
Enam bulan kemudian,
Kematian hanya kata-kata. Banyak yang sudah mati tetapi semangatnya bisa menghidupi orang-orang yang ditinggalkannya, meskipun ruhnya sudah pergi. Begitupun yang masih hidup seringkali jiwanya terasa sudah mati, dan menghantui hidupnya hingga akhir. Kematian
hanya kata lain dari kata-kata yang tidak berarti untuk orang yang tidak ingin hidup lagi.
Semua pikiran ketika masih hidup hanya permainan yang mengecoh pikiran lain untuk memilihnya. Semua pikiran itu saling bertempur,
membunuh dan menusuk hingga menentukan siapa yang pikirannya terpilih dan tersingkirkan.
Hanya yang terkuat dari pikiran yang sanggup bertahan dan hidup dalam pikiran.
Pikiran yang lemah hanya akan terbuang meskipun pikiran itu baik. Sedangkan pikiran baik hanya permainan yang mudah dilakukan. Semua
orang bisa melakukannya. Namun, tidak semua orang ingin melakukannya. Tidak semua pikiran ingin memainkan pikiran yang lemah, yang mudah, maka singkirkan pikiran itu dari pikiran.
Aku mengatakan ini karena aku sudah melakukannya. Menyingkirkan semua pikiran yang membuatku semakin lemah. Kau tahu pasti maksud dari pikiranku.
“Enggar terlihat lebih sehat disini, syukurlah.” sahut Ibu yang melihat dari kaca jendela kamarku.
“Ya ... yang terpenting tidak ada usaha untuk bunuh diri dalam tiga bulan terakhir ini,” ucap dokter yang menangani.
Lalu mereka pergi meninggalkanku sendirian di ruangan ini. Aku tahu mereka sering mengunjungiku seminggu sekali, namun aku sering mengacuhkan mereka dan menganggap tidak ada. Aku hanya bosan dianggap sebagai
pesakitan, padahal aku sangat sehat dan merasa lebih baik disini.
Tak lama Dean berkunjung ke bangsalku. Sudah lama sejak pengadilan memutuskan aku bersalah atas pembunuhan itu dan seorang dokter mengirimku ke penjara kejiwaan ini, kenapa Dean masih mencariku.
Menurut dokter aku memiliki kepribadian ganda sehingga lebih tepat jika dimasukkan kerumah sakit jiwa ketimbang penjara.
Aku melukis wajahnya dari kejauhan yang sedang meminta izin suster untuk masuk kedalam kamarku. Aku merasakan langkahnya semakin
mendekat, tetapi aku pura-pura tidak mendengarnya. Supaya semakin meyakinkan
kalau aku benar-benar sakit jiwa.
Aku tertawa sendirian.
“Apa yang membuatmu tertawa Enggar?” sahutnya.
Aku hanya berpura-pura tidak melihatnya dan asyik dengan sketsaku.
“Apa itu aku?” tanya Dean lagi.
Sudah tahu ini mirip dengannya masih nanya, apa dia sudah gila, aku tertawa lagi.
“Sepertinya kamu sedang senang hari ini?”
Tentu saja, karena di sini sangat menyenangkan. Tidak ada pikiran yang melelahkan, aku selalu di beri obat penenang sehingga itu melemahkan pikiranku untuk bekerja. Pikiranku saat ini sedang istirahat dialam pikiran, mereka sedang enjoy. Aku tertawa puas.
“Enggar aku kesini untuk melihat keadaanmu, aku tahu kamu pasti mendengarku,” sahutnya. Sambil memandang wajahku dengan senyuman.
Senyumannya masih saja indah, sayang senyuman itu hanya kepalsuan, aku membalas senyuman palsu untuknya.
“Oya Enggar, aku ingin memberitahu bahwa kami kehilangan Edgar. Dia kabur dari penjara, padahal pengadilan memutuskan bersalah atas penguntitan dan penyerangan pelecehan terhadapmu.”
Aku menatapnya, kali ini aku menatapnya, berpura-pura kalau aku ketakutan.
“Tapi kau jangan kuatir, aku akan menangkapnya kembali. Aku janji!”
Aku berhasil membuatnya mengkuatirkanku, aku tersenyum padanya, lagi.
“Baiklah Enggar aku tidak bisa lama-lama disini, kapan-kapan aku akan mengunjungimu lagi.”
Aku kembali lagi dalam sketsaku dan mengatakan sesuatu kepadanya.
“Monster itu akan menangkap anak kecil itu. Monster itu akan menangkap anak kecil itu!”
“Apa yang kau bicarakan?” tukasnya tidak mengerti.
“Monster itu akan menangkap anak kecil itu. Monster itu akan menangkap anak kecil itu.” Ucapku berulang-ulang.
“Enggar kau aman disini, tenanglah.”
***
melihat mereka sedang diberi tugas oleh suster kepala.
Aku menggambar seorang perawat disana yang telah mengingatkanku kepada ingatanku dimasa lalu. Perawat itu melihatku disetiap langkahnya dan seakan tersenyum kepadaku. Aku hanya berpura-pura tidak melihatnya.
Ketika waktu jam makan siang, aku adalah pasien yang tidak dibolehkan berada diluar. Aku pasien sakit jiwa yang berbahaya. Bahkan kedua tangan ini tiga bulan yang lalu terbelenggu oleh pakaian penuh ikatan.
Namun, akhirnya aku bisa melepas pakaian itu setelah mengalami peningkatan kesadaran. Kesadaran akan kegilaanku yang sedikit menenang, karena obat penenang yang terus menerus diberikan.
Siang itu aku mendengar seorang perawat laki-laki itu membuka pintu. Aku tidak tahu kenapa ada seorang perawat yang berani memasuki
kawasan ini. “Kawasan orang gila sekali”. Aku membiarkannya nyaman untuk kali ini, karena perawat baru ini mungkin belum tahu larangan untuk masuk kesini.
Aku masih sibuk dengan sketsa yang kubuat. Kelamaan aku akan menjadi pelukis terkenal jika hasilnya bisa brilian seperti ini. Aku tertawa puas. Perawat itu tidak menggubris tertawaanku. Dan tetap sibuk membawa baki berisi seluruh makan siang. Aku pura-pura tidak melihatnya.
Makanan itu ditaruh diatas tempat tidurku dan perawat itu mendekatiku.
“Enggar ini aku, Edgar. Kita tidak akan terpisah lagi. Untuk selamanya,” serunya berbisik. Sambil membawa suapan dari sendok itu.
Aku tidak bisa berpura-pura, suara itu aku mengenalnya, aku takut dan perlahan aku melihatnya, menegaskan pandanganku tidak salah lagi. Benar itu Edgar.
Dan, aku melihatnya. Aku tersenyum kepadanya sambil melahap bubur yang ada disendok itu. “Aku tertawa puas.”
***
Di kediaman rumah tua terdapat nenek dan kakek yang sudah lanjut usia. Orangtua dari Suci, korban yang terbunuh bersama dengan suaminya Dewa.
Qiandra adalah anak perempuan mereka satu-satunya. Terpaksa tinggal dan diasuh oleh mereka yang sudah lanjut usia karena tidak ada sanak saudara.
Hingga suatu malam,
“Nek, nanti malam Qian boleh tidur sama Nenek?”
“Kenapa Qiandra, ranjang nenek dan kakek sempit tidak cukup untuk bertiga.”
“Kakek saja yang tidur diranjang Qian, Nek.”
“Kenapa Qian, kamu takut?”
“Tadi malam Qian didatangi bayangan hitam, tinggi besar, matanya merah menyala dan wajahnya sangat menakutkan, nek. Qian takut sekali, Nek.”
“Itu hanya pikiranmu saja Qian, makanya sebelum tidur baca doa dulu ya.”
“Tapi Qiandra tidak bohong, Nek!”
“Qiandra sudah besar, bagaimana jika nenek menemanimu hingga tertidur?”
“Baiklah Nek.”
***
Bayangan itu akan menangkapmu. Bayangan itu akan menangkapmu. Bayangan itu akan menangkapmu. Bayangan itu akan menangkapmu. Aku akan menangkapmu ... hihihi.
Aku tahu siapa yang akan ditangkap oleh bayangan itu selanjutnya.
Aku tahu hihihi … karena malam itu, ketika aku membawa balok kayu itu kedalam rumahnya. Aku mendengar mereka bertengkar hebat tentang anak perempuannya yang bernama Qiandra. Yah ….
Anak perempuan malang itu bernasib sama denganku, bahkan Ibunya sendiri yang memberikannya kepada tua Bangka iblis itu … hahaha. Tua Bangka itu sudah kukirim ke neraka, tetapi … Qiandra tidak bisa melepaskan
bayangan yang ada pada dirinya. Kasihan dia … aku harus keluar dari sini.
Aku harus sembuh dan bisa menemuinya. Aku akan ajarkan bagaimana melepaskan iblis dalam jiwanya … hahaha.
TAMAT
Jangan lupa beri dukungan untuk Author ya:)