warna-warna yang cerah.


Kubuka lemari bajuku dan melihat kotak besar disana. Aku tidak ingat menaruh kotak ini disana. Aku mengeluarkannya dan mencoba melihat apa isinya. Ketika kubuka ada barang-barang yang tidak kukenali.


Beberapa baju dan celana yang bernoda bekas darah yang telah mengering, sepatu yang berlumpur dan sebuah pemotong kertas. Tiba-tiba


kepalaku sakit dan aku jatuh kelantai bersama dengan barang-barang itu yang keluar dari persembunyiannya.


Pandanganku kabur dan terasa sakit, bayangan itu seakan ingin keluar dari tubuhku. Sosok yang menjelma berada didalamnya, aku tidak tahan lagi rasanya sangat sakit. Tercekik dan tertekan. Sesuatu mencekikku dari dalam, aku tidak ingin mati, aku tidak mau mati.


“Pergi! Kau saja yang mati. Pergi! Keluar dari tubuhku.”


“Pergiii!” aku berteriak seperti kerasukan.


“Pergiiiii! Dasar Monster.” kerasukan, tubuh ini seperti tidak bisa kukendalikan.


Tiba-tiba Ibu masuk kekamar dan terkejut melihatku dengan semua barang-barang itu.


“Ada apa Enggar?” Ibu yang mendengar kegaduhan didalam kamar Enggar.


Aku melihat Ibu dengan pandangan mengerikan, aku muak selama ini bersembunyi.


Aku menariknya dan melemparnya ke ranjang, mengunci pintu kamar. Tidak ada yang bisa masuk kedalam. Tidak ada yang akan bisa menolongnya. Kunci itu kulempar ketempat yang sulit diraih.


“Enggar ada apa sebenarnya?” Ibu mulai menangis.


“Kamu sudah tahu Ibu, tapi kamu pura-pura tidak tahu. Hahaha .…”


“Ibu tidak tahu nak, kamu kenapa?” mencoba untuk menenangkan.


“Diaam! Aku muak ibu, bersembunyi menjadi Enggar yang baik, penurut, pemalu. Hahaha ….”


“Sekarang tidak lagi aku akan mengakhiri semuanya, sekarang aku ingat Ibu. Waktu itu hujan turun dengan deras, aku tahu Pak abi sering lupa menutup pintu dan diam-diam aku mendatanginya. Hahaha.”


“Aku menyayat-nyayat seluruh tubuhnya seperti dia yang telah menghancurkan masa depanku. Tapi, tua bangka, itu tidak mati juga meskipun sebelumnya telah kuhantam dengan tongkat, pukulan dikepala dan sayatan dengan pemotong kertas ini. Aku sayat berkali-kali dipergelangan tangannya hingga akhirnya kehabisan darah.”


“Lalu Ibu tahu apa yang terjadi dengan Mbak yang sok Suci itu dan suami tercintanya. Mereka sedang bertengkar malam itu dan aku memukulnya dengan balok kayu pagarnya sendiri. Pakunya tertancap dikepalanya dan seketika tumbang, lalu Mbak Suci kupukul beberapa kali hingga mati.”


“Nak, kenapa kamu bisa menjadi seperti .…”


“Monster maksudmu kan Bu?”


“Hahaha. Monster itu bukan terlahir Ibu, monster itu tercipta. Dan kau mungkin punya andil juga dalam penciptaan monster ini. Jika saja kau tidak menganggap aku sebagai pembohong, aku tidak akan seperti ini Ibu …,” sahutku berteriak. Sekaligus menangis, seperti orang gila.


“Ibu akan menemanimu hingga sembuh, Ibu tidak akan mengecewakanmu lagi.”


“Bertobat? Sampai sembuh? Sudah terlambat Ibu, aku hanya akan mengakhirinya disini.”


Enggar mengambil pemotong kertas itu dan menyayat pergelangan tangannya beberapa kali hingga kesakitan.


“Enggar jangan, Ibu mohon jangan. Tolong …tolong!” berteriak sebisanya.


Terdengar sirene mobil polisi yang berhamburan didepan rumahnya.


“Diaaaammm!” Enggar menyuruh Ibu untuk diam dengan teriakan seperti bukan dirinya.


“Tolong, Ibu. Tolong siapa pun yang ada diluar!” Ibu ketakutan seluruh tubuhnya gemetar tidak ada yang bisa dilakukannya.


Enggar menyayat-yayat pergelangan tangan sebelah kanannya dan mulai mengucur darah segar. Enggar menengadah dan merasakan keheningan sejenak. Enggar kembali pada masa lalu dan mencoba menghapusnya.


Enggar menangis dan tersenyum, semua yang diingatnya adalah kesedihan. Ketika sekolah dirinya selalu menyendiri, tidak ada yang berusaha mengenalnya. Seperti kerikil ditepian jalan.


 


Memang dirinya memiliki teman yang baik yaitu Dian. Hanya saja Dian anak yang periang dan pandai bergaul, banyak teman yang menjadi temannya. Sedangkan aku hanya melihat mereka asyik mengobrol dan tertawa bersama.


Aku iri padanya yang memiliki kekuatan untuk tidak melihat kebelakang. Jika saja aku bisa mengatakan bahwa aku sakit didalam sini, mungkin rasanya tidak akan seperti ini.


 


Malam yang semakin menakutkan, bayanganku yang kian menyedihkan. Tidak nyenyak untuk tidur apalagi bermimpi. Tidak ada seseorang yang bisa diajak bicara dari hati ke hati. Aku hanya takut dan tidak sanggup jika harus memikirkan apa kata mereka tentangku nanti. Apa kata mereka jika tahu tentang yang kualami.


Bulir airmata membasahi pipi, aku menyesal menjalani hidup seperti ini.


“Maafkan aku Ibu,” sahutnya. Tergeletak dilantai kehabisan darah dengan pergelangan tangan yang hampir putus.


“Jangan Enggar, tolong jangan tinggalkan Ibu. Kamu anak baik, sungguh,” sahut Ibu. Mulai menangis histeris.


Pintu didobrak oleh beberapa orang yang mencoba masuk. Beberapa kali usaha akhirnya membuka pintu itu. Polisi mendapati Enggar yang


sudah berlumuran darah dan Ibu yang sedang memeluk anaknya. Enggar segera dibawa oleh kawalan polisi menuju rumah sakit untuk penanganan serius terhadap lukanya.


Aku merasa ringan, berada diruangan yang serba putih dan cahaya terang dari lampu sorot operasi. Beberapa dokter mencoba membuat perdarahan berhenti. Aku bisa melihatku tak berdaya berbaring lemah diranjang sempit itu. Aku mendengar tangisan Ibu diluar ruangan operasi. Seorang polisi berusaha menenangkannya.


Ayah datang tergesa dari kantor, aku melihat raut wajahnya yang tidak percaya apa yang dilihatnya. Pelukannya memeluk erat Ibu, aku tahu dia juga memerlukan pelukan itu.


Melihat penderitaan mereka karena aku. Aku ingin mati saja, tidak ada lagi harapan. Akhirnya suara itu nyaring dari alat bantu itu terdengar. Suara datar yang ditakutkan banyak orang. Namun, itulah suara pertanda aku akan terbebas dari penderitaan.