The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 14 Bukti-bukti Pendukung



“Kapten sudah ada kabar dari Lab For Digital (Laboratorium Forensik)”


“Kabar baik?”


Bima memberikan gestur meyakinkan.


“Yes.”


“Dalam komputer Pak Abi ada satu yang terenkripsi, ini yang sejak awal kita coba buka. Ternyata, bingo,” pungkas staf ahli LabFor.


Ketika dibuka program terenkripsi itu, isinya terdapat banyak foto-foto anak-anak kecil. Kapten Dean merasa menemukan titik terang.


Apa yang dirasakan nalurinya sebagai penyidik ternyata tepat. Setiap korban ada hubungannya dengan Pak Abi. Bisa jadi salah satu diantaranya adalah pelakunya.


Namun, tim mengalami kebuntuan lagi karena foto-foto itu tidak cukup untuk mengaitkan semuanya. Sedangkan saksi Mbak Suci juga menjadi korban pembunuhan. Jalan satu-satunya adalah menyudutkan saksi Dian agar mau


membuka suaranya.


Kapten Dean mendatangi saksi Dian dengan emosi. Membanting kursi dihadapannya dan menakutinya.


Aahhhh!


Dian berteriak.


Lalu melempar foto-foto yang ada didalam komputer Pak Abi. Termasuk fotonya yang ada disitu. Jatuh dihadapannya. Dian melihat fotonya


yang masih kecil dan mungil, lugu dan tidak tahu apa-apa selain bermain.


“Kesabaranku sudah menipis, aku tidak mau lagi bermain-main. Jadi sebaiknya kau mengatakan yang sejujurnya sebelum jatuh


korban lagi.”


“Aku tidak tahu, sungguh aku tidak tahu.” Dian yang menangis dan bersembunyi dalam jemarinya yang kecil.


Kapten Dean keluar dan membanting pintu. Lalu setelah beberapa saat, Kapten memberikan waktu untuk menginterogasi saksi kepada seorang polisi wanita yang juga seorang ahli kejiwaan. Kapten Dean melihat dari balik layar kaca itu. Mendengarkan jelas pengakuan Dian yang berkaitan dengan perbuatan Pak Abi padanya.


Setelah interogasi berjalan selama lima jam lamanya. Tim mencoba merangkai kejadian itu menjadi saling berkaitan. Meskipun masih ada


celah yang harus diisi, semuanya sepakat bahwa pelaku pembunuhan adalah korban dari Pak Abi. Pelaku menaruh dendam sejak lama, dan teka teki trigger atau pemicu pelaku bisa menjadi pembunuh, masih menjadi misteri yang harus dipecahkan.


“Saksi Dian adalah korban pelecehan dan pemerkosaan oleh korban pembunuhan. Aku percaya Dian telah jujur menjawab setiap pertanyaanku,” sahut ahli kejiwaan itu memberikan testimoninya.


“Aku tahu saksi jujur, tetapi apakah saksi tidak mampu membunuh? Atau menjadi kaki tangan pembunuh?”


“Menurut hasil tes kejiwaan yang kulakukan, saksi orang yang berhasil bertahan dan bisa melanjutkan hidup meskipun pernah mengalami pengalaman buruk dimasa kecilnya,” balasnya.


“Maksudmu, saksi tidak cocok profilnya sebagai pembunuh?”


“Ya.”


“Kau yakin?”


“99,9 persen.”


Atas perintah Kapten Dean, saksi Dian akhirnya dibebaskan karena tidak ada bukti yang memberatkan untuk menaikkan statusnya, terlebih


selama dirinya dipenjara sudah ada korban baru. Dian diantar oleh pengawalan polisi, diserahkan kepada orangtuanya dirumah. Ayah dan Ibu Dian sangat bersyukur anaknya sudah kembali ke pelukan.


Pihak kepolisian menjelaskan duduk perkara dan mengucapkan terima kasih atas kerjasama saksi Dian selama masa penyelidikan berlangsung. Informasinya sangat berguna untuk mengungkap siapa pelakunya.


Orangtua Dian hanya merasa sangat bersyukur hingga tidak bisa berkata apa-apa. Yang terpenting anak perempuan mereka baik-baik saja dan sudah kembali kerumah.


"Maafkan Ibu Nak, tidak bisa menjagamu dengan baik. Ibu menyesal ...." Ibu yang meronta penuh penyesalan.


"Jangan menangis Ibu, Dian sudah baik-baik saja sekarang. Semua sudah Dian lewati, saat ini hanya butuh dukungan kalian," sahut Dian. Akhirnya bisa menangisi apa yang dipendamnya sejak dulu.


***