The Shadow Fears

The Shadow Fears
Episode 11 Nightmare 2



Dalam perjalanan pulang aku menelepon Edgar untuk menenangkan pikiran. Aku sangat syok dan memerlukan seseorang yang bisa dipercaya.


Hanya Edgar yang bisa menjadi sandaran saat ini. Jika ini bukan mimpi buruk, lalu apa. Rasanya ingin menceburkan diri kedasar danau agar tidak ada yang menyadari aku telah tenggelam dalam air yang tenang itu.


“Edgar, kenapa ini terjadi padaku, semuanya korban kekejian Pak Abi. Aku berharap dirinya terbakar dineraka.” Aku berteriak kepada langit dan tatapan awan hitam.


“Aku juga Edgar, aku menyembunyikannya selama ini dari Ayah dan Ibuku.”


“Mbak Suci juga telah menjerumuskan kami .…”


Edgar geram mendengarnya, emosinya memuncak!


***


Bayangan hitam yang menakutkan itu kembali datang dari dalam tanah kegelapan, dengan


dendam yang membara. Kini tujuannya menjadi jelas, menjadi sosok pembunuh yang tidak ada keraguan. Sosok itu mendatangi sebuah rumah yang tidak asing lagi. Langkahnya perlahan tapi pasti, tidak ada ketakutan lagi dalam dirinya. Hanya ada rasa ingin memusnahkan segalanya.


Memasuki pagar halaman yang tidak terkunci, melihat dari jendela yang masih terbuka. Hanya derap napas yang menggebu-gebu seraya


memburu. Manusia-manusia biadab yang tidak punya hati. Mendengar suara pertengkaran dari dalam, menunggu waktu yang tepat. Tidak lama lagi sosok itu akan mengambil alih.


Sebuah kayu pagar yang terlepas, masih tertancap paku pada pangkalnya, sosok itu mengambilnya.


“Dasar Ibu macam apa kamu tega pada anakmu sendiri.”


Plaaak! Plaaak!


“Ampun Mas, aku khilaf, aku … tidak sengaja, tidak


menjaganya.”


“Plaaak! Plaaak!


“Tidak ada maaf untukmu, ini sudah kelewat batas ….”


 “BRUKK!” tergeletak dilantai seketika, tubuh tinggi besar itu.


Terkena hantaman kayu pagar, paku telah tertancap dikepalanya.


Aaahhhhhhhh!


Mbak Suci berteriak ketakutan.


Sosok itu berusaha melepas tancapan paku dari kepalanya. Hingga semburan darah keluar dari kepalanya yang berlubang.


“Aku akan membiarkanmu menjanda,” cerca sosok itu sambil lalu.


“Ibu, Ayah kenapa, bangun Ayah …,” raung seorang anak perempuan di dekat tubuh Ayah yang sudah tidak bernyawa.


“Qiandra kamu masuk ke kamar kunci pintu,”


Sosok itu berbalik melihat anak perempuan yang


menggemaskan itu.


“Jangan sakiti anakku! Kumohon jangan .…” memohon seperti mengemis.


“Aku kasihan padamu.” sosok itu pergi meninggalkannya.


“Kasihan?” celotehnya tiba-tiba.


Langkahnya terhenti mendengar ucapannya seakan mengejek.


“Aku tidak menyesal atas perbuatanku dulu. Aku sering dijadikan pemuas biologisnya. Orangtuaku sering diberinya uang, seakan itulah timbal baliknya.”


“Seharusnya kamu tidak membunuhnya, orangtuaku sekarang bertumpu padaku ….” Dirinya yang berteriak histeris seperti orang gila.


 “Kenapa, kamu mau menangis? Hahaha, tidak ada gunanya. Kamu hanya anak sialan yang telah merenggut sumber uangkuuuu!” berteriak semakin histeris.


“Hahaha ... hahaha dan yang paling lucu, suamiku adalah orang yang pernah menggerayangi anak-anak ….”


BRUUG! BRUUGG! BRUUGGG!


Tiga kali pukulan balok kayu itu dilayangkan tanpa ampun. Kepalanya pecah dan bersimbah darah.


Sosok itu meninggalkan rumah itu dengan senyap.


“Pertengkaran itu diakhiri keheningan.” Sembari melepaskan kekuatan dari tangannya, benda


pembunuh itu terlerai disana yang penuh lumuran darah.


“Ibu, bangun, Ayah, bangun … Qiandra takut sendirian.” Anak perempuan itu menangis dalam gelinangan airmata berwarna merah.


Sosok itu melangkah ragu dan berbalik arah melihat anak perempuan yang sedang menangisi Ayah dan Ibunya. Dan berucap "kamu tidak butuh mereka, aku akan melihatmu mulai sekarang," ujarnya. Sembari menatap dikedalaman mata anak perempuan itu.


Meninggalkan rumah berdarah itu dengan tenang tanpa ketakutan. Semua kenangan buruk tetap melekat meski sudah mengakhirinya.


***