The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 29 Tersedak Lumpur



Berada di kantor Polisi, dengan selimut dari paramedik yang masih menyelimuti tubuh ini dan se-cup teh panas di tangan. Kutiup air itu menebar uap yang menyebabkan embun pada mata dan hidung yang melega. Hingga kehangatan yang diteguk meredakan kerongkongan yang kering akibat kepulan asap.


Aku bisa sedikit bernapas lega, meskipun tangan ini masih gemetar memegang se-cup teh panas. Pikiranku melayang, masih ingat dengan jelas kejadian mengerikan itu. Ibu menjerit kesakitan karena lalapan api yang membakar tubuhnya, Ayah yang sadar namun tidak bisa menggerakkan tubuhnya, seperti lumpuh. Sedangkan aku hanya berusaha keluar dengan memutar kunci.


Anak macam apa aku ini, meninggalkan mereka disaat kebakaran seperti itu. Petugas polisi datang dan mendekati meminta keterangan perihal kejadiannya. Aku hanya terdiam, tidak sanggup bicara. Ternggorokanku seperti tersedak lumpur. Berbicara hanya membuat semakin parah keadaannya.


Petugas itu keluar karena seseorang dengan jabatan yang lebih tinggi ‘sepertinya’ datang. Mereka hormat padanya. Berbincang sebentar aku melihatnya dari balik pintu dengan kaca ditengahnya. Polisi berwibawa itu melihatku juga, aku segera menundukkan kepala.


Tak lama pria itu mendatangiku. Dan memperkenalkan diri.


“Qian, saya Kapten Bima,” ucapnya sembari duduk disebelahku.


Aku hanya semakin merunduk sembari memutar cup teh ini.


“Apa kamu melihat kejadiannya?”


Aku semakin membisu.


“Ceritakanlah … kamu aman,” ucapnya lagi.


Tak lama seorang petugas masuk dan memberitahu jika ada yang penting untuk dilaporkan. Kapten itu akhirnya keluar dan meninggalkanku lagi.


Akhirnya aku bisa menegakkan punggung dan tertidur sebentar untuk meredakan lelah. Mata ini memejam namun tidak dapat tidur, bayangan mengerikan itu masih berputar berulang kali seperti film horror yang mengerikan.


Selang lima belas menit ada seseorang dibalik pintu yang datang. Seperti orang biasa, aku menoleh dan melihatnya menyerahkan sesuatu pada petugas itu. Setelah membacanya, petugas membolehkannya masuk menemuiku.


“Hai Qian, aku paman Hari … adik Ibumu, aku akan membawamu pulang,” serunya sembari tersenyum.


Apa, adik Ibu? Aku tidak pernah mendengar jika Ibu punya adik laki-laki.


“Benarkah kamu pamanku?” tanya Qian memastikan.


“Yah, ayo kita pulang,” serunya lagi. Sembari merangkulku hingga ke mobil.


Aku dibawanya dengan mobil pribadi. Cukup lama kami berkendara, mungkin sekitar setengah jam baru sampai. Mengapa Ibu tidak pernah bercerita tentangnya. Sesampainya diruma bertingkat dan tidak terlalu luas itu, aku melihat sekeliling yang cukup sepi. Perumahan yang hanya beberapa tetangga saja, seperti cluster.


“Ayo kita sudah sampai,” ucapnya. Setelah memarkirkan mobil di garasi.


“Paman boleh aku bertanya?” imbuhku.


“Apa? Tanya saja,” jelasnya dengan santai.


“Kenapa Ibu tidak pernah bercerita soal Paman?”


“Hmm … itu karena Ayahmu yang kurang suka denganku. Ceritanya sedikit panjang kapan-kapan akan kuceritakan, ayo masuk!” serunya lagi.


Memasuki rumah itu memang tidak seluas rumah Ibu, tetapi rumah ini lebih modern dan berbau wangi. Rumah kami sangat berbau aneh seperti bau rendaman cucian yang sangat lama. Paman menuntun ke lantai dua. Disebelah kiri adalah kamarku yang memiliki view keluar. Aku sangat menyukainya.


“Oya Qian, ini kamarmu dan Bibimu sudah menyiapkan semua kebutuhanmu disini jadi kamu tidak perlu kuatir,” ujarnya.


“Makasih Paman, oiya Bibi mana?”


“Besok Bibi baru pulang, aku akan menjemputnya setelah mengantarmu sekolah.”


“Oya besok kamu mau sekolah atau istirahat dulu?”


“Aku akan ke sekolah saja paman,” jawabku. Semoga di sekolah tidak ada yang berubah.


“Baiklah kalau begitu selamat istirahat, jika lapar kamu bisa kebawah mengambilnya.”


“Iya Paman!” sembari melangkah masuk ke kamar.


Aku memiliki pemandangan sendiri dari kamarku, lemari yang indah dan baju-baju yang indah pula. Ranjang yang baru dan empuk.


Kapan Bibi menyiapkan semuanya?


Ibu bolehkah aku merasa bahagia disaat kehilangan dirimu. Ibu seandainya kita bisa tinggal bersama dengan Paman dan Bibi disini. Seandainya kau masih ada aku akan lebih bahagia.


***


Cepat pergi dari sini, suaranya lebih keras dari biasanya. Tidak pernah Ibu berteriak padaku. Cepat keluar dari sini. Mencoba membuka pintu semuanya terkunci, jendela yang berjeruji besi. Ibu jangan, jangan lakukan itu. Pemantik sudah ditangannya, Ayah yang tersadar dengan kelumpuhan hanya bisa memberikan raut ketakutan. Matanya mendelik penyesalan.


Jangan Ibu, namun suara ini tidak lagi terdengar. Ibu menyalakannya dan terbakar bersamanya. Ibu kenapa kamu lakukan itu. Kenapa meninggalkanku, mencari kunci yang tepat. Tidak ada kunci yang tepat. Aku semakin panik dan takut. Seluruh tubuhku gemetar dan berkeringat. Api sudah tersambar keseluruh ruangan. Aku berada didalamnya, tidak bisa keluar.


Asap hitam mengepul semakin pekat mencekik kerongkongan. Menelannya hingga menyumbat pernapasan. Dadaku sesak hingga sulit bernapas. Mati lemas.


“Tidak, Ibu!” terbangun dari mimpi buruk.


Melihat sekeliling aku masih hidup, barusan hanya mimpi. Seluruh tubuh berkeringat dan gemetar. Aku tidak bisa melupakan kejadian itu. Namun, aku mati bersamanya. Mungkin seharusnya aku mati bersamanya.


Aku menangis, merasa bersalah, seharusnya aku mati saja.


Aku tidak bisa menyelamatkan Ibu dan Ayah. Tidak punya siapa-siapa.


Terdengar suara yang berbisik diluar, Paman seperti sedang berbicara dengan seseorang ditelepon.


“Iya, besok aku akan menjemputnya di rumah sakit, aku sudah membawanya kerumah kita.” ucapnya dalam pembicaraan itu.


Aku keluar dari kamar.


“Paman, boleh aku meminta air. Aku haus,” lirihku padanya.


“Baiklah akan Paman ambilkan,” ucapnya seraya menutup telepon itu.


Aku menunggunya di kamar, tubuhku masih lemas karena mimpi buruk itu seakan nyata. Mengusap keringat dengan handuk kecil.


“Qian, ini minumlah,” serunya sembari menyodorkan segelas air putih.


Meneguknya sedikit demi sedikit hingga tenggorokanku lega.


“Kamu bermimpi buruk Qian?” tanyanya.


“Iya Paman, aku bermimpi Ibu dan kebakaran itu,” jawabku.


“Sebaiknya, kamu tidur lagi agar tubuhmu lebih segar besok,” ucapnya sembari menaruh gelas air putih itu dimeja samping ranjangku.


Ketika akan keluar pintu kamar. Aku bertanya, “apa barusan Bibi yang Paman telepon?”


“Y-ya, Bibi menanyakan kabarmu?”


“Apa Bibi sakit?”


“A-Ah tidak Bibi bekerja di rumah sakit.”


“Sekarang kamu pergi tidur yah.”


***


 Menutup pintu kamar itu.


Aku melihat Paman masih berada di sana karena pintunya terbuka sedikit. Berdiam diri seperti sesuatu mengusik pikirannya. Tangan yang masih memegang kenop itu tanpa sadar memutar dan menutupnya.


Perilaku yang aneh tertangkap sejak awal. Aku meragukan Paman Hari apakah benar adik Ibu, jika bukan siapa dia? darimana bisa mengenalku.


Setelah itu, pintu terbuka. Paman seakan menyadari lamunannya dan melihatku.


"Aku hanya mencoba kenop ini, sebelumnya rusak," terang Paman menjelaskan. Lalu pergi ke kamarnya yang berada di lorong yang sama namun di dekat tangga sebelah kanan.


Rasa kantuk mulai merapatkan kelopak mata, akhirnya tertidur.


***


Pencet like, vote, rate 5, tambahkan ke favorit kalian dan komen yg banyak ya 😊