
Kantor memberikanku izin cuti karena insiden mengerikan itu. Namun aku tidak bilang dengan Ayah dan Ibu apa yang sudah terjadi. Orangtuaku hanya tahu aku mengajukan cuti untuk menjenguk Dian dikantor Polisi. Ibu sangat senang dan memberikan titipan dari Ibunya Dian untuk diberikan, rantang bertingkat berisi lauk pauk kesukaannya.
Aku tidak takut pergi kesana sendirian, karena disana tempat yang paling aman. Kulangkahkan kaki-kaki tanpa ragu, menemui sahabat kecilku. Bawaanku diperiksa termasuk makanan yang kubawa untuk Dian. Aku pikir makanan itu akan disita karena tertulis tidak boleh memberikan makanan pada tahanan. Dian bukan tahanan, hanya sebagai saksi.
Aku sudah menunggu sepuluh menit didepan dinding kaca kedap suara ini. Hanya beberapa lubang agar suaraku bisa terdengar disisi lain
dinding. Akhirnya Dian keluar didampingi oleh polisi wanita. Wajahnya terlihat kuyu dan lelah, tubuhnya semakin kurus. Teringat tubuh teman kecilku ini sewaktu kita masih sekolah dasar. Dian memang kurus dan kecil, tetapi selalu lincah dan ceria. Aku merasa sedih hanya melihatnya.
Berbeda dengan Dian yang sangat senang melihatku. Senyumannya sumringah seakan ingin memelukku erat. Namun dinding pembatas ini
seakan menghalangi kita berdua.
“Dian apa kabar?”
“Kamu lihat sendiri aku tidak betah disini.”
“Sabar yah.”
“Oiya terima kasih rantang makanannya, aku pasti akan habiskan.”
“Itu dari Ibumu, aku hanya dititipkan.”
“Iya aku tahu, Ibu pasti sangat sedih karena aku belum boleh pulang.”
Ibumu setiap hari hanya menangis dan menangis, tetapi aku tidak sampai hati mengatakan itu padamu.
“Dian kenapa kamu masih disini sedangkan Mbak Suci sudah dipulangkan?”
“Apa? Benarkah?”
“Kenapa kamu begitu terkejut?”
“Sebab, sebab, jika polisi jeli mungkin Mbak Suci lebih masuk dijadikan tersangka ketimbang aku.” Dian berubah panik dan kebingungan.
“Memangnya apa yang kamu ketahui Dian?”
Wajahku dan wajahnya semakin dekat dengan lubang-lubang di dinding ini.
“Kamu tidak ingat perbuatannya kepada kita waktu kecil?”
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Dian bercerita apa yang terjadi dimasa itu, hingga
lamunanku menarik kembali ke masa kelam itu kedalam ingatanku yang semakin jelas. Gambaran yang sudah kulupakan akhirnya teringat kembali, muncul dalam visualisasi seperti gambar dalam film-film yang direkam dan diputar ulang.
Suatu sore mereka sedang asyik bermain maling dan polisi bersama teman-teman. Anak-anak seusia kami cukup banyak. Semuanya berteman
Aku dimasukkan kesebuah kamar bersama dengan Dian dan menguncinya dari luar.
Ternyata didalam kamar sudah ada laki-laki yang lebih tua dari Mbak Suci. Aku dan Dian hanya bingung mau apa laki-laki itu, kami pikir itu temannya Mbak Suci. Aku dan Dian hanya asyik memakan permen dan coklatnya diatas ranjang
besar itu.
Lalu Mbak Suci mengantar kami pulang, dan orangtua dari masing-masing sudah mengumpul didepan dengan kuatir. Ternyata mereka mencari sejak tadi yang tidak pulang. Tidak sadar saat itu hampir pukul 21.00 malam.
Tersadar dari lamunan. Aku masih ingat, Mbak Suci mencoba menjelaskan dengan melancarkan
kebohongannya. Berdalih jika kita yang ingin ikut bermain bersamanya.
“Enggar apa kamu tidak ingat sama sekali?” wajahnya memberikan raut keraguan.
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Laki-laki itu menggerayangi kita,” rautnya berubah menjadi kecemasan.
“Apa?” sahutku terkejut dan nelangsa.
“Dan yang lebih parahnya, Mbak Suci adalah korban Pak Abi yang pertama, sedangkan aku .…”
“Kenapa Dian?”
Dian menangis sejadi-jadinya, dirinya tidak terkendali hanya bisa menangis tak tertahankan lagi.
“Aku juga korban kekejian Pak Abi, Enggar,” rintihannya lirih terdengar.
Aku tidak percaya dengan cerita Dian barusan.
“Temanku telah diperkosa oleh Pak Abi.”
Aku meninggalkannya disana seperti pesakitan. Dian seorang korban dan tidak mungkin bisa berbuat sekejam itu. Perasaan ini seperti tercabik dengan keji, bagaimana mungkin tetangga yang dianggap baik itu oleh semua orang bisa berbuat hal-hal hina dan jahat seperti itu. Dan kenapa Dian
tidak pernah menceritakannya, padahal kami berteman sejak kecil. Apakah aku bukan teman yang baik baginya.
Sikapnya yang periang dan lincah selama ini tersimpan pengalaman yang sangat pahit. Aku sangat mengasihaninya, bagaimana sahabatku
itu bisa memendamnya selama ini. Dalam kegelapan kupikir diri ini yang tenggelam sendiri, ternyata ketidakpedulian menghalangi pandanganku untuk melihat orang lain.
“Maafkan aku … sahabatku.”
***