The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 25 Kabur Dari Penjara



Polisi-polisi bodoh itu masih saja mengantarku hingga kesini. Apakah mereka tidak percaya jika aku sudah berada ditempat yang paling mereka harapkan. Surganya untuk para binatang, semua penjahat kelamin, perampok dan pembunuh berada disini. Tidak kusangka, mereka menempatkan diriku dengan orang-orang buangan. Lihat saja, aku tidak akan lama tinggal disini.


“Apa kalian sangat mencintaiku … ayolah mengakulah … repot-repot mengantarku hingga kesini hahaha.” Aku ingin meludahi mereka semua


yang sudah membiarkanku berada disini.


“Kau tidak akan merasa kesepian disini, karena banyak penguntit yang suka dengan pria tampan sepertimu … hehe,” Bima berbisik.


“Bangsat! Kalian polisi biadab. Memenjarakan seseorang dengan tidak adil! Aku tidak bersalah! Aku tidak melakukan kesalahan! Enggar sangat mencintaiku! Enggar sangat mencintaiku *******! ….” Menumpahkan amarahku.


***


Berjalan dilorong dengan gelang besi yang mencekik ketat pergelangan tangan. Mengapit dua penjaga sipir dengan tongkat besi yang waspada. Memakai seragam kebangsaan para penghuni penjara.


Keamanan maksium untuk para pemerkosa, perampok dan para pembunuh. Wajah-wajah kebengisan terpancar disana, seakan menelanjangi dan menanti kehadiranku dipintu pembatas itu.


 


Sorak sorai bergembira seakan kabar bahwa penghuni baru akan datang terdengar hingga penjuru sel, sebagai sosok mengerikan.


Penjahat yang memperkosa gadis kecil dan membunuhnya. Entah darimana kabar yang mereka terima. Seakan aku tidak akan selamat dipenjara ini. Mereka tidak senang jika ada pembunuh anak kecil.


“Anak kecil bukan lawanmu pengecut, hadapilah aku!” ucapan seorang napi bertubuh besar dengan wajah kotak menyeramkan.


Sesampainya disel itu, terdapat empat orang yang berada disana dalam sel ukuran 4x6. Mereka berbisik kepada seorang yang sedang membaca buku. Aku pikir seorang yang berwajah serius itu adalah ketua geng. Benarkah disini juga ada hal seperti itu, seperti dalam film saja, nyatanya tidak ada yang terjadi. Hingga sore itu aku masih baik-baik saja.


Sekitar pukul 21.00, seluruh sel digelapkan tidak ada penerangan lagi agar para napi seluruhnya tertidur tanpa aktifitas. Aku mulai menyadari sesuatu dan mulai membalikkan tubuhku kearah yang berlawanan. Perasaan ini mulai ketakutan dan bergidik diseluruh tubuh. Perasaan akan datang suatu bahaya yang tidak tahu apa wujudnya.


Aku mendengar mereka mulai berbisik seperti merencanakan sesuatu. Mata ini terpejam, hanya pura-pura tertidur. Hingga keadaan sudah benar-benar senyap dan hening. Salah satu darinya memastikan aku sudah tertidur pulas. Dan tiba-tiba mereka menutupi tubuhku dengan sehelai selimut dan membanjiri pukulan bertubi-tubi, tentangan yang maha dahsyat menghancurkan seluruh tulang rusukku. Hingga tidak sadarkan diri.


Selepas pagi, penjaga menyadari sesuatu yang berada didalam lipatan selimut yang penuh noda. Sipir itu membunyikan peluit "tanda bahaya". Hingga beberapa orang sipir datang dan mengetuk tongkat besi itu diantara jeruji, agar napi lain menepi dan menghadap dinding.


Terdengar samar-samar ditelingaku suara bising kegaduhan itu. Hanya mendengar sebentar sebelum jiwa ini benar-benar meninggalkan


jasadnya.


***


 Dua minggu kemudian,


Tersadar sedang berada diruangan yang lebih baik dari sebelumnya. Aku merasakan sakit dan nyeri hingga tidak bisa bangkit apalagi bernapas. Seorang perawat menyadariku telah bangun dari tidur berkepanjangan.


Lalu memeriksa beberapa bagian. Aku hanya melihatnya dengan tolehan terbatas.


 


“Dimana aku? ...,” tanyaku dengan suara pelan.


“Anda berada di rumah sakit penjara, sebaiknya jangan bergerak dulu”


“Apa yang terjadi?” dengan perasaan pusing dan mual.


“Anda tidak ingat? Teman-teman se-sel telah melakukan ini. Mereka benar-benar menghajar dengan brutal. Empat tulang rusuk patah, gegar otak dan patah leher. Mungkin anda akan lama berada disini.”


Aku menarik tangan yang terasa sakit, bahkan tangan itu tetap diborgol ke ranjang.


“Suster tanganku terasa gatal, bisakah kamu menggarukkannya untukku?”


“Maaf, aku tidak boleh menyentuh napi seperti itu ….” Sembari meninggalkan catatan medis yang sudah dibuatnya.


“Tolonglah ….” Perasaan hancur dan ingin marah.


“Dimana yang terasa gatal, aku akan menggaruknya,” sahut seorang perawat lainnya.


Perawat yang masih muda dan cantik.


“Disana … diatas telapak lenganku, aku tidak sanggup meraihnya.” Sahutku sembari mengarahkan dengan mulut.


“Disini?” sembari menggaruk.


“Terima kasih … kenapa kamu berani menyentuhku sedangkan perawat sebelumnya tidak?” aku bertanya penasaran.


“Bagiku kamu hanya pasien dan apa salahnya menggaruk, lagipula aku juga akan senang jika ada yang menggaruk untukku ditempat yang tidak bisa dilakukan sendiri. Benar kan?”


“Iya … kamu benar,” sahutku. Sambil tersenyum padanya. Perawat itu membalas dengan senyuman.


Aku merasakan ketertarikannya padaku.


Nama perawat itu Hilda dan mulai merawatku dengan penuh perhatian. Aku rasa perhatiannya melebih perawat kepada pasien. Hilda tulus melakukan itu, bahkan dia tidak peduli jika aku seorang napi. Baginya aku seseorang yang baik dan menyenangkan. Aku bisa membuatnya tertawa dan melewati segala kebosanan dirumah sakit penjara ini.


Hingga seminggu kemudian dirinya terlihat gusar, tidak seperti biasanya. Hilda memeriksaku tanpa senyuman.


“Ada apa cantik?” sembari menyentuh tangannya yang sedang kabel infus disebelahku.


“Tidak ada apa-apa.”


“Katakanlah, aku tidak senang melihatmu sedih”


“Benarkah … apakah kau juga berbohong ketika memujiku?”


“Apa? Tentu tidak, aku tidak pernah berbohong”


“Lalu, kenapa kamu dipenjara? Bukankah karena wanita yang kamu cintai itu ….”


“Darimana kamu tahu?”


“Berarti benar kamu mencintainya dan aku hanya pengalihan selagi kamu disini … begitu?” sembari memperlihatkan wajahnya yang kecewa.


“Maafkan aku … aku tidak bermaksud menyakitimu, aku …." Ucapanku terpotong.


“Kamu jahat!” Hilda meninggalkanku.


Hilda benar, aku sudah mencoba merayunya dan seharusnya aku tidak melakukan itu. Tetapi Hilda sangat baik, aku hanya ingin membalas kebaikannya telah merawatku disini. Tetapi hanya ada satu wanita yang kucintai yaitu Enggar Dikta. Dan aku berjanji untuk menikahinya suatu hari nanti.


***


Siang itu aku tertidur pulas karena pengaruh obat dari aliran infus itu. Tiba-tiba terdengar suara sirene yang sangat kencang diseluruh ruangan. Aku terbangun, melihat para dokter dan perawat berlarian kesana dan kemari. Semuanya panik dan terburu-buru.


“Perawat … perawat!” aku berusaha memanggil mereka, tetapi tidak ada yang menggubris.


Keadaan semakin genting ketika suara sirene semakin kencang dan terlihat asap dari jendela kamarku.


“Kebakaran-kebakaran!” seseorang berteriak.


“Apa kebakaran?” sahutku terkejut.


Aku harus menyelamatkan diri dan mencabut beberapa hal yang masih menusuk dalam diriku. Aku berusaha duduk dan itu sangat menyakitkan. Terasa dadaku tertekan dan napasku semakin memendek. Hanya satu kata yang ada dalam pikiranku saat ini, yaitu kabur. Memanfaatkan situasi agar bisa menemui pujaan hatiku. Borgol ini masih membelengguku.


“Sial!”


 Hilda muncul disana sambil memandangiku dengan keraguan. Aku senang melihatnya. “Hilda bantu aku ... tolonglah,” aku memohon.


Hilda mendekat sembari mengeluarkan kunci sebuah borgol dan membukanya untukku.


“Aku mencintaimu, Edgar … pergilah” sahutnya bersungguh-sungguh.


Memandangnya dan meraihnya dengan cepat, merengkuh wajah cantiknya dan kucium dengan penuh hasrat. Aku memberinya salam perpisahan yang tidak akan terlupakan.


Berjalan kearah pintu dan melihat semuanya sedang sibuk mengeluarkan pasien. Hilda mengarahkanku pada pintu belakang untuk tempat pembuangan sampah-sampah medis. Disana tidak akan ada yang menyadari seorang


napi telah kabur.


Sebuah lubang pipa pembuangan aluminium yang cukup besar untuk tubuhku masuk, aku menjatuhkan diri terjun kedalamnya. Hingga masuk kedalam sebuah tong besar yang berisi sampah.


Keluar dari sana yang cukup menyakiti rusukku yang masih belum pulih. Tetapi aku harus tetap berjalan dengan menyamar menggunakan baju para pengambil sampah-sampah itu. Sebuah mobil sampah yang terparkir tanpa pengemudi sudah berada diluar area. Aku berhasil dengan mengendarainya keluar dari penjara.