The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 19 Siapa Edgar?



Kulewati jalan itu penuh dengan hamparan bunga-bunga yang terpetik segar. Harumnya aroma yang semerbak mengingatkanku pada kekasih pujaan. Seorang penjual bunga yang


berdiri didepan toko itu menawarkan untuk membelinya. “Seikat bunga untuk orang yang anda cintai,” sahutnya. Sejak tadi aku ingin mampir, senyuman dari penjual yang baik hati semakin membuatku yakin untuk membelinya.


“Bunga apa yang anda cari?”


“Untuk mengatakan aku mencintainya dan ingin menghabiskan waktu bersamanya?”


“Kalau begitu berikan mawar merah, menandakan cinta anda sangat besar untuknya.”


“Baiklah aku beli.” Sembari tersenyum dan menghirup aroma wewangian dari mawar


Sebaiknya aku langsung memberikannya dikantor, pasti kekasihku sangat menyukainya.


Sepanjang jalan aku merenung, mengapa saat ini aku sangat bahagia. Kebahagiaan itu karena akhirnya aku mendapatkan cintanya. Cinta yang kutunggu sejak lama, sejak aku melihatnya. Kecantikannya begitu mempesona hingga tidak sanggup mendekatinya, hanya berani memandangnya dikejauhan.


Apartemenku tidak begitu jauh dari kantor, hanya sekitar lima blok dari sini. Berjalan kaki


membutuhkan waktu dua puluh menit untuk sampai. Aku senang menyusuri jalan-jalan perkotaan, hingga aku sangat mengenal seluk beluknya. Suatu hari nanti aku akan menikahinya dan mengajaknya tinggal disini, jauh dari kerumunan yang kumuh.


Aku tidak begitu menyukai gaya hidup diperumahan seperti orangtuaku, terlalu banyak peraturan yang mengikat warganya. Lagipula untuk apa hidup bermasyarakat, toh mereka tidak begitu berdampak dikehidupan kita. Mereka


lebih banyak mencampuri urusan orang lain ketimbang membantu.


Sesampainya dikantor, aku tidak peduli jika semua orang melihatku membawa bufet bunga ini. Aku hanya memikirkan tenang aku dan kekasihku yang akan semakin memperteguh perasaan kami. Memasuki pintu utama, aku melihat ada dua orang yang terlihat sangat mencurigakan. Sengaja aku memperlambat jalanku agar mengetahui kemana tujuannya.


“Ruang perpustakaan lantai berapa?”


“Lantai delapan. Bapak-bapak darimana, ingin bertemu siapa?”


“Kami dari kepolisian, bisa kami bertemu dengan manager yang bertugas?”


“Saya hubungi manager dulu ya Pak, silakan menunggu.”


Mau apa mereka? Apakah mereka mencari? Gawat, aku sebaiknya menunggu Enggar dibasemen.


***


Terkuak Siapa Edgar


Aku menunggu Enggar dengan sabar disini, aku yakin dirinya akan lewat pintu belakang ketimbang pintu utama.


“Sudah lima jam aku menunggunya, apa yang polisi itu inginkan?”


Tiba-tiba, Enggar datang melewati pintu belakang itu. Dirinya tergesa-gesa seakan ada yang mengejarnya.


“Enggar tunggu ini aku?”


Enggar berbalik dan melihat kearahku dengan wajah yang berbeda. Wajahnya penuh kebencian dan kekecewaan.


“Jangan mendekat Edgar, aku sudah tidak mengenal siapa kamu?”


“Apa maksudmu, aku Edgar, kekasihmu?”


“Tidak, kamu pembohong!” Enggar emosi dan menangis.


“Aku membawakanmu bunga, aku sangat mencintaimu Enggar. Sungguh.” Sambil menunjukkan bunga yang kubawa.


“Oh tuhan, sandiwara apa lagi ini? Kamu sudah gila Edgar, kamu yang telah mengirim email dari akunku dan memberitahu keluarga Pak Warih


kalau aku yang menyebabkan orangtuanya dipenjara, untuk apa?” Enggar berteriak.


Aku terkejut Enggar mengetahui kebenarannya.


“Tidak Enggar, bukan itu maksudku. Aku tidak akan menyakitimu.”


“Kurang bukti apa? Kamu gila. Mulai hari ini kita tidak ada hubungan apa-apa. Menjauhlah dariku, muak hanya membayangkannya setelah semua yang kita lalui hanyalah kebohongan!” sahut Enggar dan berlalu meninggalkannya.


Aku mengejarnya dan mengeluarkan semprotan obat bius, menyemprotkannya ke wajah dan seketika Enggar terjatuh tidak sadarkan diri.


“Lepaskan ….”


“Maaf Enggar aku terpaksa melakukannya.”


Aku harus membiusmu.


Aku memasukkan Enggar kedalam mobil salah satu karyawan. Rekan kerja dibagian keuangan. Orang itu selalu menaruh kuncinya didalam laci mobil. Ternyata berguna juga kebiasaan buruknya, aku sudah memperkirakan jika hal ini akan terjadi.


Aku membawa Enggar ke apartemenku yang tidak diketahui orang banyak. Rekan kerjapun tidak ada yang pernah tahu aku tinggal disini. Mereka hanya tahu aku masih tinggal dengan orangtua.


Setelah tiga puluh menit berlalu. Enggarku akhirnya sadar dari biusnya. Dirinya masih lemah dan terlihat pusing. Jemarinya mencoba menahan beban dikepalanya, efek dari bius yang kuberikan. “Cantik sekali kamu Enggar.”


“Dimana aku?” Sahutnya lemas mencoba untuk bangkit.


“Kamu kan pernah kesini, bahkan kita bercumbu disini!”


“Tidak, tidak Edgar lepaskan. Aku ingin pulang.”


“Kita akan menikah Enggar, kita saling mencintai itu yang terpenting.”


Tidaaaaakkk!


Enggar berteriak lemah.


“Aku tidak akan menikah dengan seorang pembohong. Aku benci pembohong, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Kenapa ini terjadi lagi padaku, kenapa ….” Dirinya sangat emosional.


Aku membelai wajahnya dan menghapus airmatanya. Aku tidak akan menyakitinya, semua ini karena aku sangat mencintainya.


“Aku mencintaimu sejak dulu Enggar dan aku tidak akan menahannya lagi.”


Aku mulai merayunya dengan sentuhan dan mencumbunya dengan lembut. Meskipun Enggar semakin menangis dan tubuhnya lemah tidak


berdaya. Aku yakin dalam hatinya, dirinya juga menginginkannya.


“Jangan, kumohon lepaskan aku.”


Penolakannya semakin membuatku tergila-gila, aku ingin Enggar menjadi milikku selamanya. Kucumbu dan kucumbu tanpa henti, erangannya berubah menjadi helaan kenikmatan.


Kekuatannya berganti menjadi kelembutan. Enggar membelaiku dengan sentuhan cintanya yang menggelora. Hingga aku terlena seperti bius yang tidak dapat disadarkan, Enggar membuatku hilang dan tenggelam dalam gairah.


BRAAGG!


“Enggar apa yang kamu lakukan?” Memegang kepalanya kesakitan.


Sebuah piala mendarat keras dikepalaku. Enggar menggunakannya untuk membuatku pingsan. Namun aku tetap sadar dan dirinya dengan sekuat tenaga mencoba menjauh dari tubuhku. Selagi aku menahan sakit akibat pukulan ini, terasa darah segar mengalir dari kepalaku.


Aku melihatnya bangkit terhuyung-huyung kearah pintu. Aku tidak bisa melihatnya meninggalkanku.


 


“Enggar, apakah kamu tidak mengenaliku?”


Enggar tetap saja mencoba bangun dari ketidaksadarannya.


“Aku adalah .…”


“Aku sadar, aku sudah tahu. Aku ingat setelah melihat tanda albino dibagian tengkukmu itu. Dan aku semakin membencimu.” Sahut Enggar yang semakin ingin berlari dari sana


“Enggar aku mencintaimu. Hanya aku yang benar-benar mencintaimu.”


“Selama ini aku menantikanmu, hanya kamu ….”


“Sakit jiwa,” Cercaku padanya. Tubuh ini bergontai mencari jalan keluar.