The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 6 Interogasi Saksi



Saksi 1


Dian sudah berada didalam ruang interogasi sejak dua jam yang lalu. Sebelumnya hanya didalam sel kantor polisi bersama dengan pelaku kejahatan kriminal lainnya.


Sulit rasanya bernapas disini meskipun ruangan ini sangat luas hanya untuknya seorang diri. Tekanan dan pikiran yang bercampur


aduk membuatnya tidak berdaya.


“Rasanya belum lega jika belum melihat matahari dan menghirup udara kebebasan.”


Tolong aku Tuhan.


Jika pada akhirnya aku yang disalahkan karena telah menemukan pak Abi, maka ini adalah perbuatanku yang paling kusesali.


Akhirnya Kapten Dean datang dengan beberapa dokumen yang dibawanya.


“Kapten Dean yang akan menginterogasi saksi yang bernama Dian Ningsih, usia 22 tahun, masih kuliah disebuah Universitas swasta, benar?”


Dian hanya mengangguk-anggukan kepala.


“Sebaiknya kau menjawab bukan hanya menganggukkan kepala, paham?”


“I-iya,” sembari menganggukkan kepala. Tangannya gemetar dan mulai meluncur keringat dari pelipisnya.


“Ceritakan kapan kau menemukan korban?”


Dian menceritakan saat itu dirinya sedang mengeluarkan motor sekitar pukul 06.00 untuk dicuci sebelum berangkat kuliah. Ketika sedang


menggosok badan motor, aku mendengar suara pintu pagar Pak Abi yang menggangguku, “Ngeek ngook” suara pagar yang tertiup angin kencang. Semalam hujan sangat deras dan jalanan masih basah.


Suara pagar itu menggangguku cukup lama, Pak Abi aku rasa sudah bangun karena pintunya terbuka.


Aku mendekati pagar itu agar menutupnya saja, tetapi aku melihat ada jejak-jejak sepatu yang tidak biasa. Jejak sepatu yang berwarna merah. Aku tidak menyangka kalau itu adalah darah.


“Sebentar apa kau yakin ada jejak itu?”


Sial dilaporan tidak ada jejak sepatu itu.


“Ya, sangat jelas ... aku yakin.”


Setelah itu aku masuk dan menemukan Pak Abi sudah tergeletak dengan berlumuran darah. Aku langsung keluar karena perutku sangat mual dan ingin muntah tidak tahan dengan bau amisnya.


Ketika aku mengeluarkan isi perutku, datang Mbak Suci dengan motornya. Mba Suci menanyai keadaanku saat itu, aku hanya bisa menjawab Pak Abi, didalam. Mba Suci langsung kedalam dan


aku mendengarnya menangis histeris. Aku tidak tahu lagi setelah itu, kupikir aku pingsan.


Setelah bangun sudah banyak orang, aku hanya bingung ketika ditanyai oleh polisi.


“Ada hubungan apa antara kau dan korban?”


“Hubungan? T-tidak, tidak ada hubungan apa-apa, hanya tetangga!”


“Apa hubungan bertetangga kalian baik?”


“Ya, kurasakan begitu.”


“Kenapa ragu?”


“T-tidak, hubungan kami baik.”


“Bagaimana dengan tetangga lainnya, apakah ada yang pernah bertengkar dengan Pak Abi?”


“Seingatku tidak pernah.”


“Baiklah ....”


“Kapan aku boleh pulang?”


“Tapi aku sudah menga ....” ucapan Dian terpotong.


Kapten Dean sudah meninggalkan ruangan dengan sikap dinginnya.


Menutup pintu dengan dingin dan berjalan menuju kedalam ruangan yang berada dibelahnya. Sudah terdapat saksi kedua yang menunggu sejak tadi.


Saksi 2


“Kapten Dean akan menginterogasi Suci Ekasari, usia 27 tahun, Ibu rumah tangga, memiliki satu anak perempuan.”


“Bisakah langsung saja kepertanyannya, aku harus menjaga anakku dirumah.” sembari memandangi kukunya dengan warna kutek mencolok itu.


“Bisa ceritakan pertama kali menemukan korban?”


“Aku sudah ceritakan kepada polisi sebelumnya, kenapa harus menceritakannya lagi, kurang kerjaan!”


“Ehm, jika kau tidak mau bekerjasama, mungkin akan lebih lama disini.”


“Apa yang ingin kau tahu, langsung saja.”


“Kau melihat jejak sepatu berlumuran darah?”


“Tunggu. Biar kuingat, sepertinya tidak.” melirik ke kiri menggali ingatannya pada saat kejadian.


“Apa kau yakin?” memberikan penegasan berharap jawaban pasti.


“Ya, tentu saja,” sembari melihat cat kuku-kuku tangannya yang memudar.


Wanita ini seperti tidak ada pikiran yang membebaninya.


“Ada hubungan apa antara kau dengan korban?” sembari menatap curiga.


“Tidak ada, Pak Abi hanya suka memberikan orangtuaku uang itu saja.”


“Kenapa dia begitu dermawan?”


“Karena memang dia suka menolong orang-orang miskin disekitarnya, kalau tidak percaya tanya saja tetangga lainnya.” Sembari bersidekap dengan membuang muka.


“Apakah ada yang pernah bertengkar dengannya?”


“Tidak mungkin orang sebaik dia memiliki musuh?”


“Lalu, menurutmu siapa yang sudah membunuh orang suci itu?”


“Hmm, kau tanya aku hahaha … ok ... ok, aku akan menjawab, kupikir mereka adalah perampok yang ingin mengambil uangnya.”


“Oiya Pak polisi, apakah Pak Abi menuliskan surat wasiat? Karena sayang sekali kekayaannya terkubur didalam rumah itu, aku bersedia menjadi ahli warisnya hahaha ….”


Saksi ini sudah gila.


Aku meninggalkannya diruangan itu dengan acuh. Dua saksi yang hanya mendapatkan jalan buntu. Aku sungguh kesal menghadapi mereka.


“Bebaskan saja saksi kedua.” sahut Dean kepada Bima.


“Kapten yakin?”


“Ya, tapi awasi gerak-geriknya!”


“Siap Kapten, lalu bagaimana dengan saksi Dian?”


“Aku akan mengikuti naluriku, biarkan dia menginap satu hari lagi."


***


Pencet Like, Rate 5, Vote, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yg banyak ya 😊