The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 18 Naluri Detektif



Semua adalah korban, tetapi semua memiliki alibinya masing-masing. Aku kesulitan mencari semua korban karena tidak semua masih


tinggal diperumahan itu. Bahkan ada yang menutupi jika anaknya adalah korban karena sudah memiliki keluarga. “Ada yang kurang tapi apa?”


Apakah pelaku korban atau ada seseorang yang bersimpati terhadap korban sehingga menjadi


pembunuh. Masalah cinta?


Dari pembunuhan pertamanya, pelaku seakan ragu-ragu dan alat pembunuh sesuatu yang tidak lazim, sedangkan pembunuhan kedua terlihat pembunuhan tanpa keraguan dan alat yang digunakan sebuah kayu pagar dirumah korban. Seperti ada dua pelaku yang berbeda, tetapi para korban saling berkaitan.


“Seseorang yang mencintai korban dan mengetahui kebenarannya sehingga membalaskan dendam kepada orang yang sudah melecehkan kekasihnya atau mereka pasangan kekasih yang bekerjasama.”


 


“Kapten, ini daftar nama-nama yang tidak memenuhi panggilan termasuk yang merasa bukan korban pelecehan.”


Aku melihat daftar itu, hanya satu orang yang tidak ada difoto, tetapi rumahnya sangat berdekatan dengan pelaku pedofilia dan juga


korban Dian dan Suci. Ini sangat mencurigakan, karena disaat hampir semua menjadi korban, namun sebagai rumah yang berdekatan dan juga teman sepermainan tidak menjadi korban napsu bejat pelaku.


“Enggar Dikta?”


Alamat rumahnya satu blok dan satu sekolah dengan Dian sejak kecil.


“Apakah satu nama ini masih sekolah atau sudah bekerja?” Aku bertanya.


“Sudah bekerja diperusahaan swasta sebagai staf perpustakaan dan ada berita menarik lainnya Kapten, tapi ini berkaitan atau tidak .…” Bima menjawab ragu.


“Coba, jelaskan saja ….”


“Sebelumnya ada kejadian penangkapan penggelapan pajak perusahaan, tempat Enggar bekerja dan yang telah membocorkan dokumen rahasia perusahaan juga. Sempat terjadi insiden penyekapan oleh anak korban yang Ayahnya dijebloskan ke penjara. Anehnya pelaku penyekapan itu katanya diberikan informasi oleh rekan kerjanya sendiri.”


“Ok, naluriku mengatakan ini ada kaitannya. Kita temuin sekarang!”


“Siap Kapten.”


Sesampainya diperusahaan itu, aku meminta izin kepada manager perusahaan untuk menemui salah satu karyawati yang bernama Enggar ditempatnya bekerja, terkait peristiwa yang menggemparkan di Kampung Orang. Setelah mendapatkan izin, perusahaan meminta agar diinterogasi tanpa keributan, karena perusahaan sedang menata kembali setelah nama baiknya tercoreng akibat skandal penggelapan pajak itu.


“Saya janji hanya akan menanyakan hal-hal yang sedang saya selidiki tidak lebih.”


“Baik, silakan Pak Dean, ruangan perpustakaan ada disebelah ruangan saya, setelah keluar dari sini lurus lalu belok kiri” sembari menunjukkan lokasinya.


“Oya Pak, apakah selama bekerja disini yang bernama Enggar ada gelagat yang aneh?


Atau sudah punya kekasih yang posesif?”


“Mohon maaf Pak Dean, saya hanya pejabat sementara disini untuk menggantikan manager sebelumnya yang terlibat penggelapan. Jadi, untuk informasi itu bisa ditanyakan ke general affair saja.”


Lalu, aku beralih kepada Vivi seorang staf GA.


“Setahu saya orangnya agak pendiam dan memang bekerjanya hanya sampai jam 3 sore saja karena ada phobia gelap. Mengenai kekasih setahu saya tidak punya, tapi baru-baru ini ada staf bagian keuangan yang minta pindah secara khusus ke bagian perpustakaan, padahal dia karyawan tetap otomatis semua hak-haknya hilang dan menjadi karyawan paruh waktu, tidak habis pikir saya.”


“Siapa nama staf yang dipindah itu?”


“Namanya, Edgar Areza.” Aku melirik Bima, apakah orang yang sama yang dikatakan oleh Wira Raden.


Bima mengangguk seakan menjawab kecurigaannya.


Kebetulan yang aneh.


“Ok mba, terima kasih atas kerjasamanya.”


Setelah keluar lurus saja, lalu belok kiri. Disini rupanya ruangan perpustakaan itu. Siang hari tetapi semua lampu dinyalakan, padahal jendela terbuka tanpa sekat dan tirai. Terik matahari langsung menyinari setiap sudut ruangan. “Phobia gelap”, Enggar Dikta seseorang yang takut akan kegelapan atau Nyctophobia.


“Bim, kalau ada staf yang bernama Edgar tahan dulu diluar selagi aku interogasi karyawati yang bernama Enggar ini,”


“Siap Kapten.”


Memencet bel yang ada dimejanya. Terdengar dari belakang suara lembutnya.


“Ya,” sahut suara lembut Enggar dari kejauhan.


Aku melihat kearahnya dan sosok itu terlihat dengan anggunnya. Sederhana dalam balutan yang hampir serba tertutup, dengan wajah yang ayu hampir tanpa riasan. Hanya polesan tipis dan perona bibir berwarna lembut. “Apakah wanita sesederhana ini bisa melakukan kejahatan?” aku sudah kehabisan akal sepertinya.


“Anda siapa?”


“Saya dari kepolisian, perkenalkan Dean.” sembari memperlihatkan kartu identitasnya.


“Bukankah saya sudah tidak mau lagi menjawab soal perusahaan dan penggelapan itu,”


“Ini bukan soal itu, ini soal yang terjadi di Kampung Orang. Anda punya waktu?”


“Ah, ada hanya sebentar sebelum saya makan siang.” Sembari melihat jam tangan.


“Baiklah, itu waktu yang cukup.”


Aku mengarahkan ketempat membaca yang agak menjorok kedalam, agar waktu interogasinya tidak terganggu oleh hal-hal yang tidak terduga.


Menaruh alat perekam dihadapannya.


“Anda benar Enggar Dikta?”


“Benar.”


“Seberapa dekat Anda dengan Dian?”


“Kami teman sejak kecil dan selalu bersekolah dtempat yang sama sampai SMA.”


“Apakah anda tahu apa yang dialaminya?”


“I-iya, tidak, iya … maksudku aku tahu tapi tidak yakin.”


“Kenapa? Apa anda takut jika mengatakan iya … saya jadi mencurigai anda?”


“Apa? Bukan, maksudku, kenapa anda bertanya yang menyudutkan saya?”


“Saya hanya bertanya, itu saja.”


“Saya bukan korban, saya tidak cantik, sejak kecil saya suka menyendiri, beda dengan Dian yang selalu lincah dan ceria.”


Umpanku dimakannya.


“Itu hanya alasan saja, menurutku anda cantik.”


Dia terkesan malu dan salah tingkah ketika aku memujinya, perilakunya berlebihan ketika tangannya mulai bergerak secara berlebihan dan menggaruk-garuk lengannya.


“B-baiklah ini sudah waktunya makan siang, saya sudah memesan makanan sejak tadi, nanti tidak enak jika sudah dingin.”


“Ok, saya akan menemui anda lagi mungkin besok dirumah?”


“Ah, tidak, sebaiknya disini saja. Aku tidak ingin orangtuaku menjadi kuatir, mereka


sudah tua.”


“Baiklah, jika itu maumu, saya akan kembali lagi besok.”


Setelah melangkah hampir keluar pintu, Aku berbalik kearahnya dan ingin tahu reaksinya.


“Oya, apakah kamu dekat dengan Edgar?”


“Aah, tidak aku baru mengenalnya!”


“Kamu tahu dia sudah lama bekerja dibagian keuangan dan tiba-tiba memutuskan untuk pindah keruangan yang cukup pengap ini atas keinginannya sendiri?! Kau tahu kenapa?”


“Apa?” Enggar sangat terkejut.


Aku berbisik, “Dan apa kau tahu, orang yang telah membocorkan namamu kepada anak yang sudah menyekapmu adalah Edgar. Ini rahasia kita berdua, ok!”


Enggar sangat terkejut dan tidak percaya, apa yang sudah didengarnya.


Napasnya berubah memendek dan cepat, sulit untuk dikendalikan. Dirinya tidak bisa berpikir dan merasa sudah dibohongi.


Tidaaaakk, ini tidak mungkin terjadi. Semua orang penipu, pembohong! Edgar pembohong!. Enggar murka dan membuang semua yang ada dimejanya, berserakkan ke lantai. Enggar menghancurkan apa yang ada didepannya.


Aku melihatnya sangat tenang meskipun aku telah mengatakan sesuatu yang menyakitinya. Tidak ada perasaan terluka ataupun ekspresi marah.


Benar-benar aneh.


Aku dan Bima meninggalkannya diruangan itu. Enggar terkesan sangat tenang yang semakin memancing rasa penasaranku.


“Bim, perintahkan beberapa orang untuk mengikuti Enggar beberapa hari ini.”


“Siap Kapten.”


“Seharusnya seseorang yang dipancing seperti itu akan bereaksi marah atau menangis, dia hanya berdiri dengan tenang, sungguh membuatku semakin penasaran. Ini terlalu rapih, terlalu rapih dipermukaan, terkesan tidak ada ombak dilautan, biasanya pertanda bahaya akan menerjang, seperti tsunami.”


***


Setelah mereka meninggalkanku. Mereka berhasil mengacaukan pikiranku dengan sekejap. Aku pergi keruangan keuangan dan menanyakan yang paling ingin kutahu.


“Ada yang melihat Mbak Vivi?” Semua orang menggeleng karena ini waktu makan siang.


Pantas saja semua orang sedang tidak ada ditempat. Aku mendatangi bagian general affair dan menanyakan tentang Edgar.


“Mbak apa benar kamu pernah memberikan password komputerku kepada Edgar?”


“Tidak, kenapa?”


“Tidak, aku hanya ingin memastikan sesuatu?”


Edgar telah membohongiku itu yang pasti, untuk alasan kenapa menggunakan komputerku nanti juga akan terbongkar.


Aku kembali berjalan menuju ruanganku, pikiranku kalut dan terasa penuh. Perutku juga sangat lapar sejak tadi belum makan. Namun, disaat seperti ini aku tidak napsu untuk memakan apapun. Makanan yang kupesan sudah dingin, seperti dinginnya hatiku saat ini. Aku sedih dan ingin menangis rasanya. Tubuhku lemas dan melerai dengan pasrah ditempat dudukku ini. Aku menangis, akhirnya aku menangis, merasakan sakitnya dibohongi.


Tok, tok, tok.


“Enggar kamu mencariku?” sahut Mbak Vivi. Aku mengusap airmata yang menetes dipipi.


“Mbak Vivi, kamu sudah makan siang?”


“Iya, aku baru saja sampai, katanya teman-teman kamu mencariku katanya ada hal yang penting, ada apa?”


“Ah, duduk sini yuk Mbak, aku mau tanya sesuatu tentang Edgar.”


“Apa, kenapa dia?”


“Apa Edgar memang karyawan keuangan sebelumnya?”


“I-iya, memang kamu tidak tahu?”


Aku hanya menggelengkan kepala, tidak percaya.


“Iya, aku juga bingung kenapa tiba-tiba Edgar minta dipindahkan bagian, padahal dia pegawai tetap dan disini hanya pekerjaan paruh waktu.”


“Lalu?”


“Yah awalnya Bos tidak mengizinkan, tetapi sikapnya kekeuh dan bersedia untuk gajinya disesuaikan dengan disini, ya sudah .…”


‘Edgar kenapa kamu berbohong, apa niatmu sebenarnya?’


“Aku pikir kalian saling mengenal, karena kalian kan satu perumahan.”


“Apa? Kita sedang membicarakan orang yang sama kan? Setahuku Edgar tinggal diapartemen bukan di Kampung Orang!”


“Hmm, mungkin dia sekarang tinggal diapartemen, tapi yang terdaftar dikantor adalah alamat orangtuanya yang sampai sekarang masih tinggal disana.”


“Orangtua Edgar sudah meninggal kan?”


“Sepertinya kamu salah informasi deh Enggar, orangtuanya masih ada koq sampai sekarang,”


Aku tidak bisa merasakan apa-apa saat ini, pikiran menjadi buntu seperti terhalang oleh dinding berlapis baja.


“Ok aku kembali ke kantor yah, enggak enak sama Bos.” sembari meninggalkan ruangan ini.


“Ya, terima kasih Mbak Vivi.”


Aku mengambil tasku dan meninggalkan kantor untuk segera pulang. Aku sampaikan kepada Mbak Vivi hari ini untuk izin pulang cepat karena tidak enak badan.


***


Berikan cinta untuk penulis ya😊