
Kapan seseorang memutuskan menjadi seorang pembunuh? Ketika sudah ada alasan yang membuatnya ingin melakukannya.
“Dibutuhkan berapa lama seorang pembunuh melakukan kejahatannya untuk pertama kali?” tanya Nin pada mahasiswa yang hadir di kelasnya.
“Berbulan-bulan, mungkin?”
“Sejak lahir!” jawab seorang mahasiswa di belakang.
Jawaban itu mengundang tawa mahasiswa yang hadir.
“Membutuhkan bertahun-tahun untuk menjadikan seseorang pembunuh. Seorang pembunuh memerlukan alasan untuk membunuh. Mengumpulkan semua hasrat, gejolak, alasan dan rencana, hingga akhirnya membunuh.”
“Tidak ada pembunuh yang melakukan kejahatannya tanpa alasan!”
Deeerrtt, deerrrttt.
Ponsel Nin bergetar, Bima menghubunginya. Nin mengakhiri kelasnya.
“Halo!”
“Nin, aku kirim beberapa foto … ada korban baru seorang wanita. Kamu benar Nin, ini bukan pembunuhan pertamanya. Si kolektor kelingking beraksi kembali,” ujar Bima.
“Apa?” Sudah 7 tahun tidak mendengar aksinya, sekarang pembunuh itu kembali. Apa alasannya berhenti dan beraksi lagi?.
“Nin, apa kamu masih di situ?” tanya Bima.
“Ah ... iya, aku dengar. Maaf!” Nin berhenti dari lamunannya, teringat dengan pembunuh yang belum berhasil tertangkap itu.
Beberapa foto dikirim oleh Bima, lokasi dan wanita yang terbunuh itu. Terdapat ciri yang sama dengan pembunuhan lima orang wanita pada tujuh tahun silam. Kelingking wanita itu terpotong dan hilang. Pembunuh itu mencekiknya dengan tangan kosong, sebelumnya diberikan obat bius agar tidak sadar. Dan ketika sadar langsung mencekiknya, pelaku sangat senang melihatnya mati perlahan ditangannya.
***
Korban pria yang dibunuh sebulan yang lalu bernama David Situmorang. Korban tinggal di Tangerang dan pernah mendapatkan larangan mendekat dari salah satu kampus di Tangerang, karena mendapati mengancam seorang dosen di sana. Seorang dosen wanita bernama Sari Wiryan yang mengajar di fakultas tehnik mesin.
Sembari berjalan di lorong sebelum masuk ke dalam kelas untuk mengajar. Pak Bima bertanya pada dosen tersebut.
“Iya … orang yang bernama David itu pernah membuat keributan ketika saya sedang mengajar. Hingga diusir oleh keamanan kampus,” ucap Dosen Sari.
“Apa yang dikatakan David?”
“Dia menuduh saya telah membunuh istrinya, dia menyebut-nyebut nama Widya istrinya.”
“Menurutmu, kenapa David bisa menuduhmu membunuh istrinya?”
“Karena Widya adalah lulusan kampus ini, mahasiswi yang pernah saya bimbing skripsinya. Dan terakhir pertemuan saya dengan Widya tepat di hari dirinya terbunuh. Widya berkonsultasi tentang desertasi yang sedang disusunnya di kampus lain.”
Kenapa di laporan Widya hanya berkonsultasi melalui telepon, bukan bertemu.
“Sebentar, apa kamu yakin bertemu Widya di hari pembunuhannya?”
“Mungkin saya lupa mengatakannya pada petugas karena pertemuan itu hanya sebentar, sisanya berbicara lewat telepon.”
“Pak, jika tidak ada pertanyaan lain, saya akan masuk untuk mengajar,” sambungnya.
“Baiklah, terima kasih atas waktunya!”
Kenapa David sangat yakin jika pembunuhnya seorang wanita.
Bima bersama rekannya melanjutkan penyelidikan ke rumah Kakak korban bernama Desi Situmorang. Desi menghapus airmatanya dengan tisu berulang-ulang ketika Bima datang untuk bertanya tentang David. Bima menunggunya hingga tenang, sampai bisa ditanya soal pembunuhan adiknya.
“Beberapa tahun kebelakang ini … mungkin tiga tahun atau lebih keadaan David sangat memprihatinkan. Kematian istrinya Widya yang terbunuh dan pelakunya belum tertangkap membuatnya terobsesi untuk memecahkan kasusnya.”
“Sepertinya kalian juga kesulitan untuk mengungkapnya,” sambung Desi kecewa.
“Apa kamu tahu, terakhir apa yang diselidiki David?”
Desi menggeleng.
“Malam sebelum hari kematiannya David sempat menelepon dan mengatakan jika dirinya semakin dekat dengan pelakunya, ucapannya sangat yakin. Dan aku yakin David terbunuh oleh pelaku yang sama.”
Desi memberikan kunci kosan David yang tidak diketahui keluarganya.
“Kunci duplikat kos-an David, dirinya pernah mengatakan tempat tinggalnya harus dirahasiakan dan jika terjadi apa-apa dengannya berikan pada seseorang yang tepat. Sudah saatnya aku berikan kunci ini,” ujar Desi sebelum Bima dan Eddie pergi.
Sebelumnya polisi pikir David masih tinggal dengan keluarganya karena tidak ada rumah ataupun properti atas namanya. David berpindah-pindah untuk melakukan penyelidikan, hingga menuju ke sebuah kos-an yang akan diperiksa lebih lanjut oleh Bima dan Eddie.
Memanggil beberapa unit dan forensik menuju kos-an yang menjadi tempat tinggal David selama penyelidikannya.
“Semoga penemuan-penemuan David bisa mengarah pada pembunuhnya,” ucap Bima berharap.
Kos-an David yang berada di lokasi di tengah-tengah antara Tangerang dan Jakarta disinyalir karena dirinya yakin jika pelaku sangat konsen dengan wilayah tersebut. Di dalam kos-an yang sempit itu dengan ukuran 8x10 meter, terdapat foto-foto dosen Sari Wiryan yang diikuti kebiasaannya sehari-hari, memenuhi dinding.
David juga terobsesi menyelidiki alat atau mesin pemotong khusus yang cocok untuk memotong tulang jemari. Hingga bertanya pada seorang profesor yang ahli dengan mesin pemotong bernama Prof. Kristian Bambang.
“Ya … saya pernah didatangi oleh orang di foto ini,” ucap Prof. Kristian mengingat David dalam foto yang ditunjukkan oleh Eddie.
“Apa yang ditanyakannya?” tanya Eddie.
“Orang itu menunjukkan foto potongan jari yang terpotong dan beberapa alat pemotong yang sekiranya cocok dengan bentuk potongan jari itu.”
“Lalu, Prof … jawab apa?”
“Seingat saya menjawab, alat-alat itu tidak ada yang cocok karena akan membuat jarinya terpotong dengan rapih, sedangkan pada jari pada korban seperti lekukan sendok. Alat khusus yang dibuat oleh pelakunya.”
“O-iya Prof, pertanyaan terakhir … menurutmu pembunuhan ini dilakukan oleh seorang wanita atau pria? … iseng saja Prof, tidak perlu memikirkannya secara dalam!”
“Hmm … jika wanita, justru kemungkinan lebih cepat tertangkap karena jurusan tehnik mesin gender wanita terbilang bisa dihitung dengan jari.”
Itu dia alasannya, kenapa David sangat yakin pembunuhnya seorang wanita.
“Baik Prof, terima kasih … nanti kita akan hubungi lagi.”
“Ya … sama-sama, semoga bisa segera tertangkap pelakunya,” seru Profesor itu.
***
Malam itu seorang wanita yang terikat tangannya ke belakang dan kakinya dengan seutas tali, dengan simpul rumit yang menjerat hingga kulitnya ruam memerah, menandakan terjadi penggumpalan darah. Terbangun dari obat bius yang membuatnya tertidur. Tersadar dengan wajah seseorang yang memakai penutup kepala. Hanya terlihat mata dan mulutnya dari lubang penutup itu.
Ingin berteriak ketakutan, namun sergapan tangannya yang kuat mencekiknya dengan cepat. Ketika wanita itu mulai ketakutan, tangan kosong mencekik lehernya perlahan. Hingga wanita itu merasakan sulit bernapas. Penekanan pada lehernya yang membuatnya semakin kesakitan.
Kaki-kaki yang bergerak mengais-ngais lantai penuh tanah, meronta-ronta memberontak ingin terlepas dari jeratan. Matanya mulai mendelik kesakitan, otaknya yang mulai mati tanpa oksigen. Hingga kaki-kaki itu melemah dan berhenti. Mati.
Sebuah alat pemotong khusus hasil mahakarya-nya sendiri dikeluarkan dari tas-nya. Inilah saat-saat dirinya merasakan ketegangan seksual yang luar biasa. Jantungnya memompa dengan cepat seperti sedang berfantasi seksual dengan korban. Ritual melepas sepatunya perlahan dan menarik stoking yang digunakan wanita itu untuk menutupi kakinya yang indah.
Pembunuh itu hanya tertarik pada jemari kakinya. Ketika memasukkan alat pemotong itu, pelaku merasakan kenikmatan seperti penetrasi yang berulang-ulang, hingga tulang itu terpisah dari kerangkanya dan darah yang menyembur keluar, proses masturbasi-nya selesai.
Kenikmatan yang terpuaskan.
***
Hai semua sudah up lagi nih setelah END 2 hari ternyata antusias yang ingin The Shadow fears dilanjutin banyak juga. Padahal Author baru saja membuat 1 bab kelanjutannya. Jadi, untuk yang sudah request Author kasih 1 bab deh. Makasih ya jangan lupa Like, Rate 5, Vote, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )