
Keesokan harinya Kevin mendatangi kediaman rumah Paman dan Bibinya Qian. Berniat untuk meminta maaf. Memang saat itu terlalu pagi karena Kevin tidak bisa tidur pada kemarin malam karena memikirkan Qian yang terluka perasaannya. Ketika memarkirkan motor di pekarangan rumahnya.
Tiba-tiba Paman Hari keluar dan mengusir Kevin dari rumahnya. Sembari menarik kerah kemejanya dan berkata, “enyahlah dari sini,” namun Kevin berusaha tetap tenang dan memberitahukan jika kedatangannya untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Tetapi, Paman tidak mau mendengarnya.
“Anak berandalan, jika kamu masih mendekati Qian. Aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran,” ucapnya memberi ancaman serius.
Qian mendengar keributan itu dan memastikannya dari balik jendelanya. Melihat Kevin yang datang dan tidak berdaya dibawah ancaman Paman, dirinya turun untuk mengetahui kedatangannya.
Sesampainya di bawah, Kevin sudah melaju dengan motornya meninggalkan rumah itu.
“Kevin ….” Qian berteriak memanggilnya beberapa kali.
Namun, Kevin tidak mendengarnya dan semakin menjauh dari penglihatan.
“Kevin mau apa kesini, Paman? Tanyanya penasaran.
“Anak berandalan itu hanya akan semakin menyakitimu,” pungkas Paman dengan dingin.
“Apa yang Paman katakan padanya?” tanyanya memojokkan.
“Aku hanya mengusirnya …,” jawab Paman sembari meminum kopinya.
“Bohong, Paman pasti mengancamnya ya … kan?” Qian merasa kesal.
Qian meninggalkannya kembali ke kamar dengan perasaan kesal. Paman terlalu melindunginya, padahal dirinya bukan anak kecil lagi. Sikap Paman seperti Ayah yang senang mengendalikan orang lain. “Paman jahat!” bentak Qian berteriak dari kamar ini sembari membanting pintu.
Bibi mendengar teriakan Qian. Dan bertanya apa yang terjadi.
“Masa pubertas,” keluh Paman santai.
“Beri dia ruang untuk bernapas, Edgar,” protes Bibi.
“Jangan sebut nama itu di rumah ini, nanti dia bisa mendengarnya,” timpal Paman berbisik.
“Maaf, aku hanya tidak terbiasa dengan nama lain,” tutur Bibi.
“Karena kamu mencintaiku ….” Paman mencoba merayunya.
“Sangat ….” Bibi membiarkan rayuan dan sentuhan itu merasukinya.
Qian melihatnya dari balik pintu itu, kemesraan yang membuatnya merekam setiap adegan.
Qian merindukan Kevin, ingin merasakan sentuhannya seperti malam itu.
***
Ketika pulang sekolah mengambil motor di tempat parkir. Kedua bannya kempes tertusuk paku. Kevin berpikir mungkin geng beken itu yang mengerjainya. Sore itu Kevin pulang dengan berjalan kaki. Seperti ada yang membayangi langkahnya di belakang, ketika menengok tidak ada orang. Tetapi perasaan ini tidak pernah salah, ada seseorang yang mengikutinya.
Entah siapa, mungkin salah satu gerombolan geng beken itu, aku tidak yakin.
Kevin tidak akan membiarkan siapapun mengetahui rumahnya. Mencari cara dengan memutar jalan hingga tidak bisa diikuti lagi.
Tiba-tiba di dekat taman rumah seseorang menyergapnya dengan sesuatu yang menutupi kepala. Kevin tidak bisa melihat karena sarung ini menutup penglihatan dan napasnya terbatas. Berusaha untuk melawan, namun tenaganya lebih besar. Kedua tangan dijeratnya dan tubuh ini dijatuhkan ke tanah yang penuh rerumputan.
Kevin bisa merasakan embun dari rerumputan itu yang mengenai lengan.
Dalam keadaan telungkup seseorang itu menindihnya dan berbisik.
“Jangan mendekati Qian lagi, jika ingin Ibu mu selamat,” sentak ancamannya.
Lalu orang itu menendang kearah perut dua kali dan membuatnya merintih kesakitan dan berteriak mengaduh. Rasanya benar-benar sakit hingga airmatanya menetes.
Ancamannya benar-benar serius. Pikirannya mengatakan kalau orang ini adalah Paman Hari. Lalu orang itu memasukkan kain kedalam mulut untuk membungkamnya. Dan meninggalkannya di sana dalam keadaan tidak berdaya. Berusaha berteriak namun suara ini seakan teredam kain yang menyumpal tenggorokan.
Berusaha bangun dan duduk ketika langkah itu sudah menjauh. Berdiri dan berlari meski mata ini tertutup, hingga terdengar suara dernyitan dari rem mobil yang dipaksa berhenti. Kevin menabrak sesuatu yang keras.
Seseorang membuka pintu mobil dan menghampirinya.
“Siapa yang melakukan ini padamu?” sembari membuka sarung yang membungkus kepala.
Kevin akhirnya bisa melihat seseorang yang menolongnya dan memintanya melepaskan ikatan tali ditangan. Setelah berhasil terlepas Kevin mengeluarkan kain yang berada dimulut dan ternyata itu adalah pakaian dalam Ibu.
“Pak, bisakah aku diantar pulang, aku kuatir dengan Ibu,” sembari memohon.
“Baiklah, aku akan antar,” ucapnya seraya membantunya untuk berdiri.
Kevin diantarnya sampai kerumah dan langsung berlari seperti kehabisan akal. Berlari ke dalam rumah dan terlihat Ibu yang sedang melongok di depan pintu masuk. Wajah nestapa, dirinya yang baru pulang dari tempat kerja dan
terkejut melihat semua perabotan sudah berantakan. Semuanya di acak-acak oleh seseorang yang kurang kerjaan.
Apakah ini dendam atau hanya anak-anak yang iseng.
Dinding yang ditulis dengan sebuah semprotan cat berwarna merah.
“Bitch dan Died Soon!”
“Ini pasti pekerjaan anak-anak iseng,” ucap Ibu sembari mengambil foto-foto kesayangannya dari bingkai yang pecah.
“Siapa yang sudah tega melakukan ini pada kita Bu,” ucapnya frustrasi. Sembari memegang kepala yang terasa pusing. Pikirannya tidak bisa menelaah semua ini.
Ibu mencoba menenangkannya dan memberikan semangat.
“Ibu, bagaimana jika ini salahku. Aku yang sudah mencari masalah dengan geng itu … bagaimana kita akan? ….”
“Kevin, kita pasti bisa melewati ini semua, Ibu janji tidak ada yang bisa menyakiti kita,” tuturnya sembari menatap Kevin dengan yakin.
Melihat kedalam matanya bukan itu yang dirasakannya, Ibu sangat ketakutan namun tetap tegar di depannya. Ibu tidak mau memperlihatkan kecemasannya.
“Ibu, apa kita laporkan saja ke polisi kejadian ini!”
“Kita foto saja kejadian ini nanti jika terulang lagi, kita akan melaporkannya.”
Semalaman kami membereskan hal-hal yang penting saja dan membiarkannya seperti itu. Seorang tukang dipanggil untuk membetulkan pintu yang dirusak.
Aku tidak menceritakan kejadian ketika pulang sekolah padanya. Tidak ingin membuatnya khawatir, mungkin anak-anak geng itu hanya ingin menakuti dan memberi pelajaran. Semalaman tidak bisa tidur dan terus menerus memikirkan benarkah yang mengerjai tadi siang sama dengan yang merusak rumah.
Suara yang berbisik ditelinga lebih berat dan seperti Paman Hari.
Jika memang benar Paman Hari bisa melakukan hal semacam itu, Qian akan dalam bahaya bersamanya. Seseorang yang bisa mencederainya. Pikiran Kevin semakin kuatir dan merasa bersalah pada Qian. Kenapa malam itu dirinya tidak bisa menjelaskan langsung apa yang sebenarnya terjadi. Saat ini pasti perasaannya terluka.
“Maafkan aku Qian!”
Sebuah penyesalan tidak akan usai hingga ucapan maaf terlontar. Kata-kata pengampunan bisa menyelamatkannya dari lembah tak terujung. Sebelum napas ini berhenti ingin rasanya bertemu dengan Qian untuk mengatakan satu kata itu agar menerima pengampunan darinya. Sungguh Kevin tidak bermaksud untuk menyakitinya. Terutama karena aku menyukaimu.
Benarkah kita tidak bisa bertemu lagi, maka penyesalan itu akan terbawa hingga akhir hayat. Jika pada akhirnya pernyataan cinta dan hasrat terdalamnya berakhir menyakiti, dirinya tidak akan melakukannya. Kevin hanya ingin terus bersama dengannya, menjadi teman, sahabat atau yang lainnya.
Qian, apakah kamu baik-baik saja disana. Bisakah kita bertemu dan mengulang semuanya. Aku rindu, rindu ingin bertemu.
Kevin ingin membawanya pergi ke tempat yang jauh, hanya ada mereka berdua mengarungi dunia yang ingin mereka ciptakan. Mungkin ini konyol, impian seorang anak laki-laki kelas 3 SMP.
Kevin hanya muak dengan kehidupan yang munafik.
Semuanya pembohong dan pengkhianat. Tidak ada yang bisa memegang janjinya untuk selalu mencinta.
Jika aku sudah besar nanti aku tidak akan menyakiti orang yang sudah kupilih untuk bersamaku.
Jangan berjanji jika tidak bisa menepati. Aku janji jika aku tidak benar-benar mencintaimu, aku tidak akan berjanji. Lebih baik, aku hidup sendirian hingga tua daripada menyakiti seorang wanita setelah berjanji padanya.
***
Langsung pencet like, vote, rate 5, tambahkan ke favorit kamu dan komen yang banyak ya )