The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 52 Back To Habits



Ditemukan korban wanita pekerja, sepulang dari kantor menghilang. Korban bernama Nani Wulandari usia 20 tahunan bekerja di sebuah pusat perbelanjaan. Sedangkan korban ke 6 sebelumnya adalah mahasiswi semester dua bernama Mida Maya. Ketika ditemukan kedua mayat itu berada di sebuah taman yang berbeda. Tidak dikubur seperti biasanya, ada perubahan perilaku pada pembunuhnya.


Nin sudah berada di lokasi setelah Bima meminta bantuannya. Melihat mayat yang dibuang di pinggiran taman terhalang oleh semak-semak, dekat dengan terowongan buatan, hanya tertutup oleh plastik bagian wajah.


“Pelaku tidak menguburnya seperti ingin ditemukan, bagian wajah yang ditutupi sebuah plastik menandakan rasa penyesalan dan penghormatan terhadap korban.”


“Bima, korban sebelumnya ditemukan kapan?” sambung Nin bertanya.


“Tiga minggu yang lalu,” balas Bima.


Tiga minggu yang lalu?


Frekuensi membunuh korban sejak mayat ke 6 hanya berjarak 3 minggu.


“Frekuensinya akan semakin dekat, Bim. Bisa jadi akan berkurang menjadi 2 minggu atau 1 minggu. Kita tidak punya banyak waktu untuk menentukan tempat favorit berburunya dan menggolongkan wanita-wanita itu agar mudah pencarian kriteria korban,” ujar Nin.


“Kamu ikut ke kantor ya Nin, berikan kita masukan untuk kasus ini.”


“Baiklah, sebentar saja … aku harus kembali mengajar.”


***


Di sebuah papan tulis sudah terpampang foto-foto korban sejak 10 tahun silam hingga sekarang. Terdapat 7 korban, 5 korban wanita dari 3 tahun pertama, 7 tahun hiatus, hingga sekarang ditemukan 2 korban.


Semuanya sedang berpikir, mencari kesamaan dari korban-korban tersebut untuk menentukan lokasi dan kriteria perburuan.


Polisi kebingungan karena tidak ada korban yang spesifik satu sama lain. Korban adalah mahasiswi, pekerja biasa dan ibu rumah tangga, semuanya perempuan-perempuan yang tidak memiliki catatan kelam sedikitpun. Polisi kesulitan mencari kesamaannya.


“Kelingking kakinya!” ucap Nin tiba-tiba.


“Apa?” semua orang melihat Nin mengucapkan itu.


“Di mana kita bisa melihat kelingking seseorang?” gumam Nin sembari menatap papan tulis.


“Melihat kelingking?”


“Ya … pelaku sangat terobsesi dengan keliling, sebelumnya pasti melihat kelingking buruannya di suatu tempat.”


“Tepat sekali! Tapi di mana?” ujar seorang detektif berusaha berpikir keras.


Semuanya mulai berpikir, jika korban-korban itu sebelumnya berada di sebuah taman dengan fasilitas lengkap, dilengkapi tempat beribadah. Taman ventura memiliki kriteria tersebut, ada track joging, taman bermain anak-anak, area skater, panjat tebing, mushola dan terowongan menuju jalur MRT.


Seperti seorang ibu rumah tangga yang menjadi korban memiliki rutinitas joging setiap sore di taman terbesar yang berada di perbatasan kota itu karena dekat dengan tempat tinggalnya. Tetapi mayatnya di temukan di taman lain.


Lalu, korban Mida juga sebelumnya sedang menunggu kekasihnya di sebuah taman dekat kampusnya. Korban Nani juga melewati taman itu mampir untuk sholat dan juga untuk menghemat waktu menuju tangga MRT.


“Kesimpulannya korban itu berada di taman Ventura, meskipun mayatnya ditemukan di lokasi yang berbeda.”


Eddie juga menambahkan penemuan di kos-an David terdapat peta yang dilingkarinya, dengan spidol merah. Kemungkinan David menemukan lokasi pembunuhannya yang sebenarnya. Taman Ventura berada di tengah-tengah Jakarta-Tangerang.


Eddie menunjukkan peta pencarian David dengan lokasi-lokasi yang dilingkarinya.


“Kalau begitu kerahkan beberapa unit untuk penyamaran di taman Ventura, kemungkinan korban akan melakukan aksinya dalam minggu-minggu ini. Lakukan dengan sewajar mungkin!”


“Siap Kapten!”


***


Sore itu semua unit bersiaga dengan penyamaran di taman Ventura. Ada yang menyamar menjadi sepasang kekasih, melakukan joging, petugas kebersihan dan pemulung sampah. Nin diperintahkan untuk menunggu di mobil saja tetapi dirinya sesekali ingin terjun langsung ke lapangan.


Ingin merasakan pembunuhnya sedang melakukan perburuan, apa yang dilihatnya terhadap korban dan bagaimana mendekati korban-korbannya.


“Tenang saja, banyak petugas menyamar di sini. Aku hanya ingin duduk di tengah taman itu,” jawab Nin pelan. Memasukkan ponselnya ke dalam kantung blazer-nya.


Bima keluar dari mobilnya agar bisa melihat Nin dari kejauhan. Nin bergerak melangkah ke tengah taman, melihat sekitar lalu duduk di sana. Nin berusaha bersikap sewajarnya, mengeluarkan buku catatannya dan mulai dengan coretannya.


Nin sedikit terkejut ketika seseorang tiba-tiba meletakkan kakinya di atas bangku di sampingnya. Seseorang itu tersenyum pada Nin sembari menarik kaos kaki dan membetulkan tali sepatu olahraganya. Nin membalas senyuman itu. Bima masih mengawasi Nin.


Tiba-tiba Nin terpikirkan sesuatu seperti yang dilakukan pe-joging itu. Nin mulai secara perlahan melepas sepatunya dan meletakkan kedua telapak kakinya di permukaan. Bahkan Nin mulai mengayun-ayunkan kakinya ke depan. Sembari membiarkan coretannya memenuhi kertas itu.


Tiba-tiba suara walkie talkie berbunyi keras, terjadi penangkapan di sektor A dekat terowongan. Pandangan Bima teralihkan menjawab panggilan darurat itu. Memerintahkan untuk menunggunya sampai ke sana. Bima berlari kearah sana dengan cepat.


“Mana tersangkanya?”


“Maaf Pak, hanya seorang penguntit … mantan kekasihnya di sebelah sana.”


“Apa? yang benar saja!” ujar Bima kesal.


Bima seketika teringat Nin yang ditinggalkannya di tengah taman sendirian. Sedangkan semua unit sedang berkumpul di sektor A. Bima menghubungi Nin, namun ponselnya tidak diangkat.


“Nin!” teriak Bima seketika. Berlari menuju taman bersama Eddie rekannya.


Ketika sampai di bangku yang tadi Nin duduki, sosok Nin sudah menghilang. Terdengar deringan ponselnya yang terlempar di taman bunga yang menutupinya.


“Aaaarrrrrrrggggghhhh! Nin!” teriak Bima histeris. Menendang bangku kosong itu meluapkan emosinya. Nin hilang ketika dalam pengawasannya.


Semua unit di sektor A mengikuti arah Bima berlari dan mereka terlambat, Nin sudah menghilang.


Bima segera memerintahkan untuk bergerak ke wilayah-wilayah di sekitar taman. Memeriksa semua mobil yang terparkir, jangan sampai ada tempat yang terlewatkan.


Seorang petugas berlari mendekati Bima dan memberikan sebuah notes yang ditemukannya di dekat tempat parkir. Catatan milik Nin. Di tengah-tengah buku itu terdapat coretan Nin berupa sketsa seseorang yang berdiri sedang memandang Nin dari kejauhan. Nin menuliskan kode pribadi yang mendeskripsikan ciri-ciri seseorang yang dicurigainya.


(U40, T170, Skoliosis).


Bima langsung memberikan ciri-ciri yang disebutkan Nin dalam coretan itu.


Kemungkinan kode itu, mengarah kepada Pria usia 40-an, tinggi 170 cm dengan ciri-ciri spesifik tulang punggung yang bengkok atau bahu melengkung.


“Cepat temukan jika ada pria dengan jalan yang terlihat aneh dengan keadaan bahunya yang tidak simetris,” tegas Bima.


Nin, aku akan menemukanmu, aku tidak akan menyerah.


***


Di sebuah pondok tua di dalam hutan, konon pondok itu adalah bekas sumur penggalian berabad-abad silam. Tidak ada yang tahu jika pondok itu memiliki sejarah pertambangan ratusan tahun yang lalu. Tanpa sengaja pelaku menemukannya ketika sedang melakukan pendakian di bukit yang dekat dengan hutan pinus itu.


Menyeret tubuh itu setelah kelelahan mengangkatnya dari bawah. Terasa nyeri bahu bagian kanannya. Memijat-mijat bahu dan tangannya yang mulai terasa sakit, hingga menenggak beberapa pil untuk meredakannya.


Nin sudah terbaring di sana dalam keadaan terbius. Pelaku merasakan kelelahan yang harus mengangkatnya sejauh itu. Namun, rasanya akan terbayarkan ketika sudah membunuh buruannya. Sebelum korbannya terbangun, pelaku memandanginya hingga terbangun. Rasanya sangat menegangkan seperti foreplay sebelum bercinta.


Napasnya yang memburu, saliva-nya memenuhi langit-langit mulutnya, merasakan dahaga untuk segera melakukan ritualnya. Rasa haus untuk membunuh, menyalurkan hasrat kepuasan seksualnya dengan memisahkan kelingking dari jemarinya yang indah.


Baru kali ini aku melihat jemari seindah ini … he … he … he.


Menyibak rambut yang menutupi wajahnya, tangannya yang menyentuh dingin pelipis Nin.


“Aku berharap dirimu tidak bangun dengan cepat, agar aku bisa menikmatimu lebih lama … hehehe ….”


***


Tambahkan ke favorit kalian ya, pencet Like, Vote, Rate 5 dan komen yang banyak kalau suka )