The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 47 New Sign; Skyper



Dari LabFor yang menyelidiki kejadian bunuh diri massal di rumah Edgar ditemukan sambungan nirkabel jarak jauh WLAN (Wireles Local Area Network) Kemungkinan pada saat kejadian Edgar terhubung dengan seseorang menggunakan Skype. Data kontak di dalamnya menggunakan sandi dan IP Address yang terhubung dengan komputer Edgar belum bisa terlacak.


“Ponsel Edgar juga tersandi Pak Bim!”


“Memang jika terbuka apa bisa mengetahui siapa yang dihubunginya saat kejadian?”


“Kemungkinan kita bisa menemukan lebih cepat pengguna Skype yang dihubungi Edgar dari nomer kontak yang ada di ponsel. Sebab, IP Address komputernya sulit terlacak karena sengaja disembunyikan dengan Web Proxy.”


“Apa kamu bisa memastikan jika Edgar sedang menghubungi seseorang?”


“Signal terakhir pada saat kejadian dan waktu kematian menunjukkan mereka masih hidup saat melakukan panggilan video call tersebut, Pak.”


“Kenapa kita tidak minta saja dengan pihak providernya?”


“Tidak bisa Pak, ada undang-undang kerahasiaan.”


Ck, ck, ck.


“Sialan!”


Jika ada yang membantunya, mungkin seseorang yang berada di rumah sakit. Edgar tidak sendirian, pasti ada yang membantunya!


Bima merasa geram dan mencoba menggali informasi ke rumah sakit. Selama bekerja di sana siapa orang yang cukup dekat dengan Edgar selain pasien Enggar. Kemungkinan seseorang yang membantunya selama ini berasal dari dalam rumah sakit. Tidak mungkin Edgar bisa melakukannya sendirian.


Bima berbicara dengan para perawat di rumah sakit jiwa, banyak yang mengatakan jika Edgar sangat pendiam dan msiterius. Mereka mengatakan Edgar sangat tampan hanya saja sikapnya yang acuh dan tidak ingin berbaur membuat mereka enggan mendekati. Edgar hanya senang berbicara dengan enggar di kamarnya.


“Lalu, apa tidak ada satupun yang dikenal Edgar di rumah sakit ini?”


Tiba-tiba seorang perawat mengatakan kalau dirinya pernah melihat Edgar sedang berbicara dengan petugas keamanan di sektor H, khusus untuk pasien pria. Perawat itu melihat Edgar memberikan sesuatu di dalam amplop.


“Siapa petugas keamanan itu?”


“Willy Si Pengekang!”


“Kenapa dijuluki seperti itu?”


“Karena, Willy petugas yang sering menangani pasien yang sedang mengamuk dan yang memakaikan baju pengekang pada pasien-pasien itu.”


“Baiklah, terima kasih.”


Pak Bima segera menyelusuri sektor H di gedung seberang. Jika ingin ke gedung itu harus berjalan hingga ujung, melewati gedung penghubung yang semuanya serba putih dan bercahaya. Ketika melewati lorong penghubung yang hanya satu jalur ini, Bima merasa seperti sedang melewati dimensi lain ketimbang tempat sebelumnya.


Seseorang bisa merasa gila hanya melewati lorong yang menakutkan ini.


Tiba-tiba lampu di dalam gedung mati. Bima sedang berada di tengah-tengah lorong. Penglihatannya benar-benar tertutup meskipun matanya benar-benar membelalak hampir keluar. Bima mencoba menyusurinya pelan-pelan menggunakan insting pendengaran dan ingatannya sebelum lampu semuannya mati.


Dirinya mengingat jika lorong ini hanya jalur lurus saja, tidak sulit untuk menemukan pintu menuju gedung di seberangnya. Tiba-tiba terdengar langkah yang berat, seseorang sedang berjalan di sekitarnya. Suara langkah itu bergema di lorong yang kosong, hingga suara napas yang berat merayapi sela-sela kesunyian. Membuat instingnya waspada.


“Ada orang?”


Langkah itu berhenti. Bima juga menghentikan langkahnya dan membuka kancing sarung pistolnya.


klek!


Sarung pistol terbuka, jemari yang sudah bersiap di atas pistol itu.


“Siapa kamu? Cepat katakan?”


Deeerrrttt, deeerrrttt.


Ponsel Bima berdering beberapa kali lalu mati. Signal sangat lemah terutama di lorong penghubung itu. Tiba-tiba listrik kembali menyala, cahaya yang tiba-tiba mulai hidup terasa menyilaukan matanya. Hingga memincingkan pandangan. Jemari yang masih berada di atas sarung pistol yang terbuka.


Seorang yang bertubuh tinggi besar memakai masker dan seragam seperti perawat.


“Siapa kamu!”


“Saya perawat dari gedung seberang, Pak!”


“Kenapa kamu tidak menjawab ketika aku bertanya?”


“Ah … maaf Pak, saya pikir anda seorang pasien yang lepas.”


Perawat itu berjalan melewati Bima.


“Tunggu, apa kamu mengenal Willy dari Blok H?”


“Ya … dia ada di sana sedang menangani pasien yang mengamuk.”


Kemudian, Bima berjalan lagi hingga berada di gedung seberang. Lalu, suara ponselnya bergetar lagi ternyata LabFor mencoba menghubunginya beberapa kali.


“Maaf, aku sedang di RSJ. Signalnya sangat buruk.”


“Pak, kami sudah berhasil membuka sandi ponsel Edgar. Hanya terdapat dua nama di dalamnya, Amelia dan Willy.”


“Kirimkan profil Willy sekarang juga!”


Data pribadi Willy masuk ke dalam pesan pribadi Bima. Foto Willy yang terakhir dikirim membutuhkan waktu untuk terlihat keseluruhannya karena signal. Setelah terlihat seluruhnya ternyata Bima mengenali fotonya adalah seorang yang ditemuinya di lorong tadi. Seorang yang mengaku menjadi perawat.


“Sial! Barusan aku sudah sangat dekat.” Bima langsung berlari mengejar Willy.


Mengejarnya dengan kecepatan tinggi. Kemudian dari kejauhan Bima melihat Eddie rekannya yang baru saja datang. Bima berteriak sembari menunjuk arah luar memerintahkannya mencari tersangka. Eddie berlari keluar parkiran dan melihat mobil yang melaju kencang menghindari pengejarannya. Eddie berusaha menghentikannya dengan mengeluarkan pistol, namun kendaraan itu sangat kencang hingga Eddie terpelanting untuk menghindar dari tabrakan.


Eddie tersungkur di tanah dan merasakan nyeri dibahunya, akibat menahan benturan.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Bima yang membantunya berdiri.


“Siapa dia Bos?” tanya Eddie penasaran.


“Willy Si Pengekang yang menjadi tangan kanan Edgar, selama ini kita kekurangan petunjuk dan ketika di depan mata, Willy berhasil mengelabui untuk kedua kalinya.”


Bima menghubungi unit untuk mengepung rumah Willy.


“Sekarang juga, kepung rumahnya! Mobilnya box berwarna putih!” ujar Bima memerintahkan sejumlah unit untuk dikerahkan.


***


Ketika malam tiba, beberapa unit sudah mengepung rumah Willy dan bersiap menyergap. Bima dan Eddie juga bersembunyi di rumah tetangga Willy yang sengaja dikosongkan demi penyergapan. Mengintai dari segala arah hingga sebuah mobil Box berwarna putih itu benar-benar muncul perlahan.


Seorang yang berada di dalam mobil box itu seakan mencurigai sesuatu. Jika keadaan cukup sunyi, tidak seperti biasanya. Namun, dirinya tetap mendekat karena memerlukan sesuatu yang ada di dalam rumahnya.


“Jangan ada yang bergerak sebelum mobil box itu benar-benar sudah memarkirkan mobilnya di pekarangan!” Perintah Bima kepada seluruh unit.


Ketika mobil itu sudah berada di pekarangan. Seluruh unit bergerak serentak mengepung mobil itu hingga tidak bisa berkutik apalagi melarikan diri. Seluruh senjata api mengarah padanya. Hingga Bima memerintahkan yang ada di dalam untuk keluar tanpa perlawanan.


“Keluar anda sudah dikepung, jangan melawan jika tidak ingin ditembak!”


“Cepat keluar! Angkat tangannya!”


Willy membuka pintu itu dengan perlahan sembari mengangkat tangannya ke udara. Hingga dua orang petugas yang menodongkan senjata melumpuhkan willy ke aspal dan memborgolnya. Dirinya diamankan ke kantor polisi, namun beberapa unit LabFor tetap tinggal untuk mencari bukti di dalam rumahnya.


“Bima yakin jika Willy kembali kerumahnya karena ada sesuatu yang ingin disembunyikannya!”


Kemudian ada seorang petugas yang berjaga di depan mengabari Bima dengan walkie talkienya.


“Pak Bima ada seseorang pemuda yang mendekat ke rumah Willy!”


“Biarkan dia masuk dulu, kami tangani di sini.”


Bima memerintahkan semua unit yang berada di rumah untuk berhenti dan senyap.


Seseorang datang!


Ketika seseorang itu masuk ke dalam rumah.


“Angkat tangan!”


“Siapa kamu?” tanya Bima kenapa pemuda itu yang terkejut sedang mengangkat tangan.


“Sa-saya Rama, saya tinggal di rumah ini!”


Seorang pertugas memborgolnya dan menyuruhnya duduk. Selagi seluruh unit di dalam kembali melakukan pekerjaannya.


“Hubunganmu dengan Willy apa?”


“Sa-saya anaknya!”


“Kamu masih sekolah?”


“Ya … saat ini kelas 1 SMA.”


Untuk pelajar kelas 1 SMA perawakanmu sangat tinggi dan besar.


Sepertinya pernah melihat anak ini.