
Titik adalah sesuatu yang tidak berbentuk, berpangkal dan tidak berujung. Abstraksi mengawali titik dan menempatkan titik pada ujungnya. Mengawali suatu kehidupan yang tidak mengetahui kapan titik awalnya dan bagaimana mengakhirinya. Jika bertanya, kapan merasa hidup dan kapan merasa mati. Ketika merasakan sakit saatnitulah merasa hidup dan ketika tidak merasakan apa-apa saat itulah kematian titik.
Aku tidak boleh mati, inilah titik kehidupanku. Aku harus bertahan untuk mengakhirinya.
Merayap, melata seperti binatang, apapun dilakukan Qian agar bisa keluar dari sana. Suara rintihannya menahan sakit dan napasnya yang tercekik, seperti ada benda ditenggorokan yang mengganjal. Qian terus bergerak dengan sisa-sisa pada dirinya. Bisa saja dirinya ikut mati bersama Rama di bawah sana, atau mati karena kekurangan oksigen. Hanya saja Qian tidak ingin mati mengenaskan seperti itu.
Keadaan ini berubah menjadi terbalik, seharusnya Qian lebih bersabar untuk tetap diam. Qian berlari dengan rintihan dan airmata, merasakan sakit yang luar biasa. Jemari yang bengkak karena patah.
Berlari hingga kakinya tidak bisa merasakan kekuatannya, hanya mengandalkan tekad untuk sampai di tujuan. Rumah yang gelap tanpa penerangan dengan garis polisi yang melingkari pekarangan. Qian menerobos pintu itu mencari obat-obatan untuk meredakan sakit yang dirasakannya.
Mencari di laci-laci dapur tidak ada obat-obatan sama sekali. Qian teringat dengan sisa obat-obatan di kamar Bibi Enggar, masuk ke dalamnya melihat obat-obatan yang berserakan di meja dan lantai. Mengais-ngais yang tersisa di sana, apapun yang bisa menghilangkan rasa sakitnya. Qian memakan pil-pil itu dengan jumlah yang tidak terbatas.
Terjerembab di lantai, kehilangan kesadarannya hingga jatuh.
***
Suara nyanyian burung-burung kecil di depan jendela kamar yang terbuka, memantul berkas sinar yang memperlihatkan debu berterbangan, seperti jutaan molekul yang bergerak di semesta. Menyiratkan pagi menjelang, dengan penglihatan berkunang-kunang. Tidak bisa merasakan jemarinya apalagi bagian tubuh lainnya.
Efek dari obat-obatan yang diminumnya serampangan, rasanya dunia ikut berputar seirama dengan nyanyian ditelinga. Rasanya sangat ringan, terhuyung-huyung mencari pegangan. Melangkah gontai hingga ke jendela, burung yang berkicau mengajaknya keluar. Ketempat yang lebih tinggi.
Tunggu aku.
Menaiki jendela seperti pijakan lainnya, ini tidak seberapa dengan pagar tinggi rumah Nin yang pernah dilompatinya, atau gerbang rumah Dean yang tertutup tembok plester. Semua itu tidak berarti dengan yang sudah dialaminya.
Bagaimana aku bisa sampai ke sini.
Burung itu kembali datang, mengajaknya terbang. Qian sudah katakan pada burung kecil itu kalau dirinya tidak bisa terbang. Namun, burung itu bersikukuh jika Qian bisa melakukan segalanya.
“Apa kamu yakin, burung kecil?”
“Baiklah, jika kamu yakin … aku akan ikut denganmu!”
Qian berdiri di ambang jendela dengan kedua kakinya yang terasa sanga ringan, bahkan jemarinya tidak sakit lagi. Semuanya terlihat indah dari atas sini. Mentari yang bersinar membuat bulu kuduknya berdiri. Qian tertawa lebar, karena tidak bisa merasakan geli ketika rambut-rambut lengannya bereaksi.
“Ini sungguh lucu, aku benar-benar merasa bebas, tidak merasakan apa-apa …,” teriaknya.
Memandangi kejauhan yang tidak bisa dilihat ujungnya, seketika membuatnya meneteskan airmata.
Aku bingung airmata ini untuk apa?
Kenapa menetes sebelum kusuruh?
Reaksi tubuhnya mengatakan jika Qian senang bersedih, meskipun pikirannya merasa bebas.
Tubuh itu menjatuhkan diri dari lantai 2, seakan terbang bersama burung-burung kecil yang mengiringinya. Tubuhnya terpental dari atap sebelum akhirnya jatuh di atas tanah. Qian merasakan bayangan menyeramkan itu datang mengambil sesuatu dari ujung kakinya yang merambat ke perutnya, hingga merasakan sesak di dada dan tenggorokan yang tercekik amat sakit.
“Kenapa, kamu datang terlambat?” Qian sebelum meregang nyawa.
***
Qian ditemukan tewas terjun dari lantai dua rumah Edgar. Polisi juga menemukan mayat Rama di rumahnya sendiri, di dalam bungker buatan Ayahnya. Beberapa barang bukti yang ditemukan di dalamnya diamankan oleh kepolisian. Menelusuri jejak Qian yang sebelumnya berada di rumah itu dengan bukti darah yang tertinggal di lantai.
Polisi juga menemukan jika Qian menerobos masuk ke dalam rumah untuk menemukan sesuatu, hingga dipergoki oleh Rama.
“Qian menemukan bungker itu sebelum dipergoki anak pemilik rumah.”
“Qian mencari video ini?” sembari menunjukkan pada Pak Bima sebuah tayangan.
Video call yang memperlihatkan Willy menjadi seorang pendeta gadungan yang menikahkan Enggar dan Edgar pada saat itu. Suara Qian yang memohon untuk dibebaskan. Dan terdapat suara Qian yang menyebutnya pembunuh orangtuanya, Qian sudah tahu sejak awal. Enggar membalas ucapan Qian jika menyakini kalau Amelia dan Leo dibunuh olehnya. Qian menyangkalnya.
Hingga, keduanya menenggak pil penenang dengan dosis tinggi dan memaksa Qian untuk meminumnya juga, sebelum akhirnya membuka saluran gas yang mematikan itu.
Setelah melihat keduanya jatuh ke lantai, Qian meracau jika memang benar dirinyalah yang telah membakar rumah orangtua angkatnya.
***
Masyarakat yang melihat berita penyelidikan terkini yang akhirnya mendapatkan jawaban dari teka-teki yang selama ini menyelimuti, menginginkan Komjen Dean kembali pada kedudukannya semula.
“Pak Bima, bagaimana tanggapannya mengenai dorongan masyarakat agar Komjen Dean bisa kembali menduduki jabatannya?”
“Urusan itu tanyakan saja pada Pak Dean, ya.” Jawab Bima sembari memasuki kantor.
“Pak Bima, kenapa anda yakin jika kedua kasus itu ada kaitannya dan tetap menyelidikannya?”
“Itu karena pelajaran insting dari Pak Dean ….”
Semua wartawan mengerubungi rumah Pak Dean tidak mengenal waktu, ingin mengetahui responnya terhadap keinginan masyarakat agar kembali menjabat. Dean tetap saja diam tidak merespon apa-apa, menunggu hingga memang keinginan menjabat itu benar-benar dibutuhkan demi penegakan hukum bukan karena politik apalagi doronganmasyarakat.
Jika hanya karena dorongan masyarakat, kekhawatirannya akan terjadi lagi kedepannya, pencopotan-pencopotan yang dirasakan hanya berdasarkan dorongan semata. Bukan demi penegakan hukum yang sebenarnya.
Dean yang sedang berada di rumah Nin, karena terjebak tidak bisa masuk ke dalam rumahnya sendiri. Terlalu banyak wartawan yang sudah mengganggu privasinya.
“Dean, sampai kapan kamu mau bersembunyi? Hadapi saja dan berikan pernyataan!”
“Kamu tahu sendiri sejak awal tidak ada yang kututupi, seharusnya mereka sudah tahu bagaimana Dean!”
“Ya … Dean yang selalu memperjuangkan kebenaran dan penegakan hukum. Tapi, sepertinya itu tidak benar seluruhnya …,” ujar Nin mencoba membaca jalan pikiran Dean.
“Apa maksudmu?”
“Kamu hanya sedang menikmati momen ini, dimana semua orang menginginkanmu kembali ….”
“Hmm … bukan begitu! Aku hanya sedang menikmati masa-masa berduaan denganmu.”
“Memangnya kalau kamu kembali ke jabatan itu, kita tidak akan bersama?”
“Aku akan menikahimu saja, bagaimana?”
“Ini sikap terbaik yang bisa kamu lakukan ketika melamar seseorang, Komjen Dean?”
“Memangnya harus bagaimana? Berlutut di depanmu? Aku sudah tahu kamu pasti mau, untuk apa bersusah payah?!”
Nin meninggalkannya ke belakang, sedikit kesal dengan sikap Dean yang terlalu blak-blakan dan tidak peka.
Tiba-tiba Bima datang muncul di pintu.
“Sudah kuduga, Pak Dean pasti disini.”
“Halo, Nin,” sambung Bima lagi menyapanya.
“Bima, tolong usir para wartawan itu, ini sudah malam aku mau istirahat!”
“Hahaha! Dimana pengawalanmu?”
“Sejak kapan rumahku dengan pengawalan, kamu tahu mereka aku pulangkan semua sejak dulu,”
“Jadi, kamu menyesal? Hahaha ….”
“Sudahlah … cepat kamu urus semua itu!”
“Siap!”
***
Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )